Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan untuk praktek basket
Jarum jam dinding baru saja melewati pukul sembilan malam. Suasana jalan di depan rumah juga sudah mulai lengang dari kendaraan yang berlalu lalang. Ditambah suara nyanyian jangkrik dan hewan malam membuat suasana disekitar pemukiman rumah Yuna terasa sedikit syahdu.
Namun di dalam kamar minimalis itu, suara desis setrika masih terus mengisi ruangan.
Sret...
Dengan gerakan perlahan, telapak setrika meluncur di atas seragam olahraga berwarna putih dengan garis biru dibagian lengan.
Pandangan gadis berambut pendek itu dengan teliti mengusap seluruh bagian baju. Seolah tak ingin ada satu pun lipatan yang menurutnya kurang simetris untuk dipakai.
"Sempurna."
Begitu selesai satu sisi, ia mengangkat pakaian itu. Memiringkan kepala sedikit. Memastikan tak ada kerutan yang tersisa.
"...Sudah."
Gumamnya pelan.
Seragam itu kemudian dilipat rapi. Diletakkan kembali pada lemari yang ada di puncak rak. Seolah tak ingin kerepotan jika ingin mengambilnya esok hari.
"Besok praktek basket ya..."
Kalimat itu meluncur datar. Lebih cenderung ke arah keluhan ketimbang kalkulasi.
"Sepertinya... akan cukup sulit untuk kemampuanku yang sekarang."
Saat ia masih merenungi akan jadwal pelajaran esok hari, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
Yuna refleks menoleh. Pintu itu terbuka perlahan, membawa cahaya lampu yang merambat lurus dari arah ruang keluarga.
Dibaliknya, seorang perempuan dengan kaos putih dan celana tidur muncul. Kacamata dengan frame hitamnya sedikit memantulkan cahaya lampu di langit-langit kamar.
"Loh? Belum tidur, Yun?" tanya Nazwa sedikit terkejut. Karena tak biasanya adik iparnya itu tidur sedikit larut.
"Masih mempersiapkan barang-barang untuk besok, Kak."
"Ohh begitu..."
Nazwa hanya mengangguk percaya. Sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.
Bantal dan selimut yang terlipat rapi. Seragam Pramuka yang dipakai pagi tadi tergantung dengan tak terlalu berantakan. Bahkan buku-buku pengetahuan dan ensiklopedia berdiri rapi memenuhi rak yang ada disamping ranjang.
"Teratur banget sih..." batin Nazwa gemas.
"Oh iya, Kak?" tegur Yuna tiba-tiba.
"Eh? Kenapa?"
"Kakak belum mau tidur?"
"Ehm..."
Nazwa bergumam panjang. Membuat Yuna memiringkan kepalanya sedikit.
"Masih nunggu Mas Yuda," jawabnya akhirnya.
"Tumben belum pulang?"
"Katanya masih ada kerjaan tambahan dia. Maklumin aja deh," pungkas Nazwa.
Kemudian ia menutup pintu perlahan. Karena memang kunjungannya ke kamar Yuna tak lebih dari sekedar basa-basi. Sebuah kebiasaan kecil yang ia perbuat semenjak dirinya telah menjadi kakak ipar Yuna.
Suara langkah kaki Nazwa perlahan menjauh. Yang biasanya, ia akan duduk di ruang tamu, sembari menunggu kakaknya Yuda untuk pulang bekerja.
Yuna pun memutuskan untuk mengemasi buku-buku untuk pelajaran esok. Lalu membuka tas sekolahnya.
Buku Bahasa Inggris.
Ekonomi.
Dan Pendidikan Jasmani.
Pulpen.
Penggaris.
Dompet.
Botol minum.
Kotak bekal.
Semuanya diperiksa satu per satu. Tak ada yang kurang.
Ketika ia hendak menutup resleting tas, tangannya merasakan sebuah benda yang menonjol pada kantong tas depan.
Alisnya mengernyit.
Lalu ia mengeluarkan benda yang mengganjal itu.
"Loh?"
Tangannya mengambil botol itu yang berukuran sekepalan tangannya.
"Kamu kenapa ada di kantong yang sebelah sini?"
Ia terdiam beberapa saat. Seperti sedang mengingat-ingat sebuah kejadian yang membuatnya salah menempatkan botol parfum itu.
Karena biasanya, ia selalu meletakkan semua benda pada tempatnya. Seperti sebuah kebiasaan yang sedikit sulit untuk tak dilakukan.
Akhirnya, ia kembali memasukkannya ke posisi yang tepat—ke dalam kotak pensil kain bersamaan dengan alat-alat tulis lain.
Resleting tas ditutup.
Srrt.
Setrika dimatikan.
Lampu kamar mulai diredupkan.
Sebelum berbaring, matanya sempat melirik jadwal pelajaran yang tertempel di dinding.
Jum'at.
Jam pertama.
Pendidikan Jasmani.
Yuna menghela napas panjang.
"...Olahraga."
Ia berbalik untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
"Semoga besok aku bisa melakukannya."
Harapan itu ia ucapkan sekedarnya.
Tanpa menyadari...
Di sisi lain kota...
Seseorang justru sedang merasa enggan untuk mencuci ulang jaket yang telah Yuna semprotkan parfum begitu banyak.
...****************...
Embun pagi menggantung di pucuk-pucuk rumput yang mengelilingi halaman sekolah. Menyentuh wajah-wajah para penghuni sekolah yang sebelumnya mengantuk, menjadi lebih segar kembali.
Yuna berjalan perlahan melewati koridor menuju gedung kelas. Sembari menenteng tas yang sedikit lebih berat hari ini. Karena terdapat tambahan seragam rompi dan kemeja khas sekolah, yang akan ia kenakan pasca olahraga di jam pertama dan kedua.
Namun—
Langkahnya terhenti.
Tatapannya beralih ke sisi kanan halaman sekolah yang sedikit lembab oleh sisa hujan semalam.
Di sana terbentang sebuah lapangan serbaguna. Dua buah gawang futsal berdiri saling berhadapan. Sementara tepat di belakang masing-masing gawang, berdiri sebuah tiang basket yang menjulang tinggi. Hampir setara dengan tinggi tiang bendera di sisi lain halaman.
Yuna berbelok. Sepatu olahraganya yang berwarna putih bersih sesekali melompati genangan air yang cukup menjengkelkan.
Setelah sampai, jemarinya menyentuh pagar pembatas dari besi yang membentang mengelilingi arena.
Dingin. Masih menyisakan hawa dan hujan semalam. Setitik air menetes dari ruas jarinya, lalu mengalir ke pergelangan tangannya.
Yuna berkedip sekali. Kemudian pandangannya menyapu seluruh lapangan.
Dari garis tengah.
Menuju lingkaran kick-off.
Ke arah garis penalti.
Hingga akhirnya berhenti pada ring basket yang menggantung kokoh di udara.
Ia pun memutuskan untuk membuka pintu besi pembatas antara lapangan dengan gedung sekolah. Lalu berdiri di tengah-tengah lapangan.
Ia mengacungkan jempolnya ke arah ring sembari menutup sebelah matanya. Lalu mendongak.
Ring itu tampak begitu tinggi.
Ia mencoba mengangkat kedua tangannya lurus ke atas. Lalu menurunkan tangannya lagi. Kemudian merentangkan kedua lengannya selebar mungkin.
"Kalau satu depa..."
Tatapannya berpindah dari tanah menuju ring.
"...ditumpuk dua kali pun masih belum sampai."
Ia menghembuskan napas kasar. Seolah kalkulasinya tidak cukup memberi kemudahan untuk ujian prakteknya nanti.
Kemudian kepalanya menunduk untuk memetakan jarak berdasarkan garis pinalti.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
Ia melangkahkan kakinya dengan jarak per-langkah yang ia usahakan tetap konsisten. Sembari mulutnya bergumam pelan—mencoba menghitung jarak khayal berdasarkan perkiraannya.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti tepat di garis lemparan bebas. Lalu menoleh ke belakang.
"Kalau langkahku sepanjang ini..."
"...berarti jaraknya lumayan jauh juga."
Saat itu pula, angin pagi berembus pelan. Beberapa helai rambut pendeknya bergerak ke arah kiri.
Yuna menoleh mengikuti arah dedaunan di pinggir lapangan.
"Arah angin pun akan turut mempengaruhi lemparanku nantinya..."
Meski tidak terlalu kencang, namun ia kembali memandangi ring basket. Dan mengembuskan napas panjang.
"Huhh..."
"Benar-benar mustahil untuk memperkirakan semuanya," gumamnya pelan.
Ia pun mencoba untuk menghitung ulang sembari menyusun ulang akan strateginya.
"Sembilan..."
"Sepuluh..."
Ia berhenti tepat di dekat garis penalti lagi. Tatapannya kembali berpindah dari ujung sepatu menuju gawang futsal.
"Kalau di posisi ini..."
Yuna menggembungkan pipinya kesal. Kemudian hendak melangkah lagi.
Kali ini, ia mencoba mengkalkulasikan jikalau arah lemparan berasal dari sisi kanan lapangan.
Namun baru saja ia hendak melangkah lagi, terdengar suara langkah kaki yang berlari cepat dari belakang.
Refleks.
Yuna langsung menoleh.
Tubuhnya bahkan sedikit bergeser ke samping. Kebiasaan yang mulai terbentuk setelah beberapa minggu terakhir memasuki SMA Negeri ini.
Namun...
Tetap saja terlambat.
"YUNAAAA!!"
Bruk!
Melody langsung memeluk punggungnya.
Saking semangatnya, kedua kaki Melody sampai sedikit terangkat dari tanah. Membuat tubuh Yuna ikut terdorong ke depan.
"Hup!"
Untung saja ia masih sempat menapakkan kaki lebih lebar sehingga tidak benar-benar jatuh.
"Awh..."
"Energimu selalu penuh tiap pagi..." keluh Yuna sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
Melody hanya terkikik puas.
"Hehehe..."
"Kamu ngapain jalan-jalan di sini? Mau pemanasan ya?"
Yuna refleks terdiam. Matanya melirik sekilas ke arah langkah-langkah kaki yang tadi sempat ia hitung.
Kalau aku bilang sedang mengukur lapangan. Sepertinya terdengar cukup aneh.
"Eee..."
"Begitulah," jawabnya akhirnya.
Sedetik kemudian, Melody turun dari punggung Yuna. Lalu ikut mendongak ke arah ring basket yang berdiri menjulang. Sinar matahari pagi membuatnya menyipitkan mata. Punggung tangannya ia angkat untuk menutupi silau.
"Wah! Tinggi banget..." gumamnya kagum.
Yuna ikut mendongak.
Lalu bertanya pelan.
"...Apa kamu tidak grogi?"
Melody menoleh.
"Hah? Grogi?"
Yuna mengangguk singkat. Dan Melody malah tertawa kecil.
"Buat apa grogi?"
Ia berbalik meninggalkan lapangan. Langkahnya ringan seperti biasa.
"Lagian..."
"Aku memang nggak terlalu suka olahraga."
Yuna berjalan menyusul di sampingnya.
"...Tidak suka?"
"Yep!"
"Aku lebih suka hal-hal yang berbau seni."
"Musik lah."
"Nyanyi lah."
"Dan sejenisnya."
Melody tersenyum lebar. Lalu menunjuk dirinya sendiri dengan jempolnya.
"Persis kayak namaku."
"Melody."
Yuna terdiam beberapa saat.
"...Lalu bagaimana jika nanti nilaimu kurang baik?"
Melody mengangkat kedua bahunya santai.
"Yaudah. Paling aku minta Pak Firman memaklumi muridnya yang cantik ini hehe."
Yuna menatapnya beberapa detik.
"...Memaklumi?"
"Yaa soalnya kan emang aku nggak jago olahraga," ucapnya seakan memaklumi akan kelemahannya.
"Kan nggak mungkin juga semua orang bisa semuanya."
Melody mengucapkannya sambil tetap tersenyum. Seolah itu adalah sesuatu yang sangat biasa.
Yuna mempercepat langkahnya sedikit agar sejajar dengannya. Mencoba mengerti maksud sebenarnya perkataan gadis berambut panjang itu.
"And by the way. Aku baru pertama kali loh main-main dilapangan," bisiknya hati-hati. Seolah itu adalah sebuah aib yang sedikit memalukan.
Namun...
Yuna justru melambat. Tatapannya jatuh pada ujung sepatunya sendiri.
"Jadi..."
"Manusia boleh memiliki kelemahan?"
"Tidak harus selalu mengejar hasil terbaik?"
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Seperti merasakan sesuatu yang membuat dadanya lebih ringan.
Lalu menoleh sekali lagi ke arah ring basket.
"Baiklah. Sepertinya aku akan sedikit ikut memaklumi."
sebelumnya lebar lapangan