NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Tarian yang Tertunda

Dua hari setelah serangan akun palsu dimulai, ballroom Hotel Majapahit berkilau seperti tidak pernah mengenal kebencian.

Lampu kristal menggantung di atas meja bundar. Para pengusaha, pejabat kota, dan pesohor berjalan di depan dinding sponsor untuk gala pemutaran film amal. Di atas panggung, cuplikan dokumenter tentang sekolah pesisir diputar tanpa suara sementara kamera media memburu wajah yang lebih mahal daripada proyek amal itu sendiri.

Arya datang bersama Anindya.

Gaun hitam sederhana membingkai bahu Anindya. Tidak banyak perhiasan, hanya sepasang anting mutiara dan cincin pernikahan yang sengaja tidak ia sembunyikan. Arya mengenakan setelan gelap tanpa dasi. Bekas merah tipis di lengan kirinya tertutup manset.

"Mereka menunggu kita tampak bertengkar," kata Anindya tanpa menggerakkan bibir terlalu jelas.

"Kalau begitu, jangan beri tontonan gratis."

"Saya tidak bilang kita harus berpura-pura mesra."

Arya menoleh. "Saya juga tidak bilang begitu."

Mata mereka bertemu sesaat. Anindya lebih dahulu membuang pandangan, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

Di ujung ballroom, Hendra Halim berdiri dengan Reno. Keduanya telah meminta maaf setelah urusan tabrakan, tetapi permintaan maaf rupanya tidak mengubah cara Reno memandang Arya. Lelaki itu mengangkat gelas, seakan menyapa teman lama yang ingin ia lihat tenggelam.

Bella berada dua langkah di belakangnya.

Gaunnya merah anggur, riasannya sempurna, tetapi wajahnya terlalu pucat. Di layar sponsor, nama proyek comeback-nya muncul di bawah logo sebuah perusahaan Jakarta. Setiap kali kamera mengarah, Bella tersenyum. Setiap kali kamera pergi, senyum itu jatuh.

Anindya memperhatikan arah pandang Arya. "Mau menyapanya?"

"Tidak."

"Jawaban yang cepat."

"Karena pertanyaannya mudah."

Arya mengambil dua gelas air mineral dari pelayan dan menyerahkan satu kepadanya. Sejak insiden pisau, ia tidak pernah menyentuh Anindya tanpa tanda yang jelas. Bahkan saat seorang tamu hampir menabrak bahunya, Arya hanya menggeser posisi tubuh untuk menjadi penghalang.

Anindya menyadarinya. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Seorang pewarta hiburan menyodorkan mikrofon. "Pak Arya, bagaimana tanggapan Anda soal foto dengan staf perempuan PE?"

Arya tidak berhenti berjalan. "Foto lengkap, daftar kru, dan jadwal produksi sudah dikirim ke redaksi Anda pagi tadi. Kalau Anda ingin keterangan, gunakan berkas itu tanpa memotong bingkainya."

"Apakah Bu Anindya marah?"

Anindya menjawab sendiri. "Saya marah karena staf kami dijadikan sasaran fitnah. Bukan karena saya meragukan suami saya."

Kamera menangkap jawabannya utuh. Pewarta itu kehilangan pertanyaan lanjutan, sementara beberapa tamu yang tadinya berbisik terpaksa mengalihkan pandangan. Di sisi ruangan, Arya melihat seorang pria berjas abu-abu mengirim pesan setelah merekam jawaban mereka. Wajahnya sama dengan salah satu perantara media dalam foto Herman.

Arya tidak mengejar. Ia mengirim posisi pria itu kepada Kevin, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku. Malam itu mereka datang bukan hanya sebagai sasaran. Setiap mata yang mengawasi mereka juga sedang memperlihatkan dirinya.

Setelah pemutaran film, orkestra memainkan musik ringan. Para tamu memenuhi lantai dansa untuk sesi foto amal. Arya sedang berbicara dengan ketua yayasan ketika Reno mendekati Anindya.

"Bu Anindya," katanya, napasnya membawa aroma wiski. "Satu tarian. Untuk menunjukkan keluarga kita sudah berdamai."

"Tidak, terima kasih."

Reno tersenyum lebar. "Jangan kaku. Semua orang melihat."

"Justru karena semua orang melihat, seharusnya Anda memahami kata tidak."

Anindya hendak berbalik. Reno menangkap pergelangan tangannya.

Tubuh Anindya membeku.

Suara orkestra, tepuk tangan, dan percakapan di ballroom seolah menghilang. Napasnya tertahan. Jari-jari tangan bebasnya menegang, mencari sesuatu yang tidak ada. Wajahnya kehilangan warna dalam hitungan detik.

Reno tidak memahami bahaya yang ia bangunkan. "Cuma sebentar..."

Sebuah tangan menutup pergelangan Reno.

Arya berdiri di sampingnya.

"Lepaskan."

Suara itu tidak keras. Justru karena begitu datar, Reno berhenti tersenyum.

"Kami cuma bercanda."

"Lelucon berakhir ketika orang lain mengatakan tidak."

Tekanan jari Arya bertambah sedikit. Bukan untuk melukai, hanya cukup untuk membuat genggaman Reno terbuka. Begitu tangan Anindya bebas, Arya tidak langsung meraihnya. Ia berdiri setengah langkah di depan, memberi ruang sekaligus menutup pandangan para tamu.

"Anindya," katanya pelan. "Lihat saya."

Tatapan Anindya bergerak ke wajahnya.

"Kita bisa keluar sekarang."

Napas pertama masuk dengan tersendat. Lalu yang kedua.

Beberapa kamera sudah terangkat. Reno melihatnya dan mencoba tertawa. "Astaga, segitunya? Istri lo terlalu sensitif."

Arya menoleh kepadanya. "Tarian berikutnya milik saya."

Ia mengucapkan kalimat itu seperti sebuah janji, bukan undangan.

"Kalau tanganmu menyentuh istri saya lagi tanpa izin," lanjutnya, "yang menari adalah pengacaramu di kantor polisi."

Seorang pewarta menahan tawa. Beberapa tamu menjauh dari Reno. Tanpa pukulan dan tanpa keributan, Arya membuat lelaki itu berdiri sendirian di tengah lingkaran malu.

Hendra datang terlambat, atau sengaja menunggu sampai cukup banyak orang menyaksikan.

"Reno hanya ingin mencairkan suasana," katanya. "Kalian sekarang sama-sama keluarga besar. Halim, Adiwangsa. Tidak baik kalau hubungan perkawinan dipakai untuk menutup urusan bisnis."

"Pernikahan saya bukan jembatan untuk keluarga Anda," jawab Arya.

"Tentu. Tapi orang boleh bertanya mengapa pewaris Adiwangsa tiba-tiba menikahi pemegang saham PE tepat ketika perusahaan sedang diperebutkan."

Anindya telah kembali menguasai napas. Ia maju setengah langkah, masih tanpa menyentuh Arya.

"Orang boleh bertanya," katanya. "Mereka juga boleh membaca akta perkawinan, struktur kepemilikan, dan laporan audit. Yang tidak boleh adalah memegang tubuh saya setelah saya menolak."

Hendra terdiam. Jawaban itu terlalu jelas untuk dipelintir di depan puluhan saksi.

Arya mengajak Anindya meninggalkan lantai dansa. Mereka berhenti di balkon samping yang menghadap taman. Udara malam membawa aroma hujan dari halaman batu.

"Saya baik-baik saja," kata Anindya, sebelum Arya bertanya.

"Baik."

"Anda tidak percaya?"

"Saya percaya kamu sedang berusaha baik-baik saja. Itu berbeda."

Anindya menatap tangannya sendiri. Bekas tekanan Reno belum terlihat, tetapi jemarinya masih gemetar.

"Boleh saya memegang tanganmu?" tanya Arya.

Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Anindya, izin yang diberikan sebelum sentuhan terasa lebih kuat daripada perlindungan di tengah ballroom.

Ia mengulurkan tangannya lebih dahulu.

Arya menyambutnya tanpa menarik. Telapak mereka bersentuhan ringan, cukup untuk memberi titik pijak. Tidak ada kamera di balkon. Tidak ada keluarga yang perlu diyakinkan. Untuk pertama kalinya, kedekatan itu tidak lahir dari akta, ancaman, atau sandiwara publik.

"Tarian tadi masih utang," kata Arya.

"Saya tidak bisa menari."

"Bagus. Saya juga buruk. Jadi tidak ada yang bisa menertawakan siapa pun."

Anindya mengembuskan napas yang nyaris menjadi tawa.

Dari pintu balkon, suara gelas jatuh terdengar. Bella berdiri di sana dengan langkah goyah. Reno tidak terlihat bersamanya. Maskara di sudut matanya telah luntur tipis.

"Arya," panggilnya.

Anindya hendak melepaskan tangan, tetapi Arya tidak menggenggam lebih kuat ataupun menahannya. Ia hanya menunggu keputusan Anindya. Setelah sesaat, perempuan itu membiarkan tangan mereka tetap bersentuhan.

Bella melihatnya. Ada luka singkat di matanya, lalu ketakutan yang jauh lebih besar menutup semuanya.

"Kamu mabuk," kata Arya. "Saya panggilkan Rina."

"Jangan." Bella menengok ke belakang seperti takut seseorang mengikuti. "Aku cuma mau bilang sesuatu."

Arya menunggu.

Bella meremas tas kecilnya sampai buku-buku jarinya memutih. Bibirnya terbuka dua kali sebelum suara keluar.

"Aku takut, Arya." Tatapannya bergerak ke pintu ballroom. "Jangan percaya Reno."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!