NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sketsa Di Balik Pameran Sekolah

Keputusan rapat evaluasi di ruang OSIS pada hari Kamis sore itu benar-benar menjadi titik balik yang kokoh bagi Auren dan Evan. Langkah kaki mereka yang beriringan menuju halte di bawah semburat langit senja seolah mengunci sebuah janji tak tertulis: bahwa badai rumor apa pun yang diembuskan dari bangku depan tidak akan pernah bisa melunturkan warna yang telah mereka gores di atas lembaran buku biru langit itu. Auren pulang dengan hati yang penuh, tidak lagi peduli pada bisikan-bisikan sumbang yang sempat mengular di sepanjang koridor sekolah angkatannya.

Keesokan harinya, hari Jumat yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Sejak bel masuk berbunyi, atmosfer di kelas 7-B sudah berubah total. Tidak ada bangku-bangku yang berbaris rapi seperti hari biasanya. Atas instruksi dari Evan selaku Ketua Kelas, meja-meja di barisan tengah sengaja digeser rapat ke arah dinding kiri dan kanan, menyisakan ruang ubin yang sangat luas di tengah-tengah kelas. Ruangan kelas mereka mendadak disulap menjadi layaknya sebuah bengkel seni yang berantakan namun dipenuhi energi kreatif yang meletup-letup.

Di tengah lantai ubin tua itu, sebuah papan mading berukuran besar berbahan styrofoam tebal dengan bingkai kayu tergeletak pasrah, siap untuk dihias habis-habisan demi kompetisi pameran mading antar-angkatan kelas 7 yang akan dinilai oleh kepala sekolah besok Sabtu.

Potongan kain flanel, tumpukan kertas manila aneka warna, untaian pita, lem tembak yang mulai memanas, hingga guntingan-guntingan kecil berserakan di mana-mana. Semua anak mengambil peran. Selaku pengurus inti kelas, Evan dan Putra membagi tugas dengan sangat sigap. Bahkan Balisya pun hadir di sana. Namun, setelah rahasia notasinya dibongkar di ruang OSIS kemarin, gadis itu memilih untuk menarik diri ke sudut paling tepi dekat loker buku. Di balik jilbab putihnya yang selalu tegak lurus sempurna tanpa cela, ia duduk menyendiri, sibuk mengetik dan memotong kertas artikel keuangan kelas tanpa mau berinteraksi atau menoleh ke arah barisan belakang. Sikapnya dingin dan kaku, namun ia tetap bekerja demi menjaga reputasi perfeksionisnya di mata para guru.

"Ren, tolong potongin kertas lipat warna biru muda ini jadi bentuk awan-awan kecil dong. Biar latar belakang madingnya kelihatan lebih hidup," seru Putra dari seberang papan styrofoam. Wakil Ketua Kelas itu sedang sibuk bertelut di lantai, meratakan lem kayu dengan kuas kecil di tangannya.

"Siap, Put! Sebentar ya," jawab Auren ramah. Gadis itu mengambil posisi duduk bersila di atas lantai ubin yang agak adem, meletakkan selembar kertas manila tebal di atas pangkuannya, lalu mulai menggerakkan guntingnya dengan sangat teliti. Rambut kuncir kudanya sesekali bergoyang kecil seirama dengan gerakan jemarinya yang lincah.

Tak lama setelah Auren mulai memotong, sebuah bayangan tubuh yang tinggi dan tegap perlahan merapat ke arah samping kirinya. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Evan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Auren. Jarak yang mendadak terkikis itu membuat lengan kaos seragam mereka langsung bersentuhan secara konstan. Evan sore itu melepaskan jaket olahraganya, menyisakan kaos putih seragam yang bagian lengannya sengaja digulung hingga ke batas bahu, menampakkan lengan tangannya yang kokoh dan garis atletis anak remaja yang aktif berolahraga.

Sebelum Auren sempat memprotes kedatangannya yang tiba-tiba, Evan mengulurkan tangan kanannya, dengan santai mengambil alih sisa lembaran kertas manila biru dari pangkuan Auren.

Tok... tok...

Evan mengetuk permukaan lantai ubin di dekat lutut Auren sebanyak dua kali dengan buku-buku jemarinya—sebuah gestur ketukan khas yang kini selalu berhasil mengirimkan sinyal kejutan manis langsung ke pusat dada Auren.

"Biar gue yang potong bagian garis besarnya, Sekretaris. Gunting lo kekecilan, nanti jari lo bisa pegal-pegal kalau maksain motong manila tebal begini. Lo bagian ngerapiin lekukan awan yang kecil-kecil aja," ujar Evan santai, suaranya terdengar begitu berat dan dalam, berbaur dengan dengung kipas gantung di atas mereka. Tanpa menunggu jawaban, cowok itu langsung menggerakkan gunting besarnya dengan gerakan yang sangat lihai.

Auren menoleh ke samping, mendapati profil wajah Evan dari jarak yang hanya berkisar beberapa sentimeter saja. Begitu dekat hingga Auren bisa mencium samar-samar wangi detergen bercampur aroma parfum maskulin yang khas dari tubuh Evan. "Kamu emang bisa gunting bentuk awan pameran? Nanti malah bentuknya jadi aneh dan menceng-menceng kayak karikatur Pak Danu yang kemarin, lho."

Evan menghentikan gerakan guntingnya sejenak, lalu menoleh lurus menatap mata Auren. Sepasang matanya yang jernih tampak berbinar jenaka, dan sebuah kekehan renyah lolos dari mulutnya—suara tawa yang selalu berhasil membuat Auren merasa aman di mana pun ia berada. "Wah, meragukan kemampuan seni Ketua Kelas sendiri nih? Oke, tantangan diterima. Lihat aja nanti hasilnya, dijamin awan buatan gue bakal jadi yang paling estetik di papan mading ini."

Auren hanya bisa mendengus kecil menahan senyumnya yang hendak pecah, lalu kembali fokus pada guntingannya sendiri. Mereka berdua akhirnya sibuk bekerja berdampingan di sudut lantai kelas, terbungkus dalam dunia kecil mereka sendiri yang hangat.

Interaksi yang begitu dekat di pojok lantai itu tentu saja tidak luput dari perhatian anak-anak kelas 7-B yang lain. Atmosfer romantis yang memancar dari bangku belakang seolah terlalu kuat untuk diabaikan. Setiap kali Evan mengulurkan tangannya untuk mengambil botol lem tembak dan jemarinya sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Auren selama beberapa detik, beberapa siswi yang sedang menyusun maket mading di seberang mereka langsung saling menyenggol lengan, berbisik heboh, sambil menahan senyum menggoda yang sangat kentara. Namun, Evan bersikap seolah-olah seluruh pasang mata itu tidak ada. Fokus dan atensinya sore itu benar-benar terkunci mutlak hanya pada gadis berkuncir kuda di sebelahnya.

"Ren, kertas manila bagian tengah ini melengkung terus. Tolong pegangin ujung sebelah sini sebentar dong, biar gue bisa ngeratain lemnya," pinta Evan saat mereka mulai beralih menempelkan hiasan utama mading yang berukuran cukup panjang.

Auren menggeser posisi duduknya sedikit lebih merapat ke arah Evan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan ujung kertas manila biru tua itu dengan dua jari tangan kanannya agar posisinya tidak bergeser.

Saat itulah, alih-alih langsung meratakan lem pada kertas, Evan justru menggerakkan tangan kanannya perlahan di atas lantai. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat namun sangat mantap, telapak tangan kanan Evan yang besar dan hangat perlahan turun, menangkup dan mengunci seluruh permukaan tangan kanan Auren yang sedang menekan kertas. Evan menggenggam jemari Auren dengan kelembutan yang pekat di atas permukaan kertas manila tersebut.

Sentuhan kulit yang disengaja, hangat, dan begitu erat itu seketika mengirimkan getaran hebat yang luar biasa dahsyat ke seluruh tubuh Auren. Napas gadis itu mendadak tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat kencang, seolah-olah detak dadanya bisa terdengar menembus riuh rendah kelas yang berisik.

Auren mematung, kepalanya perlahan mendongak, dan pandangannya langsung terkunci oleh sepasang mata jernih milik Evan yang kini sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Sorot mata sang Ketua Kelas tidak lagi memancarkan kejahilan, melainkan dipenuhi oleh kedalaman rasa sayang, ketulusan, dan janji perlindungan yang sangat mutlak.

"Makasih ya, Ren," bisik Evan sangat pelan. Nada suaranya melembut pekat, tenggelam di antara bisingnya suara anak-anak lain yang sedang sibuk memotong kain flanel di ujung kelas. "Gak cuma buat bantuan megangin kertas ini aja. Tapi makasih karena lo selalu milih buat tetap ada di tiap lembar halaman cerita gue di kelas ini, gak peduli seberapa berisiknya orang-orang di luar sana."

Di sudut dekat loker buku, gerakan tangan Balisya yang sedang memotong kertas artikel seketika membeku di udara. Dari jarak beberapa meter di sudut ruangan, ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana telapak tangan Evan menggenggam begitu erat dan hangat tangan Auren di tengah keramaian kelas yang terbuka. Jilbab putihnya yang tegak tanpa cela seolah menjadi saksi bisu betapa seluruh pertahanan hati dan ego perfeksionisnya runtuh berantakan saat itu juga. Rasa cemburu yang luar biasa membakar dan rasa perih yang amat pekat kembali menghujam dadanya, menyadarkan Balisya pada satu kenyataan yang pahit: sekeras apa pun ia mencoba menarik perhatian kelas atau menjatuhkan nama Auren lewat rumor, posisi Auren di dalam hidup dan hati Evan sudah menjadi sebuah sketsa abadi yang tidak akan pernah bisa digeser atau dirusak oleh siapa pun. Balisya langsung mencengkeram kain lap di mejanya, memalingkan wajahnya lurus-lurus ke arah luar jendela luar, mencoba menahan sesak dan genangan air mata cemburu sendirian di sudut yang sepi.

Sementara di tengah-tengah lantai kelas, Putra yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik kedua sahabatnya dari balik papan styrofoam akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia berdehem dengan sangat keras, sengaja memutus momen romantis yang sedang berlangsung di pojok lantai tersebut.

"Uhuk! Uhuk! Aduh, tolong ya Bapak Ketua Kelas dan Ibu Sekretaris kesayangan kita semua," goda Putra dengan suara lantang yang sengaja ditinggikan, memancing perhatian seluruh anak di ruangan kelas. "Itu lem tembaknya tolong fokus dipakai buat nempel kain flanel mading aja ya, jangan malah sengaja dipakai buat nempelin telapak tangan berduaan terus dari tadi. Lantai kelas 7-B ini udah penuh dan sesak banget sama getaran romantis kalian berdua nih, kasihan anak-anak yang jomblo pada gak bisa napas!"

Goda yang dilemparkan oleh Putra seketika laksana pemantik api yang membakar sumbu tawa. Seluruh anak kelas 7-B yang ada di dalam ruangan langsung bersorak-sorai riuh, bertepuk tangan, dan melayangkan siulan-siulan menggoda ke arah pojok belakang kelas. Ruangan kelas yang tadinya sibuk bekerja mendadak pecah oleh tawa masal yang menggila.

Auren yang wajahnya sudah memerah sempurna seperti kepiting rebus langsung menarik tangannya dari genggaman Evan dengan gerakan canggung yang sangat salah tingkah. Ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk merapikan kotak lem dan guntingan kain flanel di lantai demi menyembunyikan wajahnya yang terasa terbakar hebat oleh rasa malu bercampur debaran manis yang kian membuncah penuh di dalam dadanya.

Namun, berbeda dengan Auren, Evan justru sama sekali tidak menunjukkan raut wajah malu atau canggung. Cowok itu justru tertawa lepas dengan sangat tampan, suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan kelas. Ia memungut sebuah penghapus karet sisa, lalu melemparkannya dengan santai ke arah Putra yang langsung ditangkap sambil terbahak-bahak oleh Wakil Ketua Kelas itu.

Evan kemudian kembali memutar tubuhnya, mencondongkan sedikit kepalanya ke arah Auren yang masih menunduk malu. Di bawah tumpukan sisa potongan kertas manila yang berserakan di antara mereka, tangan kiri Evan bergerak perlahan di atas lantai ubin, lalu dengan sangat lembut menggunakan ujung jari telunjuknya, ia kembali mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali—gestur ketukan rahasia khas milik mereka, yang seolah menegaskan bahwa di tengah riuhnya sorak-sorai kelas sore itu, fokus utamanya akan selalu kembali pada gadis di sebelahnya.

Di bawah riuh rendah tawa anak-anak kelas 7-B dan di balik punggung kaku Balisya yang cemburu di sudut loker depan, Auren perlahan mengangkat wajahnya. Sebuah senyuman manis yang paling tulus akhirnya ikut terkembang sempurna di bibirnya, membalas tatapan hangat dari Evan. Di masa remaja yang penuh dengan potongan kertas manila, lem, dan warna-warni kreasi ini, persiapan pameran sekolah tidak lagi terasa sebagai sebuah beban tugas yang melelahkan. Sambil meraba permukaan buku sketsa biru langit yang tersimpan aman di dalam tas ranselnya, Auren tahu bahwa esok hari pada saat pameran dimulai, papan mading kelas mereka mungkin akan dinilai secara formal oleh para guru. Namun bagi dirinya dan Evan, sepotong cerita manis di balik persiapan pameran sekolah yang baru saja mereka gunting, rekatkan, dan pertahankan bersama di lantai kelas sore ini telah resmi menjadi sebuah lembar mahakarya tak berwujud—sebuah sketsa putih-biru romansa remaja yang akan berdiri tegak, berwarna, dan abadi sepanjang masa sekolah menengah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!