NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Mantan yang Tak Tahu Diri

Masa depan yang tidak lagi bisa dipercaya membuat Vania panik. Bagi Rendra, perubahan itu terasa sebagai penghinaan.

Sudah lebih dari seminggu ia dilarang menerima pasien atas nama rumah sakit. Setiap pagi, ia tetap mengenakan kemeja rapi, tetapi hanya duduk menghadapi berkas pemeriksaan internal. Rekan kerja yang dulu menyapanya lebih dahulu kini menjaga jarak.

Komite menemukan bahwa vendor catering memakai rekomendasi lisan Rendra untuk mendapat kontrak. Tanda tangannya juga ada pada pemeriksaan awal yang menyebut makanan aman, padahal ia tidak melihat seluruh proses penyimpanan. Rendra berkali-kali berdalih bahwa keadaan darurat memaksanya mengambil keputusan cepat.

"Keputusan cepat tidak menghapus konflik kepentingan," kata ketua komite. "Anda mengenal pemilik vendor dan menerima potongan harga untuk pesta pribadi. Mengapa hubungan itu tidak dilaporkan?"

Rendra tidak punya jawaban yang tidak akan memperburuk posisinya. Ia keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah kaku, lalu mendengar dua perawat membicarakan keberhasilan Laras di Puskeswan. Salah satunya bahkan berkata ingin membawa kucingnya untuk diperiksa.

"Dia cuma beruntung," potong Rendra.

Kedua perawat terdiam. Tatapan mereka bukan kagum, melainkan heran mengapa seorang dokter masih sibuk merendahkan mantan istri ketika kariernya sendiri sedang diperiksa.

Di saat kariernya berhenti, nama Laras justru muncul di mana-mana.

Foto perempuan itu berdiri di samping anak sapi yang baru lahir tersebar di grup warga. Laporan penyelamatan penumpang bus disebut dalam rapat kesatuan. Bahkan pasien lama Rendra membicarakan dokter hewan cantik yang berani melawan wabah.

Rendra memperbesar foto Laras di layar ponsel. Dulu ia mengejar perempuan itu karena wajahnya. Setelah menikah, ia terbiasa melihat Laras menunduk di dapur sehingga kecantikannya terasa seperti barang yang sudah dimiliki. Kini rambut Laras diikat sederhana, wajahnya terkena matahari, tetapi sorot matanya membuat orang lain tidak bisa meremehkannya.

Rendra tidak menyesal karena pernah menyakitinya. Ia hanya tidak tahan melihat barang yang pernah menjadi miliknya dihargai lelaki lain.

Sore itu, ia menunggu di luar pagar peternakan.

Laras keluar membawa tas pemeriksaan dan dua buku laporan. Wati sudah berbelok menuju Puskeswan, sedangkan Pak Yohanes masih berada di kandang. Laras baru berjalan beberapa meter ketika Rendra menghalangi jalan.

"Kita perlu bicara."

"Tidak."

Laras bergeser, tetapi Rendra mengikuti. "Aku dengar kamu bekerja sampai malam. Bram membiarkan istrinya keliling desa, masuk kandang, dan pulang kotor begini?"

"Pekerjaanku bukan urusanmu."

"Aku hanya peduli. Kamu tidak cocok hidup dengan orang sedingin dia." Rendra melembutkan suara yang dahulu sering membuat Laras mengalah. "Kamu mungkin marah kepadaku, tapi dua tahun tidak hilang begitu saja. Kalau kamu kembali, aku bisa memperbaiki semuanya."

Laras berhenti. Bukan karena goyah, melainkan karena muak.

"Memperbaiki apa? Jamu tanpa izin yang dipaksakan ibumu? Laporan kesuburan yang tidak pernah boleh kulihat utuh? Atau hubunganmu dengan Vania saat aku masih menjadi istrimu?"

Rendra melihat dua pekerja mendekat dari kejauhan. Ia merendahkan suara. "Jangan membicarakan urusan pribadi di sini."

"Kamu yang mencegatku di tempat umum."

"Aku datang baik-baik."

"Orang yang datang baik-baik menerima jawaban tidak. Kamu justru mengikuti langkahku dan menghina suamiku."

Kata suamiku membuat rahang Rendra menegang.

"Dia tidak akan memberimu keluarga," desisnya. "Semua orang tahu kondisi Mayor itu. Pada akhirnya kamu akan kesepian dan sadar aku masih orang yang paling mengenalmu."

Laras menatap jas mahal yang dipakai Rendra untuk menyembunyikan hidupnya yang mulai runtuh.

"Mas Bram memberitahuku kondisinya sebelum kami menikah. Dia tidak menutupi tubuhnya dengan laporan palsu atau membiarkan perempuan lain disiksa untuk menjaga harga dirinya." Suara Laras rendah, tetapi setiap kata tajam. "Kalau kamu ingin terus membicarakan kesuburan, mungkin kita perlu membuka kembali siapa yang sebenarnya menolak diperiksa secara jujur."

Wajah Rendra seketika berubah.

Laras memang belum memiliki hasil pemeriksaan yang dapat membongkar semuanya. Namun ingatan novel dan perilaku Rendra selama dua tahun sudah cukup untuk mengetahui arah rahasianya. Ketakutan di matanya menjadi jawaban tambahan.

"Kamu tidak punya bukti," katanya.

"Kalau begitu berhenti menantangku mencarinya."

Rendra mencoba mengubah arah. "Vania bukan alasan kita berpisah. Kamu terlalu mudah percaya omongan orang. Aku menikahinya karena kamu memilih pergi."

"Kamu mengadakan pernikahan pada hari yang sama denganku. Undanganmu sudah dicetak sebelum perceraian selesai. Jangan mengubah urutan hanya karena kenyataannya memalukan."

"Aku bisa menceraikannya."

"Lalu apa? Kamu ingin aku kembali memasak untuk ibumu, menelan ramuan tanpa label, dan menjadi tameng bagi rahasia tubuhmu?"

Rendra mendekat satu langkah. Laras segera mengangkat telapak tangan.

"Jangan lebih dekat. Ada kamera di gerbang dan pekerja di belakangku. Kalau kamu menyentuh atau terus menghalangi, aku melapor."

Ketegasan itu memaksanya berhenti. Laras yang dahulu dikenalnya selalu takut urusan rumah tangga didengar orang. Perempuan di depannya justru sudah menghitung saksi, kamera, dan jalur laporan sebelum ia sempat menekan.

Suara motor mendekat. Wahyu berhenti di tepi jalan dan menurunkan standar. Ia tidak berseragam lengkap, tetapi sikap tegaknya membuat Rendra mundur setengah langkah.

"Bu Laras, Mayor meminta saya menjemput. Ada rapat mendadak, jadi beliau belum bisa datang sendiri."

"Terima kasih."

Wahyu mengambil tas Laras, lalu menatap Rendra. "Ada masalah?"

"Tidak ada," jawab Laras. "Mantan suami saya hanya lupa bahwa perceraian berarti dia tidak berhak mengatur hidup saya."

Dua pekerja yang lewat mendengar kalimat itu. Rendra memerah, tetapi tidak bisa membuat keributan di depan utusan Bram. Ia mundur sambil merapikan lengan bajunya.

"Kita belum selesai, Laras."

"Bagiku sudah selesai sejak dokumen cerai ditandatangani."

Dalam perjalanan pulang, Wahyu tidak banyak bertanya. Ia hanya meminta izin menelepon Bram dari pos jaga dan melaporkan bahwa Rendra menghadang Laras. Ketika Laras tiba di rumah, Bram sudah menunggu di teras.

"Dia menyentuhmu?" tanyanya.

"Tidak. Hanya menghalangi jalan dan bicara omong kosong."

"Mengancam?"

"Dia meminta aku kembali. Lalu mengatakan pernikahan kita tidak akan menjadi keluarga."

Sorot mata Bram mendingin. Namun ia tidak langsung pergi mencari Rendra. Ia meminta Laras menjelaskan tempat, waktu, saksi, dan kalimat yang diucapkan. Setelah itu ia menuliskannya di selembar kertas.

"Untuk apa?"

"Catatan. Kalau dia mengulang, kita punya pola gangguan."

Bram juga meminta Wahyu menghubungi petugas gerbang peternakan. Rendra tidak dilarang melewati jalan umum, tetapi jika ia kembali menunggu pegawai atau membuat keributan, petugas harus mencatat pelat kendaraan dan memanggil keamanan setempat. Semua dilakukan tanpa memakai jabatan militer untuk urusan pribadi.

"Aku tidak akan menyuruh prajurit menakut-nakutinya," kata Bram, seolah membaca kekhawatiran Laras. "Tetapi kita boleh memastikan saksi dan bukti tersedia. Kalau gangguannya berulang, kamu yang memutuskan apakah akan melapor."

Laras mengangguk. Cara itu jauh berbeda dari perlindungan yang berubah menjadi kendali. Bram tidak merampas suaranya. Ia hanya memperkuat batas yang sudah Laras buat sendiri.

Laras duduk di sampingnya. "Aku bisa menanganinya."

"Aku tahu." Bram meletakkan kertas itu. "Karena itu aku tidak mengambil keputusan di belakangmu. Tetapi menjaga diri sendiri tidak berarti kamu harus menghadapi semuanya sendirian."

Kalimat itu membuat Laras diam.

Bram menatap halaman yang mulai gelap. Suaranya tetap tenang saat berkata, "Kalau dia berani mengganggumu sekali lagi, aku yang urus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!