Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 7 — Memahami Makna
Udara di pelataran Puncak Pedang Kedua mendadak terasa lebih berat.
Huo Li menunduk, melirik sekilas ke arah gulungan bambu usang di tangannya. Di bagian sampul, terukir kaligrafi kasar yang tampak ditulis langsung menggunakan ujung pedang: Seni Pedang Tiran Pemutus Nadi.
Hanya dari sekadar menyentuhnya, Huo Li bisa merasakan untaian niat membunuh yang pekat merembes perlahan ke pori-pori kulitnya. Teknik ini memancarkan aura haus darah yang sangat kental. Ia hendak bertanya kepada Gubang. Namun Zhang Ming menghancurkan suasana tersbut.
"Guru!"
Suara Zhang Ming tiba-tiba memecah keheningan, menggemakan ketegangan yang sedari tadi tertahan.
Nada bicaranya bergetar, namun amarah dan rasa tidak terima yang meletup-letup tak bisa disembunyikan.
"Teknik itu... bukankah itu manual tingkat2 yang hanya boleh dipelajari oleh murid dalam? Bagaimana mungkin seorang pengemis yang baru masuk bisa menerimanya?!"
Di sebelahnya, Yun Bing, gadis berwajah dingin itu hanya menatap sekilas ke arah gulungan bambu di tangan Huo Li. Ia tidak mengatakan apa pun, namun mata indahnya memancarkan kilat keterkejutan yang samar, bercampur dengan sorot mata... kasihan?
Huo Li yang memiliki panca indra tajam tak melewatkan kilatan emosi ganjil tersebut. 'Mengapa Senior itu melihatku dengan tatapan seperti itu?'
Tetua Gubang menoleh lambat-lambat. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke arah Zhang Ming. Seketika, suhu di pelataran itu anjlok drastis. Tekanan udara mendadak terasa setebal lumpur, mencekik paru-paru siapa saja yang berdiri di sana.
"Sejak kapan... kau, seorang murid, memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang kubuang ke halaman rumahku sendiri?" desis Gubang pelan, namun suaranya menggema seperti guntur di dalam kepala Zhang Ming.
Zhang Ming gemetar hebat. Ambisinya runtuh seketika oleh teror murni. Ia buru-buru menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan keringat dingin membasahi punggungnya.
"Ma-maafkan kelancanganku, Guru."
Gubang mendengus meremehkan, lalu kembali beralih menatap Huo Li. Raut wajahnya yang buas seketika kembali santai, seolah tekanan membunuh barusan hanyalah ilusi semata. "Gua yang ada disana adalah milikmu. Berlatihlah. Satu bulan dari sekarang, aku ingin melihat apakah kau cukup pantas memegang teknik itu, atau kau hanya akan memeluknya tanpa hasil apa pun."
Tanpa menunggu jawaban, Gubang melesat ke udara. Jubah hitamnya berkibar saat ia menghilang ke dalam paviliun utama di puncak bukit.
Huo Li menangkupkan kedua tangannya, membungkuk hormat dengan postur tubuh yang sempurna dan rendah hati ke arah perginya sang tetua. "Terima kasih atas bimbingannya, Guru." ujarnya. Walaupun ia sama sekali tidak menganggap Gubang yang kesannya memiliki motif tersembunyi sebagai guru.
Ketika ia membalikkan badan untuk berjalan menuju guanya, tatapannya bertemu dengan Zhang Ming. Pemuda itu memelototinya dengan rahang terkatup rapat. Matanya seolah meneriakkan ancaman kematian yang tak tertutupi.
Alih-alih membalas dengan tatapan arogan, Huo Li mempertahankan wajah datarnya. Ia bahkan mengangguk tipis dan sopan sebagai bentuk salam kenal, sebelum berjalan santai melewati kedua kakak seperguruan tersebut.
Tidak ada gunanya meladeni anjing yang sedang menyalak di tempat terbuka. Namun, di dalam hatinya, perhitungannya mulai bekerja.
'Tatapan cemburu dan harga diri yang terluka. Orang ini... dia tidak akan menunggu satu bulan...'
.....
Di dalam Gua. Gua batu yang menjadi tempat tinggal barunya cukup luas, bersih, dan sangat kering.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang batu giok yang memancarkan hawa dingin artefak dasar untuk menenangkan pikiran agar kultivator tidak mengalami penyimpangan energi spiritual.
Bagi seseorang yang bertahun-tahun tidur di atas jerami basah bercampur kotoran hewan peliharaan sekte, tempat ini terasa bagaikan kamar raja.
Huo Li mengunci pintu guanya dari dalam. Ia duduk bersila di atas ranjang giok, memejamkan mata, dan membiarkan hawa dingin menstabilkan sirkulasi energinya, sebelum akhirnya mengeluarkan kantong spasial pemberian Gubang.
Di dalamnya, tersimpan lima buah Kristal Spiritual Tingkat1 yang memancarkan cahaya putih kebiruan.
Bagi kultivator di Ranah Pembentukan Fondasi biasa, lima kristal ini cukup untuk berlatih dengan tenang selama sebulan penuh. Namun, energi spiritual biasa hanyalah angin lalu bagi dantian emasnya.
Huo Li mengeluarkan Kantong Keberuntungan dari balik jubahnya. Dengan gerakan hati-hati, ia memasukkan kelima kristal spiritual itu ke dalam kantong emas tersebut.
Wunggg...
Seketika, kantong itu memancarkan pendar hangat.
Hanya butuh waktu kurang dari 10 detik sebelum cahaya itu meredup kembali. Huo Li melongok ke dalam dan tersenyum tipis.
Kelima kristal putih kebiruan itu telah lenyap, digantikan oleh lima buah kristal yang memancarkan cahaya keemasan pekat.
"Rasio pertukarannya sungguh satu banding satu! Benar-benar mengerikan! Seperti namanya... kantong keberuntungan. Kantong ini jelas berada di luar hukum kultivasi dunia ini," gumam Huo Li dengan mata berbinar.
Tanpa membuang waktu, Huo Li mengambil dua buah Kristal Surgawi dan menggenggamnya erat di kedua telapak tangannya. Ia mulai memutar teknik kultivasinya.
Trt... Trt...
Energi emas dari kristal di tangannya mengalir deras memasuki pori-pori kulitnya. Jika energi spiritual biasa mengalir lembut bagai air sungai, Energi Surgawi menerjang masuk layaknya lahar panas yang mengamuk.
Energi agung itu menyapu 9 meridian utamanya yang telah diperlebar secara paksa sebelumnya, lalu bermuara ke dalam lautan emas di dantiannya.
Sebagai kultivator di Ranah Surgawi Bintang 1 Tahap Puncak, lautan energi surgawinya telah mencapai batas maksimal.
Aliran energi murni yang baru ini mendobrak sekat tak kasat mata, memaksa dantiannya untuk berevolusi.
KRAK!
Suara retakan pelan terdengar dari dalam tubuhnya. Lautan energi emas itu mulai menguap dan memurnikan dirinya, bertransformasi menjadi kabut spiritual emas yang sangat tebal dan padat, memenuhi seluruh ruang dantiannya dengan aura yang absolut.
Huo Li membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya memancarkan pendar keemasan sesaat sebelum kembali normal.
"Ranah Surgawi Bintang 2 Tahap Awal," bisiknya puas.
Tenaga fisik, kepadatan energi, dan ketajaman panca indranya melonjak drastis. Di jalur kultivasi umum, ia kini setara dengan Ranah Spiritual Mendalam Tahap Awal.
Hanya dalam waktu kurang dari satu hari, ia telah melompati kemacetan kultivasi yang mengurung 90% murid pelayan seumur hidup!
Setelah energinya stabil, Huo Li menyingkirkan sisa kristalnya dan membuka gulungan bambu Seni Pedang Tiran Pemutus Nadi.
Sambil membaca deretan aksara kuno itu, pikiran cerdik Huo Li dengan cepat menghubungkan titik-titik alasan mengapa Tetua Gubang memberikannya teknik ini.
Teknik ini bukanlah seni pedang yang indah atau elegan; ini adalah metode pembunuhan murni yang bersifat merusak diri sendiri.
Hanya ada tiga jurus utama:
Tebasan Bayangan Berat: Memusatkan seluruh energi ke dalam satu ayunan vertikal murni untuk meremukkan pertahanan fisik lawan.
Langkah Pemutus Nadi: Teknik olah kaki tak terprediksi yang memanfaatkan ledakan energi paksa ke titik buta lawan.
Tiran Penghancur Lautan: Mengunci aura lawan dan mengirimkan gelombang kejut yang merusak meridian musuh dari dalam.
Syarat mutlak penggunaannya: Membutuhkan meridian yang luar biasa lebar dan kokoh, serta kapasitas energi yang masif. Jika dipaksakan oleh kultivator lemah, energi yang dihasilkan akan berbalik merobek 9 meridian utama pengguna itu sendiri hingga hancur lebur.
Itulah mengapa teknik ini harusnya hanya diperuntukkan bagi kultivator elit di Ranah Spiritual Mendalam yang telah memiliki tubuh kuat.
"Tetua Gubang pasti menyadari keanehan tubuhku saat aku menahan tekanan gravitasinya di alun-alun tadi. 365 meridian biasa dan 9 meridian utamaku yang ditempa paksa oleh Lempengan Dewa Surgawi sangat lebar dan sekeras baja..." gumam Huo Li, matanya berkilat paham.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapan aneh Yun Bing tadi siang.
Kres... Kres...
Telinga Huo Li, yang kini telah melampaui batas pendengaran manusia biasa berkat terobosan ranahnya... tiba-tiba menangkap suara gesekan yang teramat halus.
Langkah kaki yang sengaja disamarkan dengan lapisan energi spiritual, bergerak merayap perlahan tepat di luar mulut guanya.
Malam telah larut, dan kegelapan pekat menyelimuti Puncak Pedang Kedua.
Huo Li tidak terkejut. Sebaliknya, senyum tipis perlahan terukir di wajahnya. Rasa perhitungan yang dingin mengambil alih pikirannya. Ia perlahan bangkit dari ranjang giok tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu memungut sebatang pedang besi biasa milik sekte yang tergeletak di sudut gua.
Ia sengaja melangkah menuju tengah ruangan dan membelakangi pintu masuk, membiarkan tubuhnya tampak relaks dan tak berdaya dalam kegelapan.
'Sebelum aku membalas dendam pada bajingan-bajingan di Sekte Pedang Mendalam...' batin Huo Li, auranya mendingin menyamai suhu batu giok di belakangnya.
'Sepertinya masih ada banyak hal yang harus aku lakukan di sekte yang tidak kalah busuk ini.'