NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DARAH DAN PENGKHIANATAN

Aku berdiri mematung menatap pria tua di hadapanku.

Adrian Imanuel.

Pria yang selama ini dianggap telah meninggal. Pria yang ternyata merupakan ayah kandungku. Dan pria yang kini berdiri sambil memegang buku hitam yang telah menghancurkan hidup begitu banyak orang.

“Jadi... kau benar-benar ayahku?” tanyaku dengan suara bergetar.

Adrian tersenyum tipis.

“Ya, Isabella. Aku ayah kandungmu.”

Air mataku mulai menggenang.

“Lalu mengapa kau meninggalkanku? Mengapa Ibu harus hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun? Mengapa semua orang menyembunyikan kebenaran dariku?”

Senyum Adrian menghilang.

“Karena aku ingin kau tetap hidup.”

Aku tertawa kecil, getir.

“Lucu sekali. Semua orang selalu menggunakan alasan yang sama untuk membenarkan kebohongan mereka.”

Adrian tidak membantah.

Sementara itu, Dominic berdiri di sampingku dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal, seolah-olah sedang menahan amarah yang bisa meledak kapan saja.

“Kau seharusnya sudah mati,” ucap Dominic dingin.

Adrian menoleh kepadanya.

“Begitu juga ibumu. Tapi ternyata hanya aku yang berhasil bertahan.”

Dominic langsung melangkah maju.

“Jangan pernah menyebut ibuku.”

Adrian tertawa pendek.

“Kenapa? Kau masih merasa bersalah karena telah membunuhnya?”

Aku menatap Dominic.

“Adrian, hentikan!”

Namun, pria tua itu justru mengangkat buku hitamnya.

“Tenanglah, Isabella. Sebentar lagi kau akan mengetahui mengapa semua ini terjadi.”

Adrian meletakkan buku hitam tersebut di atas meja berdebu.

Ia membuka beberapa halaman, kemudian menunjukkan sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan Elena sedang menggendong bayi perempuan.

Aku.

Di sampingnya berdiri Adrian, Richard, dan seorang perempuan yang tidak kukenal.

“Dua puluh lima tahun lalu, keluarga Imanuel dan Laurent membuat sebuah kesepakatan,” jelas Adrian.

“Kesepakatan apa?” tanyaku.

“Pernikahan, warisan, dan kekuasaan. Keluarga kami memiliki perusahaan besar yang hampir bangkrut. Richard membutuhkan modal, sementara aku membutuhkan seseorang yang bisa menjaga rahasia keluarga.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

Adrian menatapku dalam-dalam.

“Kau lahir dari hubungan antara aku dan Elena. Namun, Elena telah menikah dengan Richard saat itu.”

Aku terdiam.

“Jadi Richard bukan ayah kandungku?”

“Bukan. Tetapi dia bersedia mengakuimu sebagai anaknya demi menyelamatkan nama keluarga Laurent.”

Aku menoleh kepada Dominic.

Ia terlihat semakin tegang.

“Lanjutkan,” katanya.

Adrian mengangguk.

“Setelah kau lahir, aku menemukan bahwa seseorang telah memalsukan dokumen warisan keluarga Imanuel. Buku hitam itu berisi seluruh transaksi, nama pewaris asli, dan bukti pembunuhan yang dilakukan demi mempertahankan kekuasaan.”

Aku menelan ludah.

“Siapa yang melakukan semua itu?”

Adrian menutup buku tersebut.

“Orang yang paling dekat dengan kalian.”

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari lorong.

Marco masuk dengan wajah panik.

“Tuan! Kita harus pergi sekarang!”

Dominic langsung menoleh.

“Apa yang terjadi?”

“Orang-orang Rafael sudah mengepung gedung ini.”

Adrian justru tersenyum.

“Sepertinya dia datang untuk mengambil apa yang menjadi miliknya.”

Suara langkah kaki terdengar semakin dekat.

Marco mengeluarkan pistol dan berdiri di depan kami.

Dominic menarik tanganku.

“Isabella, ikut denganku.”

“Tunggu! Kita tidak bisa meninggalkan ayahku!”

Dominic menatapku tajam.

“Dia bukan orang yang bisa kau percayai begitu saja.”

Adrian tertawa.

“Benar. Jangan percaya siapa pun, terutama pria yang berdiri di sampingmu.”

Dominic mengangkat pistolnya.

“Cukup!”

Sebelum situasi semakin buruk, lampu gedung mendadak padam.

Terdengar suara tembakan.

Aku menjerit dan merunduk.

“Isabella!”

Dominic menarikku ke balik meja.

Aku mencengkeram kemejanya.

“Apa yang terjadi?”

“Mereka sudah masuk.”

Beberapa detik kemudian, lampu darurat menyala.

Marco terlihat tergeletak di dekat pintu sambil memegangi bahunya.

Adrian sudah menghilang.

Begitu pula buku hitam tersebut.

“Tidak!” Dominic mengumpat.

Ia berlari ke arah pintu, tetapi suara Rafael terdengar dari pengeras suara gedung.

“Selamat malam, Dominic. Sepertinya kita bertemu lagi.”

Dominic mengarahkan pistol ke lorong.

“Tunjukkan wajahmu!”

Rafael muncul bersama dua orang bersenjata.

Ia tersenyum sambil mengangkat sebuah benda kecil.

Buku hitam.

“Bukankah ini yang kalian cari?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”

Rafael mengangkat bahu.

“Adrian selalu menjadi pria yang mudah dibujuk.”

Dominic melangkah maju.

“Lepaskan kami.”

“Sayangnya, aku belum selesai.”

Rafael membuka buku tersebut dan membalik beberapa halaman.

“Isabella, kau tahu apa yang membuat buku ini begitu berharga?”

Aku tidak menjawab.

“Nama-nama orang yang membunuh demi kekuasaan. Termasuk nama orang yang membunuh ibu Dominic.”

Rafael menatap Dominic.

“Dan kau pasti ingin tahu siapa yang memberikan perintah malam itu.”

Dominic tidak bergerak.

“Siapa?”

Rafael tersenyum semakin lebar.

“Richard Laurent.”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak mungkin!”

“Percayalah, Isabella. Ayah angkatmu tidak sebaik yang kau kira.”

Dominic mengepalkan tangannya.

“Bukti.”

Rafael mengeluarkan selembar kertas dari dalam buku.

Di sana terdapat tanda tangan Richard.

Dominic mengambilnya dengan tangan gemetar.

“Ini...”

Aku mendekat.

Dokumen itu berisi perintah pembunuhan terhadap seorang perempuan bernama Clara Imanuel.

Ibu Dominic.

Setelah Rafael dan orang-orangnya pergi, kami berhasil membawa Marco keluar dari gedung.

Dominic tidak mengatakan sepatah kata pun selama perjalanan pulang.

Aku duduk di sampingnya, memegang dokumen yang diberikan Rafael.

“Dominic...”

Ia menatap jalanan di depan.

“Jangan.”

“Aku hanya ingin—”

“Aku bilang jangan, Isabella.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya, Dominic terlihat benar-benar hancur.

“Dia membunuh ibuku,” katanya lirih. “Selama bertahun-tahun aku mengira ayahku meninggal karena kecelakaan. Aku bahkan membenci ibuku karena menganggap dia meninggalkanku.”

Ia tertawa pahit.

“Ternyata selama ini aku hidup dalam kebohongan.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kita akan menemukan kebenarannya.”

Dominic menatapku.

“Bagaimana jika kebenaran itu jauh lebih buruk daripada yang kita bayangkan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Pukul dua dini hari, kami tiba di mansion.

Namun, belum sempat aku naik ke kamar, seorang penjaga datang membawa sebuah paket kecil.

“Untuk Nona Isabella. Dikirim oleh seseorang yang tidak dikenal.”

Aku menerima paket itu.

Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk dan selembar foto.

Foto seorang bayi yang sedang tertidur di dalam inkubator rumah sakit.

Di bagian belakang foto tertulis:

ANAK YANG KAU CARI BUKANLAH ISABELLA.

Aku mengerutkan kening.

“Apa maksudnya?”

Dominic mengambil flashdisk tersebut.

Kami segera membukanya di ruang kerja.

Sebuah rekaman video muncul.

Seorang perempuan duduk di depan kamera.

Wajahnya pucat. Rambut panjangnya tergerai berantakan.

Aku mengenalinya.

Elena.

“Ibu!”

Aku mendekat ke layar.

Elena menatap kamera dengan mata berkaca-kaca.

“Isabella, jika kau melihat rekaman ini, berarti mereka telah berhasil menemukanmu.”

Ia menarik napas panjang.

“Ada satu kebenaran yang belum pernah Ibu ceritakan. Kau memang anak yang Ibu lahirkan, tetapi kau bukan satu-satunya bayi yang dilahirkan pada malam itu.”

Aku membeku.

Dominic menatap layar tanpa berkedip.

Elena melanjutkan.

“Malam itu, dua bayi perempuan dilahirkan. Salah satunya adalah anak Ibu bersama Adrian. Sementara bayi lainnya adalah anak dari Clara dan seorang pria yang tidak pernah boleh diketahui identitasnya.”

Aku menutup mulut.

“Namun, setelah Clara meninggal, salah satu bayi menghilang dari rumah sakit. Richard kemudian mengubah seluruh dokumen kelahiran kalian.”

Rekaman mulai bergetar.

Elena menangis.

“Isabella, selama ini kau mencari ayah kandungmu. Tapi ada seseorang yang seharusnya lebih dulu kau cari.”

Aku menahan napas.

“Siapa, Bu?”

Seolah mendengar suaraku, Elena menatap kamera.

“Saudara kembarmu.”

Layar mendadak mati.

Aku berdiri kaku.

Saudara kembar?

Aku tidak pernah tahu bahwa aku memiliki saudara perempuan.

Dominic perlahan menoleh kepadaku.

Namun, sebelum ia sempat berbicara, ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Hallo?”

Suara perempuan terdengar dari seberang.

Suara yang sangat mirip denganku.

“Jadi, akhirnya kau tahu juga, Isabella.”

Aku tidak mampu bergerak.

“Siapa kau?”

Perempuan itu tertawa pelan.

“Aku adalah orang yang selama ini hidup dengan nama yang seharusnya menjadi milikmu.”

Jantungku berdegup semakin kencang.

“Di mana kau?”

“Tidak jauh dari mansion Dominic.”

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuhku membeku.

“Katakan kepada Dominic bahwa aku tahu siapa pembunuh sebenarnya ibunya. Dan besok malam, aku akan datang untuk mengambil kembali kehidupanku.”

Sambungan terputus.

Aku perlahan menurunkan ponsel.

Dominic menatapku.

“Siapa tadi?”

Aku menelan ludah.

“Saudara kembarku.”

Wajah Dominic berubah.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di matanya.

Karena ternyata, rahasia keluarga kami belum berakhir.

BERSAMBUNG...

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!