Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tengah mereka (9)
Seminggu setelah kedatangan Talia, suasana kepanitiaan Festival Seni kembali sibuk.
Hitungan mundur menuju acara tinggal satu bulan lagi. Ruang OSIS hampir selalu dipenuhi tumpukan proposal, daftar penampil, dan jadwal gladi bersih yang terus berubah.
"Teman-teman, kita rapat lima menit lagi." Suara Arga memenuhi ruangan.
Seperti biasa, Naya sudah duduk di kursinya dengan laptop terbuka. Tangannya sibuk merapikan hasil revisi proposal sponsor yang semalam baru selesai ia kerjakan.
"Ini proposal yang kemarin, Kak." Naya menyerahkan map berwarna biru kepada Arga.nArga menerimanya tanpa melihat isi map itu terlebih dahulu.
"Makasih, Nay."
"Sekalian nanti kita cek bareng setelah rapat."
"Oke." Percakapan mereka begitu singkat, tetapi sudah menjadi kebiasaan.
Melihat itu, Steven hanya tersenyum kecil.
Ia sadar, hampir semua pekerjaan Arga kini selalu melibatkan Naya. Bukan karena Arga tidak bisa mengerjakan sendiri. Melainkan karena Arga sudah terbiasa mempercayainya.
"Permisi." Sebuah suara perempuan terdengar dari arah pintu. Semua kepala menoleh.
Talia berdiri sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Bu Rina nyuruh aku bantu bagian sponsor."
"Masuk aja." jawab Arga. Talia melangkah masuk dengan senyum yang sama seperti beberapa hari lalu. Pandangannya berkeliling ruangan sebelum akhirnya berhenti pada kursi kosong di sebelah Arga.
"Boleh duduk di sini?" Arga mengangguk.
"Iya."
Naya yang duduk tepat di samping kursi itu tanpa sadar memejamkan mata sejenak.
Biasanya...
Kursi itu memang kosong. Kalau Arga membutuhkan sesuatu, ia tinggal menoleh ke arah Naya.
Hari ini berbeda.
Talia duduk tepat di antara mereka.
Rapat dimulai.
"Untuk sponsor, kita masih kurang tiga perusahaan." Arga membuka pembahasan. Talit ikut melihat proposal yang ada di tangan Arga.
"Coba kirim ke perusahaan ayahku aja." semua langsung menoleh.
"Serius?" tanya steven.
"Iya."
"Nanti aku coba bantu."
"Wah, makasih banget." Suasana rapat kembali hidup. Talia memang mudah bergaul. Ia cepat mencairkan suasana.
Beberapa kali ia melontarkan candaan yang membuat seluruh ruangan tertawa. Termasuk Arga. Naya ikut tersenyum. Namun tangannya tetap sibuk mengetik.
Sesekali ia mengangkat kepala ketika harus mencatat keputusan rapat. Di sela pembahasan, Arga berkata,
"Nay, yang tadi dicatat ya." Belum sempat Naya menjawab, Talia lebih dulu menyela.
"Tenang aja, Ar, Naya kan sekretaris pasti udah dicatat." Arga hanya mengangguk.
"Iya juga." Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi entah mengapa...
Naya merasa dirinya seperti tidak benar-benar dibutuhkan untuk pertama kalinya.
Rapat selesai menjelang sore.
"Nay." Arga memanggilnya.
"Tolong temenin aku cek proposal sponsor, ya."
Belum sempat Naya menjawab, Talia berdiri lebih dulu.
"Aku ikut, ya."
"Kan aku juga ngerti sponsor." Arga berpikir sejenak.
"Boleh."
"Lebih cepat kalau bertiga."
Mereka bertiga kemudian menuju perpustakaan, tempat yang lebih tenang untuk memeriksa proposal.
Selama perjalanan, Talia dan Arga beberapa kali membahas pengalaman mereka saat masih menjadi pengurus OSIS tahun lalu.
"Ingat nggak waktu listrik aula mati?" Talia tertawa.
"Terus kamu panik."
"Aku nggak panik."
"Bohong."
"Kamu aja yang panikan."
Naya berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Ia tidak ikut tertawa. Bukan karena tidak ingin.
Melainkan karena ia memang tidak mengerti cerita itu. Itu adalah kenangan yang tidak pernah menjadi bagian darinya.
Sesampainya di perpustakaan, mereka mulai memeriksa proposal. Naya duduk di sisi kanan. Arga di tengah.
Talia di sebelah kiri.
"Yang ini bahasanya kurang formal." kata Naya sambil menunjuk salah satu halaman. Arga langsung mengangguk.
"Iya."
"Revisi aja." Talia ikut membaca.
"Kalau menurutku logonya juga kebesaran."
"Iya." jawab Arga.
"Setuju." Untuk pertama kalinya, Naya menyadari sesuatu. Selama ini...
Ia selalu menjadi satu-satunya orang yang dimintai pendapat Arga. Sekarang...
Ada orang lain.
Dan orang itu pernah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidup Arga.
Menjelang magrib, pekerjaan mereka selesai.
"Capek juga." talia meregangkan tangan.
"Lama nggak ikut rapat beginian." Arga tertawa kecil.
"Makanya jangan pensiun cepat." Talia ikut tertawa. Naya hanya merapikan berkas-berkas di depannya.
Saat hendak memasukkan laptop ke dalam tas, sebuah pulpen jatuh ke lantai. Belum sempat ia mengambilnya, Arga lebih dulu membungkuk.
"Nih." Arga menyerahkan pulpen itu.
"Makasih." Belum selesai Naya berbicara, talia tersenyum kecil.
"Kamu masih sama ya, Ar."
"Apa?"
"Masih suka ngambilin barang orang." Arga hanya tertawa pelan.
"Kebiasaan." Talia mengangguk.
"Iya."
"Dulu waktu kita masih pacaran juga gitu." Kalimat itu membuat ruangan seketika terasa sunyi. Arga terdiam. Naya menggenggam pulpennya sedikit lebih erat. Talia sendiri tampak baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Eh..."
"Maksudku..." Ia tersenyum canggung.
"Ya... kebiasaan aja." Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan itu. Mereka bertiga keluar dari perpustakaan dalam diam. Dalam perjalanan pulang, Tasya menghampiri Naya.
"Kamu nggak apa-apa?" Naya menoleh.
"Hah?"
"Dari tadi diem."
"Nggak."
"Capek aja." Tasya tidak langsung percaya. Ia mengenal Naya terlalu lama.
Ia tahu, setiap kali sahabatnya berkata "nggak apa-apa", biasanya justru ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
Di sisi lain halaman sekolah, Steven berjalan bersama Arga.
"Ga."
"Hm?"
"Talia kelihatannya masih nyaman sama kamu." Arga menghela napas.
"Dia cuma bantu panitia."
"Semoga cuma itu." Arga mengernyit.
"Maksudmu?" Steven hanya tersenyum tipis. Ia melirik sekilas ke arah Naya yang sedang berdiri sendirian menunggu angkot. Lalu kembali menatap Arga.
"Kadang..."
"Yang bikin rumit bukan masa lalu."
"Tapi orang yang belum selesai dengannya." Arga tidak menjawab. Ia hanya mengikuti arah pandangan Steven.
Tatapannya jatuh pada sosok Naya yang berdiri sendiri di bawah langit sore. Dan untuk pertama kalinya...
Ia merasa ingin menghampirinya. Namun sebelum sempat melangkah, angkot yang ditunggu Naya sudah lebih dulu datang. Pintu tertutup. Kendaraan itu perlahan menjauh.
Arga hanya bisa melihatnya pergi, tanpa benar-benar mengerti mengapa dadanya terasa sedikit kosong.
......................
Soon to bee