Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Makan Malam
Seharian itu Retna tidak bisa berkonsentrasi.
Sejak Nathan berangkat bekerja, pikirannya terus kembali pada percakapan mereka pagi tadi.
Terutama satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
"Aku tidak akan lagi menyembunyikan bahwa aku menyukaimu."
Retna menghela napas.
Ia berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Membersihkan ruang tamu, mencuci pakaian, merapikan kamar, sampai menyiapkan makan siang.
Namun setiap kali tangannya berhenti bekerja, wajah Nathan kembali muncul di pikirannya.
Apalagi ketika ia mengingat rencana makan malam yang sudah dikatakan pria itu.
Nathan ingin mengajaknya keluar.
Bukan sebagai pekerja.
Tetapi sebagai seseorang yang disukai.
Pikiran itu membuat pipinya kembali memerah.
"Kenapa aku jadi seperti anak kecil begini?"
Retna menggeleng cepat.
Ia sudah pernah menikah.
Ia bahkan pernah mengalami rumah tangga yang membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki.
Seharusnya ia lebih berhati-hati.
Namun Nathan berbeda.
Itulah yang justru membuat Retna semakin takut.
Karena semakin ia merasa nyaman, semakin besar pula kemungkinan hatinya kembali terluka.
Menjelang sore, suara mobil terdengar memasuki halaman.
Retna yang sedang menyusun pakaian langsung berhenti.
Ia tidak tahu kenapa jantungnya mendadak berdebar.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Nathan masuk sambil membawa sebuah paper bag.
Begitu melihat Retna, senyum pria itu langsung muncul.
"Hai."
Retna tersenyum canggung.
"Mas sudah pulang?"
"Iya."
Nathan mengangkat paper bag yang dibawanya.
"Aku membawakan sesuatu untukmu."
"Untuk saya?"
"Iya."
Retna terlihat bingung.
Nathan menyerahkan tas tersebut.
"Ambil."
Dengan ragu Retna menerimanya.
Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil.
Retna membuka tutupnya.
Di dalamnya ada sebuah gaun sederhana berwarna lembut.
Retna langsung membelalakkan mata.
"Ini..."
"Untuk kamu."
"Kenapa?"
"Untuk besok malam."
Retna menatap Nathan.
"Mas membelinya?"
Nathan mengangguk.
"Saya bisa pakai pakaian biasa."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa..."
"Aku ingin membelikanmu sesuatu."
Retna terdiam.
Nathan kemudian berkata santai,
"Kalau kamu tidak suka, tidak perlu dipakai."
Retna menyentuh kain gaun itu.
"Saya suka."
"Bagus."
Nathan tersenyum puas.
Namun Retna masih terlihat ragu.
"Mas..."
"Hmm?"
"Kenapa Mas melakukan semua ini?"
Nathan terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ia tahu maksud sebenarnya.
Retna ingin memastikan bahwa semua perhatian itu bukan karena rasa kasihan.
Nathan mendekat.
"Karena aku ingin."
Jawaban itu justru membuat Retna semakin bingung.
"Dan karena..." Nathan berhenti sejenak. "Aku ingin melihat kamu tersenyum."
Retna menunduk.
"Saya sering tersenyum."
"Tidak seperti tadi."
Retna mengangkat wajah.
Nathan menunjuk bibirnya.
"Yang tadi."
Retna baru sadar dirinya tersenyum sejak melihat hadiah itu.
Ia langsung memalingkan wajah.
Nathan tertawa kecil.
Keesokan harinya, Retna berdiri cukup lama di depan cermin.
Gaun yang diberikan Nathan sudah dikenakannya.
Sederhana, tidak berlebihan, tetapi membuat Retna terlihat lebih anggun.
Ia merapikan rambutnya.
Untuk beberapa saat, ia menatap dirinya sendiri.
Sudah lama sekali ia tidak berdandan hanya untuk dirinya sendiri.
Dulu, dalam pernikahannya, ia selalu merasa harus memenuhi standar orang lain.
Kini seseorang justru memintanya mengenakan sesuatu karena ingin melihatnya tersenyum.
Retna menarik napas.
"Ini cuma makan malam."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Cuma makan malam."
Namun ketika turun ke ruang tengah, Retna langsung tahu bahwa Nathan tidak menganggap malam itu sekadar makan malam biasa.
Nathan sudah menunggunya.
Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan celana panjang gelap.
Begitu melihat Retna, langkahnya terhenti.
Tatapannya tidak langsung berpaling.
Retna menjadi gugup.
"Kenapa?"
Nathan tersenyum.
"Kamu cantik."
Wajah Retna langsung memerah.
"Mas..."
"Aku cuma mengatakan apa yang kulihat."
Retna menunduk.
"Terima kasih."
Nathan mengambil kunci mobil.
"Siap?"
Retna mengangguk.
"Siap."
Mereka kemudian pergi.
Sepanjang perjalanan, suasananya jauh lebih santai daripada biasanya.
Tidak ada lagi pembicaraan mengenai hubungan mereka.
Tidak ada lagi jarak yang sengaja dibuat Nathan.
Pria itu bahkan beberapa kali membuat Retna tertawa dengan cerita-cerita kecil mengenai pekerjaannya.
Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup tenang.
Retna melihat sekeliling.
"Mas membawa saya ke sini?"
"Iya."
"Tempatnya bagus sekali."
"Aku ingin kita bisa bicara tanpa banyak orang."
Retna menatapnya.
"Kenapa ingin bicara?"
Nathan tersenyum.
"Karena aku ingin mengenalmu lebih banyak."
Retna terdiam.
Mereka duduk berhadapan.
Malam itu terasa seperti sesuatu yang belum pernah Retna alami.
Tidak ada Arman.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada orang yang membandingkannya dengan perempuan lain.
Hanya dirinya dan Nathan.
Ketika makanan datang, Nathan memperhatikan Retna yang masih tampak gugup.
"Kamu tegang?"
"Sedikit."
"Kenapa?"
Retna menunduk.
"Saya tidak terbiasa."
"Terbiasa apa?"
"Seperti ini."
Nathan tersenyum lembut.
"Kalau begitu kita pelan-pelan."
Retna mengangkat wajah.
"Kita?"
Nathan mengangguk.
"Iya. Kita."
Satu kata itu membuat hati Retna kembali berdebar.
Setelah makan, mereka berjalan keluar restoran.
Udara malam terasa sejuk.
Nathan berdiri di samping Retna.
"Retna."
"Iya?"
"Aku tahu kamu masih takut."
Retna diam.
"Aku juga tahu mungkin ada bagian dari dirimu yang masih memikirkan Arman dan apa yang terjadi dulu."
Retna menunduk.
Nathan tidak menyentuhnya.
Ia hanya berdiri di sampingnya.
"Aku tidak akan memaksamu melupakan masa lalu."
Retna perlahan menatapnya.
"Aku juga tidak ingin kamu menerima perasaanku hanya karena merasa berutang padaku."
Mata Retna mulai berkaca-kaca.
"Jadi..."
Nathan tersenyum.
"Kalau suatu hari nanti kamu bisa mengatakan bahwa kamu juga punya perasaan yang sama, aku akan sangat bahagia."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi kalau kamu belum siap, aku tetap akan menghargainya."
Retna menggigit bibir.
Selama ini ia selalu mengira cinta berarti harus menyerahkan seluruh dirinya kepada seseorang.
Namun malam ini Nathan justru memberinya pilihan.
Dan justru karena itulah hatinya semakin sulit untuk menolak.
"Mas Nathan."
"Hmm?"
Retna menarik napas.
"Saya belum tahu apakah saya berani."
Nathan mengangguk.
"Tidak apa-apa."
"Tapi..."
Retna menatapnya.
"Saya juga tidak ingin Mas menjauh."
Nathan terdiam.
Kalimat sederhana itu membuat senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Aku tidak akan menjauh."
Retna akhirnya tersenyum.
Malam itu, mereka tidak membuat janji besar.
Tidak ada kata-kata tentang pernikahan.
Tidak ada kepastian tentang masa depan.
Namun ketika Nathan mengantar Retna pulang, untuk pertama kalinya Retna tidak merasa takut dengan kemungkinan membuka kembali hatinya.
Karena mungkin...
Tidak semua laki-laki akan membuatnya terluka.
Dan mungkin, setelah perjalanan panjang yang penuh luka, akhirnya ada seseorang yang benar-benar ingin berjalan di sampingnya.
Bukan untuk mengubah masa lalunya.
Tetapi untuk menemani langkahnya menuju masa depan.