Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kali Ini Pilihan Papa Benar
Ketika sampai di rumah, Raifan sudah menunggu di depan pintu. Seruni tersenyum saat keluar dari mobil, ternyata suaminya sudah benar-benar menunggunya.
"Mas, maaf ya membuat kamu menunggu"
"Hmm" Raifan menggandeng tangan Seruni dan segera membawanya ke mobil lain. "Tidak ada lain kali aku menunggumu seperti ini"
"Iya Mas"
Pandi yang masih berdiri di dekat mobilnya, hanya tersenyum melihat pasangan suami istri ini. "Semoga kalian akan tetap bersama, dan bahagia"
Meski tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya, namun melihat pernikahan Tuannya memang tidak begitu indah dan mudah. Tapi, Pandi seperti melihat ketulusan dan cinta dari keduanya.
Raifan membawanya ke Pantai, hal yang tidak di sangka oleh Seruni. Dia pikir suaminya hanya akan membawanya ke Mal atau pusat perbelanjaan. Tapi ternyata Raifan membawanya ke sebuah Pantai di Kota ini.
Seruni menatap hamparan lautan yang indah, sore hari yang cerah dan sebentar lagi matahari akan kembali ke ufuk barat, keindahan alam yang tidak bisa dilewatkan. Seruni menatap suaminya yang berdiri di sampingnya.
"Mas, kamu membawaku kesini?"
"Ya, bukannya kau suka Pantai? Aku rasa kau belum pernah datang ke Pantai ini"
Seruni diam, menatap ke sekelilingnya, masih cukup ramai orang-orang yang berjalan-jalan di atas pasir. Tatapan Seruni tertuju pada satu tempat, mengingat masa kecilnya yang pernah datang ke tempat ini bersama orang tuanya.
"Kita pergi kesana, Mas. Kamu bisa buat istana pasir?"
Raifan hanya mengikuti saja ketika istrinya menarik tangannya ke sudut lain. Seruni duduk di atas pasir, memegang segenggam pasir di tangannya. Mengingat jika dulu dia pernah membuat istana pasir di tempat ini bersama Ayahnya.
"Dulu saat kecil aku pernah datang kesini, bersama Papa dan Ibu. Dan disini aku membuat istana pasir bersama Papa"
Raifan menatap istrinya dengan kasihan, meski Seruni tersenyum saat menceritakan masa lalunya, tapi wajahnya menunjukan semuanya.
"Ayo kita buat istana pasir disini juga"
Duduk saling berhadapan dan mereka membuat istana pasir dengan sesekali tertawa riang karena beberapa kali istana pasir yang mereka buat rubuh. Namun hal itu yang membuat keduanya tertawa. Entah sadar atau tidak, tapi Raifan juga tertawa begitu lepas saat ini.
"Jangan mengusap wajahmu, tanganmu kotor"
Seruni menatap tangannya yang sudah terangkat untuk mengusap wajahnya yang gatal. Memang tangannya penuh pasir sekarang, tapi dia tidak tahan dengan rambutnya yang menghalangi dan membuat pipinya gatal, jadi tetap mengusap pipinya dengan tangannya.
"Ck, sekarang pipimu penuh pasir semua"
"Tidak papa, nanti bisa mandi"
Raifan hanya menggeleng pelan, melihat tingkah istrinya yang selalu apa adanya. Tidak pernah sekalipun Seruni menunjukan sosok perempuan yang manja. Selalu yang bisa saja bertingkah membuat Raifan tersenyum lucu.
"Hari ini kita akan menginap disini, besok pagi baru kita pulang"
"Tapi, aku belum bawa baju ganti. Tadi 'kan langsung pergi sama kamu, Mas"
"Semuanya sudah aku persiapkan"
Seruni tersenyum sambil menatap suaminya, Raifan sudah mempersiapkan semua ini hanya untuk membawa Seruni pergi ke Pantai. Hal yang dia ingat tentang Seruni yang menyukai Pantai, ternyata Raifan menyimpan baik-baik ingatan tentang ucapan Seruni waktu itu.
"Aku punya satu permintaan padamu"
Saat ini keduanya sedang duduk di atas pasir sambil menatap ke arah lautan, Raifan duduk di belakang Seruni dengan lutut di tekuk. Membiarkan istrinya duduk di depannya sambil bersandar di dadanya. Pemandangan mereka saat ini adalah matahari tenggelam.
"Apa?"
"Aku tahu jika menjadi model adalah pekerjaanmu, dan kau memang suka dengan pekerjaan ini. Tapi, aku minta untuk tidak bekerja sama dengan Riko lagi. Bisakah? Kau bisa mencari agency lain"
Seruni diam, dia sedikit menoleh pada suaminya itu. Ucapannya barusan seperti memberikannya larangan lagi, namun dengan cara yang lebih baik. Tidak dengan caranya yang biasanya arogan dan sedikit memaksa tak terbantahkan.
"Memangnya kenapa? Mas Riko baik"
"Aku tidak suka!" Raifan mengepalkan erat tangannya di sisi tubuhnya. Menahan diri untuk tidak meluapkan emosi di saat suasana hati keduanya sedang baik sekarang. "Apalagi dengan caramu memanggilnya, seharusnya hanya aku yang kau panggil seperti itu. Karena hanya aku suamimu!"
Sejenak Seruni tidak mengerti dengan ucapan Raifan, tapi perlahan dia mulai paham. Dia tersenyum tipis, menatap tangannya yang mengepal erat. Seruni meraih tangan suaminya dan mengenggamnya lembut. Mengecup pelan punggung tangan suaminya itu.
"Baiklah, aku tidak akan memanggilnya Mas lagi. Karena hanya kamu yang bisa aku panggil, Mas. Tapi, jika untuk berhenti bekerja dengannya, aku tidak bisa. Aku sudah terikat kontrak dengannya"
"Aku bisa membayar dendanya"
"Aku tahu, Mas" Seruni berbalik, menatap suaminya dengan lekat. Wajah Raifan yang masih menunjukan sisi kesal, meski dia berusaha menutupinya. "Tapi ini bukan hanya tentang denda pembatalan kontrak, tapi juga profesional. Aku tahu kamu bisa membayar dendanya, tapi aku akan di cap sebagai model tidak profesional dalam pekerjaan, karena membatalkan kontrak dengan sepihak"
"Tapi Riko itu..."
"Iya Mas, aku tahu jika dia memang seorang laki-laki. Tapi, tidak semua laki-laki harus kamu curigai, aku tetap menjadi istrimu dan tetap seperti itu 'kan?"
Justru dia yang paling aku curigai. Seseorang yang menyimpan dendam padaku.
Raifan menghembuskan napas panjang, mencoba untuk tetap menghargai keputusan Seruni kali ini. Dia benar-benar berusaha keras untuk menurunkan ego dan juga sikap arogannya.
"Kau benar-benar harus hati-hati dengannya ya"
Seruni mengangguk pelan, dia hanya berpikir jika Raifan takut Seruni akan bermain gila dengan Riko di belakangnya. Padahal nyatanya Seruni tidak akan bisa melakukan itu, karena bukan hanya karena perjodohan yang memaksa sampai dia menikah dengan Raifan, tapi juga perasaan yang tidak pernah bisa hilang.
*
Hari dimana Seruni pergi di Pantai saat menghadiri acara pernikahan adiknya. Malam itu, ketika keadaan Seruni sudah lebih baik dan sudah di periksa Dokter, namun masih belum terbangun dari tidurnya. Raifan menghubungi adiknya tengah malam, hanya untuk mengabari keberadaannya dan juga berbicara beberapa hal.
"Kak, coba tahan sikap aroganmu itu. Bersikap lebih lembut pada istrimu. Aku yakin Kak Seruni juga akan bisa menerimamu dan pernikahan ini. Jangan terus mengikuti ego yang tidak ada habisnya. Sesekali ajak istrimu jalan-jalan, ke tempat yang dia suka. Ajak berbicara berdua, tahan sikap aroganmu itu. Aku hanya tidak ingin kau menyesal di akhirnya"
Saat itu Raifan terus kepikiran tentang ucapan Albyan. Merasa jika semuanya memang benar.
"Aku paham Kak, kau hanya takut gagal dan kehilangan lagi. Lalu, nanti Papa akan terus menekanmu dalam segala hal. Tapi, kali ini Papa sudah berubah, aku yakin dia tidak akan menuntutmu sempuran lagi. Namun kali ini, pilihan Papa tentang jodohmu aku rasa memang terbaik"
Raifan tersenyum tipis mendengar ucapan adiknya itu. "Ya, Papa sudah berubah sampai mengizinkanmu menikahi perempuan pilihanmu"
"Kak, memangnya kau yakin jika Mawar yang terbaik untukmu? Aku rasa kenapa Tuhan tetap membuat kalian bertahan dalam pernikahan ini, karena pilihan Papa kali ini memang benar dan terbaik untukmu"
Bersambung
bicarakan kembali tentang itu jika seruni ingin kamu berhenti maka kamu cari orang yg mau membantu mawar, tapi jika seruni mengijinkan maka terbukalah, atau biar seruni yg mengurus itu tanpa kamu , atau apalah yg terbaik, jadi pikirkan matang-matang dulu baru memutuskan tanpa emosi
kalo aku kalau mantan kamu sekarat aja didepan kamu nggak usah sok2 an bantu cari orang lain aja apalagi sembunyi2 membantu hadeh nggak sudi siap2 dia kehilangan anak istri nya jangan pernah ada urusan sama mantan apapun bentuknya
karena ingin tau apa yg akan terjadi dan keputusan seruni untuk mawar 🌹