Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : RAUNGAN BADAI DIPESISIR
Ketenangan malam di Desa Teluk Mutiara pecah secara mendadak tepat pukul dua dini hari.
Suara deru mesin helikopter berspesifikasi militer bergaung nyaring di atas langit pesisir, mengusap pepohonan kelapa dengan angin berkecepatan tinggi yang memotong kesunyian malam. Cahaya lampu tembak (searchlight) berdaya tinggi menyapu garis pantai, membelah kegelapan desa dengan kilatan putih yang menyilaukan.
Di tanah, suara dentuman roda dari belasan mobil SUV serba hitam bersusulan memasuki jalanan tanah desa yang sempit. Sirene dan raungan mesin kendaraan tersebut membuat warga lokal terbangun dalam ketakutan.
Azahra Aletta tersentak bangun dari tempat tidurnya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa panik yang mendadak menyergap. Hawa dingin malam serasa membeku saat ia mendengar gemuruh helikopter yang mendarat kasar di lapangan terbuka di belakang area sekolah.
Azahra menyambar selendang kainnya, melangkah cepat menuju pintu teras rumah panggungnya.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, pintu kayu itu terdorong terbuka dari luar.
Ethan Austin berdiri di sana. Wajah pria itu sangat tegang, mata kelabunya memancarkan kewaspadaan luar biasa. Bahunya yang masih terbalut kain kasa tampak kaku, dan di tangannya ia memegang sebuah lampu senter besar.
"Ethan... ada apa di luar?" tanya Azahra dengan suara bergetar. "Kenapa banyak sekali mobil dan helikopter?"
Ethan tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menyambar bahu kanan Azahra dengan tangannya yang sehat, lalu menatap wanita itu dengan binar mata yang dipenuhi oleh kekhawatiran yang teramat sangat.
"Dia menemukannya, Azahra..." bisik Ethan pelan, suaranya parau oleh keputusasaan yang tertahan. "James tahu kamu masih hidup."
DUM!
Kalimat singkat itu menghantam kesadaran Azahra bagaikan ledakan bom. Seluruh persendian tubuhnya melumpuh seketika. Darah serasa menyurut dari wajahnya, menyisa warna pucat pasi.
"J-James...?" cicit Azahra, rasa trauma dan ketakutan masa lalu yang sempat terkubur kini membumbung kembali seperti gelombang pasang.
"Dengar denganku," ujar Ethan cepat, jemarinya mengencang di bahu Azahra. "Rendy sedang menyiapkan jip di belakang bukit. Kamu harus pergi lewat jalur hutan sekarang juga. Jangan pernah kembali ke desa ini sampai aku menyelesaikannya—"
BUM!
Pintu pagar bambu di bawah rumah panggung Azahra hancur terhantam tendangan kasar. Suara langkah kaki sepatu lars yang berat berderap riuh menaiki tangga kayu.
"Terlambat, Ethan," sebuah suara dingin bergaung menembus kegelapan malam—sebuah suara bariton yang terdistorsi oleh amarah yang membakar jiwa.
Sesosok pria tegap melangkah masuk menembus ambang pintu rumah kayu tersebut.
James Daniel berdiri di sana.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang yang bagian bawahnya basah oleh embun malam. Wajahnya yang biasa tampan dan rapi kini tampak mengerikan: matanya merah pekat berhias garis-garis darah, rahangnya mengeram kaku, dan telapak tangan kanannya terbalut kain kasa yang berlumur noda darah kering. Di belakang James, puluhan tim pengawal pribadi bersetelan serba hitam dan bertopeng taktis berdiri mengepung seluruh sudut rumah panggung kayu tersebut.
Udara di dalam ruangan kayu yang kecil itu seketika terasa pekat oleh aura kematian.
Pandangan mata James menyapu ruangan, hingga akhirnya terkunci rapat pada sosok wanita yang berdiri di belakang tubuh Ethan.
Saat mata James bertaut dengan mata jernih Azahra, napas sang CEO terhenti sejenak. Dada James naik turun tak teratur. Isak parau yang tertahan keluar dari tenggorokannya sewaktu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa wanita yang ia tangisi di atas batu pualam selama tiga tahun... kini berdiri bernapas di hadapannya.
"Azahra..." bisik James, suaranya bergetar hebat di antara keharuan yang menyiksa dan amarah yang meledak. "Kamu... sungguh-sungguh masih hidup..."
Azahra melangkah mundur satu langkah, bersembunyi di balik punggung lebar Ethan. Rasa takut yang begitu mendalam membuat tubuhnya gemetar hebat.
Melihat reaksi Azahra yang berlindung di balik tubuh Ethan, mata James yang berkaca-kaca seketika berubah menjadi lebih gelap dan berbahaya. Pandangan membunuhnya bergeser penuh pada Ethan Austin.
"Dan kau..." desis James, suaranya merendah bagaikan raungan binatang buas. "...kau tahu segalanya, Ethan. Kau menatap mataku di kamar hotel itu, kau mendengarkanku meratap, dan kau berbohong padaku!"
Ethan melangkah satu senti ke depan, memblokir pandangan James dari Azahra sepenuhnya.
"Aku tidak berbohong untuk merusak hidupmu, James," kata Ethan dingin, matanya menatap tajam pada saingannya itu tanpa ada sedikit pun rasa takut. "Aku melakukannya untuk melindunginya! Dari kamu, dari dunia beracun Jakarta, dan dari kegilaan ego kita!"
"MELINDUNGINYA?!" bentak James, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding kayu rumah panggung.
James maju tiga langkah dengan cepat, mencengkeram kerah kaus Ethan dengan tangan kirinya yang bebas, lalu menariknya kasar.
"Kau menyembunyikannya untuk dirimu sendiri!" raung James, matanya merah berapi-api hanya beberapa senti dari wajah Ethan. "Kau menyentuhnya! Kau memanfaatkan kebohongan kematiannya agar kau bisa memilikinya tanpa ada aku di antara kalian! Kau pengkhianat busuk, Ethan!"
"Dia bukan milik siapa-siapa, James!" balas Ethan, suaranya tak kalah menggelegar. Tangan kanan Ethan menyambar pergelangan tangan James, mencoba menghentak cengkeraman tersebut. "Dia berhak atas kebebasannya! Dia berhak hidup sebagai manusia, bukan sebagai objek yang kamu klaim atas nama penyesalan palsumu!"
"Penyesalan palsu?!" James tertawa sumbang—sebuah tawa histeris yang sarat akan rasa sakit yang tak terukur. "Aku mendirikan yayasan atas namanya! Aku menjual sahamku, aku mengurung diriku dalam neraka selama tiga tahun! Sementara kau... kau tertawa di desa ini bersama wanita yang paling aku cintai!"
BAM!
Tanpa peringatan, tinju mentah James melayang keras menghantam rahang kanan Ethan!
Hentakan dahsyat itu membuat tubuh Ethan terdorong ke belakang, menghantam dinding kayu rumah hingga berderik keras. Bibir Ethan pecah seketika, mengalirkan darah segar di sudut mulutnya.
"ETHAN!" jerit Azahra histeris.
Ethan menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan. Rasa sakit di rahangnya beradu dengan nyeri hebat di bahunya yang cedera. Namun, mata kelabunya tidak menyurutkan keberanian. Dengan raungan rendah, Ethan menerjang maju dan melepaskan pukulan balasan tepat ke wajah James!
BUK!
James terhuyung ke belakang, menghantam meja kayu hingga mangkuk dan cangkir seng berhamburan pecah di atas lantai papan.
"CUKUP! BERHENTI!" jerit Azahra, matanya berderai air mata sewaktu melihat dua pria paling berkuasa itu bergumul kasar di atas lantai kayu rumahnya seperti dua binatang yang keras kesurupan.
Namun, amarah yang terkumpul selama tiga tahun telah membutakan akal sehat James. Pria itu bangkit berdiri, menyambar kerah kemeja Ethan, dan menghantamkan tubuh Ethan ke tiang utama rumah panggung.
KRAK!
Tiang kayu tua itu retak. Bahu kiri Ethan yang masih tercedera menghantam sudut keras meja kayu. Ethan meringis kesakitan yang luar biasa, napasnya tersengal-sengal saat daya tahannya mulai menurun akibat cedera lamanya.
James mencengkeram leher kemeja Ethan, mengangkat tubuh saingannya itu sedikit ke udara, lalu berbisik dengan desisan iblis di depan wajah Ethan yang berdarah.
"Kau sudah kalah tiga tahun lalu, Ethan... dan kau akan tetap kalah malam ini," desis James.
James menghempaskan Ethan ke lantai, lalu memberi isyarat pada lima pengawal pribadinya yang berada di ambang pintu.
"Tahan Ethan! Jangan biarkan dia berdiri!" perintah James dingin.
Para pengawal bertubuh tegap itu langsung melompat maju, mengunci kedua lengan Ethan ke belakang lantai kayu. Ethan mencoba memberontak dengan sisa tenaganya, namun cedera parah di bahu kirinya membuat pergerakannya terkunci sepenuhnya.
"Lepaskan aku, James! Jangan sentuh dia!" bentak Ethan sambil meringis menahan sakit saat bahunya dipaksa meliuk.
James membalikkan badannya, melangkah perlahan mendekati Azahra yang kini terpojok di sudut ruangan, gemetar ketakutan menyandarkan punggungnya ke dinding.
James berlutut di hadapan Azahra. Raut wajah iblis yang baru saja menghantam Ethan seketika melunak, berganti dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh keharuan, keputusasaan, dan dorongan obsesi yang begitu dalam.
Tangannya yang berbalut kain kasa terulur, mencoba menyentuh pipi Azahra.
"Azahra..." bisik James dengan suara parau yang pecah oleh tangis. "Maafkan aku... tolong maafkan aku... Aku datang untuk membawamu pulang. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi permainan. Aku akan memberimu seluruh duniaku... asal kau kembali padaku..."
Azahra memalingkan wajahnya kasar, menepis tangan James dengan sisa kekuatan jarinya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Azahra dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Matanya menatap James tidak lagi dengan rasa takut murni, melainkan dengan kekecewaan dan kemarahan yang amat sangat. "Bapak tidak pernah berubah, Pak James! Bapak tetap pria otoriter yang gila kendali!"
James tertegun, tangannya mengudara di tengah hampa.
"Tiga tahun lalu Bapak dan Ethan hampir membunuhku dengan ego kalian!" tangis Azahra pecah, suaranya bergetar menghantam kesunyian malam. "Aku memalsukan kematianku agar aku bisa bernapas! Agar aku bisa bebas dari racun kalian berdua! Dan sekarang... Bapak datang ke sini membawa pasukan, menghancurkan rumahku, dan memukuli orang yang melindungiku?!"
James menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Azahra... Ethan membohongimu! Dia menyembunyikanmu dariku! Dia hanya ingin memilikimu sendiri!"
"Ethan tidak pernah memaksaku!" teriak Azahra menggelegar.
Kata-kata itu membuat James terpaku membeku.
Azahra menatap mata James dengan tatapan lurus yang sarat akan keteguhan. "Ethan datang ke sini sebagai pria biasa. Dia mengotori tangannya, membiarkan tubuhnya berdarah di tebing sungai demi menyelamatkanku dan muridku tanpa pernah memintaku kembali ke Jakarta! Dia mencintaiku tanpa syarat, Pak James... sesuatu yang tidak pernah sanggup Bapak lakukan!"
JRRR...!
Kalimat Azahra menghantam dada James bagaikan sebuah pedang yang menancap tepat di jantungnya.
James membeku di tempatnya. Kata-kata ‘Dia mencintaiku tanpa syarat... sesuatu yang tidak pernah sanggup Bapak lakukan’ bergaung berulang-ulang di dalam kepalanya, memotong seluruh amarah dan egonya hingga hancur menjadi debu yang tak berguna.
James menatap Azahra. Lalu, matanya bergeser menatap Ethan yang sedang ditahan di atas lantai—Ethan yang meski bibirnya berdarah dan bahunya cedera, tetap menatap James dengan pandangan pelindung yang tak tergoyahkan.
Di detik itu juga, sebuah kesadaran yang sangat tragis dan menyiksa menyengat jiwa James Daniel.
Ia telah kalah.
Bukan karena Ethan lebih kaya darinya. Bukan karena Ethan lebih kuat darinya. Tetapi karena Ethan telah belajar cara menurunkan egonya dan mencintai Azahra sebagai manusia... sementara James masih terjebak dalam obsesi untuk memiliki dan mengendalikan.
"Tidak..." bisik James parau, air matanya menetes jatuh ke atas lantai kayu. "Aku mencintaimu, Azahra... Demi Tuhan, aku mencintaimu..."
"Bapak tidak mencintaiku," bisik Azahra pelan, suaranya kini dipenuhi oleh rasa iba yang mendalam pada pria di hadapannya. "Bapak hanya mencintai rasa bersalah Bapak sendiri. Tolong... pergi dari sini, Pak James. Biarkan aku hidup dalam kedamaianku."
Keheningan yang sangat menyiksa menyelimuti ruangan kayu tersebut. Suara hujan gerimis di luar dan deru helikopter di udara seolah meredup, menyisa ketegangan yang membekukan darah.
James berdiri perlahan dari berlututnya. Pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan nyawa manusia itu kini tampak begitu rapuh, hancur, dan kehilangan seluruh arah hidupnya.
Ia menatap Azahra untuk terakhir kalinya—menatap wanita yang hidupnya selamat, tetapi hatinya telah sepenuhnya terikat pada pria lain.
James mengepalkan tangannya yang gemetar, memalingkan wajahnya agar Azahra tidak melihat kejatuhan total dari egonya.
"Lepaskan Ethan," perintah James dingin pada para pengawalnya.
Para pengawal itu seketika melepas kuncian mereka. Ethan terbatuk-batuk di atas lantai, meringis menahan sakit di bahunya, namun matanya tetap tertuju pada Azahra. Azahra langsung berlari menghampiri Ethan, berlutut di sampingnya dan merengkuh bahu pria itu dengan cemas.
"Ethan... kamu tidak apa-apa?" tangis Azahra pelan, mengusap darah di bibir Ethan.
Ethan tersenyum tipis di tengah rasa sakitnya, menggenggam erat tangan Azahra. "Aku tidak apa-apa..."
James menatap pemandangan kedua orang itu dari dekat ambang pintu. Setiap sentuhan Azahra pada Ethan terasa seperti duri yang merobek dadanya hingga berdarah. Namun kali ini, James tidak lagi melangkah maju untuk memisahkan mereka.
James memutar tubuhnya membelakangi mereka berdua, melangkah keluar menembus pintu teras rumah panggung kayu.
"Bagas," panggil James pada kepala intelijennya yang berdiri di luar tangga. Suaranya terdengar sangat kosong dan mati.
"Ya, Pak James?"
"Tarik seluruh pasukan dan helikopter dari desa ini," ujar James tanpa menoleh. "Kita kembali ke Jakarta... sekarang."
"T-tapi Pak... Miss Azahra—"
"Aku bilang tarik semuanya!" bentak James pelan, namun mengandung keputusasaan yang begitu pekat hingga membuat Bagas menundukkan kepalanya dalam-dalam.
James melangkah turun menyusuri tangga kayu, menembus kegelapan malam yang dibasahi gerimis tipis. Di belakangnya, deru helikopter dan konvoi mobil serba hitam perlahan mulai bergerak meninggalkan Desa Teluk Mutiara, membawa pergi sang raja yang akhirnya harus mengakui kekalahannya yang paling tragis.
Dua minggu telah berlalu sejak malam badai itu.
Desa Teluk Mutiara kembali menemukan ritme kedalamannya yang tenang. Suara ombak pesisir dan nyanyian burung di pagi hari telah menggantikan deru helikopter dan sirine ketakutan.
Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah laut selatan, sebuah rumah panggung kayu baru yang lebih kokoh sedang dibangun. Beberapa warga lokal bekerja gotong royong memaku papan-papan dinding, dibantu oleh seorang pria tegap bersetelan kemeja linen sederhana.
Ethan Austin—yang bahunya kini telah pulih setelah mendapat perawatan medis tradisional—sedang mengikat tali struktur atap bersama Pak Basri.
Dari bawah bukit, Azahra Aletta melangkah naik membawa sebuah termos berisi es sirup manis dan beberapa potong kue tradisional. Gaun katun lamanya melambai ditiup angin laut yang segar.
Ethan turun dari tangga kayu sewaktu melihat kedatangan Azahra. Pria itu menyapu keringat di dahinya, mengambil gelas es sirup yang disodorkan Azahra, lalu meminumnya hingga habis.
"Terima kasih, Sayang," ujar Ethan alami.
Azahra tersenyum tipis, pipinya sedikit memerah mendengar panggilan baru itu. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, mengusap bekas debu di kening Ethan.
"Pak Basri bilang rumah di atas bukit ini selesai minggu depan," kata Azahra pelan, memandangi pemandangan laut biru yang terhampar luas dari atas bukit.
"Ya," sahut Ethan, merangkulkan tangan kanannya yang hangat ke sekeliling pinggang Azahra, menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya. "Kita bisa melihat matahari terbit setiap pagi dari teras rumah ini. Dan sekolah desa juga hanya sepuluh menit berjalan kaki dari sini."
Azahra menyandarkan kepalanya ke dada bidang Ethan, meresapi detak jantung pria itu yang berirama tenang dan stabil. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi kebohongan, dan tidak ada lagi permainan perang ego di antara mereka.
"Kamu tidak merindukan Jakartamu, Ethan?" tanya Azahra pelan.
Ethan menatap garis cakrawala laut di hadapan mereka, menyunggingkan sebuah senyuman murni yang sarat akan kedamaian jiwa.
"Duniaku ada di sini, Azahra..." bisik Ethan lembut, mengecup puncak kepala wanita di pelukannya. "...di sampingmu."
Sementara itu, di lantai empat puluh gedung Daniel Corporation di Jakarta.
Tirai kaca raksasa di ruangan CEO membiaskan sinar matahari sore yang redup. Di atas meja kerja kayunya, James Daniel sedang menandatangani sekumpulan berkas hukum bernilai triliunan rupiah.
Di hadapannya, seorang pengacara senior meletakkan dokumen pelimpahan aset.
"Pak James..." ujar pengacara itu ragu. "...apakah Anda yakin ingin mengalihkan lima puluh persen kepemilikan saham pribadi Anda di konsorsium ini secara permanen ke atas nama Aletta Foundation?"
James tidak mendongak. Tangan kanannya dengan tenang membubuhkan tanda tangan di atas lembaran kertas tersebut.
"Lakukan sesuai perintahku," jawab James dingin namun tenang.
"Baik, Pak."
Setelah sang pengacara melangkah keluar dari ruangan, James meletakkan pulpen emasnya. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna putih yang agak kotor oleh sisa lumpur kering.
Itu adalah surat perpisahan sederhana yang ia tulis sendiri malam itu sebelum meninggalkan Desa Teluk Mutiara, yang telah ia kirimkan melalui pos lokal untuk Azahra.
James berdiri, berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menampakkan hiruk-pikuk kota Jakarta di bawah sana. Matanya tidak lagi memancarkan kegilaan atau obsesi murni, melainkan sebuah penerimaan yang matang dan rasa hormat yang mendalam.
Ia menyadahi bahwa cinta tidak pernah tentang cara mengurung atau memenangkan pertaruhan. Cinta adalah tentang keberanian untuk melepaskan saat sadar bahwa kebahagiaan orang yang dicintai tidak lagi ada di tangan kita.
"Hiduplah dengan bahagia, Azahra..." bisik James pelan pada angin sore yang berhembus di luar kaca. "...dan maafkan aku karena baru belajar cara mencintaimu... di saat aku harus melepaskanmu selamanya."
Di balik jendela kaca yang megah itu, James Daniel tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kedewasaan dari seorang raja yang akhirnya menemukan kedamaian jiwanya sendiri di dalam ketulusan untuk mengikhlaskan.