NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KEBETULAN KETIGA, LEBIH JELAS

Dua hari setelah kejadian telepon itu, Bang Tua sedang duduk di kantin kampus bersama beberapa mahasiswa bimbingannya, membahas revisi proposal skripsi, ketika salah satu dari mereka, Riko, tiba tiba menyodorkan ponselnya sambil terkekeh, wajahnya terlihat antusias seperti anak muda yang baru saja menemukan berita menarik untuk dibagikan.

"Pak, liat deh ini, lucu kali beritanya," kata Riko sambil menunjukkan sebuah artikel berita daring lokal yang baru saja viral di grup WhatsApp mahasiswa, layar ponselnya masih menyala terang menampilkan judul berita dengan huruf tebal.

Bang Tua mengambil ponsel itu, membaca judulnya sekilas, dan seketika alisnya terangkat. Berita itu memuat kabar tentang penangkapan sindikat penipuan telepon berkedok pihak bank, yang beroperasi dari sebuah ruko di pinggiran kota. Yang membuat berita itu viral bukan cuma soal penangkapannya, tapi karena salah satu korban target penipuan mereka, yang ternyata gagal ditipu, sempat merekam percakapan telepon dan menyebarkannya, membuat pihak berwajib bisa melacak nomor mereka dengan cepat, sebuah rekaman yang menurut komentar komentar di kolom berita itu terdengar cukup konyol karena si korban justru balik mempermainkan penipunya.

Bang Tua membaca lebih teliti, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, matanya bergerak cepat menelusuri setiap paragraf. Waktu kejadian yang disebutkan dalam berita itu, persis dua hari lalu, siang hari, waktu yang sama persis dengan saat dia sendiri menerima telepon aneh itu, bahkan detail modus operandinya, soal kode OTP dan klaim transaksi mencurigakan, sama persis dengan apa yang dia alami sendiri.

"Pak? Kenapa Pak, kok diem?" tanya Riko heran melihat dosennya tiba tiba terpaku menatap layar ponsel, alisnya berkerut penasaran melihat perubahan ekspresi dosennya yang biasanya sulit ditebak itu.

"Eh, nggak, nggak apa apa," jawab Bang Tua buru buru, mengembalikan ponsel itu sambil berusaha memasang wajah datarnya lagi, meski dalam hati pikirannya berkecamuk hebat, tangannya bahkan sedikit gemetar saat menyerahkan kembali ponsel itu ke Riko.

Sepanjang sisa bimbingan, Bang Tua kesulitan fokus, beberapa kali dia harus meminta mahasiswanya mengulang pertanyaan karena pikirannya melayang entah ke mana. Pikirannya terus melayang ke kejadian telepon dua hari lalu, ke bagaimana dia sempat menggumamkan sesuatu di akhir percakapan, sesuatu tentang berharap nomor itu cepat kena masalah. Dan sekarang, entah kebetulan atau bukan, sindikat itu tertangkap, tepat setelah dia mengucapkan kalimat itu, dengan cara yang terlalu presisi untuk sekadar disebut kebetulan biasa.

Setelah bimbingan selesai dan para mahasiswanya sudah pamit pulang, Bang Tua masih duduk sendirian di kantin, memandangi cangkir kopinya yang sudah dingin sejak tadi, pikirannya belum juga tenang. Beberapa kali dia sempat mengangkat ponselnya sendiri, bermaksud mencari berita itu lagi untuk dibaca ulang lebih teliti, memastikan tidak ada detail yang dia lewatkan atau salah dia pahami sebelumnya.

Malam harinya, di kos, Bang Tua duduk termenung lama di meja belajarnya, laptop menyala di depannya tapi tidak ada satu huruf pun yang dia ketik untuk disertasinya. Pikirannya sibuk menyusun ulang tiga kejadian yang sudah terjadi belakangan ini, penyerobot antrian di SPBU, preman peminta uang keamanan, dan sekarang penipu telepon. Tiga kejadian berbeda, tiga korban berbeda, tapi satu benang merah yang sama, semuanya terjadi tidak lama setelah dia menggerutu, dengan cara yang jauh dari wajar untuk disebut kebetulan.

"Ini nggak masuk akal," gumamnya pelan, menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, kebiasaan yang selalu muncul kalau dia sedang benar benar kebingungan. "Aku dosen matematika. Aku percaya logika, bukan hal hal ajaib begini."

Tapi logika yang selama ini jadi pegangan hidupnya, kali ini terasa tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Untuk pertama kalinya, keraguan yang dulu bisa dengan mudah dia tepis, kini terasa jauh lebih berat untuk diabaikan begitu saja, seperti beban yang perlahan lahan menumpuk tanpa bisa dia hindari lagi.

Dia menutup laptopnya pelan, menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit langit kamar kos yang sudah dia hafal setiap retakannya, retakan retakan kecil yang selama ini tidak pernah benar benar dia perhatikan sampai malam itu, ketika pikirannya terlalu penuh untuk fokus pada hal lain selain menatap kosong ke atas. Ada satu pikiran yang terus berputar di kepalanya, sesuatu yang terlalu aneh untuk dipercaya, tapi juga terlalu sering terjadi untuk terus disangkal.

"Jangan jangan, ini beneran ada hubungannya sama aku."

Dia mengulang kalimat itu beberapa kali dalam hati, mencoba merasakan bagaimana rasanya kalimat itu kalau benar benar dia percaya sepenuhnya, sebuah perasaan campur aduk antara takjub dan takut yang belum pernah dia alami sebelumnya, sesuatu yang jauh berbeda dari kekhawatiran biasa soal disertasi atau jadwal mengajar yang selama ini memenuhi pikirannya sehari hari.

Dia bangkit dari kursinya, berjalan mondar mandir kecil di kamarnya yang sempit, tiga langkah ke depan, tiga langkah ke belakang, sebuah kebiasaan yang selalu muncul kalau dia sedang berpikir keras soal sesuatu, entah itu soal rumus matematika yang rumit atau, seperti malam itu, soal sesuatu yang jauh di luar bidang keahliannya. Sesekali dia berhenti di depan jendela, menatap keluar ke arah gang yang sudah sepi, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip kedip karena catnya yang sudah kusam, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar putar tanpa henti.

Dia teringat lagi detail kejadian di apotek, di SPBU, di warung nasi Bu Inem, mencoba mencari pola yang lebih jelas, adakah kesamaan lain selain waktu kejadiannya, apakah selalu berhubungan dengan orang yang berbuat curang atau tidak jujur, apakah selalu terjadi dalam rentang waktu yang sama setelah dia menggerutu. Pikirannya bekerja seperti sedang menyusun hipotesis penelitian, mengumpulkan data, mencari variabel yang konsisten, meski dia sendiri tahu betul ini bukan jenis penelitian yang pernah dia pelajari di bangku kuliah mana pun.

Larut malam itu, sebelum akhirnya benar benar memutuskan untuk tidur, dia sempat membuka jendela kamarnya lebih lebar, membiarkan udara malam yang sejuk masuk, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak sore terasa terlalu penuh. Dari kejauhan, terdengar suara anjing menggonggong sesekali, dan suara motor yang lewat sesekali memecah kesunyian gang. Dia menghela napas panjang, menatap langit malam yang tidak terlalu banyak bintangnya karena polusi cahaya kota, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia membiarkan dirinya benar benar mengakui, meski hanya dalam hati, bahwa dunia yang dia kenal selama ini mungkin tidak sesederhana yang dia kira.

Dia kembali duduk di meja belajarnya, membuka lagi berita yang tadi ditunjukkan Riko, membacanya sekali lagi dari awal sampai akhir, kali ini dengan lebih tenang, mencoba melihat apakah ada penjelasan logis yang mungkin terlewat olehnya. Barangkali sindikat itu memang sudah lama diawasi polisi, dan penangkapannya hanya kebetulan terjadi berdekatan waktu dengan teleponnya. Barangkali laporan dari korban lain yang lebih dulu masuk, bukan gara gara ucapannya sama sekali. Dia mencoba menyusun berbagai kemungkinan itu satu per satu, seperti kebiasaannya mengevaluasi hipotesis dalam penelitian, tapi tidak satu pun dari penjelasan penjelasan itu benar benar berhasil meyakinkan dirinya sendiri sepenuhnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!