Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kaki di Dermaga Gelap dan Aliansi Berdarah
Pantulan cahaya hijau dari barisan kode peretasan yang berkedip cepat di layar monitor utama memantul di permukaan dinding marmer hitam ruang kerja penthouse, menciptakan suasana yang kian pekat dan mencekam. Koordinat GPS dari sektor pelabuhan utara Manhattan terus berkedip konstan, menandakan bahwa sinyal pengirim pesan misterius tersebut sengaja ditinggalkan sebagai umpan terbuka untuk memancing sang penguasa sindikat Blackwood dan sang "Ratu Hitam" keluar dari sarang mereka.
Ceisya menarik tangannya pelan dari keyboard canggih, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum sinis yang mematikan. Manik mata hijau terangnya menatap lurus ke arah titik koordinat tersebut tanpa secercah pun rasa gentar.
"Pemberani juga tikus-tikus got itu," desis Ceisya rendah, suaranya terdengar dingin dan penuh dengan kepastian seorang pemimpin yang terbiasa mengeksekusi musuh di garis depan. "Mereka sengaja meninggalkan jejak terbuka agar kita mendatangi perangkap yang mereka pasang di pelabuhan terbengkalai. Menggunakan nama samaran 'Ratu Hitam' untuk memancingku... itu berarti mereka mengira aku masih pemain lama yang bisa disetir dengan ancaman murahan."
Sylus Blackwood bangkit dari kursi kerjanya dengan gerakan lambat namun penuh tekanan mutlak. Pria itu merapikan manset kemeja hitamnya, lalu meraih mantel panjang kulit bernuansa gelap yang tersandar di sandaran kursi. Manik mata merah menyala bagai delima milik sang raja mafia itu menatap tajam ke arah istrinya, memancarkan kepuasan liar yang sulit disembunyikan.
"Mereka tidak tahu jenis monster apa yang sebenarnya sedang mereka panggil, Sayang," suara bariton Sylus mengalun berat, sarat akan antisipasi yang mendebarkan. Pria itu melangkah mendekat, lalu mencengkeram dagu Ceisya dengan lembut namun posesif, memaksa gadis itu mendongak untuk menatap langsung ke dalam matanya. "Biarkan mereka menikmati ilusi kemenangan kecil itu selama beberapa jam ke depan. Sebelum fajar menyingsing di atas langit Manhattan, aku akan pastikan dermaga tua itu berubah menjadi kuburan massal tanpa nisan."
Ceisya mendengus pelan, menepis lembut tangan Sylus dari dagunya dengan gerakan penuh percaya diri. "Jangan terlalu sombong, The Crimson King. Bisa jadi tikus-tikus itu adalah sisa-sisa pengikut faksi lama yang menyimpan dendam kesumat pada identitas lamaku. Biarkan aku ikut turun tangan malam ini. Jangan jadikan aku boneka porselen yang hanya bisa duduk manis di dalam sangkar emas."
Mendengar tantangan terbuka dari istrinya, seringai kejam terukir sempurna di bibir Sylus. Pria itu justru semakin terpesona setengah mati. Tidak ada wanita di dunia ini yang berani menatap mata seorang raja mafia dengan tatapan menantang sekaligus mematikan seperti yang ditunjukkan oleh Ceisya.
"Baiklah, Ratu kecilku," bisik Sylus tepat di samping telinga Ceisya, suaranya berbisik penuh janji berdarah. "Malam ini, kita akan membakar masa lalu mereka sampai menjadi abu bersama-sama."
Kurang dari satu jam kemudian, sebuah konvoi mobil SUV hitam berlapis baja milik sindikat Blackwood membelah jalanan kota Manhattan yang basah diguyur sisa hujan tengah malam. Tanpa menyalakan lampu utama, kendaraan-kendaraan mematikan itu melaju tanpa suara menuju kawasan pelabuhan utara yang sudah lama terbengkalai—sebuah zona mati di mana hukum federal tidak pernah menjangkau, dan satu-satunya aturan yang berlaku adalah hukum rimba dunia hitam.
Setibanya di lokasi, pintu mobil terbuka lebar. Puluhan pengawal elit Blackwood bersenjata lengkap berhamburan keluar dalam formasi taktis yang sempurna, mengamankan perimeter dermaga yang dipenuhi oleh peti kemas berkarat dan bau asin air laut yang pekat.
Ceisya melangkah turun dari SUV dengan mengenakan celana taktis hitam ketat dan jaket kulit senada, rambut panjangnya diikat ekor kuda tinggi, mempertegas aura dingin dan berbahaya yang menguar dari setiap gerakannya. Di balik sabuk pinggangnya, dua buah pistol semi-otomatis terselip rapi berdampingan dengan perangkat dekoder digital genggam miliknya.
Di sampingnya, Sylus berjalan dengan langkah tenang namun penuh wibawa mutlak, sebelah tangannya menggenggam erat jemari Ceisya seolah kedatangan mereka ke sarang musuh ini tidak lebih dari sekadar jalan-jalan santai di malam hari.
"Mereka ada di dalam gudang utama nomor empat," bisik Ceisya setelah melirik layar dekoder digitalnya yang berhasil menangkap sinyal frekuensi radio jarak pendek milik kelompok musuh. "Penjagaannya tidak terlalu padat di luar, yang berarti mereka sengaja membiarkan kita masuk ke dalam perangkap utama di dalam gedung."
"Bagus," balas Sylus dingin. "Itu menghemat waktu kita untuk tidak perlu mencari mereka satu persatu."
Dengan aba-aba tangan dari sang raja mafia, tim penyergap elit bergerak cepat melumpuhkan kamera pengawas tua di sekitar gudang. Pintu besi besar gudang utama yang sudah berkarat didobrak secara paksa dalam satu tendangan keras, memunculkan suara dentuman logam yang memecah kesunyian malam dermaga.
Brak!
Debu tebal berterbangan di udara seiring terbukanya pintu gudang yang luas itu. Di tengah-tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung temaram, berdiri sesosok pria berjas rapi dengan belati perak terselip di saku dadanya. Pria itu berdiri di samping sebuah kursi besi kosong, menyambut kedatangan mereka dengan tepuk tangan lambat yang terdengar mengejek.
"Selamat datang kembali, sang legenda dunia hitam... dan Tuan Muda Blackwood," suara parau pria paruh baya itu menggema di seluruh sudut gudang kosong. Ia tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang mengerikan. "Kalian benar-benar datang. Aku tadinya sempat berpikir bahwa sang Ratu Hitam sudah lupa cara memegang senjata setelah bersembunyi di balik ketiak suami kayanya."
Ceisya menyipitkan mata hijaunya, mengenali bekas luka bakar di leher pria di hadapannya. Memorinya langsung merangkai kepingan teka-teki masa lalu: Vance, mantan petinggi intelijen sindikat Ouroboros yang dulu berkhianat dan mencuri data inti jaringan peretasan global sebelum dinyatakan tewas dalam ledakan bunker.
"Wah, wah... lihat siapa yang ternyata masih hidup setelah mencoba bermain-main dengan bom murahan," seru Ceisya dingin, melangkah maju mendahului Sylus sambil memutar-mutar pistol di jari telunjuknya. Suaranya terdengar santai namun penuh racun mematikan. "Rupanya kecoa busuk sepertimu memang paling susah dibasmi, Vance."
Vance mendengus kencang, tawanya pecah memenuhi ruangan. "Kau pikir kematian bisa menghentikan kami, Ceisya?! Organisasi ini sudah menanam akarnya jauh lebih dalam dari yang kau bayangkan! Dan hari ini, sebelum suamimu sempat menyelamatkanmu, kami akan menuntut balas atas apa yang telah kau hancurkan bertahun-tahun lalu!"
Sebelum Vance sempat mengangkat tangannya untuk memberikan aba-aba penyergapan kepada puluhan anak buah bayaran yang bersembunyi di balik tumpukan peti kemas, sebuah suara tembakan tunggal yang memekakkan telinga mendadak meledak dari arah kegelapan di belakang pria itu.
DOR!
Sebuah peluru bersarang tepat di bahu kanan Vance, membuatnya menjerit histeris dan tersungkur bersimbah darah di atas lantai beton yang dingin.
Sylus menurunkan laras pistol miliknya perlahan, manik mata merah menyala pria itu menatap remeh ke arah Vance yang merintih kesakitan. Suara bariton sang raja mafia menggelegar rendah, dingin, dan tanpa ampun:
"Bicara terlalu banyak di hadapan istriku adalah kejahatan yang hukumannya adalah kematian."
Puluhan anak buah bayaran Ouroboros yang keluar dari tempat persembunyian langsung panik melihat pemimpin mereka lumpuh dalam satu detik. Namun, sebelum mereka sempat menarik pelatuk senjata mereka, barisan pengawal elit Blackwood sudah memberondongkan tembakan presisi tinggi, mengubah gudang tua itu menjadi medan pembantaian berdarah dalam waktu singkat.
Ceisya menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma mesiu dan adrenalin yang mengalir deras di pembuluh darahnya. Di tengah kekacauan tembakan dan desingan peluru, ia menoleh ke arah Sylus yang berdiri gagah di sisinya, menyadari bahwa dunia hitam ini memang adalah takdir sejati mereka berdua.