Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cesa si jail
Devan menatap Cesa dengan pandangan jijik sekaligus heran. Cewek di sebelahnya ini benar-benar tidak punya urat malu. Masih pakai baju seksi semalam, rambut berantakan, tapi makannya porsi kuli.
"Lo itu bisa sopan dikit kagak sih? Ini rumah terhormat, bukan warteg pinggir jalan!" ketus Devan sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Elah, Devan, Devan. Hidup itu dibawa santai aja kali. Lo tegang amat kaya karet kolor baru," sahut Cesa santai saat sepiring nasi goreng pesanannya tiba. Cesa langsung menyendok nasi goreng itu dengan brutal. "Lagian, Papa lo aja santai sama gue. Papa lo tuh sayang banget sama gue karena tahu gue ini menantu idaman yang jujur, gak munafik kaya kakak gue yang kabur itu."
Mendengar nama Selia disebut, Devan mendengus sinis. "Kakak lo tuh waras karena kabur dari keluarga gue yang ribet ini. Nah lo? Malah nyerahin diri. Otak lo geser ya?"
"Otak gue gak geser, tapi dompet gue yang butuh diisi, bapak Devan yang emosian," jawab Cesa setelah menelan makanannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Devan, membuat aroma parfum vanila bercampur satin tipisnya tercium oleh Devan. Devan agak salah tingkah dan memilih memalingkan wajah.
"Gue logis aja sih," lanjut Cesa dengan nada bar-barnya.
"Gue tahu kekayaan bokap lo tuh behhh... melimpah ruah! Daripada kakak gue yang dapet, mending gue lah yang nikmatin. Liat nih mansion, pelayannya belasan. Gue tinggal kedip, makanan dateng. Gue tinggal bersin, ada yang ngelapin. Ini mah surga dunia!"
"Matre lo!"
"Bukan matre, sayang... tapi realistis," balas Cesa dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja memancing emosi Devan. "Lagian lo juga untung kan dapet gue? Daripada dapet Selia yang lemah lembut menye-menye, mending dapet gue yang bisa diajak baku hantam. Betul tidak?"
"Untung dari mana?! Buntung yang ada!" Devan berdiri dari kursinya, membuat kursinya berdecit keras. "Gue gak sudi punya istri bar-bar kayak lo. Inget ya, pernikahan ini cuma status di atas kertas buat nyenengin Papa gue. Jangan harap lo bisa dapet hati gue!"
Cesa ikut berhenti mengunyah, ia menatap Devan dari bawah ke atas dengan tatapan meremehkan. "Hati lo? Sori ya, gue gak butuh hati lo yang tengil itu. Yang gue butuhin tuh black card lo, fasilitas gym lo, kolam renang lo, sama jaminan hidup mewah sampai tua. Hati lo mah boleh lo kasih ke ayam tetangga!"
"Lo—!!" Devan menunjuk wajah Cesa dengan jari telunjuknya, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Devan adalah tipikal cowok tampan yang emosian, gampang dipancing, dan selalu ingin menang sendiri. Tapi berhadapan dengan Cesa yang level bar-barnya sudah mencapai tingkat dewa, Devan selalu berakhir kalah start.
"Kenapa? Mau marah? Tunjuk-tunjuk ntar jarinya gue gigit baru tahu rasa!" ancam Cesa sambil pura-pura membuka mulutnya lebar-lebar memamerkan giginya.
Devan menarik kembali jarinya dengan kesal. "Cewek stres! Gila! Terserah lo lah!"
Dengan langkah besar-besar dan penuh hentakan emosi, Devan meninggalkan ruang makan. Ia berniat menuju ruang gym pribadinya di lantai dua untuk melampiaskan seluruh kekesalan dan rasa kantuknya yang berubah jadi energi kemarahan pada sansak tinju.
Cesa yang ditinggalkan sendiri malah terkekeh puas. Ia kembali menyendok nasi gorengnya dengan santai.
"Hmm, enak banget nih nasi goreng. Koki sultan emang beda," gumam Cesa bahagia. Ia melirik pelayan yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan. "Mbak, suami kampret gue itu kalau marah emang suka gitu ya? Sering-sering aja deh biar cepet tua"
Pelayan itu hanya bisa tersenyum canggung, tidak berani menanggapi ucapan bar-bar sang nyonya muda baru yang luar biasa unik ini.
Dua jam berlalu setelah sarapan yang penuh huru-hara itu. Devan sudah mengganti pakaiannya dengan baju olahraga tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek hitam. Ia berada di ruang gym pribadi mansionnya yang sangat luas, lengkap dengan peralatan kebugaran standar atlet profesional.
BUGH! BUGH! BUGH!
Suara hantaman keras terdengar berulang kali saat Devan memukul sansak gantung di tengah ruangan dengan sarung tinju merahnya. Keringat sudah membanjiri tubuh atletisnya, membuat otot-otot lengan dan dadanya yang bidang terlihat berkilau di bawah lampu ruangan. Devan melampiaskan seluruh rasa frustrasinya. Bayangan wajah cengengesan Cesa saat meledek mata pandanya terus berputar di kepalanya, membuat pukulannya semakin kuat.
"Cewek sialan. Cewek bar-bar. Cewek matre kampret," umpat Devan di setiap pukulannya.
BUGH! BUGH!
"Aduh, mas suami... pagi-pagi udah rajin amat gebukin bantal raksasa. Ada dendam kesumat apa sih?"
Suara cempreng yang sangat Devan kenali tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk gym. Devan menghentikan pukulannya, napasnya terengah-engah. Ia menoleh dengan tatapan tajam dan mendapati Cesa sedang bersandar di kusen pintu.
Cesa rupanya sudah mandi dan mengganti dress satinnya. Sekarang ia memakai kaos oblong kedodoran berwarna putih dengan sablonan gambar pinokio di depannya—kaos yang sangat tidak estetis untuk ukuran mansion sultan—dan celana pendek di atas lutut. Tangannya memegang sebuah buah pir yang sudah digigit setengah.
"Ngapain lo ke sini?! Mengganggu pemandangan gue aja!" usir Devan ketus sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
Cesa berjalan masuk tanpa rasa bersalah, melangkah santai di atas lantai karet gym. "Elah, sensian amat sih bos. Gue ke sini mau liat fasilitas rumah baru gue dong. Wah, lengkap juga ya. Ada treadmill, ada angkat beban... Lo lagi latihan biar kuat ya? Biar kuat menghadapi kenyataan kalau istri lo ini terlalu menawan?"
Devan memutar matanya malas. Ia berjalan menuju bench press, berniat melakukan latihan angkat beban untuk mengabaikan keberadaan Cesa. Devan berbaring di bangku, menaruh kedua tangannya pada barbel besi yang sudah diberi beban total 80 kilogram.
"Pergi sana lo, Cesa. Gue mau angkat beban. Jangan deket-deket, ntar kalau beban ini jatuh kena muka lo yang pas-pasan itu, gue gak tanggung jawab," usir Devan sambil mulai mengangkat barbel tersebut ke atas. One... two... three... Devan fokus pada gerakannya.
Cesa tersenyum licik. Jiwa jailnya yang sudah mendarah daging mendadak bergejolak melihat posisi Devan yang sedang rentan di bawah barbel besi tersebut. Cesa berjalan pelan tanpa suara ke arah kepala Devan yang sedang berbaring.
Begitu Devan sedang berada di hitungan ketujuh dan bersiap mendorong beban ke atas dengan sisa tenaganya, Cesa tiba-tiba mencondongkan wajahnya tepat di atas wajah Devan. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa centimeter. Cesa melototkan matanya dan membuat muka jelek super kocak sambil berbisik kencang, "BOO!!"
"ANJIRR!!"
Devan kaget setengah mati melihat muka abstrak Cesa yang tiba-tiba muncul di atasnya. Keseimbangan Devan goyah. Tenaganya mendadak hilang karena terkejut. Barbel besi seberat 80 kilo itu langsung merosot turun dengan cepat menuju dada Devan.
"WOY! WOY! TOLONGIN GUE, BEGO!" teriak Devan panik, menahan besi itu dengan sisa tenaganya agar tidak meremukkan tulang dadanya. Urat-urat di leher Devan langsung menyembul tegang, wajahnya memerah padam antara menahan beban dan menahan emosi yang siap meledak ke ubun-ubun.
Cesa yang melihat itu bukannya langsung menolong, malah memegangi perutnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. "BWAHAHAHA! Ya ampun Devan! Muka lo komedi banget! Hahaha! Tahan, Devan, tahan! Lo kan cowok macho ala-ala sultan!"
"CESA!! ANJING LO YA! TOLONGIN GUE SEKARANG ATAU GUE CERAIIN LO HARI INI JUGA!" raung Devan dengan suara menggelegar sampai bergema di seluruh ruang gym.
Mendengar kata 'cerai' yang berarti hilangnya akses ke kekayaan sultan, Cesa langsung berhenti tertawa. "Eh eh, jangan dong! Jangan cerai! Iya-iya gue tolongin!" Dengan cepat, Cesa memegang barbel besi itu dan membantu Devan mengangkatnya kembali ke dudukan besi penyangga dengan sekuat tenaga. KLANG! Besi itu akhirnya aman di tempatnya.
Devan langsung bangkit duduk dengan napas memburu. Ia menatap Cesa dengan mata yang menyala-nyala penuh amarah. Jika tatapan mata bisa membunuh, Cesa pasti sudah berubah jadi abu saat itu juga.
"LO HAMPIR BIKIN GUE MATI, CEWEK GILA!!" bentak Devan, berdiri dan menjulang tinggi di depan Cesa yang bertubuh lebih mungil.
Cesa mundur satu langkah, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia malah menepuk-nepuk pundak Devan yang berkeringat dengan santai. "Yah, kan gak mati, Devan sayang. Masih hidup tuh, napasnya masih lancar, suaranya masih cempreng kayak toa masjid. Lagian lo lemah amat sih, digituin doang langsung oleng. Makanya, punya mata tuh dipake, jangan merem mulu gara-gara kurang tidur."
"Gue kurang tidur gara-gara siapa, hah?! Gara-gara lo dan keluarga lo yang rese itu!" Devan menepis tangan Cesa dari pundaknya dengan kasar. "Pergi lo dari ruangan gue sekarang! Sebelum gue bener-bener khilaf ngelempar lo pakai piringan beban ini!"
"Iya iya, gue pergi. Galak amat kayak monyet ragunan," cibir Cesa. Sebelum melangkah pergi, Cesa dengan sengaja menaruh sisa buah pir yang sudah digigitnya tadi tepat di atas genggaman tangan Devan yang masih memakai sarung tinju. "Nih, buat lo. Biar dapet asupan vitamin, biar gak emosian mulu. Bye suami kampret!"
Cesa berlari kecil keluar dari ruang gym sambil tertawa puas, meninggalkan Devan yang berteriak frustrasi sambil meremukkan apel di tangannya hingga hancur berantakan.
"CESAAAAAA!!! AWAS LO YA!!! GUE BALES LO NANTI!!!" teriakan Devan menggema, namun Cesa hanya membalasnya dengan lambaian tangan bar-bar dari luar pintu. Siang hari yang panjang baru saja dimulai, dan Cesa sudah siap dengan rencana-rencana jail berikutnya untuk membuat hidup suami sultannya tidak pernah tenang.