Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam Ratu Sekolah
"Hebat juga ya kamu. Padahal aku ke sini mau nyapa kamu, ternyata ada cewe miskin ini juga."
Suara Valerie menggelegar halus di sepanjang koridor utama SMA Harapan Bangsa. Suasana di sekitar mereka yang semula riuh oleh bisik-bisik mendadak sunyi senyap. Tak ada satu pun murid yang berani berkutik.
Di sekolah ini, semua orang tahu siapa Valerie Wijaya, putri tunggal dari pemilik yayasan terbesar yang menyokong dana SMA Harapan Bangsa. Sosok ratu sekolah yang kejam, elegan, dan tak segan menyingkirkan siapa saja yang mengusik kenyamanannya.
Dengan langkah perlahan, sepatu hak tinggi berlabel desainer terkenal yang dikenakan Valerie mengetuk lantai marmer, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan Emily.
Mata tajam Valerie meneliti Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki, menatap kacamata tebal, rambut yang mulai agak berantakan karena panik, serta seragam Emily yang sederhana. Bibir berpoleskan lipstik merah menyala milik Valerie mengukir senyum merendahkan.
"Ternyata seleramu turun drastis ya, Sean," cibir Valerie, diiringi tawa renyah yang terdengar sangat beracun. "Dua tahun aku di London, dan waktu aku balik, aku nemuin kamu lagi sibuk memungut cewek kelas menengah yang bahkan nggak punya selera fashion."
"Valerie, tutup mulut kamu," pangkas Sean dengan suara berat menakutkan. Cowok itu melangkah maju, memasang tubuh tingginya persis di depan Emily, menyembunyikan gadis itu dari tatapan menghakimi Valerie. "Jangan berani-berani kamu muncul di sini dan bikin kekacauan."
"Kekacauan?" Valerie mengibaskan rambut bergelombangnya dengan anggun. "Oh, Sean... aku baru saja sampai. Kekacauannya bahkan belum dimulai."
Valerie melirik ke arah ponsel Giselle yang masih menampilkan unggahan forum anonim sekolah. Senyum kemenangannya makin melebar.
"Kalian lihat postingan di forum itu, kan?" tanya Valerie pada kerumunan siswa di koridor dengan suara nyaring. "Kalian mikir cewek di balik Sean ini polos? Kasihan sekali kalian semua dibodohi. Cewek ini cuma memanfaatkan kepintarannya buat pamer barang mewah yang nggak akan pernah sanggup dibeli oleh keluarganya sendiri."
"Valerie! Cukup!" bentak Sean, matanya menyala penuh amarah. Cengkeraman tangannya di tali ransel memerah, menahan emosi yang siap meledak.
"Kenapa? Kamu takut rahasia cewek simpananmu ini terbongkar?" Valerie melangkah makin mendekat, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh emosi Sean. Justru, tatapan mata Valerie memancarkan dendam yang mendalam.
Dua tahun lalu, kepindahan Valerie ke Inggris bukan sekadar untuk melanjutkan sekolah, melainkan karena Sean secara sepihak membatalkan pertunangan bisnis keluarga mereka dan memutus hubungan mereka secara menyakitkan.
Bagi seorang Valerie Wijaya, penolakan Sean adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya. Dan kini, ia kembali untuk membalas dendam dengan cara menghancurkan hal paling berharga yang dimiliki Sean, yaitu Emily Valencia.
Emily, yang berdiri di belakang punggung lebar Sean, merasakan seluruh tubuhnya menggigil. Ia bukan cewek yang lemah dalam hal akademis, tapi berada di tengah-tengah perseteruan dua anak manusia dari kasta tertinggi ini membuatnya merasa sangat kecil dan tak berdaya.
Selama ini, ia hanya ingin belajar, meraih peringkat satu, dan membuat orang tuanya bangga. Namun sekarang, reputasi dan harga dirinya yang dibangun dengan kerja keras hancur berantakan dalam hitungan detik.
Emily memberanikan diri melangkah keluar dari balik perlindungan Sean. Meski lututnya gemetar, ia menatap langsung ke mata Valerie dari balik kacamata tebalnya.
"Aku nggak pernah minta barang mewah dari Sean. Dan aku nggak pernah menjual nilai atau membocorkan soal ujian buat siapa pun," tegas Emily dengan suara gemetar namun sarat keteguhan. "Semua prestasi yang aku dapatkan itu murni hasil kerja keras aku sendiri. Kamu nggak berhak memfitnah aku di depan umum seperti ini!"
Koridor mendadak tertahan napas. Belum pernah ada siswa biasa yang berani menjawab ucapan Valerie Wijaya dengan nada sekeras itu.
Valerie tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia maju satu langkah, menundukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan wajah Emily. Aura dominan dan aroma parfum mahalnya mendesak udara di sekitar Emily.
"Kerja keras?" bisik Valerie dengan nada manis yang menusuk. "Di dunia orang-orang seperti kami, kerja keras kamu itu nggak ada harganya, Emily. Kamu cuma serangga kecil yang kebetulan lewat. Kamu pikir kamu bisa bertahan di sekolah ini cuma modal pintar?"
Valerie menepuk-nepuk pelan pundak Emily dengan gaya menyebalkan. "Asal kamu tahu ya, Papaku baru saja membeli saham mayoritas SMA Harapan Bangsa minggu lalu. Satu jepretan jariku, dan beasiswa atau status peringkat satu kamu bisa menghilang dalam semalam. Aku bisa bikin nama kamu tercoreng di seluruh universitas negeri dan swasta di negara ini."
Ancaman itu menghantam Emily bagai godam besar. Napasnya tercekat. Ia tahu Valerie tidak sedang menggertak. Orang-orang kaya berkuasa seperti Valerie punya kekuatan untuk mewujudkan ancaman kejam itu.
"Jangan pernah sentuh masa depan Emily, Valerie!" potong Sean tajam, meraih pergelangan tangan Valerie dan menghempaskannya kasar. "Kalau kamu punya masalah sama aku, selesaikan sama aku! Jangan bawa-bawa Emily!"
"Kenapa nggak kalian berdua aja yang kuhancurin?" tantang Valerie, menatap Sean dengan binar benci yang tertutup senyum elegan.
"Aku mau kamu merasakan gimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling kamu sayangi, Sean. Kamu udah hancurin harga diri aku dua tahun lalu, dan sekarang aku bakal hancurin cewek yang kamu gila-gilai ini sampai dia nggak punya tempat lagi buat berdiri."
Valerie mundur beberapa langkah, merapikan blazer seragamnya yang sangat rapi. Ia menatap ke sekeliling koridor, memberi sinyal penuh kuasa kepada seluruh siswa yang menonton.
"Oh ya, buat kalian semua," suara Valerie menggema tinggi. "Siapa pun yang masih berteman atau membantu Emily Valencia mulai hari ini, dianggap sebagai musuh keluarga Wijaya. Kita lihat seberapa kuat mental sang juara angkatan ini bertahan sendirian."
Setelah mengucapkan kalimat beracun itu, Valerie membalikkan badan. Langkah kaki berhak tingginya kembali terdengar mantap saat ia berjalan menyusuri koridor, meninggalkan suasana canggung dan mencekam di belakangnya.
Teman-teman sekelas Emily, termasuk Giselle, perlahan mundur dan menjauhkan diri, takut terkena imbas dari kemarahan keluarga Wijaya.
Emily berdiri mematung di tengah koridor yang mendadak hampa. Orang-orang yang tadinya menyapanya kini memalingkan muka. Isakan pelan yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos dari bibirnya. Air mata menetes membasahi pipinya di balik lensa kacamata.
"Mil..." Sean berbalik dengan wajah penuh penyesalan. Tangannya terulur ingin menyentuh bahu Emily. "Maafin aku... Aku nggak tahu kalau Valerie bakal seperti ini."
"Jangan sentuh aku, Sean," bisik Emily pelan, suaranya terdengar sangat rapuh namun dingin.
Emily melangkah mundur, menjauh dari jangkauan Sean. Ia menatap cowok di hadapannya itu dengan mata yang basah oleh kekecewaan.
"Semua ini gara-gara kamu," ujar Emily dengan dada naik turun menahan sesak. "Hidup aku yang tenang hancur cuma karena kamu masuk ke dalamnya. Kenapa harus aku, Sean? Kenapa kamu harus tarik aku ke dalam dunia kamu yang mengerikan ini?!"
"Mil, aku bisa jelasin, aku bakal selesaikan semuanya, aku janji-"
"Cukup, Sean. Aku nggak mau dengar apa-apa lagi."
Tanpa memedulikan panggilannya, Emily membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya menuju belakang sekolah, membiarkan air matanya mengalir deras menyapu pipi.
Sean berdiri sendirian di koridor, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sangat besar membakar dadanya. Ia begitu marah pada Valerie, dan terlebih lagi, marah pada dirinya sendiri yang telah menyeret gadis yang dicintainya ke dalam neraka yang diciptakan oleh masa lalunya.
Namun, di sudut teras lantai dua yang sepi, Valerie sedang berdiri menyandarkan pembatas besi, mengamati figur Emily yang berlari sambil menangis. Ia menyesap cangkir kopi mahalnya, lalu mengambil ponsel dari saku blazer-nya dan mengetikkan sebuah pesan singkat.
Bibir Valerie mengukir senyum licik saat menekan tombol kirim.
Pesan terkirim kepada: Mama Emily.
Isi pesan: "Halo Tante Valencia, saya Valerie Wijaya, teman satu angkatan Emily. Bisakah kita bicara sebentar tentang perilaku Emily di sekolah dan skandal tas mewah $50 juta dari Sean? Ada hal penting yang harus Tante ketahui sebelum masa depan Emily benar-benar hancur."
Bersambung......