Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Malam harinya, gadis yang baru saja selesai dengan ritual mandinya kini duduk di atas kasur sambil terdiam. Kejadian di rumah itu menyita seluruh perhatiannya. Entah seberapa kesepiannya pria itu hingga membuat Tirta ikut merasakan sesaknya.
Tapi kenapa?
Apa alasan dirinya sampai harus memikirkan pria yang bahkan baru ditemuinya itu?
Kasihan?
Sepertinya ini bukan rasa kasihan yang biasa ia rasakan. Tirta meraba lengannya yang masih sedikit membiru. Jemarinya menyentuh bekas lebam itu sambil mengingat bagaimana pria tadi mengompres lengannya dengan begitu lembut.
Gadis itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya memutuskan merebahkan tubuh dan membiarkan dirinya hanyut ke dalam lautan mimpi. Aneh rasanya ketika perasaannya berubah seperti ini. Entah getaran apa yang selalu muncul setiap kali pria itu berada di dekatnya.
...****************...
Berbeda dengan Marchel yang tengah duduk di lantai kamar sambil memegang ponsel di tangan kanan dan segelas minuman di tangan kirinya. Tatapan matanya tidak lepas dari layar ponsel yang sedang digenggamnya. Arga masuk ke dalam kamar dan melihat apa yang sedang dilakukan sepupunya itu. Pria itu duduk di sebelah Marchel, lalu ikut menatap layar ponsel tersebut sambil tersenyum tipis.
Apa ini?
Marchel sedang memperhatikan foto yang ia kirimkan tadi? Perubahan sekecil apa pun dari pria itu selalu berhasil membuat Arga merasa senang.
"Apa maksudmu mengirim foto ini?" Tanya Marchel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Itu... aku hanya ingin memberi tahu kalau gadis itu sudah sampai di depan rumahnya." Jawaban itu membuat Marchel melirik tajam. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengetahui maksud pria yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun itu.
"Bicaralah yang jujur. Suasana hatiku sedang buruk. Jangan sampai gelas ini pecah di kepalamu." Arga langsung mengatupkan bibirnya. Sepertinya pria bernama Marchel itu memang sama sekali tidak memiliki sisi lembut. Setiap ucapannya selalu berisi ancaman yang mampu membuat siapa pun bergidik.
"Aku hanya ingin kamu melihat kalau gadis itu sudah memiliki kekasih." Sahutnya pada akhirnya. Tentu saja ia tidak mungkin berkata jujur bahwa foto itu sengaja dikirim agar Marchel merasa cemburu. Kalau sampai mengaku, bisa-bisa dirinya mati mendadak.
"Aku tidak peduli. Lain kali jangan mengirimiku sesuatu yang tidak penting." Marchel menghabiskan minuman di tangannya dalam sekali teguk. Arga mengangguk pelan, seolah memahami. Padahal, di dalam kepalanya ia sudah menyusun rencana demi rencana agar keduanya bisa terus dipertemukan.
Marchel bukan pria yang mudah tertarik kepada seseorang.
Bahkan keluarganya sendiri yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya masih merasa takut jika membantah ucapannya. Kini, seorang gadis yang entah datang dari mana mampu mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan pria itu. Kesempatan ini akan terus dipertahankan oleh Arga. Ia tidak ingin sepupunya terus tenggelam dalam luka yang sudah terlalu lama menghantuinya.
Kecelakaan itu memang telah berlalu bertahun-tahun. Sudah saatnya Marchel bangkit dari luka tersebut dan memulai hidup yang baru.
Setiap orang memiliki masa lalu.
Dan setiap orang juga berhak melanjutkan hidupnya.
...****************...
Mentari pagi mulai menyinari bumi. Hari ini adalah hari Senin. Tirta sudah bersiap berangkat ke kantor. Di atas meja makan, gadis itu sedang menikmati nasi hangat dengan telur goreng. Kontrakan terasa begitu sepi karena Lala tidak menginap dan sedang berada di rumahnya. Sudah hampir dua bulan Tirta tidak pulang ke rumah. Ia sudah memutuskan untuk mengambil cuti dalam waktu dekat agar bisa pulang selama beberapa hari.
Drttt...
Sebuah panggilan dari ibu Lala menyita perhatiannya. Tirta menatap layar ponsel dengan bingung. Apa Lala belum pulang hingga ibunya menelepon dirinya? Tanpa ingin terus menebak-nebak, ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Tante."
"Halo, Tirta. Apa kabar?" Sapa wanita yang usianya kini sudah memasuki kepala enam itu. Bu Niki memang sering mengirimkan makanan untuk Tirta.
"Baik, Tante. Tante sendiri bagaimana kabarnya?"
"Tante juga baik. Oh iya, boleh Tante tahu sore nanti setelah pulang kerja kamu ada urusan atau tidak?"
"Sore nanti? Tidak ada, Tante. Memangnya ada apa?"
"Oh begitu. Tante mau minta tolong mengantarkan pesanan makanan ke rumah yang kemarin. Lala bilang hari ini dia lembur, jadi Tante mau minta bantuanmu. Tidak apa-apa, kan?" Tanya wanita di seberang sana dengan nada yang terdengar tidak enak hati.
"Tentu saja bisa, Tante. Nanti sepulang kerja aku mampir mengambil pesanannya." Jawab Tirta tanpa ragu. Bu Niki selalu bersikap baik kepadanya. Karena itu, ia tidak mungkin menolak permintaan ibu sahabatnya tersebut.
"Baiklah. Terima kasih, Nak. Hati-hati di jalan nanti, ya."
"Siap, Tante."
Panggilan pun berakhir.
Tirta terdiam beberapa saat. Lembur apa yang dimiliki Lala hari ini? Setahunya, pekerjaan mereka sudah selesai sejak rapat minggu lalu. Bahkan kemungkinan besar hari ini kantor tidak akan terlalu sibuk. Apa jangan-jangan gadis itu pergi berkencan lagi hingga tidak bisa mengantarkan pesanan ibunya?
***
Sesampainya di Perusahaan C, Tirta tidak melihat Lala di meja kerjanya. Sepertinya gadis itu sedang membuat kopi seperti biasanya.
Dan benar saja.
Beberapa menit kemudian, Lala datang sambil membawa secangkir kopi dan sebungkus camilan favoritnya. Tirta memutar kursinya hingga kini mereka saling berhadapan. Ia melipat kedua tangan di dada sambil menatap Lala yang mulai kebingungan melihat tingkah sahabatnya.
"Lembur apa kamu malam ini?" Tanya Tirta sambil menggeleng pelan. Lala langsung terkejut. Kedua alisnya bertaut bingung.
"Siapa bilang aku lembur?" Baliknya heran. Ia sama sekali tidak merasa pernah mengatakan akan lembur hari ini.
"Tante bilang kamu lembur. Bahkan Tante meminta aku mengantarkan pesanan ke rumah yang kemarin." Jujur Tirta. Walaupun menurutnya semua ini terasa terlalu kebetulan, ia memilih tidak berpikir macam-macam. Lala menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ibunya tadi tidak mengatakan apa pun mengenai hal itu. Lalu kenapa beliau sampai berbohong? Ada sesuatu yang terasa janggal. Namun ia memutuskan untuk menanyakannya langsung saat pulang nanti. Untuk sekarang, Lala hanya bisa tersenyum pasrah menghadapi pertanyaan Tirta. Sedangkan di dalam hati, ia sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk sang ibu sepulang kerja nanti.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜