NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Video yang Menghancurkan

Dua hari setelah Lebaran, Bima bangun sebelum alarm berbunyi.

Ia bangun karena pagar rumah dipukul sesuatu.

Tok.

Lalu pecah basah.

Dari ruang depan, suara Bu Sri terdengar panik. "Mas! Jangan keluar dulu!"

Bima membuka mata. Panel SBE masih menampilkan rekaman Drone Bayangan dari malam-malam sebelumnya: Siska berlatih menangis, Melati mengirim draft caption, Fifi memotong video restoran menjadi tujuh bagian pendek. Semua itu sudah ia simpan. Ia tahu serangan akan datang.

Ia hanya tidak menyangka mereka memilih pagi, saat gang masih ramai oleh ibu-ibu belanja dan bapak-bapak baru membuka warung.

Bima keluar kamar. Ratna berdiri di dekat meja makan dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat. Pak Harto masih memakai kaus rumah, menatap pintu seperti orang yang sedang mempertimbangkan apakah harga diri bisa disapu bersama pecahan telur.

Di pagar depan, kuning telur mengalir di besi hitam.

"Siapa?" tanya Bima.

Ratna menelan ludah. "Lebih dari itu, Mas. Ini... sudah viral."

Ia menyerahkan ponsel.

Video itu berdurasi tiga puluh delapan detik. Potongannya kasar tetapi cukup pintar untuk orang marah. Bima terlihat berdiri di restoran, tangannya mendekati gelas Darmawan. Potongan berikutnya Siska tampak mundur dengan wajah takut. Lalu Lina menangis. Lalu teks besar muncul di layar: KEPONAKAN DURHAKA MEMPERMALUKAN TANTE SENDIRI DI HARI LEBARAN.

Caption-nya lebih busuk.

"Katanya miskin bukan alasan hilang adab. Sepupu sendiri dibentak, tante sendiri dibuat nangis. Hati-hati punya keluarga seperti ini."

Jumlah tayangan sudah melewati 1,8 juta.

Bima menggulir komentar.

"Cowok kayak gini harus diviralkan."

"Kasihan ceweknya, kelihatan takut."

"Miskin tapi sombong itu penyakit."

"Alamat rumahnya mana? Biar didatangi."

Ratna merebut ponselnya kembali ketika melihat mata Bu Sri mulai basah. "Mama jangan baca."

Terlambat. Bu Sri sudah membaca cukup banyak untuk membuat bibirnya gemetar.

"Bima tidak begitu," katanya pelan, seolah sedang membela anaknya kepada ruangan kosong. "Mereka semua ada di sana. Mereka tahu Bima tidak begitu."

Pak Harto berjalan ke pintu. Bima menahannya.

"Bapak mau ke mana?"

"Warung. Kita harus buka."

"Dengan pagar dilempari telur?"

Pak Harto menatap telur di pagar, lalu menatap sandal yang belum ia pakai. "Kalau tidak buka, orang makin bilang kita takut."

Bima memegang bahu ayahnya. "Kalau Bapak keluar sekarang, mereka akan merekam wajah Bapak. Mereka tidak mau kebenaran. Mereka mau bahan baru."

Di luar pagar, dua remaja berhenti dengan motor. Salah satunya mengangkat ponsel.

"Itu rumahnya, kan?" bisiknya tidak cukup pelan.

Ratna membuka grup kampusnya. Pesan-pesan masuk bertumpuk.

Rat, itu kakak lo?

Serius keluarga lo begitu?

Mending lo jangan masuk dulu deh, lagi panas.

Salah satu pesan pribadi lebih kejam: "Pantesan sok pintar. Kakaknya predator moral."

Ratna mematikan layar, tetapi tangannya bergetar. "Aku enggak takut, Mas. Cuma... mereka bawa-bawa Mama."

Bima melihat wajah adiknya. Ia tidak melihat anak perempuan lemah. Ia melihat seseorang yang sedang belajar bahwa opini publik bisa berubah menjadi batu hanya karena tiga orang bosan merasa malu.

[Sumber pemerasan moral publik terdeteksi.]

[Target keluarga: Harto, Sri, Ratna.]

[Ancaman reputasi meningkat.]

[Poin reaktif +430]

Ponsel Bu Sri berbunyi. Nama tetangga muncul. Belum sempat diangkat, panggilan lain masuk. Lalu pesan dari keluarga jauh. Dalam lima menit, rumah kecil mereka berubah menjadi pusat pengadilan tanpa hakim.

Di dapur, Bu Sri mencoba menelepon Lina. Sekali. Dua kali. Tidak diangkat. Ketiga kalinya, panggilan langsung ditolak.

Pak Harto melihat layar itu dan wajahnya menua beberapa tahun. "Dia tahu ini terjadi."

"Dia sudah tahu," kata Bima. "Dia menunggu kita panik. Kalau Mama menelepon sambil menangis, rekaman itu bisa dipakai lagi. Narasinya jadi keluarga kita mengemis maaf."

Bu Sri menurunkan ponsel perlahan. Kalimat itu menyakitkan, tetapi benar. Orang yang sudah memotong video tidak akan ragu memotong suara tangisan.

Dari luar pagar, suara Bu Rini tetangga sebelah terdengar, sengaja dikeraskan. "Kasihan ya Pak Harto. Anak zaman sekarang kalau sudah viral, satu keluarga kena semua."

Ratna hendak membuka pintu. Bima menggeleng.

"Biarkan. Dia sedang memilih posisi. Nanti kalau bukti keluar, orang seperti itu paling cepat bilang sejak awal sudah kasihan pada kita."

Ratna menarik napas panjang, lalu membuka aplikasi catatan. "Aku simpan namanya juga?"

"Simpan. Kita tidak balas sekarang. Pakai itu untuk tahu siapa saja yang berubah ketika angin berbalik."

Bima mengambil ponsel Bu Sri dan menaruhnya terbalik di meja.

"Mulai sekarang, tidak ada yang menjawab telepon dari nomor tidak penting. Ratna, screenshot semua pesan yang mengancam. Jangan balas. Papa, Mama, tetap di dalam dulu."

Pak Harto bertanya lirih, "Kamu mau apa?"

"Menghitung mereka."

"Mereka?"

Bima tersenyum tanpa hangat. "Yang membuat video. Yang menyebarkan. Yang mengancam. Yang datang ke rumah. Semua orang yang merasa layar ponsel membuat mereka kebal hukum."

Bu Sri menarik napas. "Bima, jangan sampai kamu..."

"Saya tidak akan memukul siapa pun, Bu."

Ia mengambil ember kecil, membuka pintu, lalu berjalan ke pagar. Dua remaja yang merekam langsung mundur setengah langkah. Bima menatap kamera mereka.

"Rekam yang jelas," katanya. "Telur ini bukti intimidasi. Kalau kalian ikut menyebarkan alamat rumah, nama kalian juga masuk daftar."

Remaja itu menurunkan ponsel. "Bang, kami cuma lewat."

"Kalau cuma lewat, lewatlah. Jangan berubah jadi barang bukti."

Mereka pergi tanpa berani menoleh.

Bima membersihkan telur dari pagar pelan-pelan. Tetangga di seberang menonton dari balik tirai. Ada yang kasihan, ada yang takut, ada yang menikmati tontonan. Ia membiarkan mereka melihat wajahnya yang tidak panik.

Setelah pagar bersih, ia masuk kembali.

Sebelum menutup pintu kamar, Bima menempelkan kertas kecil di dekat meja makan. Tulisan tangannya rapi: jangan hapus pesan, jangan balas hinaan, jangan keluar sendirian, foto setiap bukti fisik. Ratna membaca daftar itu, lalu mengambil selotip dan menempelkannya lebih kuat.

"Seperti SOP rumah sakit," gumamnya.

"Mulai hari ini rumah ini punya SOP perang reputasi," kata Bima. "Mereka menyerang dengan potongan video. Kita bertahan dengan urutan bukti."

Pak Harto membaca kertas itu lama. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tidak terlihat sepenuhnya hilang arah. Ada sesuatu yang bisa dilakukan, meski sederhana: menyimpan, mencatat, tidak terpancing.

Setelah itu, ia langsung menuju kamar.

Di meja, panel SBE membuka tiga pilihan.

[Bersihkan Namamu]

[Pilih Jalur]

[1. Jalur Hukum - Tingkat Kesulitan: Tinggi - Hadiah: SSS]

[2. Media Balik - Tingkat Kesulitan: Sedang - Hadiah: A]

[3. Konfrontasi Langsung - Tingkat Kesulitan: Rendah - Hadiah: B]

Bima tidak menyentuh pilihan kedua. Opini bisa dibeli, dipotong, dan dipelintir lagi. Ia tidak memilih pilihan ketiga. Memaki Siska di depan kamera hanya memberi makan rencana mereka.

Ia menyentuh pilihan pertama.

[Jalur Hukum dipilih.]

[Prinsip misi: tidak ada damai untuk fitnah terencana yang menyerang keluarga.]

Bima melihat folder Kasus Siska di layar. Satu per satu file rekaman, metadata, nama akun, dan komentar ancaman tersusun seperti peluru di meja.

Senyumnya dingin.

"Kalau sudah menyentuh hukum," gumamnya, "tidak ada kata damai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!