Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Senandika
...بسم الله الر حمن الر حيم ...
.... ...
.... ...
...Mencintai sewajarnya karna yang hadir belum tentu takdir. ...
...-Ustadz Hanan Attaki- ...
***
Pagi ini dengan udara yang sedikit sejuk, para prajurit sudah berolahraga pagi setelah melaksanakan sholat subuh bersama. Mahija sedang merapihkan ranjang tidurnya yang beralaskan terpal berwarna khas hijau army, ia melihat ke arah luar tenda cuaca hari ini seperti nya sangat cerah. Hari esok adalah hari terakhir mereka berada disini, urusan merenovasi rumah warga sudah di urus oleh pihak pemerintah dan team penggalangan dana.
Hembusan nafas yang sangat dalam terdengar, Fian yang masih tidur di ranjang tepat di sebelah Mahija.
"Fian.. " panggil Mahija, tidak ada jawaban terdengar dari adiknya itu. "Letda.Fian"
"Siap.. " Dengan suara khas bangun tidur, Fian akhirnya menjawab panggilan Mahija.
Mahija melempar satu kotak kecil susu rasa coklat pada Fian yang baru saja bangun, ia melihat pakaian yang sedang dikenakan oleh Fian sangat kotor. Bahkan sepatu pdl tidak di lepas oleh Fian.
"Jam berapa pulang tadi malam? " melepas sepatu PDL yang masih terpakai di kedua kaki adiknya ini, jangan tanya aromanya bagaimana. Tentu saja lebih baik mabuk stella wangi jeruk.
"Jam 2 pagi baru selesai dari sana, gua ngantuk bang. Izin ya, gua mau lanjut tidur lagi" kembali merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Astagfirullah, bangun Fian. Gua laporin umma lo ya tidur lagi, mandi sana ganti baju lo tu. Ganti baju dinas lain "
"Baju dinas gua habis bang, belom di cuci"
"Astagfirullah, dimana baju lo? Pakai baju trening saja sana. Mandi "
"Di dalam tas gua, dibawah sini " Menunjuk kearah bawah ranjang yang sedang ditiduri oleh Fian.
"BANGUN!!" sentak Mahija yang langsung membuat Fian tersadar, segera ia membawa perlengkapan mandi dan baju ganti ke kamar mandi mushola.
Mahija segera membawa tas Fian yang berisikan pakaian kotor yang sudah di seleksi nya serta pakaian dirinya untuk segera dicuci nya, Ia berjalan membawa tas dan plastik kresek yang berisikan detergen dan pewangi. Hanya ada baju dinas dan beberapa kaos serta celana pendek dan panjang.
"Mau kemana nak? " tanya seorang wanita paruh baya, berumur sekitar 50 tahunan.
"Mau mencuci baju dinas bu" Jawab Mahija.
"Sini ibu cuci sekalian" Mengambil tas dan kresek yang dibawa Mahija begitu saja.
"Tapi bu.. "
"Sudah tidak papa, nanti sore juga sudah kering. Nanti ibu antar ke tenda kalian. Ini balasan terimakasih kami, tenang saja ibu-ibu juga pasti senang mencuci baju tentara "
Mahija mencoba untuk merebut tasnya kembali, namun akhirnya gagal karna ibu-ibu mulai berdatangan juga bersikeras ingin mencuci pakaian Mahija. Bahkan Mahija sempat melirik ke arah jemuran yang tergantung ada beberapa pakaian dinas tentara lain yang sedang dijemur oleh ibu-ibu lain yang baru saja selesai mencuci.
"Ndan.. dicucikan juga? " tanya Yusuf menghampiri Mahija.
"Kalian juga?? " Mahija melirik wajah yusuf yang ada disebelah nya, mencoba menebak hal tersebut, Yusuf hanya memberikan senyuman yang menampilkan deretan giginya yang rapih.
"Astagfirullahalazim.. "
***
Rumah Mahika
Mahika saat ini sedang membersihkan rumahnya, sambil menunggu brownies yang sedang ia panggang. Ibu-ibu juga sedang mencuci pakaian, seorang ibu masuk ke rumah Mahika dengan langkah cepat.
"Pakaian darimana bu" tanya Mahika yang melihat tas yang menampilkan beberapa baju dinas.
"Pakaian pak tentara"
"Huh!! Kok ibu sih yang nyuci, sini biar Avisa suruh mereka nyuci sendiri. Gak sopan tau nyuruh orang lain nyuciin baju "
Suara Mahika terdengar hingga ke dapur, ibu-ibu yang sedang menyuci baju di belakang seketika langsung menuju ruang tamu untuk melihat sedang apa yang terjadi.
"Astagfirullah, ada apa sih?? " tanya bu Lasmi yang tangannya masih basah sehabis menyuci.
"Ini Buu, tentara itu nyuruh ibu Sarti nyuci baju mereka, gak sopan tau bu" gerutu Mahika sedikit kesal.
"Bukan begitu Avisa, ibu sendiri yang mau. Tadi ibu ambil dari tangannya. " jelas bu Sarti.
"Avisa.. Ibu juga sedang mencuci baju tentara di belakang, tanya ibu-ibu lain kalau tidak percaya. Malam ini, malam terakhir mereka berada disini dan sebagai tanda terimakasih warga para ibu-ibu mencucikan baju dinas mereka. " Jelas bu Lasmi, Mahika akhirnya paham kenapa ibu-ibu hari ini mencuci sangat lama dari hari yang biasanya.
"Sekarang paham kan Avisa.. " tanya bu Lasmi dan bu Sarti bersamaan.
"Yaudah kalau gitu Avisa bantu juga, sebagian baju Avisa bantu cuci juga sebagai wujud tanda terimakasih Avisa sama mereka "
Akhirnya Mahika ikut membantu menyuci baju yang dibawa bu Sarti, melihat baju dinas yang Mahika pegang saat ini. Tertera ada sebuah nama di bagian dada di dekat saku baju, Mahija ya nama itu tertulis dengan jelas. Di bagian kerah bajunya juga lambang dua balok, Mahika tidak mengerti maksud lambang-lambang yang ada pada baju dinas tersebut. Ia hanya mencucinya hingga bersih sesuai pemberitahuan tata cara mencuci baju dinas, ternyata menjadi seorang TNI cukup sulit juga.
Usai semua pekerjaan terselesaikan, Mahika menghidupkan AC kamar nya. Merebahkan dirinya yang telah lelah seharian membersihkan rumah dan membuat berbagai macam kue dan minuman yang sedang di dinginkan nya di dalam kulkas. Ia terlelap dalam beberapa detik kemudian, hanyut kedalam alam bawah sadarnya.
Fian, Yusuf, Hansen dan Jaka sedang duduk bersantai melihat pantai di depan mereka, Mahija menghampiri anggota dan adiknya itu.
"Bagaimana indah bukan? " tanya Mahija.
"Indah sih ndan, tapi seram juga" cetus Hansen.
"Aku rindu umma" celetuk Fian yang langsung di rangkul Hansen, Jaka, dan Yusuf. Mahija hanya mengacak-acak rambut adiknya itu.
"Iya anak umma, besok kita pulang anak umma. Tenang saja,besok ada susu coklat satu dus untuk mu. Santai saja lah" ujar Jaka sembari menoel-noel pinggang Fian yang disambut tawa oleh Yusuf dan Hansen.
"Ndan.. Soal wanita yang komandan lamar beberapa hari lalu, apakah komandan sangat mencintai nya? Tapi komandan kenapa diam saja sampai saat ini setelah di tolak kemarin? " tanya Yusuf yang sudah berdiri di samping Mahija.
"Mencintai sewajarnya karna yang hadir belum tentu takdir" celetuk Mahija dengan santai.
"Tapi ndan, bagaimana jika dia memang kenyataan nya di takdirkan untuk kita? "
"Soal takdir atau tidaknya itu hanya Allah yang menuliskan di Lauhul mahfudz, kita tidak tau siapa yang menjadi takdir kita. Tapi kalau memang jodoh sejauh apapun kamu pergi dia pasti akan kembali dan mendekat tapi sebaliknya sedekat apapun kamu kalau tidak jodoh ya tau sendiri bagaimana akhirnya.."
"Hmm begitu.. "
"Ah'sudahlah saya mau tidur dulu "
"Siap komandan" Yusuf memberikan hormat pada Mahija dan kembali bergabung dengan Fian, Jaka dan Hansen. Mereka asik mengobrol, sesekali saling meledek salah satu dari mereka.
Pukul 15.40 sore adzan ashar kembali berkumandang, Mahika sudah bersiap untuk melaksanakan sholat ashar nya. Kembali terdengar suara merdu yang membuat penasaran Mahika selama beberapa hari ini, siapa pria yang menjadi Imam di mushola saat ini.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Mahika telah selesai melaksanakan sholat ashar, ibu-ibu juga sudah kembali dari mushola. Mahika langsung berlari ke halaman rumahnya, masih mengenakan mukenah nya ia menghampiri segerombolan anak remaja putra yang tengah melewati rumahnya.
"Siapa Imam di mushola tadi?? " tanya Mahika tanpa basa-basi, membuat remaja putra tersebut sedikit kaget.
"Yaelah kak, bikin kaget aja. Letnan Mahija tuh. Dah kan? " Jawab salah satu anak.
"Oke, makasih" ucap Mahika memberikan jempolnya lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Letnan Mahija ya namanya..ah- baju yang tadi pagi aku cuci. Apakah orang yang sama?? Yang mana orang nya ya? " gumam Mahika yang tersenyum malu, setelah mengetahui nama pria yang membuat nya jatuh hati. Dengan mengetahui namanya saja, ia sudah cukup senang bukan kepayang.
Mahika melirik sebuah kertas yang berlambang TNI, ia kembali melirik nama yang tertulis diatas kertas tersebut. Ia kembali tersenyum saat melihat nama yang tersemat di secarik kertas tersebut, sama persis dengan nama Imam di mushola. Letnan Satu. Mahija Biantara Al-Ghifari.
Rasanya ingin berguling-guling diatas ranjang saja seharian, bahagianya Mahika setelah rasa penasaran nya sedikit berkurang dari sebelumnya. Mahika berlari ke belakang rumah tempat dimana baju dinas pria yang membuat nya jatuh hati itu dijemur, mengecek setiap pakaian nya dan mengangkatnya lalu pergi menyetrika nya sambil tersenyum-senyum.