Seorang gadis berparas wajah cantik namun, wajah cantik pipi sebelah kiri cacat karena kejadian masa kecilnya dulu yaitu bernama Anna. Kehilangan Ibu kandungnya membuat Anna tinggal bersama keluarga yang mengaku ayahnya.
Hingga Ia mendapatkan siksaan dari Ibu tiri dan Kakak perempuannya.
Apakah Anna mampu bertahan dengan siksaan mereka? Apakah ada seorang pemuda jatuh cinta padanya yang menerima kekurangannya dan membawanya keluar dari siksaan yang sering dia dapatkan? Penasaran dengan kelanjutannya yuk mampir ke kisah gadis cacat ini untuk mendapatkan cinta dan kebahagiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun
" Brruukkhh"
"Akh! Bisa lihat nggak?" bentak Janie kearah wanita yang menabraknya.
" Maaf saya nggak sengaja" ucap wanita itu.
" Kalau begitu pasang matanya baik-baik ya!" ujar Janie sambil beranjak meninggalkan wanita yang menabraknya.
" Sombong s'kali wanita itu, padahal dia sendiri yang menabrak aku" gumamnya menatap Janie.
Wanita itu kembali beranjak pergi namun langkahnya hampir saja menabrak seorang wanita yang memakai topeng di sebelah pipinya.
" Maaf " ucap wanita itu yang bernama Vina.
" Mmm nggak apa-apa nyonya, justru saya yang minta maaf soalnya saya tidak melihat nyonya di depan saya" ucap wanita itu yang bernama Ana.
" Berarti kita sama dong" ucap Vina tertawa kecil. Ana pun membalas senyum wanita itu yang begitu manis ke arahnya.
" Anaa" teriak Janie dari dalam.
" Sepertinya saya di panggil nyonya, kalau begitu saya permisi dulu" ucapnya kemudian beranjak pergi.
" Gadis baik" bantinnya melihat kepergian Ana.
" Hai Vina" sapa seseorang dari arah belakang wanita yang melihat kepergian Ana.
" Hai Wina" membalas sapa sahabatnya baru datang.
" Kamu sudah lama menungguku?" tanya Wina.
" Belum, aku baru kembali dari toilet memperbaiki pakaianku" balas Vina.
" Ooh! Yasudah kita ke dalam yuk?" ucap Wina.
" Ayo, aku juga sudah nggak sabaran" balas Vina sambil melangkah bersama sahabatnya.
Setelah beberapa jam mereka pun akhirnya telah selesai dalam aktivitasnya. Janie dan Ana telah kembali pulang dan akan bersiap ke acara yang sudah mengundang mereka.
**********
Tak
Tak
Tak.
" Ma, pa, aku pamit dulu ya?" ucap Risa yang melangkah dengan agunnya ke arah kedua orang tuanya.
" Sayang kamu cantik banget" puji Janie menatap anaknya yang terlihat cantik.
" Yaiyalah ma, kan mama cantik masa anaknya buruk rupa sih" ucap Risa.
" Yasudah hati-hati sayang,kalau acaranya sudah selesai cepat balik ya?" ucap Janie.
" Iya ma, Risa berangkat dulu." ucap Risa kemudian beranjak pergi.
" Nggak menyangka pa anak kita sudah dewasa dan sudah jadi model pa"ucap Janie.
" Iya ma, nggak tau kalau mereka nanti bakal menikah,papa harus gimana?" ucap Dian yang membayangkan ketiga anaknya yang akan menikah.
" Ikh papa, doain anak-anak kita dapat jodoh yang baik dan kaya pa bukan sedih gitu" ucap Janie.
" Papa selalu menyertai doa buat mereka ma, jodoh mereka yang kaya ataupun nggak punya apa-apa papa restuin yang penting sayang dan tanggung jawab itu yang utama" ucap Dian.
" Terserah papa, tapi mama tetap mau anak-anak mama jodohnya yang tau bibit bebet bobotnya dan yang kaya raya, mama nggak mau seperti anak papa tu" ucap Janie kesal.
Dian hanya bisa menghela nafas kasarnya dengan ucapan istrinya, ingin membatahpun ujung-ujungnya tak akan kelar nanti.
" Ma, pa ada apa?" tanya Bram yang datang menghampiri mereka yang sudah nampak gagah dengan pakaiannya.
" Nggak ada apa-apa Bram" balas Dian.
" Tampan anak mama, nanti kalau cari istri yang bisa ngajak mama belanja dan shalon ya Bram!" ucap Janie yang menghampiri Bram dan memperbaiki pakaian Bram yang agak kusut.
" Makasih ma atas pujiannya, tapi Bram nggak mau menikah dengan istri yang kerjaannya habisin uang ma. Bram ingin punya istri yang bisa menerima apa adanya Bram ma" ucap bram.
" Kamu nih, seperti papamu. Pokoknya mama mau punya mantu yang asal usulnya bisa membahagiakan mama dan kamu juga" ucap Janie dengan kesal.
" Ma, pa" nyapa Ana yang baru datang dengan gaunnya terlihat cantik.
" Wah sayang, anak papa cantik banget" puji Dian melihat anaknya yang terlihat begitu anggun.
" Cantik apanya pa" ucap Janie yang kesal terhadap suaminya yang berlebihan memuji Ana.
Bram menatap Ana tanpa berkedip, jantungnya berdetak semakin tak menentu melihat kecantikan Ana yang begitu anggunnya. Walaupun setengah dari wajahnya tertutup oleh topeng namun tak menutupi kecantikannya.
" Tunggu kok gaun yang di pakainya nggak rusak? bukankah aku sudah mengguntingnya?" pikir Janie.
Flashback.
" Mana ya gaun yang di pakainya?" gumam Janie sambil membongkar isi lemari Ana.
Janie melihat gaun terjuntai rapih di dalam lemari Ana, dengan cepat mengambil gaun itu.
" Aku nggak mau gara-gara kamu ikut, keluargaku kena aib melihat dirimu. Dasar si buruk rupa dari dulu kau sudah membuat kami malu dan menyusahkan" ucap Janie sambil merusak gaun Ana.
" Akhirnya" gumam Janie tersenyum licik dengan cepat ia mengembalikan gaun itu ketempat semula.
Janie pun keluar dari kamar Ana dengan tersenyum bahagia karena rencananya berhasil untuk membuat Ana tak bisa ikut bersama mereka. Namun tanpa ia ketahui seseorang dari tadi telah curiga pada Janie dan melihat apa yang di lakukan Janie terhadap gaun Ana.
Orang itu pun keluar dari persembunyiannya setelah kepergian Janie. Ia melangkah menuju ke tempat lemari itu, Ia mengambil gaun Ana yang terlihat rusak. Dengan cepat ia mengambil gaun itu dan melangkah pergi.
Setelah beberapa menit kemudian ia kembali dan mengembalikan gaun itu di tempatnya. Dengan cepat ia melangkah ke pintu keluar namun tanpa di duganya ia menabrak seseorang.
" Brruukkhh."
" Akh," suara kesakitan seseorang yang di tabraknya.
" Kak Abra?" ucap Ana kaget dengan kedatangan Abra yang menabraknya.
" A-ana" ucap Bram yang kaget dengan kedatangan Ana.
" Kakak ngapain di sini?" tanya Ana yang bingung dengan kedatangan Bram di kamarnya.
" Mmm tadi kakak ngetuk pintu Ana karena tak ada jawaban kakak masuk ke dalam kamar, namun tak ada siapa-siapa" ucap Bram yang menutupi kegugupannya.
" Oh, trus kakak ngapain cari aku?" tanya Ana.
" Mau nanya gaun yang papa kasih bagus nggak?" balik tanya Bram.
" Bagus kok kak, malah aku suka banget" ucap Ana.
" Ya udah, dandan yang cantik ya? Dan kakak mau pamit kerja dulu" ucap Bram. Ana pun menganggukkan kepalanya.
Bram melangkah pergi meninggalkan Ana yang menatapnya tanpa curiga. " Kakak kenapa ya? seperti maling ketangkep aja" pikir Ana.
Ana menutup pintu kamarnya dan melangkah ke arah bathrom untuk mempersiapkan dirinya.
" Untung aku sempat curiga melihat mama masuk ke kamar Ana, kalau nggak entah apa yang terjadi" gumam Bram yang melangkah ke arah kamarnya
Continue
Bram melihat keterkejutan mamanya yang melihat gaun Ana nampak baik-baik saja. Bram tersenyum kecil mengingat apa yang di lakukannya untuk memperbaiki gaun itu.
Sebenarnya Dian membeli 2 gaun, 1 buat Ana 1 buat Risa dan gaun itu hampir sama. Dian memberikan gaun itu kepada Risa, Risa mengambilnya dan meletakan asal gaun itu. Tanpa di lihat atau di sentuh, baginya gaun yang di berikan ayahnya hanya ketinggalan zaman dan tak bermerek.
Disaat itu pula Bram melihat kelakuan Risa yang sedang sibuk menampilkan dirinya yang sedang memperlihatkan gaun yang cocok di pakainya. Setelah mendapatkan yang terlihat cantik baginya dengan cepat Risa menuju ke bathrom untuk menggantikan pakaiannya.
Bram pun melangkah pergi meninggalkan kamar Risa, di saat menuju ke arah kamarnya ia melihat mamanya yang terlihat seperti mengawasi seseorang. Dengan cepat Bram mengikuti Janie yang menuju ke arah kamar Ana.
" Mama ngapain ya seperti mau maling di rumah sendiri?" pikir Bram yang mengikuti langkah Janie.Janie memasuki kamar Ana dan membuka lemari Ana.
Bram melihat apa yang di lakukan mamanya." Mama kok merusak gaun Ana sih?" batin Bram.
Ia melihat senyum licik ibunya dan kembali bersembunyi di balik dinding ketika Janie melangkah keluar dari kamar Ana. Dengan cepat Bram mengambil gaun itu dan menuju ke kamar Risa dan di tukarlah gaun itu dengan gaun yang sekarang Ana pakai.
" Kak Abra" panggil Ana menepuk bahu Abra yang sedang melamun.
" Ekh maaf" ucap Bram yang kaget dari lamunannya.
" Kakak kenapa?" tanya Ana.
" Nggak ada apa-apa kok, ayo kita berangkat nanti kita bisa melewati acara sambutan" ucap Bram.
Mereka pun beranjak pergi ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman. Janie yang masih dalam pikirannya melihat gaun Ana yang nampak tak rusak sedikit pun.
*********
Di dalam mobil seseorang sedang menatap wanita yang duduk di bangku belakangnya yang sedang sibuk dengan handponenya.
" Apa yang kau lihat Alex?" ucap Risa yang menyadari tatapan seseorang ke arahnya.
Dengan cepat Alex mengalihkan tatapannya dari Risa dan tersenyum melihat kecantikan Risa.
" Kau sangat cantik Risa" ucapnya yang masih menatap jalan kota yang di laluinya.
" Terima kasih Alex atas pujiannya, tapi aku tetap menganggap kamu sebagai supirku. Jadi jangan berharap aku menyukaimu" ucap Risa yang tak mengalihkan tatapannya dari gadgetnya.
" Baik nona" ucap Alex.
" Kenapa Risa sedetikpun kau tak pernah merasakan perasaanku kepadamu? Kenapa aku jatuh cinta padamu Risa sampai aku harus berbuat sekonyol ini untuk mendapatkan cintamu. Andaikan aku jatuh cinta kepada Ana mungkin saat ini juga aku melamarnya, tapi kenapa malah dirimu Risa.Andai hatimu seperti Ana yang begitu baik kesemua orang" batin Alex yang bergelut.
" Jangan berharap aku jatuh cinta kepadamu Alex karena saat ini hatiku hanya untuk seseorang yang sebentar lagi menjadi milikku" ucap Risa sambil mematikan handponenya.
" Lebih baik kau buang jauh-jauh impianmu untuk mendapatkan aku, atau nggak kamu mau sama si buruk rupa itu? Dari pada kamu berharap diriku yang tak ingin di miliki seorang supir" ejek Risa melirik ke arah Alex.
Alex mendengar ejekan Risa terhadapnya hanya bisa menahan amarahnya dengan menggenggam stir mobil yang di kemudinya. Terlihat urat-urat dalam genggaman tangan Alex yang ingin sekali membungkam mulut Risa. Andaikan dia pria jahat dengan cepat ia bisa membuat Risa bertekuk lutut kepadanya. Namun ia masih bisa menahan amarahnya walaupun itu sangat menyakitkan di hatinya.
Setelah beberapa menit akhirnya mobil itu memasuki halaman rumah seseorang yang mengadakan acara itu. Dengan anggunnya Risa keluar dari dalam mobil dan melangkah memasuki halaman yang di adakan acara itu.
" Hai" sapanya ke arah seseorang yang sedang berdiri dengan arogannya.
" Hai juga" balasnya tanpa ada senyum sambil membalas uluran tangan para tamu yang menghampirinya.
" Kau nggak mengajakku ke tempat VIP untuk duduk?" tanya Risa.
" Sepertinya matamu itu di periksa dulu kayaknya ada yang bermasalah" ucapnya meninggalkan Risa yang terdiam dengan ucapannya.
" Dasar pria arogan, dingin banget seperti kulkas. Kalau bukan kau pria terkaya dan terkenal mana mau aku denganmu? Lebih baik sama Alex dari pada kau, dasar pria arogan. Kenapa aku mengingat Alex? Nggak-nggak boleh, aku nggak boleh mengingatnya"pikir Risa sambil menggelengkan kepalanya.
Risa pun melangkah menuju ketempat duduknya dan melihat seseorang yang di kenalnya. Namun tak sengaja ia menabrak seorang waiters yang membawa minuman.
" Bruuukkh".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih yang sudah mampir..
Jangan lupa mampir di karyaku Selingkuhanku Jadi Suamiku, jangan lupa like dan tinggalkan jejaknya.
Terima kasih..
lanjut kak,, semangat terus 💪💪💪
jangan lama-lama y up nya kak
ko lama banget sih update nya...aku tunggu-tunggu ceritanya....
lanjut kak,, semangat terus 💪💪💪