AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MENCARI KUBURAN DUKUN SANTET
Pagi itu aku bangun dengan tekad bulat. Setelah mendengar cerita Pak Karim tentang Wiryo, dukun santet yang mengutuk keluarga kami karena cinta ditolak Mirah, ibu kandung Arga, aku tidak bisa diam saja.
Kalau kutukan itu tidak diputus sekarang, aku akan jadi korban ketiga. Setelah Mirah tahun 1950, Mira tahun 2022, selanjutnya adalah aku, Kirana, tahun 2026.
Arga masih ragu. Dia takut membawaku ke kuburan Wiryo karena aku sedang hamil muda 8 minggu. Tapi aku memaksa.
"Pak, Pak Karim bilang satu-satunya cara putus kutukan adalah minta maaf di kuburan Wiryo dan mengembalikan tanah pemakaman itu. Kalau kita tidak lakukan sekarang, kapan lagi? Nunggu saya pendarahan seperti Mbak Mira?" kataku dengan nada sedikit keras.
Arga terdiam lama, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Tapi Salsa titipkan ke Bu Minah dulu. Jangan dibawa. Tempatnya angker."
Jam 9 pagi, setelah menitipkan Salsa ke Bu Minah dengan bekal susu dan boneka kelincinya, kami berdua naik motor trail menuju Desa Sumberjo, desa sebelah Wonorejo. Kata Pak Karim, kuburan Wiryo ada di pemakaman tua Sumberjo, di bawah pohon randu alas besar yang tidak pernah ditebang orang.
Perjalanan ke Sumberjo memakan waktu setengah jam melewati jalan tanah, kebun tebu, dan jembatan bambu yang hampir patah. Sepanjang jalan, Arga tidak banyak bicara. Wajahnya tegang.
"Pak, Bapak takut?" tanyaku pelan sambil memeluk pinggangnya dari belakang.
"Bukan takut, Kir. Aku cuma... aku belum pernah ke kuburan Wiryo sejak kecil. Bapakku melarang kami sekeluarga ke sana. Katanya Wiryo masih dendam," jawab Arga.
Sesampainya di pemakaman tua Sumberjo, suasananya sangat sepi, lembab, dan menyeramkan. Tidak ada orang sama sekali. Hanya batu-batu nisan tua yang miring, berlumut, dan ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Di tengah pemakaman itu, berdiri sebuah pohon randu alas yang sangat besar, batangnya butuh lima orang dewasa untuk memeluknya, akarnya menjalar kemana-mana.
Di bawah pohon randu itu, ada sebuah makam yang berbeda dari yang lain. Makam itu tidak ada batu nisannya, hanya gundukan tanah yang ditutupi kain kafan hitam yang sudah sobek-sobek dimakan waktu. Di atas gundukan tanah itu, ditancapkan sebuah kayu bertuliskan huruf Jawa kuno yang sudah hampir hilang.
"Inikah kuburan Wiryo, Pak?" tanyaku berbisik, merinding.
Arga mengangguk. "Iya. Kata Bapakku, dulu waktu Wiryo mati tahun 1980, tidak ada yang mau memakamkan dia. Tidak ada yang mau mengkafani. Karena dia dukun santet yang ditakuti. Akhirnya warga hanya menggali lubang dan menutupnya dengan kain hitam. Tidak ada doa."
Aku menatap gundukan tanah hitam itu. Hawa di sekitar makam itu terasa sangat dingin, padahal matahari sedang terik-teriknya. Angin berhembus pelan membawa bau kemenyan yang sangat menyengat.
"Terus kita harus ngapain, Pak?" tanyaku.
Arga mengeluarkan sebotol air putih dan kembang setaman yang sudah disiapkan Bu Minah tadi pagi. "Kita minta maaf, Kir. Atas nama keluarga Pak Karim. Kita minta maaf karena sudah merebut Mirah dari Wiryo. Dan kita minta maaf karena sudah menggusur tanah pemakaman yang mungkin ada keluarganya Wiryo di sana."
Arga mulai menyiram air dan menabur kembang di atas makam Wiryo sambil berdoa pelan dengan suara bergetar. "Mbah Wiryo, saya Arga, cucu mantu Mirah. Saya minta maaf atas kesalahan keluarga saya. Saya minta maaf kalau Bapak saya Pak Karim merebut Mirah dari Mbah Wiryo. Saya minta maaf kalau keluarga kami menggusur tanah pemakaman. Saya mohon, putuskan kutukan Santet Kembang Kantil itu, Mbah. Jangan ambil istri saya, Kirana. Dia sedang hamil, Mbah. Kasihan anak di perutnya."
Aku ikut berdoa di samping Arga, mengelus perutku yang masih rata. "Mbah Wiryo, saya Kirana, istri Arga. Saya minta maaf, Mbah. Saya mohon jangan ambil saya dan anak saya. Saya masih ingin hidup, Mbah. Saya ingin membesarkan Salsa dan anak saya."
Saat kami sedang berdoa, tiba-tiba angin kencang berhembus dari arah pohon randu. Kembang setaman yang kami tabur beterbangan. Lampu teplok kecil yang kami bawa padam sendiri.
Dan dari balik pohon randu, muncul sosok bayangan hitam tinggi besar, berambut panjang gimbal, matanya merah menyala.
Aku menjerit histeris dan langsung memeluk Arga erat.
Sosok itu tidak menyerang. Dia hanya berdiri diam menatap kami dari kejauhan, lalu perlahan-lahan menghilang menjadi asap hitam yang masuk kembali ke dalam makam Wiryo.
Setelah sosok itu hilang, angin berhenti. Hawa dingin yang tadi menyelimuti makam itu perlahan-lahan menghangat.
Arga yang juga pucat karena ketakutan, memelukku erat. "Kamu lihat, Kir? Kamu lihat sosok itu?"
Aku mengangguk sambil menangis ketakutan. "Iya, Pak. Tinggi besar, mata merah..."
"Itu... itu Wiryo, Kir. Arwah Wiryo. Dia masih ada di sini."
Kami berdua terdiam lama di depan makam itu. Setelah agak tenang, Arga melihat sesuatu di gundukan tanah makam Wiryo yang tadi tertutup kain hitam.
Ada sebuah kotak kayu kecil, sudah lapuk, tergeletak di atas tanah. Kotak itu sama persis seperti kotak kayu yang aku temukan di rumah bocor yang berisi foto pernikahan Arga dan Mira.
Arga mengambil kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada sebuah surat tua yang sudah menguning, sebuah foto hitam putih seorang gadis cantik berkebaya, dan sebuah boneka jerami kecil yang ditusuk tujuh jarum karat, sama persis seperti isi bungkusan santet Kembang Kantil.
Foto gadis itu sangat cantik, mirip sekali dengan Arga. Itu pasti Mirah, ibu kandung Arga, waktu masih muda.
Dan surat itu, tulisan tangannya sama dengan tulisan di belakang foto pernikahan Arga-Mira. Tulisan Wiryo.
Arga membuka surat itu dan membacanya dengan suara bergetar:
"Untuk Mirah, cinta sejatiku. Jika kamu tidak bisa jadi milikku, maka tidak ada perempuan dari keluarga Karim yang boleh bahagia. Setiap perempuan hamil di tanah itu akan mati melahirkan, seperti kamu mati setelah menolakku. Aku kutuk keturunan Karim sampai tujuh turunan. - Wiryo"
Surat sumpah. Surat kutukan.
Jadi benar. Wiryo mengutuk keluarga Pak Karim karena cintanya ditolak Mirah.
"Jadi kutukan itu memang dari Wiryo, Pak," bisikku.
Arga mengangguk, matanya merah menahan marah dan sedih. "Iya. Dan boneka ini, ini media santetnya. Selama boneka ini masih ada dan masih ditusuk jarum, kutukan itu tidak akan hilang."
"Lalu kita harus apa, Pak? Bakar bonekanya?"
Arga menggeleng. "Tidak bisa dibakar sembarangan, Kir. Kata Mbah Joyo, boneka santet harus dibakar di tempat asalnya dikutuk, yaitu di bawah pohon beringin di kebun belakang rumah kita, di dekat nisan ibu kandungku. Dan harus dibakar oleh keturunan Mirah sendiri, yaitu aku, dan disaksikan oleh perempuan hamil yang menjadi target terakhir, yaitu kamu."
Tugas yang berat. Kami harus kembali ke kebun angker itu malam ini dan membakar boneka santet Wiryo di bawah pohon beringin, di depan nisan Mirah.
Malam itu, jam 12 malam tepat saat bulan purnama di atas kepala, kami berdua, Arga dan aku yang sedang hamil 8 minggu, berdiri di bawah pohon beringin besar di tengah kebun karet bekas pemakaman, di depan batu nisan Mirah binti Kromo.
Di tangan Arga ada boneka jerami Wiryo yang berisi tujuh jarum karat. Di tanganku ada korek api.
Salsa sudah dititipkan ke rumah Pak Karim agar aman.
Angin berhembus kencang. Suara tangisan perempuan terdengar lagi dari dalam tanah.
Arga menatapku. "Kamu siap, Kir?"
Aku mengangguk sambil memegang perutku erat. "Siap, Pak. Demi Salsa. Demi anak kita."
Arga mencabut tujuh jarum karat dari boneka jerami itu satu per satu. Setiap jarum dicabut, terdengar suara jeritan melengking dari dalam tanah, seperti suara perempuan kesakitan.
Setelah tujuh jarum tercabut semua, aku menyalakan korek api dan membakar boneka jerami itu.
Api langsung besar, berwarna hijau kebiruan, tidak seperti api biasa. Boneka itu terbakar habis menjadi abu dalam sekejap. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ledakan kecil dari dalam tanah, dan angin kencang berhenti seketika.
Hawa di kebun karet yang tadinya dingin menusuk tulang, tiba-tiba menjadi hangat dan harum bunga kamboja.
Dari arah batu nisan Mirah, muncul cahaya putih lembut berbentuk seorang wanita cantik berkebaya putih, menggendong bayi. Wajahnya sangat mirip Arga, tapi versi perempuan. Itu pasti arwah Mirah, ibu kandung Arga.
Wanita itu tersenyum pada kami berdua, lalu mengangguk pelan, seolah-olah berkata terima kasih, lalu perlahan-lahan menghilang menjadi cahaya yang naik ke langit.
Kutukan itu... putus.
Arga memelukku erat sambil menangis. Untuk pertama kalinya, aku melihat Arga menangis sesunggukan seperti anak kecil di pelukanku, di bawah pohon beringin, di depan nisan ibunya.
"Ibu... Ibu sudah bebas... terima kasih, Kir... terima kasih..."
Aku juga menangis, mengelus punggung Arga yang bergetar.
Malam itu, di bawah pohon beringin bekas pemakaman, kutukan 76 tahun keluarga Pak Karim yang sudah membunuh dua perempuan, akhirnya putus di tangan kami berdua. Di tangan seorang petani karet dingin dan seorang mahasiswi hamil yang diusir dari rumah.
Kami pulang ke rumah bocor itu dengan perasaan lega. Tidak ada lagi suara kresek-kresek. Tidak ada lagi bau kemenyan. Rumah itu terasa hangat untuk pertama kalinya.
Salsa yang sudah diantar Pak Karim kembali, langsung memeluk kami berdua.
"Bunda, Ayah, Salsa mimpi ada nenek cantik bilang terima kasih..." kata Salsa polos.
Aku dan Arga saling pandang dan tersenyum. Mirah sudah bebas. Kutukan sudah putus.
Tapi perjuangan kami belum selesai. Karena besok pagi, Rendo, adik Arga, ayah dari anak di perutku, dikabarkan akan kembali ke Wonorejo untuk merebutku.