NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DENGAN TAKDIR

Pasukan Veyra tiba di desa itu dalam debu yang mengepul. Dua puluh prajurit berbaju zirah mengkilap, menunggang kuda yang kuat, seolah-olah mereka adalah dewa-dewa yang turun ke bumi. Di depan mereka, seorang perwira dengan jubah merah keemasan—warna rumah bangsawan Veyra—turun dari kuda dengan wajah jijik, seolah tanah di desa itu terlalu kotor untuk kakinya.

Penduduk desa berkumpul dengan takut-takut, sebagian besar hanya berpenampilan buruk rupa, wajah-wajah yang telah lama lelah berjuang bertahan hidup. Zhoo, Arvin, dan Kael berdiri di barisan depan.

"Raja Vereon yang Agung, penguasa tanah terberkati Veyra, memerintahkan kalian menyerahkan setengah dari hasil panen tahun ini!" seru perwira itu dengan suara keras, tanpa melihat siapa pun.

"Setengah?!" seorang petani tua berteriak tak percaya. "Tahun lalu hanya sepertiga! Tanah ini kering, panen kita sedikit! Jika kami berikan setengah, kami semua akan mati kelaparan!"

Perwira itu menoleh ke arah petani itu, lalu melambaikan tangan. Seorang prajurit menghunus pedangnya dan memukul pria tua itu hingga jatuh tersungkur. Darah menetes dari dahinya.

"Siapa yang berani membantah perintah Raja, akan mendapat nasib yang sama!" ancam perwira itu dingin.

Kael mengepalkan tangannya kuat-kuat, hendak melangkah maju, namun Zhoo menahannya dengan satu sentuhan tangan di bahu. Zhoo melangkah maju sendirian, berdiri tegak di hadapan perwira itu, meski ia tahu ia bisa dibunuh kapan saja.

"Yang Mulia Perwira," ucap Zhoo dengan suara tenang namun terdengar jelas oleh semua orang. "Kami tunduk pada Raja Vereon, dan kami akan memberikan apa yang mampu kami berikan. Tapi setengah dari hasil panen... itu bukan pajak, itu adalah kematian bagi kami semua. Tanpa benih untuk ditanam tahun depan, tidak akan ada lagi yang bisa kami berikan, bahkan untuk diri kami sendiri."

Perwira itu menatap Zhoo dari atas sampai bawah, seolah sedang melihat seekor serangga. "Dan kau siapa, anak desa yang berani berbicara seperti itu?"

"Aku Zhoo. Tidak ada gelar, tidak ada tanah. Hanya orang yang tidak ingin melihat orang-orangnya mati sia-sia."

"Kau berani menegosiasikan dengan aku?" Perwira itu tertawa sinis. "Baiklah... jika kau bisa mengalahkan salah satu prajuritku dalam duel, aku akan menguranginya menjadi sepertiga. Tapi jika kau kalah... maka dua pertiga, dan kau sendiri yang akan menjadi budak di istana Raja."

Desa itu hening seketika. Arvin langsung berbisik, "Jangan, Zhoo. Itu jebakan. Prajurit mereka terlatih dengan baik."

Zhoo menoleh sedikit, menatap Arvin, lalu mengangguk pelan. "Aku tahu risikonya. Tapi jika aku menolak, tetap saja mereka akan mengambil apa yang mereka mau. Setidaknya ini ada harapan."

Ia kembali menatap perwira itu. "Setuju. Tapi jika aku menang... janji itu berlaku untuk tiga tahun ke depan. Dan tidak ada prajurit yang boleh menganiaya penduduk desa tanpa alasan."

Perwira itu mengangkat alis, lalu tersenyum licik. "Baik. Selesaikan."

Seorang prajurit bertubuh raksasa melangkah maju, membawa pedang panjang yang berat. Zhoo tidak membawa senjata apa pun. Ia hanya berdiri, kedua tangannya terbuka.

"Kau tidak membawa pedang?" ejek prajurit itu.

"Pedang hanya besi yang diasah," jawab Zhoo tenang. "Yang mematikan bukan senjatanya, tapi orang yang memegangnya."

Duel itu berlangsung singkat namun menegangkan. Prajurit itu menyerang dengan kekuatan besar, namun Zhoo tidak pernah mencoba menahan serangan itu—ia hanya menghindar, mengubah arah, membiarkan kekuatan lawannya menghancurkan udara. Dengan ketepatan yang luar biasa, ia menyentuh titik-titik lemah pada pergerakan lawannya, hingga akhirnya prajurit raksasa itu kehilangan keseimbangan dan jatuh keras ke tanah. Zhoo berdiri di sampingnya, satu kaki menekan dadanya, tanpa senjata di tangan.

Hening sejenak, lalu teriakan penduduk desa meledak. Perwira itu wajahnya memerah karena marah, namun ia sudah berjanji.

"Kau beruntung, anak nakal!" geramnya. "Tapi ingat... Raja Vereon tidak melupakan orang yang membuatnya merasa dipermalukan. Suatu hari nanti, kau akan menyesal pernah berdiri di hadapanku hari ini!"

Pasukan itu pergi dengan kemarahan, meninggalkan desa yang masih gemetar namun kini penuh harapan. Arvin mendekati Zhoo, menatapnya dengan tatapan baru—bukan lagi tatapan seorang guru kepada murid, melainkan tatapan pengikut kepada pemimpin.

"Kau baru saja menandatangani permintaan perang terhadap dirimu sendiri, Zhoo," ucap Arvin pelan.

"Kupikir itulah yang baru saja aku mulai," jawab Zhoo, menatap debu yang tertinggal pasukan itu. "Dan aku tidak akan berhenti di sini."

Saat itu juga, di kejauhan, seorang wanita muda berdiri di bukit, mengamati semuanya. Ia mengenakan jubah berwarna perak, rambutnya panjang berwarna cokelat keemasan, dan di matanya ada kebijaksanaan yang jauh melampaui usianya. Itu Elara—putri dari penguasa salah satu daerah di Kerajaan Oakhaven, yang sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi tempat suci. Ia melihat seluruh kejadian itu, dan hatinya berdebar melihat pemuda itu yang berani berdiri melawan kekuatan besar tanpa rasa takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!