NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Ting!

​Pintu lift terbuka lebar saat Anton dan Siska tiba di lantai tiga belas Gedung Plaza Mandiri.

​Siska mengusap air matanya dan menatap Anton dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam.

​"Mari masuk ke kantor saya, Pak Anton," ajak Siska dengan senyuman yang mulai mengembang.

​Mereka berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal dan membuka pintu kaca bertuliskan PT Star Technology.

​Suasana di dalam kantor terasa sangat suram dan sepi.

​Beberapa karyawan tampak sedang menunduk sedih sambil mengemasi barang-barang mereka ke dalam kardus.

​"Perhatian semuanya, tolong hentikan apa yang sedang kalian lakukan!" seru Siska dengan suara lantang.

​Para karyawan menghentikan aktivitas mereka dan menatap Siska dengan wajah kebingungan.

​"Perusahaan kita tidak jadi tutup, kita punya penyokong dana baru!" jelas Siska dengan penuh semangat.

​"Pak Anton di sebelah saya ini baru saja melunasi seluruh utang bank kita hari ini juga," tambahnya.

​Brak!

​Pintu utama kantor tiba-tiba didobrak dari luar sebelum para karyawan sempat bersorak gembira.

​Seorang pria berkacamata dengan setelan jas mahal melangkah masuk ke dalam ruangan.

​Di belakang pria itu, di kawal oleh dua orang pengawal berbadan kekar dengan wajah garang.

​"Oh, Siska, Siska," ucap pria berkacamata itu sambil bertepuk tangan pelan dengan nada mengejek.

​"Kamu masih saja berani menyebarkan kebohongan murahan kepada karyawanmu yang malang ini?" tambahnya.

​Wajah Siska mendadak mengeras dan matanya memancarkan amarah yang luar biasa.

​"Untuk apa kamu berani datang lagi ke sini, Bram?!" bentak Siska menahan emosi.

​Anton berdiri dengan tenang di samping Siska sambil mengamati pria bernama Bram tersebut dari atas ke bawah.

​"Aku datang untuk mengambil hakku sebelum perusahaan rongsokan ini disita bank," jawab Bram santai.

​"Sebagai mantan pendiri, aku berhak penuh atas blueprint desain chip semikonduktor di server utama," klaim Bram tanpa rasa malu sedikit pun.

​Siska mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih pucat.

​"Kamu sudah menjual seluruh sahammu dan berkhianat membawa lari klien penting kita!" teriak Siska marah.

​"Desain itu murni hasil kerjaku dan tim yang tersisa, kamu tidak punya hak sepeser pun!" tegas wanita cantik itu.

​Bram hanya tertawa sinis dan mengabaikan kemarahan Siska sepenuhnya.

​"Ambil server utama di ruangan itu dan hancurkan komputernya," perintah Bram kepada dua pengawalnya.

​"Jangan ada yang berani melangkah satu inci pun di ruangan ini," suara bariton Anton tiba-tiba menggema.

​Bram menoleh dan menatap Anton dengan pandangan yang sangat meremehkan.

​"Siapa anak bawang ini?" tanya Bram menunjuk Anton.

​"Apa dia pacar barumu yang datang untuk berlagak jadi pahlawan kesiangan?" ejek Bram memancing tawa pengawalnya.

​"Aku adalah pemilik baru sekaligus pemegang saham mayoritas PT Star Technology," jawab Anton dengan nada tenang.

​"Dan aku melarang siapa pun mengeluarkan barang sehelai rambut pun dari kantor milikku ini," tegas Anton.

​Bram tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya mendengar ucapan Anton.

​"Pemilik baru? Saham mayoritas?" cibir Bram tidak percaya.

​"Perusahaan ini punya utang lima miliar, pemuda kemarin sore sepertimu mana mampu membayarnya!" ejeknya.

​Anton hanya tersenyum tipis dan tidak berniat berdebat panjang lebar dengan pengkhianat ini.

​Dia memfokuskan pikirannya dan memberi perintah dalam hati.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Pandangan mata Anton langsung menembus pakaian dan tas kerja kulit yang dibawa oleh Bram.

​Di dalam tas kerja itu, Anton melihat sebuah dokumen kontrak dengan logo Perusahaan Nexus, saingan asing mereka.

​Bukan hanya itu, Anton juga melihat sebuah flashdisk hitam kecil yang disembunyikan di saku dalam jas Bram.

​"Kamu datang ke sini bukan untuk mengambil hakmu, Bram," ucap Anton sambil melipat tangannya di dada.

​"Kamu datang karena sudah menerima uang muka dari Perusahaan Nexus dari luar negeri, kan?" tembak Anton tepat sasaran.

​Wajah Bram mendadak pucat pasi dan senyum sinisnya menghilang seketika.

​"B-bagaimana kamu bisa tahu nama perusahaan itu?" gugup Bram dengan suara bergetar.

​"Aku juga tahu kamu membawa kontrak jual beli paten ilegal di dalam tasmu itu," lanjut Anton dengan nada dingin.

​"Dan flashdisk di saku dalam jasmu itu berisi virus untuk menghancurkan sisa data di server kami setelah kamu menyalinnya," ungkap Anton membongkar semuanya.

​Siska dan seluruh karyawan terbelalak kaget mendengar fakta mengerikan yang baru saja diungkapkan Anton.

​"Bram! Kamu benar-benar manusia yang sangat licik dan tidak bermoral!" teriak Siska penuh rasa jijik.

​Bram mundur selangkah dengan tubuh sedikit gemetar karena rahasia terbesarnya terbongkar begitu saja.

​Dia tidak mengerti bagaimana pemuda asing ini bisa mengetahui semua rencananya dengan sangat akurat.

​"K-kalian jangan percaya omong kosongnya!" sangkal Bram panik mencoba menutupi rasa takutnya.

​"Bawa server itu sekarang juga, jangan pedulikan mereka!" perintah Bram pada pengawalnya dengan suara keras.

​Kedua pengawal itu langsung maju untuk menerobos paksa masuk ke ruang server.

​Namun, pergerakan mereka terlihat sangat lambat di mata Anton yang masih menggunakan penglihatan tembus pandangnya.

​Bugh!

​Anton melangkah maju dengan cepat dan menendang dada pengawal pertama dengan sangat keras.

​Pengawal itu terpental ke belakang dan menabrak meja kerja dengan punggungnya.

​Brak!

​Suara meja kayu yang patah menggema di ruangan tersebut seiring jatuhnya tubuh pengawal itu.

​Pengawal kedua mencoba memukul wajah Anton dari arah samping.

​Anton hanya menunduk sedikit, menghindari pukulan itu dengan mudah, lalu meninju ulu hati pengawal itu.

​Akh!

​Pengawal kedua itu langsung berlutut sambil memegangi perutnya yang kesakitan parah.

​Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, dua pria berbadan besar itu sudah terkapar tidak berdaya di lantai.

​Anton berjalan perlahan mendekati Bram yang kini menempel di dinding dengan wajah sangat ketakutan.

​"Kamu mau pergi sendiri dari sini, atau mau kulempar dari jendela lantai tiga belas ini?" bisik Anton dengan nada mematikan.

​Bram menelan ludah dengan susah payah sementara keringat dingin bercucuran di dahinya.

​"A-aku akan pergi! Aku pergi sekarang juga!" seru Bram panik tanpa memikirkan harga dirinya lagi.

​Dia berbalik dan berlari keluar dari kantor itu secepat kilat.

​"Bawa teman kalian dan pergi dari perusahaanku," perintah Anton pada kedua pengawal yang masih mengerang.

​Kedua pengawal itu tertatih-tatih berdiri dan segera kabur menyusul bos mereka yang pengecut.

​Keheningan sesaat menyelimuti seluruh ruangan kantor Star Technology.

​Prok! Prok! Prok!

​Tiba-tiba, suara tepuk tangan memecah keheningan yang tegang itu.

​Siska bertepuk tangan dengan air mata yang kembali menggenang di matanya, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan.

​Seluruh karyawan perlahan ikut bertepuk tangan dan bersorak kegirangan melihat bos baru mereka yang luar biasa.

​Anton menoleh ke arah Siska dan tersenyum hangat kepada wanita itu.

​"Nah, Siska, sekarang kita bisa bicara soal masa depan perusahaan kita tanpa ada pengganggu lagi," ucap Anton.

​Siska mengangguk kuat-kuat dengan wajah berseri-seri.

​"Mari ke ruangan saya, Pak Anton," ajak Siska dengan nada yang penuh dengan rasa hormat tertinggi.

​Siska membukakan pintu ruang direktur untuk Anton dengan sangat sopan.

​Di dalam ruangan, Anton langsung duduk di kursi direktur utama yang terbuat dari kulit asli.

​Siska mengambil sebuah dokumen persetujuan pengalihan saham yang sudah disiapkannya dari laci meja.

​"Sesuai janji saya, ini adalah surat peralihan delapan puluh persen saham PT Star Technology atas nama Anda," ucap Siska menyerahkan dokumen itu.

​Anton menerima dokumen tersebut, membacanya sekilas, lalu menandatanganinya dengan pena mahal milik Siska.

​"Aku akan mentransfer dana operasional tambahan sebesar dua miliar rupiah ke rekening perusahaan hari ini juga," kata Anton santai.

​"Gunakan uang itu untuk mematenkan desain chip secepatnya dan merekrut kembali anggota tim terbaikmu," perintahnya tegas.

​Siska menatap Anton dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.

​Rasa kagum, hormat, dan ketertarikan sebagai seorang wanita kini bercampur menjadi satu di dalam hatinya yang paling dalam.

​"Pak Anton, Anda bukan hanya menyelamatkan perusahaan ini, tapi Anda juga menyelamatkan hidup dan harga diri saya," ucap Siska lembut.

​Siska membungkukkan badannya cukup dalam di depan meja Anton.

​"Mulai hari ini, saya dan Star Technology akan mengabdi sepenuhnya kepada Anda," janjinya dengan suara bergetar namun mantap.

​Anton tersenyum puas melihat loyalitas mutlak yang ditunjukkan oleh CEO cantik di depannya ini.

​"Bagus, bersiaplah untuk bekerja jauh lebih keras, Siska," balas Anton.

​"Karena kita akan mengubah perusahaan kecil ini menjadi raksasa teknologi nomor satu di negara ini," tegas Anton mengakhiri pembicaraan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!