NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Berpacu dengan waktu

Malam yang terasa begitu singkat itu akhirnya menyerah pada datangnya fajar. Langit di timur Desa Hutan Batu perlahan-lahan menyemburkan gradasi warna jingga kemerahan, menembus celah-celah atap gubuk reyot dan menyinari wajah Lin Wanru yang masih menyisakan sedikit noda lebam di pipi kirinya.

Wanru membuka matanya. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, apalagi meratapi rasa sakit di tubuhnya. Perutnya terasa melilit hebat karena sejak malam tadi hanya diisi oleh semangkuk sup keruh berpasir.

Namun, rasa lapar itu justru ia jadikan sebagai bahan bakar utama untuk membakar semangat tempurnya.

Ia melirik sejenak ke arah sudut ruangan. Ia melihat Nyonya Lin dan Lin Bao masih terlelap dalam lelah yang teramat sangat, hingga Wanru sengaja tidak membangunkan mereka.

Paman Lin Dehai kemungkinan besar akan datang menghantam pintu mereka saat matahari mencapai puncak kepala, menagih utang tiga tael perak atau menyeretnya secara paksa. Sebelum jam kematian itu berdetik, ia harus mendahului langkah mereka.

"Aku harus berpacu dengan waktu," gumam Wanru pelan. Ia bangkit dari ranjang, mengikat rambut kusutnya dengan kencang, menyandang kantong kain usang kosong di bahunya, dan menggenggam sebatang kayu penopang.

Tanpa suara, ia mendorong daun pintu gubuk dan melangkah keluar ke udara pagi yang dingin menusuk tulang.

Pagi hari di Hutan Hantu terasa jauh lebih sunyi dan mencekam dibandingkan siang hari. Kabut tipis masih menggantung rendah di atas tanah berlumpur, menciptakan pemandangan remang-remang yang tampak seperti labirin tak berujung.

Bagi penduduk desa, berjalan sendirian di hutan ini saat fajar adalah bentuk bunuh diri. Namun bagi Wanru, hutan ini adalah satu-satunya ladang harapan yang tersisa untuk mengubah nasib.

Dengan langkah cepat meski kakinya masih terasa sedikit nyeri, Wanru menyusuri kembali jalur kemarin. Kali ini, ia tidak membuang waktu untuk mencari ginseng liar yang proses penggaliannya memakan waktu lama.

Target utamanya adalah komoditas herbal cepat saji dan tanaman obat bernilai tinggi yang tumbuh melimpah di zona transisi pinggiran hutan, sesuatu yang bisa segera dipetik, dikumpulkan dalam jumlah banyak, dan langsung laku di pasaran.

Krosak... krosak...

Ia bergerak lincah menyusuri tepian sungai kecil. Matanya memindai setiap jengkal tanah dengan presisi tinggi.

Dalam waktu dua jam pencarian yang melelahkan, usahanya benar-benar tidak mengkhianati hasil. Di dalam kantong kain usangnya kini telah terkumpul sekumpulan besar Jamur Tiram Liar segar yang tumbuh subur di bawah batang pohon lapuk.

Beberapa ikat Tanaman Pegagan berkualitas baik yang dicabut utuh dengan akarnya.

Sejumlah besar Akar Manis (Licorice) dan beberapa rumpun Jamur Shiitake Liar berdaging tebal yang memiliki aroma harum yang khas.

Wanru menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang berlumuran debu tanah. Ia mengangkat kantong kainnya yang kini terasa cukup berat dan padat di bahunya.

"Cukup," bisik Wanru dengan napas sedikit terengah-engah namun tersenyum puas. "Jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian pembeli pertama di pasar. Sekarang, aku harus bergegas keluar hutan sebelum matahari semakin tinggi dan Paman sialan itu mendatangi gubuk."

Wanru keluar dari batas Hutan Hantu dengan langkah cepat, menyusuri jalan setapak tanah yang mulai ramai oleh beberapa petani desa yang hendak pergi ke ladang. Ia sengaja menghindari jalan utama di dekat rumah Nyonya Liu untuk menghindari keributan yang tidak perlu.

Namun, begitu ia berhasil keluar dari area desa dan menapaki jalan raya setapak menuju kota kecamatan terdekat, sebuah masalah besar mendadak menghantam kepalanya bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Wanru menghentikan langkahnya di persimpangan jalan tanah yang bercabang tiga. Ia menatap ke arah kanan dan kiri, lalu mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Tunggu sebentar... Di mana pusat perdagangan di era ini? Ke arah mana aku harus berjalan untuk menemukan pasar tempat jual beli?" batin Wanru, menyadari sebuah celah fatal dalam ingatannya.

Tubuh asli Lin Wanru yang berusia delapan belas tahun adalah seorang gadis desa terpencil yang seumur hidupnya nyaris tidak pernah keluar dari lingkup Desa Hutan Batu, apalagi pergi berbelanja ke pasar kota kecamatan!

Memori gadis itu kosong total mengenai tata letak geografis wilayah sekitar, nama-nama jalan, atau letak pasar tradisional zaman Dinasti Liang.

Bagi seorang CEO modern, tersesat di tengah kota metropolitan bukanlah masalah besar karena ada aplikasi peta digital (Google Maps) atau GPS di dalam ponsel pintar. Tinggal ketik tujuan, lalu ikuti arah navigasi suara.

Tapi di sini? Di era dinasti kuno yang dikelilingi hutan belantara dan bukit batu, tidak ada papan penunjuk jalan, tidak ada sinyal internet, dan tidak ada satupun aplikasi navigasi. Yang ada hanyalah hamparan ladang kosong, jalan setapak berdebu, dan kicauan burung gagak di kejauhan.

"Sial..." gumam Wanru frustrasi, seraya mencengkeram erat tali kantong bawaannya. "Ini masalah yang sangat konyol. Aku punya produk berkualitas tinggi, aku punya strategi bisnis, aku punya tekad baja... tapi aku bahkan tidak tahu ke arah mana aku harus berjalan untuk menjualnya!"

Jika ia salah memilih arah jalan setapak dan berjalan berputar-putar seharian di padang rumput, matahari keburu terbenam, Paman Dehai keburu menghancurkan gubuknya, dan seluruh hasil jerih payahnya hari ini akan menjadi sia-sia belaka.

Waktu terus berjalan detik demi detik, dan matahari pagi perlahan-lahan merangkak naik memancarkan terik pertamanya di langit Dinasti Liang.

Apa yang harus dilakukan oleh sang mantan CEO jenius di tengah kebuntuan geografis yang memalukan ini?

Bersambung...

1
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!