NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toserba

Aku sampai di pelataran sebuah toserba dekat rumah Irwan pagi-pagi sekali. Niatku ingin membeli minuman dingin sebelum ke rumah Irwan, tapi sayangnya toserba yang kudatangi ini masih membuka pintu harmonikanya separuh. Terlihat beberapa aktivitas karyawan toserba yang cukup sibuk merapikan toko, hingga akhirnya pintu harmonika itupun terbuka seluruhnya.

“Sudah buka, Mas?” Tanyaku pada seorang pria yang keluar dari toserba. Sepertinya ia adalah penjaga parkir di toserba ini, terlihat dari rompi berwarna hijau stabilo yang ia kenakan.

“Sudah mas, itu pintunya sudah dibuka berarti meja kasirnya sudah siap transaksi.” Jawab pria itu, aku pun mengangguk dan bersiap masuk ke toserba itu.

Langkahku mantap menghampiri lemari pendingin yang berisi macam-macam minuman kemasan. Sebelum berangkat tadi aku belum sempat menyeduh kopi seperti biasanya, maka itu kini aku menyambar sebotol kopi dan air putih dingin. Saat berbalik menuju meja kasir, netraku tak sengaja menangkap sosok Dira di balik meja itu. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan bahwa yang kulihat itu benar-benar Dira.

Perlahan kuhampiri meja kasir, dan benar Dira lah yang bertugas disana.

“Dira,” sebutku lirih. Wanita berkerudung marun itu pun menatap ke arahku. Bisa kutangkap keterkejutan dari ekspresi wajahnya.

“Kamu kerja disini?” Tanyaku.

Dira bergeming, tak menjawab pertanyaanku. Tangannya dengan cekatan meraih barang belanjaanku untuk selanjutnya dipindai di mesin kasir.

“Sembilan ribu tujuh ratus rupiah.” Ucapnya lantang.

“Dira, bisa kita bicara sebentar?” Kuberanikan diri untuk mengajaknya berbincang empat mata meski aku tahu Dira pasti menolak.

“Ada uang pas?” Tanyanya saat kuberikan selembar uang lima puluh ribu. Ia masih tak menggubris ajakanku dan tetap fokus melayaniku sebagai pembeli.

“Dira, aku serius. Bisa kita bicara sebentar?” Dira menatapku dengan pandangan tidak bersahabat.

“Ada uang pas?” Tanyanya kembali. Suaranya terdengar berat, seperti ingin melontarkan kalimat kasar kepadaku. Melihat raut wajahnya yang berubah mendung membuatku tak tega jika terus memaksanya.

“Kembaliannya nanti bisa kamu antar ke depan, aku tunggu disana.” Kataku sambil menunjuk pelataran parkir toserba, disana ada kursi panjang untuk tempat duduk penjaga parkir.

“Atau kalau kamu sibuk, kamu bisa suruh aku kesini lagi. Oke, Ra?” Lanjutku, lalu aku pun segera bergegas pergi dari hadapan Dira. Ya, aku berkeputusan untuk meninggalkan uang kembalianku dengan harapan nantinya Dira akan menyerahkannya padaku. Semoga Dira sendiri yang menyerahkannya, jika tidak maka bisa aku pastikan Dira akan lebih kesal menghadapiku.

Kutepati perkataanku dengan duduk di kursi panjang tempat tukang parkir berjaga. Suasana toserba yang belum seberapa ramai membuat penjaga parkir itu turut serta menemaniku disana.

“Plat nomornya L, dari Surabaya ya, Mas?” Tanya pria muda yang bertugas sebagai penjaga parkir toserba itu.

“Iya, Mas.” Jawabku sambil tersenyum.

“Pagi-pagi sudah sampai sini, memangnya mau kemana, Mas?” Tanya pria itu lagi. Aku sempat terdiam dan merasa terganggu dengan pertanyaan pria yang ada di sampingku ini. Tapi setelah kupikir-pikir tidak ada salahnya juga aku mengatakan yang sebenarnya, siapa tahu dia mengenal Dira dan bisa memberiku informasi dimana Dira tinggal.

“Saya ada perlu sama Mbak Kasir yang disana, Mas.” Jawabku jujur sambil menunjuk ke arah toserba.

“Oh, Mbak Dira, ya?” Aku mengangguk.

“Mau nagih hutang, Mas?” lanjutnya, reflek aku terbatuk saat akan menguap, terkejut dengan pertanyaan yang baru saja terucap. Ada-ada saja, memangnya aku terlihat garang kah sampai dikira penagih hutang.

“Mas ini suaminya?” Tanyanya lagi, aku jelas menggeleng.

“Bukan, saya... Temannya.” Sengaja aku mengaku sebagai teman Dira supaya pria di sebelahku ini tak berpikir macam-macam.

“Teman apa ya, Mas? Setahu saya Mbak Dira itu sudah punya suami, dia sengaja pindah kesini karena suaminya kerja jauh jadi dia nggak ada teman di rumah.” Pria itu memandangku penuh selidik. Aku mengusap wajahku asal, berharap pria ini berhenti mengintrogasiku.

“Saya teman kuliahnya, ada urusan bisnis sama Mbak Dira. Tentang suaminya, saya tahu Dira sudah bersuami bahkan saya kenal baik sama suaminya.” Terangku dengan wajah sedikit kesal. Pria menyebalkan itu hanya menganggukkan kepala lalu mengambil rokok dari saku rompinya.

“Rokok, Mas?” Tanpa rasa bersalah ia menawariku rokok. Ya, sepertinya dia tidak menganggap pertanyaannya tadi sempat membuatku kesal. Terbukti dari gestur dan mimik wajahnya yang masih biasa saja.

Aku membuka tutup botol kopi yang baru saja kubeli, seteguk demi seteguk isi dalam botol itu berpindah ke kerongkonganku dan akhirnya habis tanpa sisa. Masih kusaksikan penjaga parkir itu memandangiku sampai akhirnya aku pun menegurnya.

“Ngelihat apa sih, Mas?” Tanyaku kesal.

“Maaf, Mas tadinya mau tanya punya korek apa ndak, makanya saya tunggu sampai Mas selesai minum.”

“Oh, iya saya ada.” Kuserahkan korek api yang kusimpan di dalam saku jaket.

“Mbak Dira itu orang baru, Mas. Titipannya Pak Irwan, keponakannya Bu Lim, yang punya toko ini. Orangnya cantik, sayang udah punya suami.” Kata pria itu sambil menghisap rokoknya.

“Bu Lim apa Dira nih yang cantik?” Tanyaku memastikan.

“Ya Mbak Dira lah, Mas. Bu Lim sudah punya cucu tujuh.” Jawabnya terkekeh.

“Memangnya kenapa kalau Dira sudah punya suami?” Tanyaku iseng.

“Hihi, ya Mas pikir sendiri lah, kalau orang cantik sudah pasti banyak yang mau ngedeketin, tapi kalau sudah ada status menikah ya pasti mundur teratur.” Jawabnya malu-malu. Tak lama kulihat Dira keluar dari toserba dan memanggil pria yang sedang asyik ngobrol denganku ini.

“Mas Yadi!” Teriaknya, pria yang baru saja memuji Dira ini langsung menghampirinya.

Aku menyaksikan percakapan mereka dari kejauhan, entah mengapa hati ini turut mengaminkan pernyataan Yadi, penjaga parkir yang tadi berbincang denganku. Dira yang cantik, yang sayangnya sudah bersuami, sehingga tak mungkin merebutnya begitu saja. Namun yang lebih disayangkan, kebodohan dan kecerobohan mengantarkanku pada kenyataan bahwa Dira sangat membenciku. Ya, sudah bisa dipastikan Dira amat membenciku, tatapannya yang begitu acuh padaku mendefinisikan itu semua.

“Mas ini kembaliannya,” kata Yadi sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah dan dua bungkus permen rasa buah.

Aku menghembuskan nafasku dengan sekali dorongan keras, menandakan bahwa aku kehabisan akal untuk menemui Dira kembali. Kuarahkan mataku ke dalam meja kasir yang berada di balik kaca toserba, Dira kembali kesana sambil mengibaskan kedua tangan ke wajahnya.

“Ini mah masih kurang.” Kataku sambil berlalu dari hadapan Yadi.

Kakiku mantap berjalan ke dalam toserba. Tentu saja meja kasir adalah tujuanku.

“Ra.” Tanpa basa basi aku memanggilnya. Sudah tak kupedulikan suasana toko yang mulai dimasuki pembeli juga SPG beberapa produk.

Pemilik nama Rastadira itu hanya memandangku sekilas. Sisanya, ia tetap diam, tak ada respon sama sekali.

“Ra, tolong sediakan waktu sebentar saja. Aku perlu bicara, Ra.” Ucapku tanpa memelankan suara. Spontan beberapa temannya ikut menoleh dan memandangi kami bergantian.

Sadar bahwa kami sedikit menjadi pusat perhatian, Dira pun mulai menunjukkan raut kesalnya padaku.

“Ndak perlu, Mas. Saya sudah jelaskan kemarin. Saya juga ndak menuntut apa-apa. Sudah silakan Mas Fariq pulang saja, saya harus kerja.” Jawab Dira. Penyebutan kata saya seperti menekankan bahwa ia benar-benar enggan berbicara denganku.

“Aku tetap nunggu kamu di depan.” Kuputuskan demikian tanpa meminta persetujuan Dira. Lagi, aku menunggu di kursi panjang tempat parkir motor, ditemani Yadi tentunya.

Menit berlalu, waktu pun beranjak menjadi siang. Sempat aku berniat untuk menghampiri Dira kembali namun urung kulakukan karena khawatir Dira semakin marah padaku. Aku kemari ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan kami jika masih bisa, bukan malah membuatnya semakin murka.

Ting.

Bunyi pesan masuk di ponselku. Gegas kubuka aplikasi pesan berwarna hijau, dan senyumku pun mengembang, Dira melunak. 

 

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!