Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA DI HALAMAN TERAKHIR
Aku masih menatap foto halaman buku yang dikirimkan oleh nomor misterius itu.
ISABELLA LAURENT.
Namaku tertulis dengan tinta hitam di atas kertas yang sudah menguning. Di bawahnya terdapat beberapa kalimat yang sebagian tertutup noda merah kecokelatan.
Tanganku gemetar.
“Isabella?”
Suara Dominic terdengar rendah.
Aku buru-buru mematikan layar ponsel, tetapi terlambat. Ia sudah melihat perubahan ekspresiku.
“Apa yang kau sembunyikan?”
“Tidak ada.”
Dominic mendekat. “Jangan berbohong kepadaku.”
Aku menunduk, menggenggam ponsel erat-erat.
“Aku mendapat pesan.”
“Dari siapa?”
“Nomor tidak dikenal.”
“Perlihatkan.”
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkan ponsel itu.
Dominic membaca pesan tersebut. Ekspresinya berubah ketika melihat foto halaman buku hitam.
Rahangnya mengeras.
“Siapa yang mengirim ini?”
“Aku tidak tahu.”
Ia memperbesar gambar tersebut, memperhatikan tulisan di bagian bawah namaku.
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui, Isabella.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Dominic menghela napas panjang.
“Nama Laurent bukan nama keluarga yang tercatat ketika kau dilahirkan.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Maksudmu?”
“Aku pernah melihat dokumen kelahiranmu. Nama ibumu tercantum sebagai Elena, tetapi nama ayah biologismu dikosongkan.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak mungkin. Aku selalu menggunakan nama Laurent.”
“Karena Elena mendaftarkanmu dengan nama itu beberapa bulan setelah kelahiranmu.”
“Lalu siapa ayahku?”
Dominic tidak menjawab.
Aku mencengkeram lengannya.
“Dominic, katakan sesuatu!”
Tatapannya melembut sesaat.
“Aku belum tahu. Tapi aku akan mencari tahu.”
Aku melepaskan tangannya.
“Selama ini semua orang mengetahui sesuatu tentang hidupku, kecuali aku sendiri.”
Satu jam kemudian, Marco datang membawa sebuah laptop dan beberapa dokumen lama.
“Tuan, kami berhasil membuka sebagian isi flashdisk dari kotak besi.”
Dominic menunjuk meja.
“Putar rekamannya.”
Layar laptop menampilkan seorang perempuan yang duduk di sebuah ruangan gelap.
Aku langsung mengenali wajahnya.
“Ibu!”
Elena terlihat lebih tua dibandingkan foto terakhir yang kumiliki. Rambutnya sedikit memutih, sementara wajahnya tampak pucat.
Rekaman itu mulai berbunyi.
“Jika kalian sedang menonton ini, berarti Rafael telah berhasil menemukan buku hitam tersebut.”
Aku menutup mulut.
“Dominic, ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang ayahmu. Adrian bukanlah pria yang selama ini kau kenal. Dia menyimpan rahasia yang bahkan tidak pernah berani kuungkapkan kepada Richard.”
Dominic berdiri kaku.
“Ibu...” bisikku.
Elena melanjutkan.
“Dua puluh tahun lalu, Adrian menemukan dokumen tentang sebuah keluarga yang selama ini dianggap telah punah. Keluarga itu memiliki hubungan darah dengan Isabella.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Isabella bukan anak yang seharusnya dilahirkan dengan nama Laurent. Nama aslinya tercatat dalam dokumen keluarga Imanuel.”
Dominic langsung menoleh kepadaku.
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Rekaman kembali berlanjut.
“Namun, ada alasan mengapa aku mengubah identitasnya. Jika kebenaran itu diketahui, Isabella akan menjadi pewaris sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kekayaan.”
Tiba-tiba rekaman terputus.
Layar berubah hitam.
Marco mencoba memutar ulang, tetapi file tersebut sudah rusak.
“Tidak ada salinan lainnya?” tanya Dominic.
“Belum ditemukan, Tuan.”
Dominic menatap layar dengan penuh kemarahan.
“Cari sampai kita mendapatkan sisanya.”
Sore harinya, aku berdiri sendirian di balkon kamar.
Kata-kata ibuku terus berputar dalam pikiran.
Nama aslinya tercatat dalam dokumen keluarga Imanuel.
Berarti aku memiliki hubungan darah dengan keluarga Dominic?
Aku mencoba mengingat semua percakapan yang pernah terjadi antara Dominic dan Richard. Ada banyak hal yang tidak mereka jelaskan kepadaku.
Mungkin selama ini mereka memang sengaja menjauhkan aku dari kebenaran.
Pintu balkon terbuka.
Dominic datang membawa dua cangkir teh.
“Kau belum makan sejak pagi.”
“Aku tidak lapar.”
Ia meletakkan salah satu cangkir di meja.
“Setidaknya minum.”
Aku menatapnya.
“Dominic, apakah ada kemungkinan kita memiliki hubungan darah?”
Tangannya berhenti bergerak.
Pertanyaan itu rupanya cukup untuk membuatnya kehilangan kata-kata.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau ternyata benar?”
Dominic duduk di sampingku.
“Tidak ada yang akan berubah malam ini. Kita tetap harus menemukan kebenarannya.”
Aku menunduk.
“Aku takut.”
Dominic mengulurkan tangannya dan menggenggam jemariku.
“Dengarkan aku, Isabella. Apa pun yang tertulis dalam buku itu, kau tidak harus menghadapinya sendirian.”
Aku menatap wajahnya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
Bukan sekadar keinginan untuk melindungiku.
Melainkan ketakutan kehilangan seseorang.
Pukul sembilan malam, Marco kembali ke ruang kerja.
“Tuan, kami menemukan lokasi rumah sakit dalam foto Adrian.”
Dominic langsung berdiri.
“Di mana?”
“Rumah sakit swasta di pinggiran kota. Tempat itu sudah ditutup sejak lima tahun lalu.”
“Siapkan mobil.”
Marco mengangguk, tetapi kemudian menambahkan sesuatu.
“Ada satu informasi lagi. Nama pasien yang tercatat dalam arsip rumah sakit bukan Adrian Imanuel.”
Dominic mengerutkan kening.
“Lalu?”
Marco meletakkan selembar kertas di meja.
“Pasien tersebut terdaftar dengan identitas Richard Laurent.”
Aku spontan berdiri.
“Ayah?”
Marco mengangguk.
“Menurut catatan, Richard dirawat di sana selama hampir tiga bulan. Namun, ada tanda tangan seseorang yang mengizinkan pemindahan pasien.”
“Siapa?” tanya Dominic.
Marco menunjuk bagian bawah dokumen.
Aku mendekat.
Nama yang tertulis di sana membuatku membeku.
ELENA IMANUEL.
Dominic menatapku.
“Jadi ibumu yang memindahkan Richard?”
Aku menggeleng cepat.
“Aku tidak mengerti. Mengapa Ibu menggunakan nama keluarga Imanuel?”
Dominic mengambil dokumen tersebut.
“Sepertinya kita harus mengunjungi rumah sakit itu.”
Kami tiba di rumah sakit tersebut menjelang tengah malam.
Bangunannya tampak terbengkalai. Sebagian jendelanya pecah, sementara tanaman liar memenuhi halaman depan.
Marco dan dua orang penjaga memeriksa bagian luar.
Dominic berjalan bersamaku menuju ruang arsip.
“Jangan menjauh dariku,” katanya.
Aku mengangguk.
Di dalam gedung, udara terasa lembap. Kami menemukan sebuah lemari besi kecil di balik meja administrasi.
Dominic menggunakan kunci dari kotak Richard.
Klik.
Lemari itu terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan pasien dan sebuah amplop berwarna hitam.
Aku mengambil amplop tersebut.
Namaku kembali tertulis di bagian depan.
UNTUK ISABELLA IMANUEL.
Aku menatap Dominic.
“Boleh aku membukanya?”
Ia mengangguk.
Dengan hati-hati, aku mengeluarkan selembar surat.
Putriku,
Jika kau membaca surat ini, berarti Elena gagal menjaga rahasia kita.
Maafkan Ayah karena selama ini membiarkanmu percaya bahwa Richard adalah ayah kandungmu.
Aku berhenti membaca.
Air mataku mulai menggenang.
“Ayah kandungku...”
Dominic mengambil napas dalam-dalam.
“Lanjutkan.”
Aku kembali membaca.
Adrian adalah ayah biologismu. Dia tidak pernah meninggal dalam kecelakaan seperti yang diberitakan. Dia menghilang setelah mengetahui bahwa seseorang dalam keluarga kami berusaha membunuhnya.
Tanganku semakin gemetar.
Namun, ada satu hal yang lebih penting. Jangan pernah mempercayai orang yang mengatakan bahwa Adrian adalah korban. Karena pada malam kelahirannya, seseorang telah membuat kesepakatan yang mengubah seluruh hidupmu.
Aku membalik surat itu.
Di bagian paling bawah terdapat tulisan tambahan.
Dan jika Dominic berada di sampingmu ketika kau membaca surat ini, tanyakan kepadanya siapa yang sebenarnya membunuh ibunya sendiri.
Aku perlahan mengangkat wajah.
Dominic berdiri membeku.
“Apa maksud surat itu?” tanyaku.
Wajahnya mendadak pucat.
“Dominic?”
Ia tidak menjawab.
“Siapa yang membunuh ibumu?”
Dominic memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan suara hampir berbisik.
“Aku.”
Aku mundur satu langkah.
“Apa?”
“Aku yang menarik pelatuknya.”
Darahku terasa membeku.
Dominic menatapku dengan mata penuh penyesalan.
“Tapi aku tidak tahu bahwa perempuan itu adalah ibuku.”
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara tepuk tangan dari lorong.
Seseorang keluar dari balik kegelapan.
Seorang pria tua dengan rambut memutih dan tongkat hitam di tangannya.
Aku mengenali wajah itu dari foto yang kami temukan sebelumnya.
Adrian Imanuel.
Ayah kandungku.
Ia tersenyum tipis.
“Sudah lama sekali, Isabella.”
Aku tidak bisa bergerak.
Adrian menatap Dominic, kemudian mengalihkan pandangannya kepadaku.
“Sepertinya kalian sudah membaca surat yang salah.”
Ia mengangkat sebuah buku hitam dari tangannya.
“Karena halaman terakhir yang sebenarnya masih ada padaku.”
Lalu ia menatap Dominic dengan senyum dingin.
“Dan di sana tertulis siapa yang seharusnya mati malam ini.”
BERSAMBUNG...
jangan lupa mampir kakk..🤭