Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Distorsi dan Intrik Takdir
Kotak beludru biru tua itu kini berada hangat dalam genggaman Mahika. Usai menerima pin miniatur wing dengan ukiran namanya, jemari Mahika meremas kain halus wadah tersebut dengan sisa-sisa rasa canggung yang masih membakar dada. Mahija, dengan senyum tipis khas perwira yang sulit ditebak, melangkah setengah tapak mendahuluinya, memberi gestur ramah agar gadis itu mengikutinya keluar dari keheningan hangar.
"Ikut saya sebentar lagi," ajak Mahija. Suara baritonnya terdengar tegas namun menyimpan kehangatan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Mahika mengerjap, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih bergemuruh akibat insiden celetukan Fian di kokpit tadi.
"Mau ke mana lagi, Mahija? Ini sudah sore, saya harus kembali ke rombongan Bu Lasmi."
"Tenang saja, semuanya aman dalam kendali saya," jawab Mahija singkat tanpa menghentikan langkah tegapnya.
Mereka menyusuri koridor kompleks pangkalan yang dikelilingi pepohonan rindang. Di bawah naungan langit sore yang berangsur menua, angin berhembus membawa hawa dingin yang kontras dengan ketegangan tipis di antara mereka. Mahika berjalan bersisian dengan Mahija, memperhatikan betapa melangkahnya pria itu selalu diatur dengan ritme terukur khas militer.
Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah deretan bangunan memanjang berpintu simetris dengan arsitektur khas asrama militer. Cet dinding putih berseri dipadu dengan pekarangan rumput yang dipangkas amat rapi memberi kesan disiplin yang kaku.
"Ini area barak dan asrama Bujangan Perwira," terang Mahija seraya menunjuk ke salah satu pintu di ujung lorong. "Di sana kamar saya. Tempat saya melepas lelah kalau sedang tidak ada dinas luar atau tidak sedang patroli di pesisir."
Mahika menatap bangunan itu dengan pandangan mengamat. Ada kesan kaku, dingin, dan sangat teratur dari tempat tinggal sang perwira sangat bertolak belakang dengan rumah pantai pelariannya yang berantakan dan sunyi.
"Kamu tunjukkan ini semua ke saya buat apa, Mahija?" tanya Mahika polos, menoleh menatap rahang tegas pria di sampingnya.
Mahija menghentikan langkah, membalikkan badannya hingga berhadapan langsung dengan Mahika. Postur tubuhnya yang tinggi tegap berbalut seragam PDU lengkap membuat bayangannya menutupi tubuh Mahika dari terpaan angin sore.
"Supaya kamu tahu, Mahika... ini dunia saya. Kaku, penuh aturan, dan mungkin kelihatan membosankan buat kamu," ucap Mahija dengan sorot mata lurus yang mengunci pandangan gadis itu. "Tapi di tempat kaku ini, ada orang yang selalu memikirkan kamu setiap kali selesai bertugas."
Mahika mendadak bungkam. Tenggorokannya seperti tersumbat. Selama ini, ia tak pernah sekalipun memanggil pria di depannya ini dengan sebutan 'Mas', seperti yang biasa dilakukan gadis-gadis desa atau orang lain kepada seorang perwira. Bagi Mahika, memanggil nama "Mahija" secara langsung adalah benteng terakhirnya untuk menjaga jarak, sebuah tanda bahwa ia tidak ingin larut dalam pesona sang pria.
"Saya... saya mau pulang sekarang, Mahija. Sungkan sama Bu Lasmi dan warga lain kalau kelamaan," cicit Mahika defensif, berusaha mengalihkan pembicaraan yang kian mengikis pertahanan batinnya.
Mahija mengikis jarak di antara mereka, menyunggingkan senyum misterius yang penuh arti. "Warga desa sudah pulang dari satu jam yang lalu, Mahika."
Mata Mahika seketika membelalak sempurna. "Apa?! Pulang? Kenapa saya ditinggal?!"
"Saya yang minta Bu Lasmi dan rombongan untuk pulang duluan," sahut Mahija santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap wajah kaget Mahika dengan rasa puas yang tersembunyi. "Jodoh itu kadang tidak bisa cuma ditunggu... kalau perlu, ya harus dijebak sedikit."
"Mahija!" pekik Mahika tertahan, wajahnya memerah padam antara kesal, panik, dan salting yang tak tertolong. "Kamu benar-benar licik ya! Terus saya pulang naik apa sekarang?!"
"Naik mobil saya, sama saya," potong Mahija cepat dan mutlak, tak menerima bantahan. "Tugas saya memastikan warga yang saya undang pulang dengan selamat. Khusus untuk kamu, pengawalannya harus ekstra ketat."
Atmosphere di sekitar mereka mendadak berubah. Ketegangan tipis bercampur aduk dengan desiran romantis yang kaku. Mahika mengepalkan tangannya di samping gaun navy-nya, menatap Mahija dengan pandangan sengit, namun di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin meledak. Pria ini sungguh nekat dan tak tertebak.
Beberapa menit kemudian, Mahija mengarahkan Mahika menuju area parkir khusus perwira. Sebuah mobil SUV pribadi milik Mahija terparkir rapi di sana. Pria itu membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan sangat sopan untuk Mahika. Dengan bibir ditekuk dan napas yang masih menggebu akibat kekesalannya yang campur aduk, Mahika melangkah masuk dan duduk di dalam kabin mobil yang harum aromaterapi kayu cendana.
Namun, drama sore itu belum berakhir.
Saat Mahija mengitari kap mobil untuk duduk di kursi pengemudi, beberapa perwira senior dan anggota kesatuan yang melintas di area parkir mendadak menghentikan langkah. Di antara mereka, terlihat sosok Kolonel Bambang-atasan langsung Mahija bersama sang istri yang mengenakan seragam serba merah muda khas Pia Ardhya Garini.
"Wah, wah... Komandan Mahija!" seru seorang kapten junior yang berjalan di belakang Kolonel Bambang sambil tertawa goda. "Pantesan dari tadi dicariin di ruang VIP gak ada, ternyata lagi bertugas mengawal 'tamu khusus'!"
"Cieee! Siap-siap sebar undangan ini mah!" celetuk anggota lainnya dari kejauhan, disambut gelak tawa riuh dari para prajurit yang bertugas.
Mahija hanya terkekeh pelan sambil memberi hormat militer secara singkat ke arah rekan-rekannya, mencoba bersikap tenang meski kedua pipinya sendiri ikut mengeras menahan malu. Istri Kolonel Bambang mendatangi sisi kaca mobil Mahika yang terbuka setengah. Wanita paruh baya yang anggun itu tersenyum sangat hangat menatap Mahika yang duduk kaku di dalam.
"Cantik sekali calonnya Mahija," puji Ibu Kolonel dengan nada ramah. "Mahija ini perwira paling dingin kalau soal perempuan di markas. Baru kali ini Ibu lihat dia mau bukain pintu mobil buat wanita selain ibunya sendiri. Pinter kamu ya, Nak, bikin Mahija luluh."
Wajah Mahika rasanya seperti disiram minyak panas. Ia menunduk dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum paksakan yang teramat canggung. "M-makasih, Bu... Tapi saya cuma..."
"Sudah, tidak usah malu-malu," potong Kolonel Bambang sambil menepuk bahu tegap Mahija kekeluargaan. "Mahija, bawa mobilnya hati-hati. Jangan bikin putri orang kapok main ke pangkalan kita!"
"Siap, Laksanakan, Komandan!" tegas Mahija mantap sambil kembali memberi hormat penuh kebanggaan.
Setelah sesi 'interogasi' dan godaan riuh dari para atasan serta anggota kesatuan selesai, Mahija akhirnya masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Keheningan langsung menyergap kabin mobil yang tertutup rapat.
Mahija menyalakan mesin, lalu memutar kemudi perlahan keluar dari area pangkalan udara. Di dalam mobil, suasana terasa begitu pekat. Mahika melemparkan pandangannya lurus ke luar jendela, berpura-pura sangat sibuk memperhatikan deretan pohon mahoni di sepanjang jalan keluar pangkalan, padahal seluruh saraf di tubuhnya tegang luar biasa.
"Marah?" tanya Mahija pelan, menyela sunyi di antara deru halus mesin mobil.
"Menurut kamu?" balas Mahika dingin tanpa menoleh. "Kamu bikin saya malu di depan atasan kamu, Mahija. Lagipula, kamu gak berhak jebak saya begini."
Mahija menghentikan mobilnya sejenak di lampu merah perempatan jalan pangkalan. Pria itu memutar tubuhnya sedikit, menatap profil samping wajah Mahika yang nampak kaku.
"Saya minta maaf kalau cara saya bikin kamu malu," tutur Mahija dengan nada suara yang perlahan melunak, membuang jauh-jauh kesan dominan militernya.
"Tapi kalau saya gak pakai cara ini, kamu bakal terus lari, Mahika. Kamu bakal terus ngelindungin diri kamu di balik benteng kaku yang kamu buat sendiri." lanjut Mahija.
Mahika menggigit bibir bawahnya. Pandangannya bergetar. "Saya cuma gak mau berharap pada siapa-siapa lagi, Mahija. Saya udah capek dihancurkan."
"Saya tahu," bisik Mahija lembut. Tangan kanannya tergerak, bertengger di atas roda kemudi dengan jemari yang kokoh. "Makanya saya gak minta kamu buat percaya atau berharap sama saya hari ini. Cukup biarkan saya ada di dekat kamu. Biarkan Mahija ini yang membuktikan kalau gak semua orang dalam hidup kamu bakal meninggalkan luka."
Penekanan pada kata 'Mahija' dari bibir sang perwira seolah menegaskan bahwa ia menerima dengan lapang dada cara Mahika memanggilnya. Pria itu tidak menuntut panggilan mesra atau sebutan 'Mas'. Bagi Mahija, mendengar namanya diucap oleh bibir Mahika sudah cukup menjadi bukti bahwa eksistensinya telah tertanam di hati gadis itu.
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju membelah rute jalan raya menuju arah pesisir pantai. Di sepanjang perjalanan, tak ada lagi kata-kata yang terucap, namun keheningan di antara mereka tak lagi terasa menakutkan. Ada benang tak kasat mata yang kini terikat kuat, menjalin dua insan yang saling bertolak belakang dalam sebuah distrik takdir yang baru.
Mahika meremas pelan wadah kotak beludru di pangkuannya, menyadari satu hal dengan pasrah: benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun kini benar-benar telah bobol di tangan seorang perwira bernama Mahija.