NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak Rahasia Dua Tahun

​"Sean... foto ini..." bisik Emily dengan suara gemetar. "Cewek LDR yang kamu pamerin dua tahun lalu... itu aku?"

​Suasana di dalam mobil mendadak mengencang. Suara rintik hujan yang menghantam kaca depan seolah tenggelam oleh detak jantung Emily yang memburu.

​Sean terdiam paku. Tangannya yang memegang kemudi tampak menegang, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Cowok yang biasanya selalu bersikap tenang, dingin, dan tak tersentuh itu kini menoleh kaku ke arah Emily. Rona merah tipis menjalar pelan dari leher hingga ke ujung telinganya.

​"Kamu... beneran mau tahu alasannya?" suara Sean terdengar jauh dari kesan angkuh. Ada nada gugup dan kepasrahan yang sangat manusiawi di sana.

​"Sean, jelasin ke aku! Kenapa foto aku yang lagi tidur di perpustakaan ada di kamu? Dan kenapa kamu bilang ke seisi kelas kalau aku ini pacar LDR kamu?!" cecar Emily. Matanya membelalak, campuran antara bingung, malu, dan sedikit tidak percaya.

​Sean mengusap tengkuknya dengan canggung, sebuah gestur langka yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di sekolah.

​"Dua tahun lalu, pas kelas tiga SMP menuju SMA, aku sering banget ngeliat kamu ketidupan di perpustakaan," aku Sean pelan, matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan kacamata tebal Emily. "Kamu selalu belajar sendirian sampai pucat. Pas aku liat kamu tidur siang itu, kamu keliatan... damai banget. Beda sama Emily yang selalu pasang wajah serius pas bangun. Tanpa sadar, aku ambil foto itu."

​"Terus kenapa harus bohong bilang pacar LDR?" potong Emily, menahan napas.

Sean terkekeh hambar, meratapi kebodohannya sendiri di masa lalu. "Waktu itu, anak-anak cowok di kelas sering ngeledek aku karena aku nggak pernah mau dekat sama cewek. Mereka pamer foto pacar masing-masing. Aku yang waktu itu gengsi dan belum berani nyapa kamu, refleks tunjukin foto itu. Aku pasang masker di wajah kamu lewat edit foto tipis-tipis biar nggak ada yang mengenali kamu. Aku cuma... pengen punya alasan buat nyimpen foto kamu dan bangga-banggain kamu di depan mereka, meskipun cuma dalam khayalan aku."

​Kata-kata Sean meluncur jujur tanpa filter. Tidak ada kesan manipulatif, hanya kepolosan seorang remaja cowok yang bingung bagaimana cara mengekspresikan ketertarikannya.

​Emily termangu. Dinding pertahanan yang selama ini ia bangun kukuh mendadak retak. Cowok paling kaya dan paling ditakuti di angkatannya ini ternyata pernah se-konyol dan se-gugup itu hanya karena dirinya?

​"Kenapa baru sekarang kamu kejar aku?" tanya Emily lirih.

​"Karena dua tahun lalu aku pengecut," jawab Sean tegas, kini berani menatap tepat ke iris mata Emily. "Dan karena aku sadar, merhatiin kamu dari jauh itu nggak pernah cukup. Aku nggak mau cuma memajang foto kamu. Aku mau ada di hidup kamu yang sebenarnya, Mil."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mobil sedan mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Emily. Lampu teras rumah yang remang-remang menyambut kedatangan mereka.

​"Makasih ya udah anterin aku pulang," ujar Emily kaku, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil. Pikiran dan perasaannya campur aduk bagai benang kusut.

​"Mil," panggil Sean pelan.

​Emily menoleh. Sean meraih jaket hitam milik cowok itu di jok belakang, lalu mengulurkannya pada Emily. "Luar masih gerimis. Pakai ini buat nutupin kepala kamu sampai masuk ke dalam. Besok balikin ke aku di sekolah."

​"Nggak usah, Sean, dekat kok-"

​"Pakai, Emily. Jangan nolak," potong Sean halus namun tak terbantahkan.

​Dengan canggung, Emily menerima jaket bernuansa maskulin yang beraroma kayu cendana itu. Saat ia melangkah keluar mobil dan berlari kecil menuju teras, ia bisa merasakan tatapan Sean yang terus mengawalnya hingga pintu depan terbuka.

​Namun, kehangatan yang baru saja ia rasakan seketika menguap begitu Emily melangkah masuk ke dalam rumah.

​Di ruang tamu, ibunya sedang sibuk menata pakaian kakak sulungnya yang baru pulang dari kampus, sementara ayahnya sedang fokus menatap layar laptop bersama adik bungsunya. Tak ada satu pun dari mereka yang menyapa atau sekadar menanyakan mengapa Emily pulang hampir larut malam dalam kondisi pakaian agak basah.

​"Kamu baru pulang, Mil? Langsung ganti baju, jangan bikin kotor lantai," ujar ibunya tanpa mengalihkan pandangan dari baju kakaknya.

Emily menghela napas pendek. "Iya, Ma."

​Ia berjalan menuju kamarnya di lantai atas, menutup pintu, dan menyandarkan tubuhnya di kayu pintu yang dingin. Rumah ini selalu terasa asing baginya. Di tempat ini, ia hanya dianggap ada jika membawa pulang piala atau lembar rapot berangka seratus.

​Emily meletakkan tas Dior mewah dan jaket Sean di atas kasur. Ia berjalan ke arah cermin, melepas kacamata tebalnya, dan menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah yang selama ini merasa tak berharga dan tak terlihat, ternyata telah dicintai secara diam-diam oleh seseorang selama dua tahun lamanya.

​Jantung Emily berdetak kencang. Apakah cinta yang dibilang guru BK itu... benar-benar ada untukku? ucap Emily dalam hati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, SMA Harapan Bangsa digemparkan oleh sebuah keributan sebelum bel masuk berbunyi.

​Emily yang baru saja tiba di koridor utama langsung menyadari tatapan-tatapan aneh dari siswa-siswi yang berpapasan dengannya. Bisik-bisik beracun menusuk telinganya dari segala arah.

​"Itu ceweknya, kan?"

"Gila ya, keliatannya aja polos dan pinter, ternyata matre banget."

"Pantesan Sean mendadak nempel, ternyata diservis pake les privat berkedok barang mewah."

​Langkah Emily terhenti. Dahi gadis itu berkerut dalam. Sebelum ia sempat mencerna situasi, sahabat sekelasnya, Giselle, berlari mendekatinya dengan wajah panik sambil menyodorkan layar ponsel.

​"Mil! Kamu udah buka forum anonim sekolah belum?!" seru Giselle napasnya memburu.

​"Forum apa? Aku nggak pernah buka yang gitu-gituan," sahut Emily bingung.

​"Lihat ini!"

​Di layar ponsel Giselle, terpampang sebuah unggahan yang menjadi trending topic nomor satu di forum internal SMA Harapan Bangsa. Foto-foto Emily dan Sean di kafe kemarin sore tersebar luas dengan kualitas jernih. Di foto itu, terlihat momen saat Sean menggenggam tangan Emily, serta foto tas Dior $50 juta milik Emily yang berada di atas meja.

​Judul unggahan itu sangat menyudutkan, yaitu: "Trik Murahan Sang Juara Angkatan: Menukar Nilai Akuntansi demi Tas Mewah Puluhan Juta dari Sean Anderson."

​Darah Emily terasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika pucat pasi. Tulisan di unggahan itu menuduh Emily memanfaatkan kepintarannya untuk memeras harta Sean, bahkan menuduh Emily membocorkan soal ujian kepada Sean agar cowok itu mau membelikannya barang-barang branded.

​"Ini... ini fitnah!" suara Emily gemetar hebat. Seluruh kerja kerasnya, reputasinya sebagai murid berprestasi yang ia bangun dengan darah dan air mata selama bertahun-tahun, hancur hanya dalam satu malam karena unggahan anonim tersebut.

​Tiba-tiba, kerumunan siswa di koridor terbelah. Sean berjalan cepat dengan aura dingin yang sangat membahayakan. Matanya menyala penuh amarah, memegang ponsel yang menampilkan unggahan yang sama.

​Namun, sebelum Sean sempat mendekati Emily untuk menenanginya, sebuah langkah kaki berhak tinggi terdengar nyaring dari arah gerbang depan. Seorang siswi cantik berpenampilan sangat modis dengan seragam Harapan Bangsa yang disesuaikan melangkah masuk.

​Siswi baru itu berjalan santai melintasi koridor, menatap Emily dari atas ke bawah dengan senyum miring bertaut nada merendahkan.

​"Jadi ini cewek yang bikin kamu berpaling dari aku, Sean?" suara siswi itu terdengar renyah namun dingin.

​Langkah Sean terhenti seketika. Matanya membelalak menatap sosok siswi tersebut.

​"Valerie...? Ngapain kamu di sini?" gumam Sean kaget.

​Valerie Wijaya, mantan pacar Sean yang menghilang dua tahun lalu ke luar negeri, kini berdiri tepat di antara Sean dan Emily dengan niat balas dendam.

​Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!