Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.
“Lamaranmu ditolak.”
Bram Mahesa, pria paruh baya berusia empat puluhan itu melemparkan sebuah amplop coklat ke atas meja makan seolah sedang membuang tagihan listrik yang tidak penting.
Suara debum pelan di atas meja kayu itu membuat pemuda yang baru saja keluar dari kamar segera berjalan menghampiri Bram untuk melihat amplop di meja. Dahinya berkerut tipis saat pandangannya jatuh pada logo perusahaan konstruksi di sudut amplop—sebuah perusahaan tempat ia menjalani empat tahap seleksi selama hampir dua bulan. Elang Mahesa.
“Hasilnya dikirim ke rumah?” tanyanya sedikit heran.
“Memangnya kenapa?” Bram balas bertanya dengan nada ketus.
“Semua pemberitahuan sebelumnya dikirim melalui surel,” ucap Elang.
Bram menyandarkan punggung pada kursi, memberikan senyum meremehkan yang begitu kentara. “Mungkin mereka tidak menganggapmu cukup penting untuk dikabari menggunakan cara itu.”
Gerakan tangan Radinka- wanita paruh baya yang menjadi ibu Elang sekaligus istri Bram- saat menuangkan teh ke cangkir terhenti, tatapannya segera beralih pada suaminya dengan gerakan cepat.
“Mas, jangan bicara seperti itu.”
“Aku hanya menyampaikan kenyataan,” sahut Bram.
Elang mengambil amplop tersebut, mengamatinya. Bagian atasnya sudah terbuka, kertas di dalamnya terlipat tidak rapi, menandakan surat itu sudah dibaca sebelum ia mengetahui telah mendapatkan surat.
“Surat ini datang kapan?” tanya Elang tanpa terburu-buru memeriksa isinya.
“Tadi pagi.”
“Siapa yang menerima?” tanya Elang lagi.
Kecurigaan tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Pemikiran buruk melintas di kepalanya mengingat bagaimana sikap ayahnya selama ini terhadapnya. Namun, ia berusaha untuk tetap merendahkan suara ketika berbicara pada sang ayah.
Bram mendecakkan lidah kesal. “Kau sedang menginterogasiku?”
“Petugas ekspedisi biasanya menghubungiku sebelum mengantar dokumen,” ucap Elang.
“Kalau sudah tahu semuanya, untuk apa bertanya?” jawab Bram sengit.
Jawaban yang Bram lontarkan membuat Elang mengeratkan genggaman pada tepi amplop yang ada di tangannya, menciptakan ketegangan fisik yang sudah ada di antara hubungan ayah dan anak itu. Sepertinya dugaannya benar.
Radinka segera menghampiri putranya, memberikan usapan lembut di bahu sang putra. "Duduklah. Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu," ucapnya penuh kasih.
Elang tidak menjawab, tangannya bergerak cepat membuka surat tersebut. Matanya menelusuri beberapa baris pertama. Bukan surat penolakan yang ia terima. Perusahaan itu jelas menyatakan ia telah lulus tahap akhir dan diminta hadir untuk penandatanganan kontrak pada tiga hari lalu.
Rasa sesak seketika memenuhi dada Elang, jemarinya pada tepi surat mengerat, membuat kertas di tangannya sedikit terlipat. Batas waktunya sudah lewat.
“Ini surat penerimaan,” desis Elang dengan amarah tertahan.
Radinka tertegun. “Apa?”
Bram tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun, sebuah penegasan bahwa ayahnya sudah tahu sejak awal.
Elang membalikkan kertas menghadap ayahnya. “Aku diterima sebagai analis lapangan. Mereka memintaku datang tiga hari lalu.”
“Mungkin mereka salah mengirimkan tanggal,” sahut Bram tak acuh.
“Perusahaan sebesar itu tidak akan salah menuliskan tanggal kontrak,” sahut Elang masih berusaha menekan emosi yang sudah bergolak.
Elang membalik amplop. Cap pengiriman menunjukkan surat tersebut tiba lima hari lalu, bukan pagi ini. Pandangannya seketika menajam menatap sang ayah.
“Ayah menyimpannya.”
“Aku tidak punya waktu mengurus suratmu,” dengus Bram.
“Lima hari?!” suara Elang naik satu oktaf. “Surat ini sudah berada di rumah selama lima hari, Ayah!”
Radinka mengambil alih amplop dari tangan putranya dan memeriksa cap pengiriman. Wajahnya perlahan berubah, ia menatap suaminya menuntut penjelasan.
“Mas, kenapa tidak langsung diberikan?”
Bram bangkit dari kursi. “Karena pekerjaan itu tidak cocok untuknya.”
Elang tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun kelucuan dalam suara itu. “Jadi Ayah memang menyimpannya.”
“Kau akan ditempatkan di luar kota. Ibumu sendirian di rumah,” sahut Bram.
“Aku bisa mengirim uang setiap bulan dan pulang saat libur,” jawab Elang.
“Bukan hanya soal uang.”
“Lalu apa?”
Bram menatap putra yang telah ia rawat selama dua puluh tiga tahun. Semakin dewasa putranya, semakin sulit baginya mempertahankan kendalinya terhadap sang putra.
Pemuda di hadapannya tidak lagi menunduk seperti ketika masih kecil. Dulu, satu bentakan cukup membuat Elang menunduk. Tapi kini, tatapan itu justru menuntut jawaban yang selama ini berhasil Bram hindari.
“Kau tidak akan bertahan,” katanya. “Daripada mempermalukan keluarga, lebih baik berhenti sebelum mencoba.”
“Cukup!” suara Radinka menggema keras disertai pukulan meja yang membuat Bram segera menoleh kepadanya.
"Sudah cukup kamu meremehkan putra kita selama ini. Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Mas?!"
“Kamu selalu membelanya. Lihat apa hasilnya. Dia semakin berani menentang orang tua." ucap Bram dengan satu jari teracung ke wajah Elang.
“Menanyakan alasan suratnya disembunyikan bukan berarti menentang, Mas!” sahut Radinka meninggikan suaranya.
“Karena kamu memanjakannya sejak kecil,” jawab Bram.
Elang menarik napas pelan, kedua tangan yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar. Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.
Saat ia berusia sembilan tahun, ia pernah memenangkan lomba matematika tingkat daerah. Ibunya membelikan kue kecil untuk merayakannya, namun Bram menyebut kemenangan itu hanya kebetulan saat melihat piala putranya di meja.
Ketika ia mendapat beasiswa penuh saat sekolah menengah, formulir persetujuan orang tua menghilang sebelum sempat dikumpulkan.
Saat ia memperoleh kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa, Bram mengaku sakit agar Elang membatalkan keberangkatan. Selalu ada alasan saat ia menginginkan sesuatu, selalu ada halangan saat ia ingin meraih apa yang ia impikan, dan pembuat halangan itu adalah ayahnya sendiri.
“Kenapa?” tanya Elang.
Bram mengernyit. “Apa?”
“Kenapa Ayah selalu melakukan ini?"
“Aku tidak melakukan apa pun.”
Elang tertawa sumbang, jari tangannya menunjuk wajahnya sendiri. “Setiap kali aku mendapatkan kesempatan, Ayah selalu menghentikannya.”
“Karena aku tahu kemampuanmu,” jawab Bram.
“Ayah bahkan tidak pernah mencoba mengenalku.”
“Aku membesarkanmu!” Suara Bram menggema hingga ke teras rumah.
Radinka tersentak, tetapi Elang tidak bergerak dari tempatnya. Kepalan tangannya mengerat, netranya terkunci pada wajah pria yang berdiri di hadapannya.
“Justru karena Ayah membesarkanku, seharusnya Ayah ingin melihatku berhasil. Tapi kenapa Ayah selalu seperti ini?!”
"Apa lagi yang harus aku lakukan agar Ayah mau melihatku sekali saja?! Apa pun yang kulakukan selalu kurang di mata Ayah. Kenapa?!"
Hening. Untuk sesaat, tak seorang pun bicara. Elang kembali diam, berusaha mengatur napasnya yang sudah tidak teratur.
Rahang Bram mengeras tanpa suara. Bibirnya terbuka, nyaris mengatakan kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan, namun ia menelan kembali kata itu.
“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi, itu alasanku,” ucap Bram.
Elang melipat surat di tangannya. “Aku tidak meminta izin.”
Plak!
Suara tamparan keras menggema memutus perdebatan dalam sekejap saat tangan Bram melayang cepat ke pipi Elang.
“Mas!” Radinka menjerit panik, segera memposisikan tubuhnya di depan putranya. "Apa yang kamu lakukan?!"
Elang tersenyum getir, tangannya terangkat naik untuk menyeka darah di sudut bibirnya.
Radinka berbalik menghadap sang putra, tangannya terulur cepat menyentuh pipi sang putra. "Kamu berdarah, Sayang."
“Selama kau tinggal di rumahku, ikuti peraturanku. Atau pergi dari rumah ini.” ucap Bram sambil menunjuk pintu.
“Baik,” sahut Elang nyaris tanpa jeda.
Jawaban itu justru membuat Bram kehilangan kata-kata. Elang berjalan masuk ke kamar, kemudian kembali keluar setelah lima belas menit dengan ransel hitam di bahunya, menambah kepanikan yang sudah ibunya rasakan.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke tempat Raka untuk sementara,” jawab Elang lembut kepada ibunya.
“Jangan pergi dalam keadaan marah.”
“Aku tidak marah, Ibu.” sahut Elang tersenyum lembut
Ketenangan yang putranya perlihatkan justru membuat mata Radinka berkaca-kaca.
Elang menggenggam tangan wanita itu. “Aku hanya tidak bisa terus tinggal di sini dan membiarkan semua kesempatanku diambil.”
“Ibu akan bicara lagi dengan ayahmu.”
“Ini bukan pertama kalinya, Ibu.”
Radinka menunduk diam. Apa yang putranya katakan memang benar adanya. Selama bertahun-tahun, ia berpikir Bram hanya keras dan memiliki cara berbeda dalam menunjukkan kasih sayang pada putra mereka. Namun, menyembunyikan surat penerimaan pekerjaan bukanlah bentuk kasih sayang. Itu penghancuran masa depan yang disengaja.
“Jangan lupa makan,” ucap Radinka lirih.
Elang tersenyum tipis. “Ibu juga.”
Ia memeluk ibunya, lalu menatap sang ayah sekali lagi. Pria itu masih berdiri kaku di dekat meja dengan segala ego yang dia miliki.
“Aku akan menghubungi perusahaan itu,” kata Elang. “Mungkin kontraknya masih bisa diselamatkan.”
Bram mencibir. “Mereka tidak akan menerimamu setelah kau mengabaikan panggilan.”
“Itu akan menjadi urusanku,” sahut Elang.
“Kau pikir hidup akan selalu memberimu kesempatan kedua?”
Elang membuka pintu. “Setidaknya hidup memberiku kesempatan untuk berhenti mendengarkan Ayah.”
Bram berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Napasnya terdengar berat, kedua tangannya terkepal dengan pandangan tak lepas dari pintu yang baru saja menutup.
Radinka menatap suaminya dengan kecewa. “Apa sebenarnya yang membuatmu begitu keras pada putra kita?”
Bram menoleh cepat. “Karena dia—”
Radinka mengernyit, menatap lekat suaminya yang tiba-tiba memutus kalimat yang akan diucapkan. “Karena dia apa?”
Bram meraih cangkirnya, menyesap isinya perlahan untuk menutupi tangannya yang sedikit gemetar. “Bukan anak kecil lagi. Dia harus tahu hidup tidak semudah yang dia pikirkan. Sudahlah, dia tidak akan bertahan lama, dia akan segera kembali pulang dalam waktu dekat."
Radinka tidak memberikan tanggapan, tetapi entah mengapa ia merasa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah surat.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????