Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: DMAM
Sementara itu...
Di dalam ruang guru, Bu Maya yang sedang menikmati teh hangat hampir tersedak saat mendengar suara yang tak indah itu. Ia pun langsung berlari keluar menuju kelas Aisyah dan menemukan Aisyah sedang mengoreksi lembar jawaban ulangan dengan wajah yang tegang.
"Syah! Aisyah!" panggil Bu Maya panik sambil menunjuk ke arah luar. "Itu... itu calon suami kamu yang gak jadi itu kan?! Dia ngapain nyanyi-nyanyi di depan pagar sekolah pakai pengamen?! Bikin heboh satu sekolah lho...!"
Aisyah memejamkan matanya erat-erat, sambil meremas pulpen merah di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Kali ini ia merasa sangat malu. Sikap Dimas yang kekanak-kanakan dan tidak mengenal tempat benar-benar telah melampaui batas toleransinya.
"Maafkan saya, Bu Maya," bisik Aisyah liru. "Saya akan temui dia sekarang biar tidak makin mengganggu anak-anak."
Aisyah lalu berdiri dari kursinya. Langkah kakinya menyapu koridor dengan cepat. Saat ia melangkah keluar menuju gerbang utama, Pak Dudung, sang Kepala Sekolah, juga baru saja keluar dari ruangannya dengan dahi yang berkerut tebal.
"Aisyah! Ada apa di luar itu? Siapa pria yang membuat kegaduhan di jam sekolah?!" tegur Pak Dudung cukup keras.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Dudung. Saya yang akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga," jawab Aisyah yang memohon dengan santun, lalu bergegas menuju gerbang.
Begitu melihat Aisyah berjalan menghampirinya, Dimas langsung menghentikan nyanyiannya. Ia lalu menyerahkan lembaran uang lima puluh ribu kepada pengamen jalanan itu dan menyuruhnya pergi.
Dimas membetulkan kerah kemejanya, dan memasang senyum paling manis yang bisa ia ukir.
"Aisyah! Kamu akhirnya keluar juga," sapa Dimas dengan nada percaya diri begitu Aisyah berdiri di balik pagar besi sekolah. "Gimana? Kamu suka kan sama bunga-bunganya? Aku beliin seratus tangkai mawar khusus buat kamu dari toko bunga terbaik di kota."
Aisyah menatap pria di depannya dengan tatapan yang amat dingin. Tidak ada sedikit pun binar kagum atau tersanjung di matanya, yanga dan ketegasan dan keprihatinan yang mendalam.
"Mas Dimas," panggil Aisyah. "Tolong hentikan semua drama tidak berguna ini."
Dimas tertegun, senyumnya pun agak goyah. "Loh? Kok drama sih, Syah? Aku ini lagi berusaha romantis! Aku mau tunjukkin ke kamu kalau aku serius mau perbaiki hubungan kita! Mami aku emang galak, tapi aku benar-benar sayang sama kamu, Aisyah!"
"Kalau Mas Dimas memang sayang dan menghargaiku," potong Aisyah, "Mas Dimas tidak akan datang ke tempat kerja aku, mengganggu ketenangan anak-anak muridku, dan membuat keributan yang mempermalukan nama baikku di depan Kepala Sekolah!"
Dimas menggaruk rambutnya yang tertata rapi, ia tampak canggung dan kebingungan mendengar omongan Aisyah. "Aku... aku kan cuma mau bikin kamu senang, Syah. Bunga mawar, nyanyian... biasanya cewek-cewek di FTV suka kalau diginiin!"
Fukk!
Aisyah menepuk jidatnya pelan-pelan karena tak habis pikir. FTV? Pria berusia dua puluh delapan tahun ini mengejar wanita berdasarkan tontonan FTV?
"Aku bukan wanita di dalam televisi, Mas Dimas," tegas Aisyah. "Aku seorang guru. Aku orang dewasa yang hidup di dunia nyata. Dan di dunia nyata, tindakan Mas Dimas ini bukannya romantis, tapi sangat tidak sopan dan tidak dewasa!"
Dimas mulai merasa tersinggung. Wajahnya langsung memerah dan nada suaranya pun berubah menjadi nada merajuk yang biasa ia gunakan pada ibunya.
"Kok kamu tega banget sih ngomong gitu sama aku, Syah?!" protes Dimas sambil menghentakkan kakinya ringan. "Aku udah capek-capek bangun pagi, beli mawar mahal-mahal, berdiri berjam-jam di sini panas-panasan demi kamu! Kamu tahu gak, Mami aja gak pernah biarin aku berjemur di bawah matahari begini! Ini semua demi kamu!"
Aisyah menatap Dimas lurus-lurus tanpa berkedip. Kalimat Dimas itu justru semakin memperjelas jurang pemisah di antara mereka.
"Mas Dimas," ujar Aisyah lirih namun sangat mantap. "Masih ingatkah kalimatku waktu di mal? Seorang wanita tidak butuh ratusan mawar mahal atau lagu-lagu romantis dari pria yang bahkan tidak tau caranya menghargai ruang kerja orang lain. Yang wanita butuhkan dari calon suaminya adalah kedewasaan, tanggung jawab, dan kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri tanpa terus-menerus membawa nama ibunya."
Seketika Dimas bungkam. Tenggorokannya terasa tersumbat seakan tak bisa berkata kembali.
"Bawa kembali semua sisa bunga dan mobil mewah Mas Dimas dari sini," lanjut Aisyah. "Jangan pernah lagi datang ke sekolah ini, dan jangan pernah lagi gunakan anak-anak didikku untuk permainan Mas Dimas. Keputusanku sudah bulat: Tidak akan ada pernikahan di antara kita."
Aisyah langsung berbalik tanpa menunggu jawaban lagi. Ia melangkah masuk ke area dalam sekolah, hingga Pak Kumis, sang penjaga sekolah, langsung menutup pintu gerbang besi dengan bunyi berdenting keras, dan memutus akses pandangan Dimas ke dalam.
Kini...
Dimas berdiri sendirian di samping mobil mewahnya di bawah terik matahari siang yang mulai membakar kulitnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, usaha, uang, dan segala caranya ditolak mentah-mentah tanpa sisa. Tidak ada Mami yang membelanya di sana, dan tidak ada uang jajan yang bisa membeli rasa hormat Aisyah.
Dengan wajah tertunduk dan perasaan yang hancur berantakan, Dimas membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam, dan menghempaskan tubuhnya ke jok kulit yang dingin.
Ia lalu meraih telepon genggamnya dengan tangan yang agak gemetar. Ia memencet tombol panggilan cepat nomor satu yang bertuliskan 'Mami'.
"Halo, Dimas sayang?" suara Rosma terdengar di sebrang telepon. "Kamu di mana, Nak? Kok belum pulang? Mami sudah masakin makanan kesukaan kamu—"
"Mami..." potong Dimas. Suaranya pecah, dan tangis merajuknya meluap begitu saja di dalam mobil. "Mami... Aisyah gak mau sama Dimas, Mi! Aisyah marahin Dimas di depan semua orang! Bunga mawar Dimas dibuang, Mi!"
"Apa!! Dimas... Kamu datangi sekolah perempuan itu sendirian?" tanya Rosma dengan nada rendah yang mengerikan.
"Iya, Mi... Dimas beliin mawar banyak banget... tapi Aisyah malah usir Dimas..." bisik Dimas sesenggukan.
"Sudah Mami bilang, diam dan biarkan Mami yang urus!" bentak Rosma, hingga membuat Dimas terkejut. Namun suara Rosma kembali memelan dengan kejam. "Ya sudah... Jangan menangis lagi, anak ganteng Mami. Sekarang kamu pulang. Biarkan Mami yang selesaikan ini dengan cara Mami sendiri."
Tut Tut Tut...
Sambungan telepon pun terputus.
Sementara itu, Aisyah sedang berdiri di koridor sekolah sambil memandangi buket mawar merah yang masih tergeletak di sudut mejanya. Ia lalu memanggil Bimo dan murid-murid kecil yang tadi memberinya bunga.
"Anak-anak," panggil Aisyah sambil tersenyum. "Bunga-bunga mawar ini indah sekali, kan? Kalian mau bawa pulang untuk ibu kalian di rumah?"
Anak-anak itu pun bersorak gembira. "Mau, Bu Guru! Mau!"
Aisyah kemudian membagikan mawar-mawar itu satu per satu kepada murid-muridnya hingga tak bersisa sebatang pun di mejanya.
"Mas Dimas, aku mohon... Hentikan semua ini."
Bersambung...