NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 — Bantuan Tak Terlihat

"Jumat?" kata Raka. "Bagus. Itu hari yang gue tunggu untuk melihat mereka bergerak."

Namun menunggu bukan berarti duduk diam.

Di Studio Nusa Karya, ia membuat jadwal pertemuan kedua seperti proyek berisiko tinggi. Beni akan memantau lokasi dari luar gedung. Bagas berada di area publik sebagai penjemput cadangan, bukan pengawal yang mencari perkelahian. Pengacara Wisnu memegang salinan kronologi dan draf laporan.

Raka membalas Aris melalui email resmi.

Saya hadir untuk verifikasi akhir. Pertemuan tidak berarti persetujuan kontrak. Tidak ada barang yang akan disentuh atau pekerjaan yang dimulai.

Aris menjawab hanya dengan tanda jempol.

"Dia tidak menyetujui syarat lo," kata Beni.

"Tapi sudah menerima pesannya."

Raka menyimpan header email, tanda waktu server, dan salinan PDF. Ia juga mencetak bukti pengembalian Rp50.000.000. Bila Sherly menuduhnya membawa lari uang muka, jawabannya bukan cerita. Jawabannya nomor referensi bank.

Wisnu menelepon dari kantor.

"Pihak gedung menerima permintaan preservasi dan menyatakan akan menilai sesuai prosedur internal. Mereka belum menyerahkan apa pun."

"Cukup. Rekaman tidak terhapus otomatis sebelum ada dasar permintaan resmi."

"Jika situasi malam Jumat berubah menjadi ancaman, keluar. Jangan bertahan hanya demi mendapat adegan yang lebih lengkap."

"Saya paham."

"Bukti terbaik tidak berguna kalau klien saya sengaja menempatkan diri dalam bahaya."

Raka menutup telepon sambil menandai satu kalimat pada rencana: keselamatan lebih dulu, bukti mengikuti.

Beni kemudian menguji semua jalur komunikasi. Satu ponsel merekam waktu, satu lagi hanya untuk panggilan darurat. Lokasi dibagikan melalui akun Studio, bukan unggahan publik. Mereka juga menetapkan kata singkat yang berarti pertemuan harus dihentikan tanpa perdebatan.

"Kalau lo bilang selesai, gue telepon keamanan gedung," kata Beni.

"Jangan masuk ke unit."

"Kalau mereka mengunci pintu?"

"Hubungi petugas dan polisi. Jangan dobrak kecuali ada bahaya langsung."

Mereka mencatat aturan itu di lembar tugas. Tidak ada aksi pahlawan yang dibiarkan bergantung pada emosi.

Ia tidak tahu bahwa di sisi lain Jakarta, orang lain juga sedang membaca namanya.

Lantai tertinggi kantor Wibisana Group jauh berbeda dari kontrakan tempat Nindya mengaku bekerja sebagai pegawai proyek. Dinding kaca menghadap kota, meja rapat terhubung ke pusat data perusahaan, dan semua orang yang masuk memanggil perempuan di ujung meja dengan jabatan yang ia sembunyikan dari Raka.

"Bu Dirut," kata kepala komunikasi digital. "Pemantauan nama Studio Nusa Karya menemukan unggahan kecil yang tidak wajar."

Layar menampilkan foto buram Raka memasuki lobi apartemen.

Teksnya berbunyi: Seniman viral ternyata rajin mendatangi janda kaya malam-malam. Proyek atau layanan lain?

Unggahan itu hanya memiliki puluhan interaksi dan belum menyebar. Namun fotonya dipasang kurang dari dua jam setelah Raka meninggalkan gedung. Tiga akun yang memberi komentar pertama juga pernah menyerang proyek TK dengan kalimat hampir sama.

Anindya menatap tanggal.

"Siapa yang mengambil foto?"

"Belum diketahui. Metadata publik sudah dibersihkan. Tapi akun menggunakan tautan pelacak kampanye yang pernah muncul dalam presentasi vendor Nexora."

Prita berdiri di samping layar. "Bisa saja templatnya dijual ke banyak agensi."

"Benar," kata Anindya. "Jangan simpulkan Nexora sebelum bukti cukup."

Nada suaranya tenang. Jari yang memegang pena justru memutih.

Kepala hukum membuka laporan lain. "Nama perempuan yang disebut pada komentar adalah Sherly. Tim kami membandingkan foto publik, putusan yang dapat diakses, serta arsip sengketa vendor lama Wibisana. Sherly dan seorang pria bernama Deni pernah muncul dalam dua perkara dengan pola mirip."

"Pola apa?"

"Unit mewah bukan milik mereka. Mereka mengundang figur yang punya reputasi, memotong rekaman pertemuan, lalu mengancam menyebarkan tuduhan gangguan atau kerusakan barang jika tidak dibayar. Satu perkara berakhir damai sebelum pemeriksaan penuh. Perkara lain dihentikan karena korban mencabut laporan. Jadi kita tidak boleh menyebut mereka bersalah dalam kasus baru."

"Tapi pola risikonya nyata," kata Prita.

Anindya berdiri. "Apakah Raka menerima uang?"

"Kami tidak punya akses ke rekeningnya," jawab kepala hukum.

"Bagus. Jangan cari. Batas kita hanya sumber yang sah dan data yang memang berada dalam sistem Wibisana."

Ruangan hening.

Seorang direktur lain mungkin akan menyuruh keamanan menjemput Raka, membeli kontrak Sherly, atau menekan pengelola apartemen. Anindya mampu melakukan ketiganya sebelum makan siang.

Ia tidak memilih satu pun.

"Hubungi pengelola melalui jalur hukum umum," katanya. "Bukan atas nama Raka. Ingatkan kebijakan preservasi data untuk insiden reputasi vendor di gedung yang pernah bekerja sama dengan kita. Jangan minta salinan."

"Lalu tim jaringan?" tanya Prita.

"Pantau akun publik yang sudah menyerang. Dokumentasikan hubungan teknis yang terlihat sah. Jangan masuk ke sistem mereka, jangan menutup akun, dan jangan dorong topik tandingan. Jika ada konten melanggar, gunakan prosedur platform yang sama seperti pengguna lain."

Kepala komunikasi mencatat.

"Kalau Raka membuat laporan polisi," lanjut Anindya, "tim hukum boleh memberikan putusan publik dan arsip sengketa lama kepada pengacaranya melalui permintaan resmi. Tidak ada nama saya."

Setelah para kepala divisi keluar, Prita menutup pintu.

"Anda bisa menelepon Mas Raka sebagai Nindya."

"Lalu menjelaskan kenapa pegawai kontrak punya kepala hukum grup, tim keamanan siber, dan akses ke arsip vendor?"

"Bilang kantor Anda sangat peduli pada kesejahteraan staf."

"Kebohongan yang buruk."

Prita menatap sepupunya. "Jadi Anda akan melindungi dia satu gedung penuh, tapi pura-pura tidak tahu apa-apa saat bertemu?"

Anindya kembali duduk. Di layar tabletnya ada percakapan terakhir dengan Raka. Bukan marah yang paling sulit diperbaiki. Kepercayaan.

Kalimat itu masih terasa seperti garis retak.

"Raka membenci hidup yang diatur orang kaya tanpa persetujuannya," katanya. "Marlina memakai uang untuk membuat dia merasa tidak layak. Prawira memakai rumah untuk menyebut dia menumpang. Kalau aku datang membawa seluruh Wibisana, dia bisa mengira setiap kemenangan dibeli untuknya."

"Padahal Anda memang membantu."

"Aku menjaga agar orang lain tidak mencurangi arena. Dia tetap harus menang dengan caranya sendiri."

Prita melembut. "Bu, ini sudah masuk kategori dirut yang mabuk cinta."

Anindya mengangkat pandangannya. "Mau saya pindahkan kamu ke audit lahan?"

"Ancaman itu membuktikan saya benar."

Warna tipis naik ke wajah Anindya. Ia meraih berkas lain untuk menutupinya.

"Aku lebih rela dia tidak pernah tahu bantuanku," katanya, "daripada dia merasa disedekahi untuk menang."

Menjelang malam, tim digital mengirim pembaruan.

Tujuh akun kecil yang menyebarkan foto lobi belum bergerak lagi. Namun struktur tautan, waktu aktivasi, dan jalur penyimpanan materi memiliki persilangan dengan infrastruktur kampanye yang pernah digunakan vendor di bawah PT Nexora Digital.

Bukti itu belum cukup untuk tuduhan publik.

Cukup untuk menentukan arah pengawasan.

Prita meletakkan laporan cetak di meja. "Bu, akun yang mulai menyerang Raka memiliki persilangan server dan kampanye dengan Nexora."

Tatapan Anindya mendingin.

"Reno," katanya. "Jadi kamu juga ada di dalam permainan ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!