Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Vivian dan Mark
Universitas Hua Qing
Mark Yang terlihat sedang berusaha menghindari seseorang. Langkahnya semakin cepat menyusuri koridor universitas.
Di belakangnya, Vivi Wei terus mengejar.
“Tuan Muda Yang, kau di mana?” seru Vivi. “Papa dan Mama sedang menunggumu pulang bersama kami. Mereka ingin mengajakmu makan malam.”
Mendengar suara Vivi, langkah Mark justru semakin cepat.
“Siapa yang ingin makan bersamamu?” gumam Mark kesal. “Satu keluarga itu tidak ada yang waras.”
Mark terus berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Vivi tidak berhasil menyusulnya.
Namun, karena terlalu fokus melihat ke belakang, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!
Tubuh Mark dan gadis itu bertabrakan cukup keras.
“Ah!”
Mark langsung memegangi hidungnya yang terbentur, sementara gadis di depannya mundur beberapa langkah sambil mengusap dahinya.
“Aw!”
Gadis itu tidak lain adalah Vivian Wei.
Vivian mengusap dahinya yang terasa nyeri, lalu mendongak untuk melihat siapa yang menabraknya.
“Kenapa kau berjalan tidak menggunakan mata?” ketus Mark sambil memegangi hidungnya.
“Di dunia ini semua orang berjalan menggunakan kaki, dasar bodoh,” jawab Vivian santai.
Ia kemudian memperhatikan wajah pria di depannya.
Sepertinya aku pernah melihatnya...
Vivian tiba-tiba teringat sesuatu.
“Calon kakak ipar?”
Mark menatap Vivian dengan mata terbelalak.
“Siapa calon kakak iparmu?” tanyanya kesal.
“Namamu Mark Yang, bukan?” Vivian memastikan. “Tunangan Vivi Wei?”
“Kau...” Mark memperhatikan wajah Vivian lebih saksama. “Vivian Wei?”
“Iya.” Vivian mengangguk. “Kenapa kau tadi lari begitu cepat?”
Mark langsung menghela napas kesal.
“Aku sedang dikejar oleh burung hantu betina.”
“Burung hantu betina?”
Vivian mengangkat alis. Ia kemudian melihat ke arah pohon-pohon hias yang berada di sekitar halaman kampus.
“Sejak kapan Universitas Hua Qing memelihara burung hantu betina?”
Mark terdiam.
Vivian masih serius mencari-cari ke sekitar.
“Di mana burungnya? Aku ingin melihatnya juga.”
Mark memijat pelipisnya.
"Baru lolos dari burung hantu betina, malah bertemu dengan bangau betina," batinnya.
“Bukankah itu Tuan Muda Yang? Akhirnya kita bertemu juga.”
Beberapa mahasiswa berjalan menghampiri Mark. Penampilan mereka terlihat seperti sekelompok preman yang sengaja mencari masalah.
Mark menghela napas ketika melihat mereka.
“Roby, apa lagi yang kau inginkan?” tanyanya malas.
Roby, pemuda dengan rambut tegak berdiri, melangkah maju.
“Tuan Muda Yang, teman kami sampai masuk rumah sakit karena ulahmu. Apa kau tidak ingin memberikan penjelasan?”
“Penjelasan?” Mark mendengus. “Jelas dia yang lebih dulu mencari masalah denganku.”
Mark hendak pergi, tetapi langkahnya kembali terhenti ketika dua orang teman Roby menghadangnya.
“Hei, mau ke mana?” Roby mencibir. “Mark Yang, walaupun kau berasal dari keluarga kaya, jangan lupa kau tetap harus bertanggung jawab. Papaku tidak akan melepaskan orang yang berani melukaiku.”
“Anak manja,” balas Mark dingin. “Kau hanya berani menggunakan kekuasaan keluargamu.”
Roby langsung menyeringai.
“Siapa yang tidak tahu kalau di keluargamu sendiri tidak ada yang benar-benar memperhatikanmu? Kakekmu sudah tua, sedangkan perusahaan keluarga juga bukan urusanmu.”
Ia sengaja mendekat.
“Sepertinya kau bahkan bukan pewaris keluarga Yang.”
Wajah Mark menggelap.
“Apa urusannya denganmu? Kau benar-benar suka ikut campur. Memalukan sekali.”
Mark kembali hendak pergi, tetapi dua orang anak buah Roby langsung menahan kedua lengannya.
Sementara itu, Vivian masih berdiri di samping mereka dengan santai. Ia hanya memperhatikan pertengkaran tersebut tanpa berniat ikut campur.
Roby baru menyadari keberadaan Vivian.
“Siapa gadis ini? Pacarmu?”
Tatapannya berpindah dari Mark kepada Vivian.
“Bukankah calon istrimu adalah Vivi Wei?” Roby tersenyum menyeringai. “Gadis ini cukup cantik. Bahkan menurutku jauh lebih menarik daripada Vivi Wei.”
Roby berjalan mendekati Vivian.
“Hei, jangan sentuh dia!” bentak Mark. “Ini masalah kita. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini!”
Mark berusaha maju, tetapi kedua lengannya masih ditahan oleh teman-teman Roby.
Roby sama sekali tidak peduli.
“Gadis cantik, siapa namamu?”
Tangannya terangkat dan hendak menyentuh wajah Vivian.
Vivian menatap tangan itu dengan datar.
“Aku adalah nenekmu.”
Buk!
Kaki Vivian langsung melayang tepat mengenai bagian bawah tubuh Roby.
“Ugh!”
Wajah Roby seketika memerah. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya refleks memegangi bagian yang terkena tendangan.
Ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suara.
Melihat pemandangan itu, Mark sampai terdiam beberapa detik.
“Gawat...” gumamnya.
Mark kemudian menggeleng sambil menahan tawa.
“Sepertinya dia baru saja kehilangan masa depannya.”
"Kakak!" seru kedua teman Roby yang segera melepaskan tangan Mark dan berlari menghampiri Roby.
"Ha-hajar dia!" perintah Roby dengan menahan rasa sakit sambil menunjuk ke arah Vivian.
Kedua temannya langsung bergerak menyerang Vivian. Namun, Mark lebih dulu menarik salah satu dari mereka dan melayangkan tinju tepat ke wajahnya.
Bruk!
Pria itu terhuyung lalu jatuh ke lantai.
Sementara itu, teman Roby yang lain menyerang Vivian. Dengan cepat, Vivian menangkap tangannya, memutar tubuhnya, lalu membanting pria itu dengan keras ke lantai.
Brak!
Aksi Vivian membuat Mark terdiam sejenak. Dia tidak menyangka gadis yang baru ditemuinya itu ternyata begitu hebat dalam menghadapi lawan.
"Hebat! Luar biasa!" ujar Mark kagum.
"Cepat pergi!" ajak Mark.
Tanpa menunggu jawaban Vivian, Mark langsung meraih lengannya dan menariknya menjauh dari tempat itu.
"Kenapa harus pergi? Mereka yang mencari masalah denganku," gumam Vivian.
"Kalau kau tetap di sini, masalahnya akan semakin besar. Ayo!" jawab Mark sambil terus menariknya.
Vivian akhirnya mengikuti langkah Mark, sementara tanpa sadar sudut bibir Mark terangkat tipis.
"Gadis ini benar-benar menarik."