NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Atap Bakti Bangsa

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi, hawa gugup sudah menyelimuti dadaku. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, aku dan Rara akhirnya menapakkan kaki di area Universitas Bakti Bangsa itu.

Gedung-gedung megah berarsitektur modern dengan dinding kaca biru yang menjulang tinggi langsung menyambut kami. Kampus ini benar-benar mencerminkan kasta elitnya. Kami berjalan menuju Gedung Olahraga (GOR) yang terletak di bagian belakang kompleks kampus. Sesuai kesepakatan, kami menunggu di dekat area pintu masuk utama penonton.

Tak lama kemudian, seorang cowok dengan jersei basket bernomor punggung 11 berjalan ke arah kami sambil melambaikan tangan dengan ceria. Itu Danu.

"Hei! Akhirnya sampai juga kalian," sapa Danu dengan senyum ramah yang mengembang di wajahnya.

"Danu!" Rara langsung berseru heboh. Tanpa canggung, dia melangkah maju dan memeluk sepupunya itu sekilas, layaknya saudara akrab yang sudah lama tidak bertatap muka.

"Astaga, makin kekar aja lo sejak rajin latihan basket!"

Danu terkekeh, menepuk bahu Rara. "Ya iyalah, namanya juga atlet kampus. Kalau letoy nanti diketawain penonton." Pandangan Danu kemudian beralih kepadaku.

Dia tersenyum sopan, tidak ada tatapan berlebihan atau sikap agresif yang sempat kutakutkan tempo hari. "Hai, Via. Apa kabar Makasih ya sudah mau menyempatkan waktu datang ke kampus gue?."

"Hai, Danu. Kabarku baik," jawabku sambil tersenyum senatural mungkin, meremas botol air mineral di dalam tas kain yang kubawa untuk menutupi rasa gugup.

"Sama-sama. Kebetulan hari ini jadwalku lagi kosong, jadi pas Rara ajak nonton kamu tanding, aku langsung mau."

"Wah, pas banget kalau gitu. Hari ini tandingnya bakal seru kok, karena ini sparring internal penentuan tim inti buat turnamen bulan depan," jelas Danu penuh semangat. Dia kemudian melirik jam tangannya.

"Eh, aku harus masuk ke ruang ganti sekarang buat briefing terakhir sama pelatih. Kalian langsung masuk aja ke dalam, ya. Bebas pilih kursi di tribun mana saja. Nikmati pertandingannya!"

"Sip! Semangat ya, Danu! Jangan memalukan marga keluarga" seloroh Rara sambil mengepalkan tangan di udara.

Danu tertawa lepas sambil berjalan mundur. "Beres. Tonton aja aksi hebatku nanti!"

Setelah Danu menghilang di koridor khusus pemain, Rara langsung menyenggol lenganku dengan sikunya.

"Tuh, kan. Apa gue bilang, si Danu santai banget orangnya, gak ada baper-baperan."

"Iya, iya, untunglah. Aku jadi gak merasa bersalah," bisikku lega.

Kami berdua kemudian melangkah masuk ke dalam area tribun penonton. Begitu melewati pintu, gemuruh suara sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan dan pantulan bola basket langsung memenuhi indra pendengaranku. GOR ini sangat luas, bersih, dan dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan yang sejuk.

"Vi, cari posisi yang enak. Jangan terlalu atas, biar lo bisa memantau target dengan jelas," bisik Rara setengah berbisik, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tribun, yang mulai ramai diisi mahasiswa.

Kami akhirnya memilih tempat duduk di baris ketiga dari bawah, posisi yang cukup strategis untuk melihat ke arah lapangan, sekaligus memantau bangku cadangan pemain. Begitu duduk, mataku langsung bergerak liar, menyisir satu per satu cowok yang mengenakan jersei basket di area lapangan bawah.

Jantungku berdegup kencang, memburu sosok dengan wajah familier yang selama tiga hari ini telah mengabaikan pesan digitalku. Skenario kebetulan sudah dimulai, dan di sinilah aku, siap menunggu momen yang tepat.

Setelah cukup lama kami duduk di tribun penonton, gemuruh di dalam GOR mendadak semakin riuh. Pintu akses pemain di ujung lapangan terbuka. Detik itu juga, sosok yang selama ini memenuhi isi kepalaku akhirnya muncul bersama tim basketnya.

Jantungku langsung bertabuh sangat kencang. Mataku menolak untuk berkedip, mengunci pandangan hanya pada satu orang. Di antara deretan para cowok tampan pemain basket kampus unggulan itu, dia terlihat paling bersinar. Sosok tinggi proporsional yang selama ini hanya mendekapku di dimensi mimpi, kini berwujud sangat nyata di depan mata.

Dia mulai melakukan pemanasan. Gerakannya saat menggiring bola, melompat, dan melempar ke arah ring terlihat begitu berwibawa. Ketika peluit pertandingan mulai ditiup, aku benar-benar hanyut dalam tatapanku sendiri. Riuk sorak penonton di sekelilingku mendadak senyap. Seolah-olah di dalam GOR yang megah ini, duniaku menyempit dan hanya ada dia seorang.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Pertandingan berjalan sangat sengit. Aku masih terus terpaku menatap pergerakannya di lapangan, sampai sebuah operan bola yang meleset melambung cepat ke arah tribun penonton. Sebelum aku sempat menghindar, sebuah benda oranye yang keras menghantam kepalaku dengan telak. Rasa pening yang hebat menyerang seketika, dan duniaku tiba-tiba menjadi gelap gulita.

...----------------...

"Via! Alhamdulillah, akhirnya lo sadar juga!"

Suara panik Rara adalah hal pertama yang kudengar saat kesadaranku perlahan pulih.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu putih di atas plafon. Bau antiseptik yang khas langsung menyengat hidungku. Aku menoleh lemah, mendapati Rara yang berwajah pucat sedang duduk di tepi ranjang.

"Aku... di mana, Ra?" tanyaku parau, sambil memegangi jidatku yang terasa senut-senut.

"Lo di ruang kesehatan kampus, Vi. Lo pingsan hampir setengah jam!" Rara menghembuskan napas lega, memegangi tanganku yang dingin.

"Lo bikin gue jantungan tahu gak. Tadi itu lo kena hantaman bola nyasar dari lapangan."

Aku meringis, mencoba mengingat kejadian terakhir. "Bola nyasar?"

"Iya. Dan lo harus tahu siapa yang melempar bola itu," Rara memajukan wajahnya, berbisik dengan mata melebar.

"Arga, Vi. Arga Wijaya, dia salah oper bola sampai kena kepala lo. Dan yang lebih gila lagi... dia yang langsung lari ke tribun penonton, mukanya panik banget, terus dia yang menggendong lo langsung ke ruang kesehatan ini!"

"Hah?! Arga... menggendong aku, serius Ra?" Jantungku yang tadinya lemas mendadak seperti disuntik kafein dosis tinggi.

Pikiranku langsung melayang, membayangkan bagaimana lengan kekarnya mendekap tubuhku, dan membawaku menyusuri koridor kampus. Skenario romantis itu mendadak membuat rasa sakit di kepalaku hilang seketika entah kemana.

Aku buru-buru mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang sepi. "Terus... mana Arganya, Ra. Dia di mana sekarang?"

"Oh, gue suruh dia balik ke GOR lagi buat lanjut tanding," jawab Rara santai sambil merapikan selimutku.

"Soalnya pertandingan mereka kan belum selesai, masih ada satu kuarter lagi."

"Apa?!" Aku langsung terduduk tegak, melotot ke arah sahabatku itu.

"Kok kamu malah mengusir dia sih, Ra... Harusnya kamu biarkan dia di sini nungguin aku sampai sadar!"

"Ya ampun, Via. Sadar diri dong, dia itu kapten timnya!" Rara balas mengomel, jengkel melihatku yang malah protes.

"Gak mungkin dia bolos tanding cuma buat nungguin orang pingsan yang gak dia kenal. Lagian komisioner tandingnya tadi juga udah nyariin dia."

Aku cemberut, kembali merebahkan tubuh dengan lemas sambil memeluk bantal. "Ya... tapi kan..."

"Ih, gak usah masang muka melas gitu deh," potong Rara sambil mencibir geli.

"Tenang aja, nanti setelah pertandingannya selesai, dia bakal ke sini lagi kok."

Mataku langsung berbinar lagi. "Beneran, Ra?!"

"Iya, Via sayang. Tadi dia titip pesan ke gue, katanya dia merasa bersalah banget dan mau minta maaf langsung sama lo, setelah kuarter terakhir selesai. Makanya dia minta gue nungguin lo di sini."

Mendengar penjelasan Rara, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kegirangan. Aku tersenyum lebar sampai deretan gigiku terlihat, melupakan sejenak memar di jidat. Ini jauh lebih indah dari apa yang kubayangkan.

"Ra, Rara. Kalau gitu, nanti pas dia datang, aku harus tetap melakukan strategi botol air tumpah yang udah kita rencanakan kemarin gak?" tanyaku antusias dengan suara berbisik.

Rara menatapku dengan pandangan tidak percaya, lalu menepuk jidatnya sendiri agak keras. "Via, lo bodoh atau gimana sih. Ya gak usahlah!"

"Loh, kenapa. Kan biar makin akrab?"

"Gak perlu pakai trik murahan kayak gitu lagi, Via!" Rara geleng-geleng kepala, menahan tawa melihat tingkahku.

"Kejadian kepala lo dihantam bola ini, udah lebih dari sekadar kebetulan yang kita skenariokan. Lo udah dapat jalur VIP buat interaksi langsung sama dia tanpa kelihatan kayak penguntit. Malah dia yang sekarang merasa berutang maaf sama lo. Jadi, nanti lo tinggal pasang muka manis aja, paham?"

Aku nyengir lebar, memeluk bantal ruang kesehatan itu dengan perasaan yang melambung tinggi ke awan. Rasa sakit akibat hantaman bola basket sore ini, berubah menjadi keberuntungan terbesar dalam hidupku.

1
falea sezi
😒 Arga php bgt meluk belom di tembak
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!