NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Dimana Ayah Kalian

"Wah..., besar sekali gedungnya. Apa benar mami bekerja di perusahaan ini?"

Sepulang dari sekolah si kembar menyusuri trotoar. Banyak didapati gedung-gedung menjulang tinggi. Ibunya pernah bilang sekolah barunya tidak jauh dari tempatnya bekerja, dan karena jarak antara rumah dengan sekolah lumayan jauh mereka memutuskan untuk mencari ibunya di tempat kerja, padahal Ayuna sebelumnya mewanti wanti agar tidak keluar sekolah sebelum ia menjemputnya.

"Kita tidak tahu di mana mami bekerja. Mungkin lebih baik kita tanya tanya saja pada penjaganya, siapa tahu saja mami beneran kerja di kantor ini."

Cukup lama menunggu ibunya di gerbang sekolah membuat mereka bosan, apalagi kondisi sekolah juga sudah sepi, tidak satupun yang bisa membantunya untuk mengurus.

Kenzo mengajak kembarannya menuju lobi di salah satu gedung. Dia berpikir apa salahnya mencari keberadaan ibunya, tanpa harus menunggunya menjemput.

"Hei, anak siapa ini main di kantor."

Salah seorang karyawan melotot tak suka dengan kehadirannya, dan karyawan lain juga ikut-ikutan memberikan teguran pada mereka.

"Hei bocah! Ini bukan tempat bermain. Ayo sana pergi jauh-jauh!"

Dengan kasarnya salah satu karyawan mendekat dan mendorong si kembar. Bocah berusia lima tahun itu otomatis tersungkur karena tak memiliki kekuatan lebih.

"Mami...!" Kenzie langsung menjerit memanggil ibunya. Sedangkan Kenzo berusaha bangkit untuk menolongnya.

"Ayo bangun Zie! Kau itu cowok! Jangan cengeng!"

"Tapi dia jahat bang! Memangnya kita punya salah apa? Kita datang ke sini buat nyariin mami. Kenapa kita diperlakukan seperti ini. Hiks... hiks... hiks...

Pria itu dengan sinisnya kembali menegur. "Hei anak kecil! Kalau mau main di luar sana, jangan masuk kantor seenaknya sendiri. Ini tempatnya orang bekerja, bukan untuk tempat bermain anak-anak. Lagi pula kalian ini cuma bocah yang nggak jelas asal usulnya."

"Tapi terkadang mulut anak kecil jauh lebih sopan dari pada orang dewasa," cibir Kenzo. "Bahkan orang dewasa sepertimu tak punya rasa malu tega menyakiti bocah kecil seperti kami."

"Kau...! Berani sekali  kau melawanku! Kau belum tahu siapa aku!"

Kenzo menaikkan ujung bibirnya. "Aku nggak peduli siapa dirimu! Aku bicara sesuai fakta!"

"Kurang ajar! Mulutmu begitu pedas! Berani melawanku, rasakan ini!"

Pria itu melayangkan tangannya namun terhenti ketika sebuah tangan kekar menangkapnya.

"Apa yang kau lakukan?!"

Suara berat itu membuat semua orang yang  ada di lobi langsung menoleh padanya. Pria yang hendak menampar si kembar juga tak bernyali ketika tahu siapa yang menahan tangannya.

"B—bapak?"

Erlangga menghempaskan tangan pria itu cukup keras dengan mengoloknya. "Apa kau tak punya otak tega menyakiti bocah kecil?!"

"M—maaf pak, tapi mereka sudah membuat kerusuhan di sini. Saya berniat untuk sedikit memberinya pelajaran."

"Kerusuhan apa?! Bisa dijelaskan padaku?"

Kenzie melambaikan tangannya dan berusaha klarifikasi mengenai keberadaannya di kantor itu. "Om..., maaf sebelumnya. Kedatangan kami ke sini bukan untuk membuat kerusuhan. Kami datang ke sini karena ingin mencari mami, bukan untuk membuat keributan."

Erlangga menautkan alisnya. "Mami?"

Dua bocah itu mengangguk. "Iya Om. Mami bilang kerjanya di kantor dekat dengan sekolah kami. Berhubung mami nggak datang buat jemput kami putuskan untuk mencarinya. Kami tidak tahu pasti apakah mami bekerja di sini. Niatnya kami mau bertanya, tapi orang itu langsung mengusir dan mendorong kami."

Erlangga mengalihkan pandangannya ke arah karyawannya. "Apa benar seperti itu?"

"M—maaf pak, kami pikir anak kecil ini berniat untuk buat kerusuhan."

Erlangga menarik nafasnya kasar. Biarpun ia tidak mengenal bocah itu tapi ia yakin  kedua bocah itu tidak bersalah, tapi tindakan karyawannya sudah jelas menunjukkan kesombongannya.

"Kamu tahu nggak, kalau mereka ini masih sangat kecil?"

Pria itu mengangguk dengan menundukkan wajahnya. "Iya pak, saya tahu. Saya minta maaf."

"Jangan minta maaf sama saya! Minta maaf sama mereka," sungut Erlangga. "Kok bisa-bisanya kamu memusuhi bocah sekecil ini. Memangnya di mana moralmu?"

Pria itu tak bergeming. Dia hanya menunduk merutuki kecerobohannya.

"Meskipun peraturan di perusahaan ini cukup ketat, tapi tidak seharusnya kalian melakukan perundungan terhadap orang lain, apalagi dengan bocah yang jelas-jelas bukan sainganmu!"

"M—maaf pak, saya khilaf," cicitnya lirih dengan meremas jemarinya gelisah.

"Sekali lagi kamu ulangi hal memalukan ini, akan saya pastikan kamu bakalan saya pecat! Saya nggak terima karyawan songong seperti ini."

Suasana berubah menjadi hening, hanya Erlangga saja yang berseru.

"Ini pembelajaran juga buat karyawan yang lain. Jangan main-main dengan hukum. Jelas-jelas ini melanggar hukum. Kejadian ini akan berdampak buruk terhadap perusahaan. Bagaimana kalau sampai ada paparazi? Bisa viral saya!"

Sofyan menyipitkan matanya melihat Erlangga yang tengah mengomel di lobi. Niatnya ingin keluar untuk membeli sesuatu di kantin malah mendapati bosnya tengah mengomel. Karena penasaran, ia pun berjalan ke arahnya.

"T—tuan? Ini ada apa ya Tuan? Kok Tuan marah-marah?"

Erlangga menoleh pada Sofyan dengan aura dingin. Wajah Erlangga memang dingin, tapi kali ini terlihat tidak seperti biasanya.

"Dia sudah membuat ulah di sini. Bisa-bisanya dia memperlakukan anak kecil begitu buruk? Apa dia pikir dampaknya tidak buruk terhadap perusahaan?"

Sofyan menautkan alisnya. "A—anak kecil? Maksud Tuan?"

"Mereka!"

Erlangga menunjukkan dua bocah yang masih berdiri  di belakangnya dengan menggunakan seragam TK. Seketika bola mata Sofyan nyaris melompat keluar.

"K—kalian?"

"Om...?"

Sama-sama terkejut. Erlangga memicingkan matanya dan langsung meminta penjelasan dari asistennya.

"Apa kau mengenali mereka?"

Sofyan menyengir kuda. "Iya Tuan, saya pernah bertemu dengan mereka. Belum lama, tapi tadi pagi."

Sofyan masih ingat betul bagaimana dua bocah itu mempermalukannya di depan Ayuna. Ia juga tak menyangka bisa bertemu kembali dengan mereka.

"Oh ya? Jadi kalian sudah saling mengenal?"

"I-iya Tuan, kami sudah saling mengenal. Hanya saja...?"

"Hanya saja...?" Sofyan menggaruk kepalanya dengan cengengesan. Dia malu karena sudah kalah saat berdebat dengan bocah kecil.

"Tidak apa-apa om..., mungkin Om ini malu karena kalah berdebat dengan kami," cicit Kenzie. "Kedatangan kami ke sini hanya ingin bertemu dengan mami. Apakah mami beneran bekerja di sini? Karena sebelumnya mami bilang kerjanya di gedung yang paling tinggi tidak jauh dari sekolah kami."

"Kalau boleh tahu siapa nama mami kalian?" tanya Erlangga.

Dengan cepat Sofyan menyahut. "Mereka ini anaknya nona Ayuna Tuan!"

Refleks Erlangga membelalak, terkejut. "A—pa?"

"Iya Tuan, mereka ini anak-anaknya nona Ayuna. Tadi pagi Tuan meminta saya buat menemui nona Ayuna yang datang ke sekolah TK, dan ini anak-anaknya."

Seketika dada Erlangga memanas. Gemuruh yang menyelimuti hatinya seolah-olah meledak tak terbendung.

"Jadi benar kalian ini anak-anaknya Ayuna?"

Dua bocah itu mengangguk. "Iya, kami anaknya mami Ayuna."

"Bukankah Ayuna bilang dia belum menikah? Tapi dia memiliki dua anak. Kalau benar kalian anaknya Ayuna, lalu di mana Ayah kalian?"

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!