NovelToon NovelToon
OKAY BOSSS

OKAY BOSSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.


bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.

Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAK SAGARAA

Sila membanting laptopnya ke atas kasur busa kosannya yang sempit. Bunyi bep tanda pesan masuk dari ponselnya kembali berbunyi untuk yang ke-20 kalinya malam ini.

Di hari minggu malam senin.

"Kerjain revisi laporan keuangan kuartal tiga. Kirim sebelum jam 10 pagi besok. Jangan telat, Sayang... eh, maksudnya Sekretaris Sila."

Siapa lagi jika bukan sang ceo terhormat yang spam malam malam.

Sila mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Sagara. Mantan pacarnya yang brengsek,sekaligus boss , sekarang menjelma menjadi bos sekaligus terroris pribadi yang siap merusak kesehatan mental Sila.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini sebuah foto masuk. Ia membuka foto itu sagara tampak di foto sedang memegang cangkir kopi di kamar nya yang mewah, dengan senyum tengil khasnya yang sangat ingin Sila tonjok.

"Di kosan mulu. Nggak kangen lembur bareng CEO Ganteng ya?"

"Sinting! Bener-bener sakit jiwa!" teriak Sila frustrasi ke langit-langit kosannya. Emosinya sudah di ubun-ubun.

Ia langsung mengetik balasan dengan jari yang menghentak kasar ke layar

.

"Ini sudah jam 9 malam juga masi hari minggu. Pak sagara yang terhormat! Jobdesk saya bukan meladeni gangguan jiwa Anda di luar jam kantor!"Detik berikutnya, ponsel Sila langsung berdering. Panggilan video dari Sagara. Sila menggeser tombol hijau dengan kasar. Layar menampilkan wajah sagara  yang sok tampan, bersandar di kursi kebesarannya sambil menaikkan satu alisnya dengan rese.

"Galak banget sih, Sil. Lagi dapet?" ledek sagara tanpa dosa, senyum meremehkannya mengembang sempurna. "Lagian, siapa yang lagi ganggu? Ini murni urusan profesional. Tugas dari CEO untuk sekretarisnya. Kenapa? Nggak kuat? Mau resign? Inget ya, penalti kontrak kamu itu mahal."

Sila menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan diri agar tidak melempar ponselnya ke dinding. "Sagara, denger ya. Kita udah putus enam tahun lalu! Jadi stop bertingkah tengil dan sok berkuasa di depan gue!"

"Heits, saya kan atasan kamu panggil pak, dong," potong sagara sambil terkekeh, sengaja memancing amarah Sila.

"Besok senin jangan telat.Oiya .. satu tugas lagi. Besok beliin saya americano yang pait sekali,supaya mirip kayak kenangan kita yang pahit."

"SAGARA!! LO BENER-BENER RESE YA!!!" teriak Sila histeris, tepat sebelum ia mematikan sambungan telepon sepihak.

Napas Sila memburu karena emosi. Kamar kosan yang tadinya tenang kini terasa panas. Sila tahu, besok pagi di kantor akan menjadi medan perang yang jauh lebih gila.

                             ∆∆∆∆∆∆∆∆

Silla menarik napas panjang, menahannya selama lima detik, lalu mengembuskannya perlahan. Ritual itu sudah ia lakukan sebanyak tiga puluh kali sejak menapakkan kaki di kantor derios prananta grup pukul delapan pagi tadi.

Menjadi sekretaris eksekutif adalah pekerjaan yang sulit. Menjadi sekretaris eksekutif dari —CEO muda yang cerdas, tengil, rese, dan sialnya adalah mantan pacarnya sendiri—adalah definisi dari ujian mental tingkat dewa.

"Silla, kopi saya kurang manis. Sama kayak senyum kamu pagi ini, kecut banget," suara Sagara menggema dari interkom di meja Silla.

Silla memejamkan mata, meremas pulpennya erat-heavy. Ia menekan tombol interkom. "Baik, Pak Sagara. Saya tambahkan gula."

Saat Silla mengantarkan kopi revisi tersebut ke ruangan CEO, Sagara sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen dengan senyum tipis yang sangat menyebalkan.

"Nah, begini dong. Tapi Silla, dokumen laporan divisi kok belum ada di meja saya?" tanya Sagara dengan nada menuntut yang dibuat-buat sengaja memancing emosi sagara.

"Sudah saya letakkan di map merah sebelah kanan laptop Bapak sejak jam setengah sembilan," jawab Silla datar, berusaha menjaga suaranya tetap profesional.

Sagara melirik map yang dimaksud, lalu terkekeh tanpa rasa bersalah. "Oh, iya. Sengaja pura-pura gak lihat, biar kamu masuk ke ruangan saya lagi."

Tahan, Silla. Cicilan paylater masih tiga tahun lagi, batin Silla mencoba menenangkan diri.

Pukul 13.00: Rapat yang Menguras Emosi

Puncak keresean Sagara berlanjut saat rapat divisi pemasaran. Silla duduk di sebelah Sagara untuk mencatat notulen. Di depan para manajer dan investor, Sagara bertingkah seolah-olah dia adalah bos paling perfeksionis di dunia, yang sebenarnya hanya taktik untuk mengerjai Silla.

"Presentasi ini bagus, tapi saya rasa sekretaris saya punya pendapat lain. Gimana, Silla? Kamu kan biasanya paling pintar kalau urusan mengkritik orang? Kayak dulu sering mengkritik saya," ucap Sagara santai.

Seluruh ruangan mendadak hening. Para manajer saling pandang, bingung dengan sindiran personal sang CEO.

Silla merasakan darahnya berdesir panas. Namun, ia menolak untuk terlihat lemah. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Sagara lurus-lurus, dan menjawab dengan suara lantang

"Secara profesional, Pak, strategi pemasaran digital yang dipaparkan sudah sangat matang. Namun, fokus kita harus ditajamkan pada retensi konsumen usia muda, bukan cuma menarik perhatian di awal lalu ditinggalkan begitu saja... seperti kebiasaan beberapa orang."

Sagara menaikkan sebelah alisnya. Senyum tengilnya makin melebar. Ia tahu persis sindiran itu ditujukan untuknya. "Bagus. Notulen dicatat dengan baik ya, Mantan... maksud saya, Sekretaris Silla."

Jam menunjukan pukul tujuh malam

Ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, Silla sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia sudah merapikan tasnya dan bersiap mematikan komputer. Namun, pintu ruangan CEO terbuka. Sagara keluar gulungan kemejanya sudah ditekuk hingga siku, dasinya sudah sedikit longgar—penampilan yang dulu selalu membuat Silla terpesona, tapi sekarang hanya membuatnya ingin melempar stapler.

"Mau ke mana, Silla? Kita ada re-schedule rapat malam ini jam delapan malam dengan klien dari Surabaya. Kamu harus ikut," kata Sagara sambil bersandar di kubikel Silla.

"Pak, jadwal Bapak malam ini kosong. Pertemuan dengan klien Surabaya itu baru besok pagi," protes Silla, menunjukkan tablet kerjanya.

"Saya CEO-nya suka suka saya dong, jadi saya yang menentukan kapan jadwal itu dimajukan. Kita butuh mempersiapkan materinya malam ini. Berdua. Di ruangan saya," ujar Sagara dengan nada yang sengaja direndahkan, penuh provokasi.

Silla mengepalkan tangannya di bawah meja. Seharian ini ia sudah menahan emosi menghadapi ejekan, sindiran, dan tingkah kekanak-kanakan Sagara.

"Kenapa Bapak selalu begini?" tanya Silla akhirnya, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. "Kalau Bapak tidak suka saya kerja di sini, pecat saja saya. Gak usah bikin saya sengsara seharian dengan tingkah tengil Bapak!"

Sagara tertegun sejenak melihat mata Silla yang berkaca-kaca karena menahan kesal. Senyum menyebalkan di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh tatapan yang sulit diartikan.

Ia melangkah mendekat, lalu mengetuk meja Silla pelan. "Saya gak akan pecat kamu, Sil. Karena cuma kamu satu-satunya orang di kantor ini yang berani natap mata saya dan gak takut sama saya. Lagian... kalau kamu gak ada, kantor ini jadi membosankan."

Sagara berbalik berjalan menuju ruangannya, namun berhenti di ambang pintu. "Saya pesan makanan buat lembur. Kamu mau sushi kesukaan kamu, kan? Jangan nangis, jelek. Setengah jam lagi kita mulai."

Pintu ruang CEO tertutup. Silla mengembuskan napasnya kencang-kencang, lalu mengacak rambutnya frustrasi. Hari yang panjang, emosi yang terkuras habis, dan kenyataan bahwa mantannya yang rese itu masih mengingat makanan kesukaannya, membuat jantung Silla sialnya malah berdetak sedikit lebih cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!