Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Nadia menatap Darren. "Aku enggak papa kok kak, kakak enggak perlu minta maaf, kakak enggak salah sama sekali. Oh ya, kakak pulang saja ya, udah malem soalnya. Takutnya tetangga gosipin yang enggak enggak lagi, aku enggak papa," ucap Nadia lembut, walupun hati gadis itu terasa sangat sakit melihat sang suami bersama wanita lain.
Darren menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Ya udah gue pulang, kalau ada apa apa langsung kabari gue, jangan diem aja," ucap Darren.
"Iya kak, makasih," ucap Nadia.
Darren keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Nadia duduk di sofa dan melihat jam tangan suaminya yang tergeletak di lantai. Ia pun langsung mengambil jam tangan tersebut dan meletakkannya di atas meja. Nadia menghela nafasnya dengan pelan dan menatap foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu. Mereka sengaja meletakkan foto pernikahan di ruang tamu, agar keluarga mereka tidak curiga dengan perjanjian mereka.
"Kenapa jadinya seperti ini? Apakah ku harus menyerah? Aku sakit," gumam Nadia.
Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dan menatap cincin pernikahannya yang terpasang di jari manisnya.
"Enggak, aku enggak boleh menyerah. Aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta suamiku. Walaupun terlihat sangat sulit, tapi jika berjodoh kami akan terus bersama. Bagaimana pun caranya, aku akan selalu ada di sampingnya saat susah maupun senang," gumam Nadia.
Nadia masuk ke dalam kamar sambil membawa jam tangan milik suaminya. Gadis itu langsung meletakkan jam tangan itu ke dalam kotak yang ada di laci kamar. Setelah itu Nadia langsung memakan brownis pemberian Darren.
*********
Di sisi lain. Dimas terlihat sangat kesal karena kejadian tadi. Jessica hanya diam dan memainkan ponselnya. Ia melihat akun media sosial milik darren. Jujur, sebenarnya Jessica mencintai Darren. Alasannya berpacaran dengan Dimas karena hanya ingin lebih mudah mendekati Darren. Dimas juga pria kaya dan bisa di manfaatkan oleh wanita tersebut.
"Udahlah, jangan di pikirkan. Kamu tau kak Darren orangnya kayak gimana kan? Paling istri kamu yang merayu kak Darren, makanya sahabat mu itu membelikannya brownis. Kak Darren enggak bakal deketin seorang gadis, kalau gadis itu tidak ia kenal. Aku yakin mereka saling kenal, atau jangan jangan mereka pacaran lagi. Aduh, tidak salah penilaianku, gadis itu adalah gadis yang tidak baik. Kenapa ya, keluargamu malah menjodohkan mu dengan gadis itu? Muka sih boleh baik, tapi masalah penampilan kayaknya enggak deh, kayak pembantu di rumahku, kamu taukan penampilan pembantu di rumahku," ucap Jessica.
Dimas menatap sang kekasih. "Benar yang kamu ucapkan, Darren tidak mungkin baik kepada gadis yang baru ia kenal. Jangan jangan gadis itu pacarnya Darren, astaga kenapa harus sahabatku sih? Darren juga kenapa mau bersama gadis murahan itu?," ucap dimas.
"Jessica menggelengkan kepalanya. "Sudah fokus aja ke jalan, malam ini kamu menginap di mana? Mau pulang ke rumah dan bertemu dengan gadis itu?," ucap Jessica.
"Aku menginap di rumah mu ya sayang, aku tidak mau pulang. Males banget ketemu dengan gadis murahan itu," ucap Nadia.
Jessica menghela nafas dengan pelan. "Bukanya aku enggak mau, tapi kedua orang tuaku lagi ada di rumah. Jadi maaf ya, kamu enggak bisa menginap di rumahku, takutnya mereka marah. Kamu taukan, orang tuaku enggak bolehin aku buat pacaran," ucap Jessica.
Dimas tersenyum kecil. "Ya sudah mungkin aku akan menginap di rumah sahabatku atau nanti aku pesan kamar hotel," ucap Dimas.
Jessica langsung tersenyum manis, setelah itu ia langsung menatap jendela mobil. Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di depan rumah Jessica. Setelah itu Jessica keluar dari dalam mobil dan tanpa berpamitan langsung masuk ke dalam rumah. Dimas hanya bisa tersenyum dan memilih untuk datang ke rumah Raka untuk menginap di rumah sahabatnya tersebut.
*********
Di rumah Raka.
Mobil berhenti di halaman rumah Raka. Terlihat Raka tengah duduk di teras rumah sambil memainkan ponselnya miliknya. "Ka," panggil Dimas.
Raka langsung menatap ke arah sumber suara. "Eh, udah Dateng lo. Kok Lo mau nginep di rumah gue sih? Ada apa gerangan kah? Bukanya Lo udah punya istri, harusnya Lo tidur bareng sama istri lo dong, jangan di sia siakan, ucap Raka.
"Diem deh Lo, gue tidur di kamar tamu. Males gue tidur bareng sama Lo," ucap Dimas yang langsung masuk ke dalam rumah Raka dan membuka pintu kamar yang belum pernah ia masuki.
"What! Ini ruangan apa? Kok banyak lukisan," ucap Dimas kaget.
Raka terkejut dan langsung menutup pintu kamar tersebut. "Bukan apa apa, kamar tamu di sebelahnya. Selama di sini jangan pernah Lo buka ruangan ini paham. Ini ruangan paling berharga bagi gue," ucap Raka.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah kamar tamu. Raka? Pria itu memilih mengunci pintu kamar tersebut, agar tidak ada orang yang memasuki kamar yang paling berharga baginya.
********
Di sisi lain. Nadia tengah menunggu sang suami yang sedari tadi belum juga kembali.gadis itu benar benar khawatir terhadap suaminya. Nadia langsung mengambil ponselnya dan menelepon sang suami, menanyakan kabarnya Dimas. Namun dimas tidak merespon panggilan tersebut, sudah sepuluh kali nadia menelepon tapi tetap tidak di respon juga.
"Astaga, suamiku kemana ya? Kenapa aku telepon enggak di angkat? Ya tuhan, lindungilah suami hamba," gumam Nadia.
*********
Di kediaman raka. Dimas tengah duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Pria itu tau bahwa sang istri menelepon dirinya sedari tadi. Namun, ia memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Menurutnya panggilan tersebut tidaklah penting untuknya. Terdengar suara pintu kamar terbuka , terlihat Raka yang membawa selimut bersih dan melemparkannya ke arah Dimas.
"Tuh, pakai aja. Masih baru itu, baru buka segel," ucap Raka.
Dimas mengambil selimut tersebut. "Thanks," ucap Dimas.
Raka menganggukkan kepalanya. "Btw, jam tangan kesayangan Lo kemana? Kok enggak ada di tangan lo, biasanya enggak pernah absen tuh jam tangan dari tangan Lo," ucap Raka sambil mengerutkan dahinya.
Dimas langsung terkejut dan memang benar jam tangan yang selalu ia pakai tidak ada di tangannya. "Astaga, kemana ya perginya jam tangan gue. Ya tuhan, jangan jangan ketinggalan di dalam mobil bentar gue cek," ucap Dimas yang langsung berlari ke arah mobilnya yang ada di depan rumah.
Saat ia mencari cari di dalam mobil, Dimas tidak menemukan jam tersebut. "Ada enggak?," ucap Raka.
"Enggak ada ka, astaga kemana ya perginya?," ucap dimas.
Raka menggelengkan kepalanya. "Enggak tau gue, Lo baru sampai di rumah gue. Jangan jangan di bawa Jessica kali, coba Lo telepon pacar Lo itu. Cantik kagak, ngeselin iya," ucap Raka.
"Jangan bilang kayak gitu tentang pacar gu------,"
"Ssttt diem,gue lagi males debat. Mending Lo cari jam tangan itu, sebelum bokap Lo marah. Inget itu jam tangan mahal, pemberian kakek Lo. Inget juga, keluarga Lo kalau di kasih barang berharga dari orang tersayang harus di jaga, Sono cari," ucap Raka yang langsung masuk ke dalam rumah.
Dimas langsung menelepon sang kekasih, setelah beberapa menit menunggu, akhirnya panggilan pun di respon.
["Apa?,"] ucap Jessica.
"Kamu liat jam tangan aku enggak?," ucap dimas.
["Enggak, di jual sama istri kamu kali. Aku enggak pernah ambil jam tangan kamu ya, jadi jangan telepon lagi, paling di jual sama istri kamu,"] ucap Jessica.
Panggilan pun berakhir, Dimas mengepalkan kedua tangannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mobil dan menjauh dari rumah Raka.
"Lah kagak jadi nginep? Yaudah lah mending gue tidur, besok kerja. Kalau dia butuh nanti pasti dia hubungi gue," gumam Raka.
********
Saat tiba di rumah, Dimas langsung masuk ke dalam rumah dan menarik tangan sang istri yang tengah tertidur di sofa sambil menunggunya pulang.
"Di mana jam tangan gue," bentak Dimas.
Nadia menatap sang suami. "Lepas dulu kak, tanganku sakit," ucap Nadia.
Dimas mendorong sang istri hingga terjatuh ke lantai dan kepalanya sedikit terbentur meja. "Aw" ringis Nadia sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Di mana jam tangan gue?!," bentak diam sambil menarik rambut Nadia.