NovelToon NovelToon
AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

AURORA [TRANSMIGRASI ISTRI YANG TERBUANG]

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Transmigrasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...

Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.

"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Akhirnya aku sampai juga, baiklah, coba lihat bagaimana keadaan dia sekarang" Ucapnya, sambil berjalan pergi meninggalkan mobilnya di area parkiran.

Wanita itu kini berjalan masuk menuju kantor polisi, namun wanita itu tampaknya akan sangat kecewa hari ini.

"Pak, saya ingin bertemu dengan Tora, dia pria yang sempat di bawa kemari, kasusnya penculikan di taman kanak-kanak." Bianca berbicara pada polisi yang bertugas di bagian administrasi.

Namun, sayang baginya. Pria yang ia cari sudah pergi dari sana.

"Maaf Nona, pria yang kau maksud, sudah keluar beberapa jam yang lalu." Mendengar perkataan itu, Aurora sontak terkejut.

"Apa kau bilang? Apa ada yang mengeluarkannya?"

Polisi itu mengangguk, "Seseorang telah mengeluarkannya, untuk informasinya. Kami tidak bisa memberitahumu."

Aurora paham akan maksud polisi itu, kini ia keluar dari kantor polisi. Berjalan ke arah mobilnya, dengan keadaan yang cukup lemas.

"Ternyata benar, Kris bukan orang sembarangan. Aku harus lebih berhati-hati padanya mulai sekarang, jika yang di katakan jiwa Aurora benar. Maka aku tidak boleh salah langkah, karena dia mempunyai senjata api." Aurora kini naik ke dalam mobil.

***

Di sebuah dapur kantor, seorang pria tengah menyeduh kopi. Pria itu adalah Kris, dengan wajah yang tampak kebingungan, ia masih memikirkan pacarnya.

"Ada apa dengan Aurora, dia tampak aneh dari kemarin." Ucapnya sambil menyeruput kopi.

Seorang staf perempuan juga kini turut menyeduh kopi, ia berdiri tepat di samping Kris.

"Pak Kris, apa kau sudah bertemu dengan Nona Aurora hari ini?" Tanya wanita itu, namun Kris hanya menggelengkan kepalanya, antara sadar dan tidak.

"Pak, aku sedang bicara padamu." Perkataan itu sontak membuyarkan lamunannya.

Ia kemudian menoleh dan sudah mendapati seseorang di sampingnya.

"Rupanya kau Sendy," Wanita itu rupanya adalah Sendy, rekan satu timnya sekaligus bawahannya secara langsung.

"Ada apa?"

Sendy kini merasa heran dengan Kris, tak biasanya pria itu akan melamun seperti ini. "Pak, kau baik-baik saja?"

Kris kini tersenyum lebar, "Tentu saja, ayolah, jangan khawatirkan aku. Lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri Sendy, agar kau tidak lembur lagi malam ini."

Kris merupakan ketua Tim pemasaran Darren Grub, ia bekerja di pusat dan berhasil naik jabatan setelah berpacaran dengan putri komisaris.

"Jangan sok kuat, aku sudah dengar soal rumor itu Pak, semua mengatakan bahwa kau di campakan oleh Nona Aurora."

"Tak..." Mendengar itu, kopi yang kris bawa langsung jatuh di lantai.

"Apa? Rumor? Siapa yang menyebarkan soal itu?" Tanyanya dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"Jadi itu semua salah?" Sendy malah balik bertanya pada Kris.

"Sendy, siapa yang menyebarkan rumornya?"

Sendy pun menggelengkan kepalanya, "tidak tahu, aku hanya dengar dari orang-orang."

Kris merotasikan matanya malas, "Lagi-lagi mereka membuat berita palsu, aku masih baik-baik saja dengan Aurora, bilang pada mereka. Jangan sebar rumor yang tak jelas." Kris kini pergi keluar dari dapur kantor.

Baru ia berjalan beberapa meter ke lorong, beberapa staf lain yang berjalan sudah berbisik dan membicarakannya.

"Lihat, wajahnya tampak pucat, itu artinya rumornya benar."

"Idih, bagaimana bisa Nona Aurora mau dengan pria benalu seperti dia?"

"Hai, jangan keras-keras, dia melihat kita." Ucapan mereka itu benar-benar di dengar langsung oleh Kris.

Pria itu kini menghentikan langkahnya, ia menoleh dan berbalik badan menatap mereka dengan tajam.

"Siapa yang memberitahumu soal ini? Jangan sembarangan bicara, dan jangan sebarkan rumor palsu!"

Melihat Kris yang akan marah, kini semua staf yang berada di lorong itu memilih pergi.

"Ayo, ayo kita pergi!" Semuanya pergi meninggalkan Kris, kini hanya ia yang masih berada di sana.

"Sial, akan ku temukan si penyebar berita sialan itu. Awas saja kau."

Dari kejauhan, seorang pria tampak mengawasi Kris, dengan earphone di telinganya. Pria itu kini melapor kepada atasannya.

"Tuan, sesuai berita Anda, rumor itu telah di sebarkan." Panggilan telepon itu kini tersambung kepada Tuan Federic.

"Bagus, pastikan bahwa Aurora tidak muncul di perusahaan untuk beberapa waktu yang akan datang."

Orang itu kini merasa bingung, pasalnya, ia sama sekali belum melihat putri majikannya yang sampai di kantor.

"Namun Tuan, Nona Aurora sama sekali tidak muncul di perusahaan hari ini."

Federic kini semakin yakin dengan ucapan Grace, bahwa ada sesuatu dengan Aurora yang memang berubah.

"Tidak biasanya Aurora akan menghindar seperti ini, bahkan dia sendiri yang memintaku untuk memberinya jabatan manager, agar ia dapat selalu bersama dengan Kris." Batin Federic.

"Baiklah, terima kasih atas laporannya." Federic kini mematikan telepon itu.

Setelah mematikan ponsel, pria itu kini berbalik badan, terlihat beberapa bodyguard yang juga berada di ruangan itu.

Di depan para bodyguard itu, ada seorang pria yang benar-benar terlihat sangat-sangat miris. Wajahnya babak belur, ia tampak acak-acakan dan terlihat lusuh. Pria itu masih sama, penculik yang beberapa jam lalu yang masih terlihat sombong dan congkak saat berada di kantor polisi.

Federic kini berjongkok, ia menampar wajah pria itu.

PLAKKKKK!

"Dengar ya, saya sudah mengeluarkanmu, sekarang, kau harus beritahu padaku! Siapa yang menyuruhmu!" Penculik itu rupanya hanya berbohong. Ia sama sekali tak mau mengakui, seseorang yang sempat menyuruhnya.

"Kau payah, jika aku lepas darimu hari ini, aku juga bisa mati jika dia tahu aku membocorkan semuanya."

Federic semakin di buat geram, "Hai anak muda, sudah ku bilang berapa kali padamu. Kau akan aman jika kau bicara padaku."

Pria itu kini menangis, Federic kini semakin yakin, bahwa orang itu bukanlah orang biasa.

"Dia menyekap adikku, aku akan tak akan melakukan ini jika bukan karena hal itu. Mana mungkin aku mau menyentuh keluarga kaya seperti kalian, aku juga sadar diri."

Tanpa pikir panjang, Federic langsung menebak orang itu. "Apa Kris yang melakukannya? Jawab!"

Mendengar perkataan Federic, wajah pria itu kini bertambah pucat dan langsung menatapnya sendu.

"Ternyata benar, ini ulah pria keparat itu."

Pria itu tak menyangka, bahwa Federic hanya akan memancingnya untuk mengaku, tanpa ia harus berbicara faktanya.

"Tuan, saya mohon, saya hanya di perintah olehnya. Tapi saya bukan orang yang jahat."

Pria itu benar-benar memohon belas kasih, Federic jujur saja tak tega melihatnya. Asistennya kini maju menghampiri Federic.

"Tuan, ada panggilan dari istri Anda" Jonas menyerahkan ponselnya kepada Federic.

"Dia meneleponmu?"

Jonas pun mengangguk, Federic pun kini mengambil ponsel itu.

"Jonas, urus dia, buat dia benar-benar mau bicara, dan rekam semuanya."

"Grace, ada apa sayang?"

"Federic, Aurora pergi lagi. Aku, aku cemas, kau tahu bukan dari kemarin dia masih sangat labil."

Federic menghembuskan napasnya kasar. "Sudahlah Grace, anakmu bukan lagi anak kecil, jangan selalu kau khawatirkan, bagaimana dia bisa menghadapi hal besar jika kau terus seperti ini padanya." Federic memutus panggilan itu secara sepihak.

"Aurora, apa kau mau menemui Kris lagi? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirmu nak, apa yang telah pria itu berikan padamu sampai kau segininya."

Federic kini kembali berbalik badan, menghampiri Jonas yang masih belum bisa membujuk pria itu.

"Hai, aku punya penawaran hebat untukmu. Kau tidak akan rugi jika menerima tawaran ini."

Mendengar hal itu, kini pria itu pun langsung mendongakkan kepalanya ke atas.

"Apa itu?"

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!