Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"A-ampun! Saya mengaku! Saya ceritakan semuanya!" desah si pemimpin botak dengan suara gemetar hebat.
Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Tatapan mata Adit yang dingin dan tak berbelas kasihan membuat keberaniannya runtuh tanpa sisa.
Adit melepaskan cengkeramannya di kerah baju pria itu, membiarkannya terduduk lemas di atas tanah yang basah oleh tumpahan bensin.
Adit kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel pintar, dan mengarahkan kamera ke wajah kelima preman yang terkapar tersebut.
"Bicara sekarang. Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini, apa tugas kalian, dan berapa banyak uang yang kalian terima?" perintah Adit dengan suara menekan.
Si pemimpin botak memegangi pergelangan tangannya yang patah sambil menatap ketakutan ke arah kamera ponsel Adit.
"B-bos Anton! Anton Wijaya dari Restoran Mahkota!" seru pria botak itu terbata-bata.
"Dia membayar kami lima puluh juta rupiah tunai untuk membakar seluruh kebun dan kandang ternak milik Mas Aditya Pratama malam ini!"
"Apakah ada bukti percakapan atau transaksi transfer darinya?" tanya Adit tegas.
"A-ada! Di ponsel saya ada rekaman panggilan suara saat Bos Anton memberi perintah dan bukti transfer uang muka sebesar dua puluh juta rupiah!" jawab si pemimpin cepat, takut Adit akan mematahkan tangannya yang lain.
Adit melangkah mendekati tubuh pria itu, merogoh saku celananya, dan mengambil ponsel milik si preman.
Setelah memverifikasi rekaman suara serta mutasi rekening di ponsel tersebut, Adit mentransfer seluruh berkas digital itu ke ponsel pribadinya.
Tanpa buang waktu, Adit mengambil tali tambang tebal di dalam gudang dan mengikat kelima preman tersebut secara erat di bawah pohon mangga depan rumah.
Pukul 03.00 Dini Hari.
Adit mengirimkan seluruh berkas rekaman video pengakuan, data transaksi, dan bukti percakapan suara kepada Maya Saphira melalui aplikasi pesan singkat.
Hanya dalam hitungan menit, ponsel Adit bergetar menerima balasan dari sang jurnalis.
"Ini bukan sekadar bom lagi, Dit... Ini amunisi nuklir untuk meratakan kerajaan bisnis Anton! Serahkan sisa urusan publikasi padaku!" tulis Maya dalam pesannya.
Adit tersenyum tipis lalu memasukkan ponselnya kembali. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak menunggu fajar tiba.
Keesokan harinya, pukul 07.00 Pagi.
Gempar. Satu kata itu cukup untuk menggambarkan situasi di seluruh kota dan media sosial nasional.
Artikel terbaru tulisan Maya Saphira yang bertajuk [EKSKLUSIF: Terdesak Skandal Pangan, Pemilik Restoran Mahkota Kirim Preman Bayaran untuk Bakar Aset Pesaing Bisnis!] merebak bagaikan wabah di dunia maya.
Video pengakuan polos lima preman berwajah babak belur yang terikat di bawah pohon mangga diputar secara berulang-ulang di berbagai stasiun televisi swasta.
Bukti rekaman suara Anton yang memberikan instruksi pembakaran diputar dengan sangat jernih, memicu kemarahan publik yang luar biasa.
Sementara itu, di Bandara Internasional Kota...
Seorang pria mengenakan jaket tebal, topi hitam, dan kacamata gelap tampak berjalan terburu-buru menuju pintu pemeriksaan paspor penerbangan menuju Singapura.
Pria itu adalah Anton Wijaya.
Wajahnya tampak kusam, matanya sembab karena tidak tidur semalaman, dan tangannya gemetar hebat saat memegang paspor.
"Sialan! Bagaimana bisa rencana pembakaran itu gagal?! Kenapa anak-anak itu malah tertangkap?!" umpat Anton panik dalam hati.
Namun, baru saja Anton melangkah tiga meter mendekati konter pemeriksaan, lima orang pria berpakaian preman bersama sepasang polisi berseragam lengkap mendadak menghadang jalannya.
"Saudara Anton Wijaya?" tanya salah satu polisi dengan nada tegas.
Anton tersentak kaget dan mencoba berbalik arah untuk melarikan diri.
"Tangkap!"
Dengan sigap, dua petugas polisi langsung memiting kedua tangan Anton dan membanting tubuhnya ke lantai bandara.
Krak!
Borgol besi dingin mengunci kedua pergelangan tangan Anton di hadapan puluhan calon penumpang dan jurnalis yang mendadak muncul dari berbagai sudut bandara.
Kilatan lampu kamera berita memberondong wajah Anton yang kini terkapar di lantai.
"Saudara Anton Wijaya, Anda resmi kami tahan atas tuduhan tindak pidana percobaan pembakaran, penganiayaan, suap pejabat desa, dan pelanggaran standar keamanan pangan nasional!" tegas perwira polisi yang memimpin penangkapan.
Kacamata hitam Anton terlepas, memperlihatkan raut wajah yang hancur, pucat pasi, dan penuh ketakutan.
Kerajaan bisnis yang ia bangun bersama keluarganya runtuh secara total hanya dalam waktu beberapa hari di tangan seorang pemuda desa yang dulu dianggapnya remeh.
Di teras rumahnya di Desa Sukamaju, Adit duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat dan melihat berita penangkapan Anton di layar ponselnya.
Bang Jarwo dan Bang Sopo yang berdiri di sampingnya bersorak gembira.
"Mampus kau, Anton! Makanya jangan suka sembarangan mau membakar lahan orang!" seru Bang Jarwo puas.
"Benar, Bos! Akhirnya orang jahat itu masuk penjara juga!" tambah Bang Sopo antusias.
Tiba-tiba, suara dengungan bernada emas yang sangat nyaring bergema di dalam kepala Adit.
[Ting!]
[Pemberitahuan Sistem: Musuh Utama Anton Wijaya & Restoran Mahkota Berhasil Ditumbangkan Secara Total!]
[Pencapaian Luar Biasa: Menghancurkan Ancaman Regional Tanpa Kerugian Aset!]
[Mendapatkan Hadiah Penyelesaian Misi Utama:]
2000 Poin Pengalaman.
Gelar Baru: [Penguasa Wilayah Regional] Meningkatkan efisiensi kerja pekerja dan kualitas hasil panen sebesar 20%.
Cetak Biru Bangunan Istimewa: [Rumah Kaca Energi Murni].
[Sistem Berhasil Naik Tingkat!]
[Sistem Perkebunan dan Peternakan Berhasil Mencapai Level 3!]
[Fitur Baru Terbuka: Toko Sistem Area Elit, Peta Wilayah Otomatis, dan Fitur Pemulihan Lahan Mati.]
Adit menghembuskan nafas panjang dengan senyum kepuasan yang mengembang luas di wajahnya.
Aura di sekitar tubuhnya terasa makin kuat dan murni seiring naiknya level sistem.
Ancaman besar pertama telah resmi berakhir, dan kini babak baru ekspansi usahanya menuju tingkat nasional siap dimulai.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.