"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Tembok Pembatas Untuk Fandi
Senin pagi di lantai lima puluh Vantara Tower dibuka oleh kesibukan yang luar biasa. Berkas-berkas investasi megaproyek kawasan terpadu menumpuk rapi di meja para jajaran direksi, sementara lalu lintas keputusan bisnis bergerak secepat kilat. Namun, di balik dinamika kerja yang begitu masif, ada satu hal yang terasa bergeser secara halus—sebuah tembok tak kasatmata yang mendadak berdiri kokoh dan sangat dingin.
Fandi Prasetyo melangkah keluar dari *lift* khusus eksekutif dengan gaya berjalan yang selalu memikat. Pria itu tampil sempurna dalam balutan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap buatan penjahit Italia. Di tangannya, ia membawa sebuah map dokumen merah berisi persetujuan ekspansi alokasi lahan tahap dua yang sudah selesai dikaji oleh tim analisisnya.
Biasanya, Fandi akan langsung melangkah menuju ruang kerja Annisa Septiani tanpa hambatan. Namun, begitu kakinya baru menyentuh area lobi lantai lima puluh, sekretaris utama Annisa sudah berdiri menyambutnya dengan senyuman yang amat formal dan membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Pak Fandi," sapa sekretaris itu dengan nada nada bicara yang sangat terstruktur.
Fandi menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyuman tipis khasnya yang tenang. "Selamat pagi. Apakah Annisa ada di ruangannya? Saya membawa draf persetujuan alokasi lahan yang kemarin kita bahas."
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Fandi," ujar sekretaris itu dengan cermat. "Mbak Annisa sedang berada di dalam ruangan, namun beliau telah menginstruksikan bahwa seluruh koordinasi dokumen investasi dan rapat tinjauan berkala dengan pihak Prasetyo Group mulai hari ini dialihkan sepenuhnya melalui Wakil Komisaris Utama, Bapak Ardiansyah, atau melalui meja sekretariat kami."
Langkah Fandi terhenti seketika. Sepasang mata cokelat gelapnya yang tajam bergeming.
"Melalui Wakil Komisaris?" tanya Fandi. Suaranya yang berat memelankan temponya, ada sedikit nada keheranan yang tak tersamar di sana. "Ini dokumen krusial yang membutuhkan persetujuan langsung dari Komisaris Utama. Biasanya Annisa sendiri yang meninjau draf ini bersama saya."
"Petunjuk dari Mbak Annisa sangat jelas, Pak Fandi," jawab sang sekretaris tanpa keraguan sedikit pun. "Beliau menerapkan kebijakan efisiensi waktu manajemen baru. Seluruh berkas yang sudah ditinjau oleh Pak Ardiansyah akan diserahkan ke meja Mbak Annisa secara kolektif di akhir hari. Jika Pak Fandi berkenan, Pak Ardiansyah sudah menunggu di ruang rapat kecil."
Fandi diam selama beberapa detik. Tatapannya menatap lurus ke arah pintu kayu jati berukir ruang kerja Annisa yang tertutup rapat dari kejauhan. Tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Ada sesuatu yang janggal—sebuah perubahan drastis yang begitu tiba-tiba.
"Baiklah," ucap Fandi akhirnya. Pria itu menyerahkan map merahnya kepada sang sekretaris. "Tolong serahkan berkas ini kepada Pak Ardiansyah. Saya akan menunggu catatannya."
***
Tiga hari berlalu, dan tembok pembatas yang dibangun oleh Annisa bukannya makin menipis, melainkan makin meninggi dan tak tertembus.
Fandi Prasetyo yang biasa dengan mudah berdiskusi atau bertukar pikiran secara profesional dengan Annisa kini benar-benar merasakan jarak yang membentang luas. Setiap kali ada rapat dewan direksi gabungan, Annisa tetap hadir secara memukau dan berdedikasi tinggi. Namun, di luar forum resmi, Annisa selalu melangkah pergi didampingi oleh Pak Danu atau sekretarisnya.
Saat Fandi mencoba mendekati Annisa di lorong usai rapat besar dewan komisaris pada Kamis sore, Annisa menyambutnya dengan sikap yang begitu berjarak.
"Annisa," panggil Fandi saat Annisa baru keluar dari ruang konferensi utama.
Annisa menghentikan langkahnya. Ia mengenakan blazer suit sutra berwarna biru dongker yang memberikan kesan sangat anggun dan berkuasa. Wajahnya yang agak pucat tetap memancarkan ketenangan yang dingin.
"Selamat sore, Pak Fandi," sapa Annisa. Suaranya mengalun sangat halus, namun penggunaan panggilan "Pak Fandi"—bukan lagi "Mas Fandi" seperti biasa—terdengar bagaikan sebuah garis batas yang ditarik secara tegas.
Fandi mengerutkan keningnya pelan. Rahangnya yang kokoh sedikit mengetat mendengarkan panggilan formal tersebut.
"Pak Fandi?" bisik Fandi pelan, menatap sepasang mata bening Annisa lurus-lurus. "Apakah ada masalah dengan alur laporan investasi dua ratus miliar kita? Sekretaris saya bilang seluruh jadwal rapat koordinasi mingguan ditiadakan dan dialihkan ke tim teknis."
Annisa menatap Fandi tanpa ada satu pun kedipan ragu. Tidak ada amarah di matanya, tidak ada pula rasa bersalah. Yang ada hanyalah kejujuran mutlak dari seorang wanita yang ingin menjaga kehormatan dirinya dan orang lain.
"Tidak ada masalah sama sekali dengan laporan investasi Prasetyo Group, Pak Fandi," sahut Annisa dengan nada bicara yang sangat teratur. "Semua angka dan alokasi dana berjalan sesuai koridor hukum dan rencana bisnis kita."
"Lalu kenapa kamu mendadak menutup akses diskusi langsung?" tanya Fandi lurus-lurus, melangkah satu tapak lebih dekat. Suara beratnya terdengar sangat menuntut penjelasan. "Kita adalah mitra utama proyek ini, Annisa. Efisiensi manajemen bukan alasan untuk memutus komunikasi di tingkat pimpinan puncak."
Annisa tidak mundur. Ia menegakkan postur tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan yang sangat sopan namun penuh wibawa.
"Demi kebaikan bersama, Pak Fandi," jawab Annisa lugas. Setiap kata yang diucapkannya dijaga agar tidak memicu fitnah. "Saya rasa alokasi wewenang yang saya terapkan sudah sangat tepat. Wakil Komisaris dan tim analisis kita sangat kompeten untuk menangani detail teknis. Sebagai Komisaris Utama, tugas saya adalah menjaga fokus makro perusahaan dan meminimalisir segala bentuk potensi risiko di luar bisnis."
Fandi menatap Annisa dengan tatapan mata yang amat dalam. Sebagai pria matang berpengalaman yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, Fandi langsung menangkap sinyal di balik ketegasan Annisa. Ini bukan sekadar urusan bisnis. Ini adalah tindakan sengaja untuk menjaga jarak darinya secara personal dan profesional.
"Apakah ini karena kedatangan Rissa ke kantor ini pekan lalu ...?" batin Fandi mendadak menegang.
Fandi tahu betul watak istrinya, Rissa. Rumah tangganya yang sudah berada di ambang keretakan akibat ketidakcocokan mendalam bertahun-tahun mungkin telah mendorong Rissa melakukan hal bodoh—seperti mendatangi Annisa dan melemparkan tuduhan tanpa arah.
Fandi menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Ada rasa menyesal dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya atas ketidaknyamanan yang mungkin telah ditimbulkan oleh urusan domestiknya terhadap wanita di hadapannya ini.
"Annisa," panggil Fandi dengan nada suara yang melunak, mencoba mengikis rasa dingin di antara mereka. "Jika ada hal di luar pekerjaan yang membuatmu tidak nyaman—"
"Tidak ada hal di luar pekerjaan yang perlu kita bahas, Pak Fandi," potong Annisa cepat, memangkas kalimat Fandi sebelum pria itu sempat melangkah lebih jauh.
Annisa menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman dingin nan berkelas yang mempertegas etika profesionalnya.
"Fokus saya murni seratus persen untuk keberhasilan Vantara Land dan membanggakan ayah saya. Saya sangat menghormati Pak Fandi sebagai investor utama kami, dan saya ingin memastikan bahwa hubungan kerja sama antara Vantara Group dan Prasetyo Group tetap berjalan bersih, bermartabat, dan bebas dari fitnah apa pun."
bersambung...
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.