Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nenek
Pagi itu aku bersiap untuk berangkat bekerja. Saat aku melangkah ke ruang makan, terlihat sarapan yang sudah disiapkan Ibu di atas meja — masih hangat dan tertata rapi. Namun Ibu tidak ada di sana. Mungkin Ibu sedang pergi ke pasar, pikirku.
Aku duduk dan menikmati sarapan itu dengan tenang, merasa disayang setiap kali melihat persiapan yang selalu Ibu buat untukku setiap pagi. Semoga Ibu tidak terlalu lama di luar, batin aku, apalagi dengan segala beban pikiran yang sedang ia hadapi. Setelah sarapan habis, aku segera membereskan tempat makanku dan bersiap berangkat, berharap hari ini akan berjalan lancar dan damai.
Sudah pukul tujuh pagi, namun Ibu belum juga pulang. Aku melihat ke arah pintu berkali-kali, berharap Ibu muncul kapan saja. Namun waktu terus berjalan, dan aku harus berangkat bekerja. Dengan berat hati aku memutuskan untuk berangkat saja tanpa sempat berpamitan kepada Ibu. Aku berjanji dalam hati akan segera pulang lebih awal sore nanti, untuk menebus ketidakhadiranku saat Ibu pulang. Langkah kakiku melangkah keluar rumah, berharap Ibu sudah ada di rumah saat aku pulang nanti.
Sesampainya di kafe, ternyata belum banyak orang. "Eh astaga, bercandaaa, aku tunggu aja jadi yang pertama," seru Vina sambil bersenandung nyanyi pelan.
Aku diam-diam mendekat dari belakang, lalu berteriak mengejutkan dia. "Dorrr!"
Vina kaget setengah mati, nampan yang sedang ia bawa sampai hampir jatuh ke lantai. Dia langsung menoleh dengan wajah kesal tapi tetap lucu.
"Buset nih anak, pagi-pagi udah bikin kaget orang!" katanya kesal sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
Aku langsung tertawa lepas sampai perutku terasa sedikit sakit, melihat reaksinya yang kaget banget tadi.
"Gue tonjok lu lama-lama beneran nih!" sambung Vina sambil mencubit pelan lenganku, tapi senyumnya langsung muncul juga.
Suasana pagi itu jadi terasa cerah dan hangat berkat tawa kami berdua. Beban pikiran yang kubawa dari rumah tadi pagi perlahan mulai terasa ringan lagi.
"Maaf lah Vin, sekali kali iseng hehe," kataku sambil senyum minta maaf.
"Iseng-isengg..." gumam Vina sambil geleng-geleng kepala tapi tetap senyum.
Belum lama kita ngobrol, tiba-tiba terdengar suara keras dari belakang. "Ddooorrr!"
Kita berdua kaget setengah mati, spontan berteriak bareng sambil meloncat dikit. Ternyata itu Bagus yang datang diam-diam terus bikin kaget kita.
"Ah Bagus ini!" kataku kesal sambil memukul bahunya pelan.
"Kalian ini sama aja, sukanya kagetin orang!" celetuk Vina kesal.
Kita bertiga tertawa lepas sampai air mata hampir keluar, suasananya jadi seru banget pagi ini. Untung saja belum ada pelanggan yang datang, jadi kita bisa tertawa sebebas-bebasnya tanpa sungkan. Rasanya beban di hati tadi pagi perlahan hilang berganti tawa hangat bersama teman-teman.
Kita pun mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Bagus menyiapkan semua barang dan perlengkapan yang dibutuhkan, memastikan semuanya rapi dan siap pakai. Vina bertugas sebagai kasir, duduk di depan meja kasir sambil menyiapkan buku catatan dan alat pembayaran. Sedangkan aku bertugas sebagai pelayan, siap menyambut setiap tamu yang datang dan mengantar pesanan mereka. Di dapur, koki kita sudah siap sejak tadi, beliau adalah Pak Andik, yang sudah terbiasa memasak makanan lezat untuk pelanggan kafe ini. Semuanya sudah pada tempatnya, dan kafe pun resmi siap untuk melayani pengunjung hari ini.
Tak lama kemudian, datanglah sepasang kekasih yang tampak hendak berangkat ke tempat kerja, mengenakan pakaian kantor. Pria itu bertubuh agak gemuk, sedangkan wanitanya berdandan sangat rapi dan mencolok, sambil mengayun-ayunkan tas yang ia bawa. Aku segera menyambut dan menghampiri mereka dengan sopan.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu berbicara dengan nada yang sangat manja kepada pasangannya. "Sayangku, aku ingin cake matcha."
"Pesan saja, sayang. Semuanya akan kubayarkan," jawab pria itu dengan nada berusaha terlihat dermawan.
Melihat tingkah laku mereka, aku hampir merasa mual, namun tetap tersenyum sopan.
"Saya pesan dua cake matcha, dua jus stroberi, satu cheese cake, satu pizza corn, dan satu lagi spageti bolognese," pesannya dengan nada memerintah.
"Baik mbak sebentar ya."
"Stop call me mbak. Panggil aku Tuan Putri." ucap wanita itu dengan nada angkuh.
"Baik, Tuan Putri."
"Dan pastikan semua peralatan yang digunakan bersih sempurna, tanpa ada noda sedikit pun!" tambahnya lagi.
Dari arah meja kasir, Vina yang melihat tingkah wanita itu berbisik pelan sambil menahan tawa sinis. "Cih..."
"Baik, Tuan Putri. Segera kami siapkan pesanannya," jawabku dengan sopan, lalu berjalan menuju dapur untuk menyampaikan pesanan tersebut kepada Pak Andik.
Setelah pesanan tersebut matang dan siap, aku segera mengantarkannya kepada mereka. Keduanya sedang sibuk bermesraan, seakan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
"Permisi, ini pesanannya," ucapku lembut sambil meletakkan makanan dan minuman itu ke atas meja dengan sangat hati-hati agar tidak tumpah.
"Selamat menikmati," tambahku dengan senyum sopan.
"Ya sudah, sana pergi," titah pria itu dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari pasangannya.
Aku sedikit terkejut mendengarnya, namun tetap mengangguk hormat dan segera berjalan menjauh dari meja mereka. Meski begitu, aku bersyukur pesanan itu sudah sampai dengan selamat tanpa ada kesalahan sedikit pun.
Aku menoleh ke arah pintu dan melihat seorang nenek-nenek datang. Beliau berjalan dengan bungkuk dan memegang tongkat penyangga. Aku segera menghampirinya dan membantunya berjalan masuk.
"Ada yang bisa dibantu, Nek?" tanyaku lembut.
"Terima kasih, Nak. Aku ingin memesan sepuluh burger," ucap nenek itu pelan.
"Baik, Nek. Silakan tunggu sebentar ya."
Aku pun menyampaikan pesanan beliau kepada Pak Andik di dapur. Setelah keluar dari dapur, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.
"Bagaimana sih jalannya? Tidak pakai mata!"
Wanita itu mengamuk karena nenek itu tidak sengaja jatuh ke arahnya dan membuat cake matcha yang dipesannya jatuh ke lantai. Aku segera bergegas membantu nenek itu berdiri kembali.
"Ganti rugi! Sekarang!" titah wanita itu dengan wajah penuh kemarahan.
Aku berusaha menenangkan wanita itu, namun ia menepis tanganku dengan kasar.
"Ganti rugi lima ratus ribu rupiah!" lanjut pria bertubuh gemuk itu dengan nada tegas.
"Tetapi kue itu harganya tidak sampai lima ratus ribu, Pak. Bagaimana jika saya buatkan yang baru sebagai gantinya?" ucapku mencoba mencari jalan keluar.
"Diam kau! Jangan ikut campur! Apa yang kau tahu?" wanita itu semakin marah.
Bagus dan Vina yang melihat kejadian itu segera menghampiri kami. Namun kehadiran mereka justru membuat pasangan itu semakin emosi.
"Kalian juga jangan ikut campur!" kata pria itu dengan nada mengancam.
"Sudah, tidak apa-apa. Kalian fokus bekerja saja," bisikku pelan kepada Vina dan Bagus. Mereka pun mengangguk dan kembali melayani pelanggan lain.
"Berapa harganya?" tanya nenek itu pelan kepada wanita tersebut.
"Lima ratus ribu rupiah, tentu saja!" jawab wanita itu ketus.
Nenek itu membuka dompetnya, melihat isi uangnya, lalu perlahan menutupnya kembali.
"Aku pulang sebentar untuk mengambil uangnya," kata nenek itu lembut.
"Halah, alasan saja! Bilang saja tidak punya uang. Sok-sokan datang ke kafe, padahal sudah tua bangka begini!" ejek wanita itu dengan nada merendahkan.
"Sudah, sudahlah. Tolong hentikan, nanti pelanggan lain bisa terganggu," kataku mencoba meredakan suasana.
Aku pun membuka dompetku sendiri dan memberikan uang sebesar lima ratus ribu rupiah kepada mereka.
"Nah, begini baru benar," kata pria itu dengan nada puas.
Aku segera mengantar nenek itu untuk duduk di kursi yang berada di bagian depan kafe. Nenek itu mengusap tanganku dengan lembut.
"Terima kasih banyak ya, Nak. Maaf sudah merepotkanmu tadi. Sebenarnya tadi Nenek hanya membawa uang pas. Nanti Nenek ganti uangnya ya."
"Tidak usah, Nek. Sudah tidak apa-apa. Nenek ambil saja uangnya. Ngomong-ngomong, Nenek datang ke sini bersama siapa?"
"Nenek datang sendirian tadi, naik Gojek. Nenek sedang ingin makan burger. Sudah lama sekali Nenek tidak makan burger karena dilarang sama cucu Nenek," jawab nenek itu sambil tersenyum tulus.
"Oh, begitu ya, Nenek."
Nakal juga Nenek ini, nekat datang makan burger meski dilarang oleh cucunya, batin ku sambil tersenyum kecil melihat wajah nenek itu