NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:188
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Sekuntum Mawar di Bawah Kos

Satu minggu setelah pulang dari Bali, Arka mengirim pesan yang sama setiap pagi.

Sudah mikir belum?

Larasati selalu menjawab dengan stiker sibuk. Namun Sabtu pagi, sebuah voice note masuk.

"Keluar. Aku di bawah."

Larasati membuka jendela kos dan langsung melihat kerumunan ibu-ibu. Di tengah mereka, Arka berdiri membawa buket mawar yang hampir menutupi wajahnya.

"Anak siapa itu?" teriak seorang ibu dari bawah. "Laras, pacarmu ganteng!"

Larasati menutup jendela, lalu membukanya lagi. Arka masih ada. Pemuda itu mendongak dan melambaikan buket.

"Kalau Kakak nggak turun, aku naik!"

Larasati berlari menuruni tangga.

"Kamu mau bikin satu kompleks tahu?"

"Biar ada saksi."

Arka menyerahkan bunga. "Aku tahu Kakak pernah suka orang lain. Aku juga tahu aku masih kuliah dan usiaku lebih muda. Tapi aku nggak bisa terus pura-pura cuma adik. Aku mau sama Kakak lama-lama."

Ibu-ibu di teras sebelah berpura-pura menyiram tanaman.

"Kita coba dulu," kata Larasati. "Kalau nggak cocok, jangan saling menyakiti. Dan Bu Ratih belum boleh tahu."

"Itu artinya iya?"

"Iya. Sekarang juga, keburu Kakak tua."

Arka mengangkat tubuhnya dan berputar. Larasati menjerit, sementara para tetangga bertepuk tangan.

Masa pacaran mereka terasa seperti menemukan potongan hidup yang selama ini hilang. Arka mengikat rambut Larasati saat dia makan, membawa kipas kecil ketika listrik kos mati, dan mengirim sarapan lewat ojek online ketika mereka tak bisa bertemu.

Saat Larasati demam dan menginginkan satu jenis brownies Bandung, Arka naik travel setelah kelas hanya untuk membawanya. Dia tiba malam-malam dengan rambut berantakan dan kotak kue hangat.

"Kamu gila."

"Iya. Makanya jangan putus."

Setiap menerima uang kerja paruh waktu, Arka mentransfer sebagian ke GoPay Larasati dengan catatan dana nikah. Larasati selalu mengembalikan, lalu Arka mengirim lagi dengan nominal lebih kecil.

Hubungan itu masih dirahasiakan dari Bu Ratih, tetapi tidak dari tetangga, pengemudi ojek, atau kasir minimarket yang berkali-kali melihat Arka menunggu di bawah kos.

Pada minggu ketiga, Bu Ratih memanggil Larasati ke kantor hanya untuk bertanya mengapa putranya belakangan rajin bangun pagi. Larasati menjawab mungkin Arka sedang termotivasi kuliah, sementara ponselnya bergetar di saku.

Arka: Bilang saja karena ada calon istri yang harus dibelikan sarapan.

Larasati menahan batuk. Bu Ratih mengamatinya, lalu tersenyum tipis seolah melihat sesuatu yang Larasati sendiri belum berani akui.

Di akhir pekan, mereka belajar bersama di perpustakaan lama. Kali ini Arka yang mengerjakan tugas, sedangkan Larasati menyita ponselnya.

"Dua halaman dulu," katanya meniru suara Arka bertahun-tahun lalu.

"Kalau selesai, hadiahnya apa?"

"Ponsel kembali."

"Dulu Kakak dapat kue sus. Aku maunya ciuman."

Pustakawan berdeham dari meja depan. Larasati menendang kakinya, tetapi di lorong buku yang sepi dia tetap memberikan hadiah itu, singkat dan membuat Arka tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

Larasati juga berubah. Dia menyiapkan bekal saat Arka ujian, mengingatkan jadwal kelas, dan menghafal nama dosen yang paling pelit nilai. Arka menyebutnya pacaran otak, penyakit yang ternyata menular.

Beberapa bulan kemudian, Bagas pulang dan mengundang teman-teman lama reuni. Larasati datang bukan untuk berharap, hanya untuk membuktikan bahwa nama itu tak lagi memiliki kuasa.

Sebelum berangkat, Arka membantu memilih anting. Dia menolak gaun merah yang terlalu menarik perhatian, lalu tertawa ketika Larasati menyebutnya posesif.

"Aku percaya Kakak," katanya. "Aku cuma nggak percaya cowok lain punya mata yang sopan."

"Kalau Bagas datang?"

Tangan Arka berhenti di pengait kalung. "Pulang tetap ke aku."

"Pasti."

Janji itu yang Larasati bawa ketika memasuki ruang reuni.

Bagas tiba dengan mobil mewah dan kemeja mahal. Dulu penampilan semacam itu bisa membuat Larasati menyusun seribu kemungkinan. Sekarang dia hanya teringat Arka yang pasti belum makan karena menunggunya pulang.

Setelah acara, Bagas menawarkan tumpangan.

"Kita sudah lama nggak bicara," katanya di mobil. "Kenapa dulu kamu hapus aku?"

"Karena capek menunggu."

"Waktu itu aku belum mapan. Aku takut memberi harapan."

"Jadi kamu memilih diam delapan tahun?"

"Aku pikir kamu akan mengerti."

"Aku mengerti sekarang. Kamu suka ditemani, tapi nggak cukup suka untuk memilihku."

Bagas menatap jalan. "Mungkin aku terlambat."

"Bukan mungkin."

Jawaban itu tidak terasa kejam. Hanya jujur. Larasati akhirnya paham bahwa cinta yang selalu memintanya menunggu bukan cinta yang harus ia perjuangkan.

"Kamu tetap menikmati perhatianku tanpa pernah memberi jawaban."

Bagas menggenggam setir. "Kalau sekarang aku bilang mau mencoba?"

Larasati tersenyum. "Sekarang ada cowok yang sayang banget nungguin aku di rumah."

Mobil berhenti di depan kos. Lampu kamar Larasati menyala, tanda Arka sudah masuk memakai kunci cadangan.

"Semoga bahagia," kata Bagas.

"Kamu juga."

Larasati memeluknya singkat sebagai salam perpisahan. Tidak ada debar, tidak ada penyesalan. Hanya rasa lega karena satu babak benar-benar selesai.

Dia tidak melihat bayangan Arka berdiri di balik tirai lantai dua.

Pemuda itu menyaksikan mobil Bagas pergi, lalu menatap Larasati yang masih berdiri di trotoar. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Ketika Larasati naik, pintu kamarnya terbuka. Arka berdiri dalam cahaya redup tanpa senyum.

"Kamu sudah pulang," kata Larasati.

"Dari tadi."

"Aku kira ada kelas tambahan."

"Aku batalin. Mau masak buat Kakak."

Di meja ada dua piring pasta yang mulai dingin. Larasati meletakkan buket kecil dari acara reuni, lalu mendekat.

"Kamu kenapa?"

Arka menatap jalan di bawah jendela. "Cowok tadi Mas Bagas?"

Larasati baru sadar sudut pandang dari kamar membuat pelukan mereka tampak lebih dekat daripada kenyataan.

"Iya. Tapi semuanya sudah selesai."

"Dia cium Kakak?"

"Nggak."

"Kakak minum juga?"

"Cuma satu gelas mocktail. Arka, lihat aku."

Dia menyentuh pipi Arka. Pemuda itu akhirnya berbalik, tetapi luka di matanya membuat penjelasan sederhana terasa tak cukup.

"Aku memilih kamu," kata Larasati.

Arka belum langsung percaya. Larasati mengambil ponsel, membuka percakapan Bagas, lalu menunjukkan pesan terakhir mereka. Tidak ada rayuan, tidak ada janji bertemu lagi.

"Aku memeluk dia untuk pamit," jelasnya. "Kalau aku tahu kamu melihat, aku tetap akan melakukan hal yang sama, tapi aku akan bilang dulu. Masa lalu perlu ditutup dengan benar."

"Aku takut Kakak sadar dia lebih mapan."

Larasati mengangkat tangan Arka dan menempelkannya ke dadanya. "Yang bikin ini berantakan kamu, bukan mobilnya."

Arka memeluknya keras. "Jangan bikin aku merasa jadi pilihan sementara."

Larasati mengusap punggungnya. "Kamu bukan sementara."

Di luar jendela, mobil Bagas sudah tak terlihat. Namun pelukan perpisahan yang dilihat Arka telanjur menyalakan satu ketakutan baru.

Dan Larasati belum tahu, tubuhnya sendiri sedang menyimpan kabar yang akan membuat ketakutan itu terasa kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!