NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roy & Arin

Malam makin larut ketika mereka semua keluar dari restoran. Udara sejuk malam kota menyambut langkah-langkah mereka. Levin yang berjalan di depan langsung memberi instruksi dengan tenang.

“Roy tolong anatarkan Arin pulang, biar aku yang mengantarkan jingga ,” ujar Levin sambil tersenyum kecil.

Arin langsung bersinar wajahnya. “Serius? Aku satu mobil sama Sekretaris Roy?” katanya girang sambil menepuk-nepuk lengan Jingga.

Jingga hanya tertawa kecil, melirik Roy yang tampak mendesah halus, berusaha tetap profesional.

“Baik, Tuan,” jawab Roy datar, meski sedikit terselip nada pasrah.

Arin dengan cepat masuk ke mobil Jingga, duduk di kursi depan samping Roy. “Horeee, perjalanan panjang bareng Sekretaris favoritku!” celetuk Arin riang.

Roy hanya melirik sebentar, menyalakan mesin, lalu berujar singkat, “Pakai sabuk pengaman.”

Arin terkekeh. “Kamu tuh dingin banget, Roy. Tapi… aku suka,” balasnya dengan nada genit yang bikin Roy refleks meremas setir lebih erat, wajahnya sedikit memerah walau tetap menjaga ekspresi datarnya.

Di sisi lain, Levin sudah menggiring Jingga masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, suasana berubah jadi tenang, hanya diisi musik lembut dari radio. Levin melirik sebentar, lalu menggenggam tangan Jingga di atas pangkuannya.

“Senang?” tanyanya dengan suara rendah. Jingga menunduk malu.

“Aku… senang banget. Tapi kamu terlalu sering bikin aku terkejut, Vin.” Levin tersenyum hangat, lalu mengangkat tangan Jingga dan mengecup punggungnya pelan.

“Aku akan selalu bikin kamu terkejut. Karena aku ingin kamu ingat, betapa seriusnya aku menjaga kamu.”

Jingga tak mampu berkata-kata lagi. Dadanya hangat, matanya berkaca-kaca. Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada obrolan ringan, tawa kecil, dan keintiman sederhana yang begitu berharga.

Sementara itu, di mobil satunya, suasana benar-benar berbeda. Arin sibuk berceloteh, menggoda Roy habis-habisan dengan rayuan kocak.

“Roy, kamu kayak drama Korea versi asli. Dingin, tapi diam-diam manis. Coba senyum sekali aja buat aku?” Roy menghela napas panjang.

“Kalau aku senyum, apa kamu bakal diam?” Arin malah tertawa keras. “Nggak mungkin lah, justru aku makin semangat!”

Roy yang fokus menyetir hanya memberikan respon singkat, kadang anggukan, kadang gumaman datar. Tapi Arin jelas tidak menyerah.

“Roy…” panggilnya manja, sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan menoleh ke arahnya.

Roy hanya melirik sekilas. “Apa lagi?” tanyanya singkat.

Arin tersenyum lebar, lalu dengan percaya diri berkata,

“Kasih aku nomor ponsel kamu, dong.”

Roy spontan mengerem pelan, lalu menatapnya sebentar dengan dahi berkerut. “Untuk apa?”

Arin menatapnya tak kalah serius. “Ya buat jaga-jaga. Kalau aku butuh sesuatu… atau kangen…” ujarnya sambil menahan tawa nakal.

Roy mendesah panjang.

“Arin, aku ini sekretarisnya Tuan Levin. Kalau ada keperluan, bisa langsung lewat beliau.”

Arin cepat-cepat menukas.

“Tapi kan aku butuhnya kamu, bukan Levin.”

Suasana sempat hening beberapa detik. Roy menoleh lagi, kali ini lebih lama, lalu kembali fokus ke jalan. Wajahnya tetap datar, tapi telinganya sedikit memerah.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius,” sahut Arin cepat.

Roy tak menjawab. Ia berpura-pura tak mendengar, tapi di ujung perjalanan, tepat sebelum mobil berhenti di depan rumah Arin , ia menyerahkan ponselnya ke arah Arin.

“Masukin nomor kamu sendiri.”

Arin langsung bersorak kecil kegirangan.

“Yeeeyyy! Sekretaris Roy akhirnya luluh juga!” katanya sambil cepat-cepat mengetikkan nomornya. Sebelum mengembalikan ponsel itu, ia sempat menambahkan emoji hati di kontak namanya.

“Udah deh, biar gampang kamu inget aku,” katanya dengan wajah tanpa dosa.

Roy hanya menghela napas lagi, menahan senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang sulit ia tolak.

Mobil berhenti pelan di depan rumah Arin. Roy segera mematikan mesin, bersiap untuk pamit, tapi Arin justru menoleh ke arahnya dengan senyum lebar.

“Roy,” panggilnya pelan.

Roy menoleh, menunggu. “Hm?”

“Terima kasih ya, sudah nganterin aku. Padahal ini bukan tugas utama kamu.”

Roy menghela napas pendek. “Itu bagian dari pekerjaan. Jangan terlalu dipikirin.”

Arin mendengus kecil. “Ih, kamu tuh ya… selalu ngomongnya datar banget. Bisa nggak sih sekali aja jawabnya agak hangat gitu?”

Roy mengangkat alis. “Aku sudah senyum tadi.”

Arin langsung tertawa. “Senyum tipis gitu? Itu namanya bukan senyum, itu kaya kamu lagi tahan bersin.”

Roy akhirnya menunduk, ada lengkungan samar di bibirnya. “Kamu terlalu banyak komentar.”

“Kalau aku nggak banyak komentar, kamu makin dingin kaya kulkas dua pintu,” balas Arin cepat, matanya berkilat penuh tantangan.

Suasana sejenak hening, hanya terdengar detak jarum jam mobil. Arin menatap Roy, lalu sedikit melunak.

“Tapi beneran, Roy… makasih. Kamu bikin malam ini jadi lebih menyenangkan. Aku senang bisa ngobrol sama kamu, meski kamu jawabnya selalu singkat.”

Roy menatapnya sekilas, lalu kembali menatap ke depan. “Jangan terlalu berharap banyak dari aku, Arin.”

Arin tersenyum, kali ini lebih lembut. “Aku nggak berharap apa-apa. Cukup kamu mau dengerin aku, itu sudah cukup.”

Roy terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menatap Arin, menahan kata-kata yang nyaris keluar. Namun, ia hanya mengangguk kecil.

“Hati-hati masuk rumah.”

Arin tersenyum lagi, lalu membuka pintu. Sebelum turun, ia sempat mencondongkan tubuh dan berkata dengan nada menggoda,

“Next time, aku yang traktir kamu ya, Roy. Ingat itu.”

Roy hanya bisa menghela napas panjang sambil menggeleng, tapi setelah Arin menutup pintu dan berjalan pergi, senyum tipis itu akhirnya muncul lagi di wajahnya.

Sepanjang jalan menuju apartemennya, Roy memegang erat setir mobil. Namun pikirannya bukan pada jalanan yang ia lewati. Justru bayangan senyum Arin terus muncul, seakan masih duduk di kursi penumpang tadi. Kata-kata ceplas-ceplosnya, tawanya yang lepas, bahkan tatapannya yang penuh keberanian semua itu mengusik hati Roy.

“Kenapa aku jadi begini?” gumamnya pelan, matanya sempat berkabut. “Apa ini saatnya… aku membuka hati lagi?”

Sudah lama ia tak merasakan kehangatan seperti ini. Ada rasa bahagia yang aneh, sederhana, tapi begitu nyata.

Roy akhirnya sampai di apartemen kecil yang ia sewa di kota ini. Ruangan itu sederhana, penuh ketenangan, seperti kepribadiannya. Ia meletakkan jas di gantungan, membuka kancing kemeja, lalu menatap dirinya di cermin. Tatapan dingin yang biasanya ia kenali, kini tampak berbeda ada sedikit cahaya.

Empat tahun terakhir, ia mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan. Menjadi sekretaris pribadi Levin membawanya ke banyak tempat, termasuk ke Jerman selama beberapa tahun. Pekerjaan itu membuatnya terbiasa sibuk, disiplin, dan menekan sisi pribadinya.

Tapi ada alasan lain kenapa ia menutup diri. Dua tahun lalu, wanita yang sudah tiga tahun menjalin hubungan dengannya justru meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Sejak saat itu, Roy meneguhkan diri untuk tidak terlalu serius dalam urusan cinta. Ia belajar tampak santai, bahkan dingin, agar tidak ada lagi luka.

Namun… malam ini berbeda. Ia tak bisa menolak kenyataan bahwa Arin meninggalkan kesan mendalam. Gadis itu berbeda—ceria, hangat, dan berani menembus dinding yang selama ini ia bangun. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa penuh.

Roy menghela napas, menyandarkan tubuh di kursi. “Arin…” hanya itu yang bisa ia ucapkan, namun suaranya sarat makna.

---

Sementara itu, di sisi lain kota, Arin merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Ia tersenyum sendiri, matanya berbinar meski ruangan gelap. Malam ini terasa istimewa baginya, bukan hanya karena ia semakin mengenal Levin, calon suami sahabatnya, tapi juga karena satu sosok lain.

Ia memutar kembali momen-momen tadi, terutama saat ia menggoda Roy. Ingatan itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. “Dingin-dingin gitu, kok bikin penasaran banget sih…” bisiknya sambil tertawa kecil.

Arin menutup mata, namun senyum itu tak kunjung hilang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam hidupnya—sesuatu yang membuatnya tak sabar menantikan hari esok.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!