NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Dua minggu berlalu bagaikan rentetan hari yang panjang dan melelahkan.

Setiap pagi, Sasi tampil anggun dan tangguh di kantor, memimpin rapat, mengambil keputusan penting, dan menjaga kestabilan perusahaan Adrian.

Namun, begitu jam kerja usai, seluruh atribut ketegarannya luruh.

Sasi bergegas menuju Rumah Sakit Bhayangkara, mengganti pakaian kerjanya, dan setia duduk di samping ranjang tempat Adrian terbaring.

Di dalam ruang ICU yang hanya dihiasi deru halus alat pembantu napas dan denyut monitor, Sasi mengusap jemari Adrian yang kaku namun masih terasa hangat.

Ia mendekatkan wajahnya, menatap garis-garis ketampanan suaminya yang kini tertutup masker oksigen.

"Mas, ayo bangun." bisik Sasi lirih, suaranya bergetar menahan rindu yang membuncah di dada.

"Sudah dua minggu, Mas. Apakah kamu tidak merindukan aku?"

Air mata Sasi menetes perlahan, jatuh tepat di atas punggung tangan Adrian.

Ia menggenggam jemari pria itu semakin erat, menyandarkan pipinya di sana.

"Kantor sudah aman, Mas. Dokumen-dokumen proyek besar yang kamu impikan sudah aku tanda tangani. Semua berjalan baik seperti yang kamu mau. Tapi aku lelah kalau harus pura-pura kuat sendirian. Aku butuh kamu, Mas. Ayah juga terus menanyakan keadaanmu."

Sasi memejamkan mata, membiarkan Isak tangisnya pecah di keheningan ruangan dingin itu.

Ia terus memanjatkan doa, berharap ketulusan dan hangat sentuhannya mampu menembus keheningan panjang yang membungkus kesadaran Adrian.

Pintu ruang ICU terdorong pelan. Darren melangkah masuk membawa aroma rempah gurih yang seketika menyeruak, memecah bau antiseptik yang menyengat di ruangan itu.

Di tangannya, terangkat dua bungkus nasi Padang yang masih hangat.

"Sasi," panggil Darren pelan, berusaha tidak mengejutkan wanita yang masih setia bersandar di tepi ranjang Adrian.

Sasi mengusap air matanya cepat, lalu menoleh. Mengulas senyum tipis yang dipaksakan, ia berusaha menyapa sahabat suaminya itu.

"Darren, baru datang?"

"Iya, aku menyempatkan mampir dari kantor," ujar Darren seraya meletakkan bungkusan makanan di atas meja kecil di sudut ruangan.

"Aku tahu kamu belum makan malam. Nih, aku bawakan nasi Padang. Rendang sama perkedel kesukaanmu."

Sasi menatap bungkusan itu tanpa selera, lalu kembali memandangi wajah Adrian yang masih terpejam lelap.

"Terima kasih, Darren. Tapi aku benar-benar belum lapar."

"Sasi, please," potong Darren lembut namun tegas. Ia menarik satu kursi dan duduk di seberang Sasi.

"Kamu sudah dua minggu kerja keras memimpin perusahaan siang hari dan menginap di sini setiap malam. Kalau kamu sampai ambruk, siapa yang bakal menyambut Adrian pas dia bangun nanti?"

Darren membuka lipatan daun pisang pembungkus nasi itu, menyerahkan sendok plastik ke tangan Sasi.

"Makan ya? Sedikit saja. Ini perintah dari pelaksana tugas hukum keluarga," seloroh Darren dengan sedikit nada bercanda untuk mencairkan suasana yang terlampau berat.

Sasi terkekeh kecil, akhirnya menerima sendok itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Kamu ini, selalu tahu cara memaksaku."

"Bukan memaksa, Sasi. Tapi Adrian pasti bakal marah besar sama aku kalau sampai tahu istrinya terlantar selama dia koma," sahut Darren mantap, membalas senyuman Sasi dengan binar penuh semangat dukungan.

Sasi akhirnya menuruti ucapan Darren. Ia menyuap nasi Padang itu perlahan, meski tenggorokannya terasa begitu sempit untuk menelan.

Darren tersenyum lega melihat Sasi mau mengisi tenaganya, lalu ia ikut menyantap bagian makannya di keheningan ruangan tersebut.

"Bagaimana perkembangan di kepolisian, Darren?" tanya Sasi pelan usai menyela makan malamnya.

Darren menyapu bibirnya dengan tisu, raut wajahnya seketika berubah serius.

"Berkas perkara Fitria sudah P21. Pengacara yang ditunjuk untuknya bahkan kesulitan menyusun pembelaan karena aksi penusukan di ICU kemarin disaksikan banyak saksi mata dan terekam jelas oleh CCTV rumah sakit. Pasal yang dikenakan adalah percobaan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal."

Sasi mengangguk pelan. Tidak ada raut dendam berlebih di wajahnya, hanya ada ketegasan dingin.

"Biarkan hukum bekerja. Aku sudah tidak mau tahu lagi tentang wanita itu."

"Tenang saja, Sasi. Aku sendiri yang akan mengawal persidangannya nanti," janji Darren mantap.

Usai merapikan sisa makanan, Darren pamit untuk menyelesaikan beberapa urusan hukum di luar.

Kini, ruangan itu kembali hening, menyisakan Sasi berdua saja dengan Adrian.

Sasi mendekatkan kursinya ke tepi tempat tidur. Ia meraih kembali jemari tangan kanan Adrian yang terasa hangat.

Ditempuh rasa lelah yang luar biasa usai bekerja seharian dan menghadapi badai pikiran, Sasi menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang, tepat di dekat tangan Adrian.

"Mas, aku tidur sebentar ya," bisik Sasi lirih seraya memejamkan mata.

"Tolong panggil aku kalau Mas sudah bangun."

Keheningan malam kian melingkupi ruang ICU. Suara bip dari monitor detak jantung berbunyi teratur, mengiringi napas Sasi yang perlahan mulai teratur dalam lelapnya.

Di tengah lelapnya Sasi, jarum jam dinding menunjukkan pukul dua malam.

Tiba-tiba, jemari tangan kanan Adrian yang berada dalam genggaman Sasi bergerak pelan.

Gerakan tipis itu disusul oleh kelopak mata Adrian yang bergetar perlahan, berusaha terbuka menembus rasa berat yang mengukung kesadarannya selama dua minggu.

"S-Sasi."

Suara bisikan parau yang sangat lemah menyeruak di balik masker oksigen, memecah kesunyian malam yang mencekam.

Kelopak mata Adrian bergetar semakin cepat. Sinar lampu ruangan yang temaram perlahan menerobos masuk ke dalam penglihatannya yang buram.

Rasa nyeri yang samar di bagian dada sebelah kiri langsung menyambut kesadarannya, namun hangatnya genggaman tangan di jemarinya jauh lebih mendominasi.

"S-Sasi." bisik Adrian sekali lagi, lebih jelas meski suaranya sangat parau dan lemah di balik masker oksigen.

Sasi tersentak kaget. Suara bisikan yang sangat ia rindukan selama dua minggu terakhir itu seketika memutus lelapnya.

Sasi mendongak cepat, matanya yang sembap membelalak lebar melihat jemari Adrian bergerak merekat kuat jemarinya.

Dan di sana, mata tajam yang selama ini terpejam kaku, kini terbuka perlahan menatapnya lurus.

"Mas Adrian?!" jerit Sasi tertahan.

Air matanya langsung meluncur deras tanpa sanggup ia tahan, meluapkan seluruh bendungan kerinduan dan rasa syukurnya.

"Kamu bangun, Mas! Demi Tuhan, kamu bangun!"

Adrian mengulas senyum yang amat tipis di balik masker oksigennya, berusaha menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap punggung tangan Sasi.

"J-jangan, menangis, sayang."

Sasi menggeleng cepat, menekan tombol panggil darurat di samping ranjang seraya mengecupi jemari Adrian berulang kali.

"Aku tidak menangis karena sedih, Mas. Aku bahagia. Kamu kembali ke aku."

Hanya dalam hitungan detik, dokter jaga dan dua perawat menerobos masuk ke ruang ICU.

Dokter segera melakukan pemeriksaan cepat pada pupil mata, tekanan darah, dan grafik monitor jantung Adrian yang menunjukkan respon sangat positif.

"Luar biasa," ujar dokter dengan napas lega seraya tersenyum pada Sasi.

"Kondisinya sudah sepenuhnya stabil. Pak Adrian sudah melewati masa komanya dengan sangat baik. Besok pagi, kalau peningkatannya konsisten, alat bantu napas ini sudah bisa dilepas dan beliau bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa."

Sasi menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, mengucap syukur tiada henti.

Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan awal dan memberi ruang, Sasi mendekatkan wajahnya ke telinga Adrian, mengusap lembut rambut suaminya yang sedikit berantakan.

"Terima kasih sudah berjuang dan kembali untuk aku, Mas," bisik Sasi penuh haru.

Adrian menatap Sasi dengan sorot mata yang sarat akan cinta dan rasa bersalah.

"Maafkan Mas. Sudah membuatmu cemas."

"Tidak apa-apa, Mas. Semuanya sudah berlalu. Perusahaan aman, Ayah baik-baik saja, dan wanita itu, dia tidak akan pernah bisa menyakiti kita lagi," tutur Sasi mantap.

Adrian mengangguk pelan, memejamkan matanya sejenak menikmati kehangatan dan kedamaian yang akhirnya kembali ke dalam hidup mereka—kedamaian yang kini telah mereka rebut kembali sepenuhnya.

1
sunaryati jarum
Selamat Sasi Adrian kaliin akan jadi orang tua
sunaryati jarum
Setelah badai berlalu semoga hanya kebahagiaan yang kalian dapatkan, sedangkan Fitria menghabisinya sisa hidup di penjara
sunaryati jarum
Hebat kau Sasi dari wanita yang diperkosa dan dijadikan pion rencana jahat dari Hendrik bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan memuaskan, semoga berhasil dan perusahaan semakin berkembang dan menuntaskan masalah,selama Adrian dirawat
sunaryati jarum
Mudah sekali menangkap dua ular berbisa tanpa perlawanan dan drama
sunaryati jarum
wow mantap semoga berhasil
sunaryati jarum
Hendrik dan Fitria sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri 😂😂😂
sunaryati jarum
Menyesal kan Adrian.Pests dan nikmati kebebasan sementara kamu, Fitria.Pembalasan Adrian nanti ,kamu ingat seumur hidupmu
sunaryati jarum
Semoga perangkap untuk Hendrik dan Fitria berhasil Adrian
sunaryati jarum
Drama yang sempurna , semoga Sasi selamat
sunaryati jarum
Analisis dokter masuk akal
sunaryati jarum
Timbul iba jadi cinta , Adrian
sunaryati jarum
Istri nggak mau punya anak sendiri, tidak usah menikah Fitria.Beriksn tubuhmu pada banyak pria tidak terikat apa- apa.
sunaryati jarum
Emak suka karakter Sasi yang tidak mau ditindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!