NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kekuatan tanah dan angin

Tiga bayangan dari faksi Lingkaran Kelam itu terhuyung mundur. Atmosfer di atas bukit mendadak berubah menjadi sepadat dinding besi, menekan dada mereka hingga sirkulasi mana di dalam tubuh mereka macet. Pembunuh bayangan yang biasa merayap tanpa jejak, kini tak lebih dari kawanan serangga yang terperangkap dalam jaring laba-laba.

"Jangan goyah! Sialan, tebas saja!" bentak sang pemimpin, seorang pria berwajah menyeramkan dengan bekas luka melintang yang mengerikan.

Ia memeras sirkulasi mananya, mengayunkan belati melengkung berselimut sihir korosif untuk memutus akar yang melilit pergelangan kakinya.

TANGG!

Dentang logam beradu memercikkan bunga api keemasan. Bukannya putus, bilah belati terkutuk itu justru retak. Kulit kayu purba tersebut sekeras berlian, dan jepitannya justru semakin mengencang, meremukkan pelindung kaki logam mereka hingga terdengar bunyi derit yang menyedihkan.

Kai yang berdiri di belakang Arlen hanya bisa terpaku. Ia tahu betul tiga eksekutor ini adalah momok mengerikan di dunia luar. Namun di sini, di bawah sepasang mata kelabu Arlen yang sedingin es, mereka kehilangan taringnya.

Arlen berdiri tenang dengan kedua tangan tertaut di balik punggung. Dia sama sekali tidak memicu sirkulasi mana, karena di matanya, memanipulasi energi luar adalah cara bertarung yang dangkal. Ia adalah reinkarnasi kesatria aura tunggal di dunia yang telah amnesia akan sejarahnya sendiri.

"Kalian datang membawa cawan berisi niat busuk," suara Arlen mengalun rendah, namun bergetar hebat di dalam kepala para penyerang seperti lonceng kematian. "Tanah ini tidak memiliki musuh, tetapi ia menolak siapa pun yang berniat menanam penderitaan di atasnya. Kalian tidak sedang bertarung melawanku. Kalian sedang menantang kehidupan yang menopang kaki kalian sendiri."

"Bocah sombong!" pemburu di sisi kanan meraung. Ia memutus paksa lilitan akar dengan ledakan mana instan, lalu melompat tinggi ke udara, mengayunkan pedangnya dalam tembakan vertikal yang mematikan.

Arlen tidak berkedip. Dia hanya menghela napas pelan.

Seketika itu juga, alam seolah tersinggung atas kelancangan sang penyihir. Angin malam yang tadinya berembus pelan mendadak berputar balik, menjelma menjadi pusaran badai vertikal yang bising. Tanpa ampun, tekanan udara murni itu menghantam punggung sang pemburu dari atas, menghempaskannya kembali ke tanah dengan hantaman keras hingga lututnya retak menumbuk batu

Pemimpin pemburu itu mulai kehilangan akal sehatnya. Frustrasi dan ketakutan merusak kewarasannya. Ia mengangkat kedua tangan, memeras paksa inti mananya hingga batas terjauh. Asap hitam pekat, berbau busuk seperti bangkai dan dipenuhi kutukan kematian, merembes keluar dari pori-porinya. Rumput-rumput hijau yang tersentuh asap itu seketika melayu dan hancur menjadi abu dalam hitungan detik.

"Kau hanya mengandalkan sihir elemen murahan, Bocah!" teriaknya penuh kegilaan. "Kekuatan yang kami miliki adalah kuasa untuk merusak dan membinasakan! Tidak ada hukum alam yang bisa bertahan di hadapan sihir kematian Lingkaran Kelam!"

Asap hitam itu melesat maju, meliuk-liuk menyerupai ular naga yang kelaparan, mengarah tepat ke dada Arlen.

Melihat kengerian sihir hitam itu, insting pembunuh Kai berteriak. Ia hendak melesat maju mengorbankan dirinya sebagai tameng. Namun, sebuah tangan terangkat. Arlen melarangnya bergerak lewat isyarat sederhana.

Pemuda reinkarnasi itu tidak mundur satu milimeter pun. Detik ketika asap kutukan itu nyaris melahap wajahnya, Arlen membuka matanya lebar-lebar.

BOOM!

Bukan suara ledakan fisik, melainkan sebuah denyutan energi kehidupan yang begitu masif hingga menggetarkan kesadaran jiwa siapa pun yang merasakannya. Dari tubuh Arlen, meledak seberkas cahaya keemasan yang begitu menyilaukan, padat, dan megah.

Ranah Keempat: Golden Aura.

Itulah kekuatan legendaris yang pernah meruntuhkan tatanan benua ribuan tahun lalu sebelum para penyihir menghapusnya dari lembaran sejarah. Energi kehidupan murni yang mutlak, tak tersentuh oleh polusi mana.

Saat asap kutukan hitam itu menabrak dinding Golden Aura milik Arlen, sihir hitam itu justru menjerit. Ia menguap lenyap seketika bagai tetesan air yang jatuh di atas hamparan besi membara. Musnah tanpa menyisakan sisa.

"Kekuatan yang hanya tahu cara merusak, selamanya akan bertekuk lutut di hadapan esensi yang melindungi kehidupan," ucap Arlen. Langkah kakinya maju satu langkah, dan riak energi emas mengepul di bawah sepatunya. Ia menatap sang pemimpin dengan tatapan kasihan. "Kau membiarkan jiwamu dimakan oleh mana kegelapan demi kekuatan instan. Lihat dirimu... kau bahkan tak pantas lagi disebut manusia."

"Aaaarrghhh!"

Pria itu melengking lumpuh oleh amarah dan ketakutan. Wajahnya mendistorsi mengerikan di bawah pengaruh mana hitam yang berbalik menggerogoti raganya akibat kegagalan sihirnya. Dia melemparkan senjatanya yang telah retak, lalu melompat menerjang Arlen dengan kuku-kuku jari yang memanjang hitam bagai binatang buas.

Namun, ia tak pernah sampai.

KRETEK!

Tanah di bawah kakinya mendadak melunak bagai lumpur hisap, menelan kedua kaki nya hingga batas betis, sebelum mengeras kembali sepadat semen dalam sekejap mata. Bersamaan dengan itu, dahan-dahan pohon di sekeliling mereka melesat turun bagai cambuk hidup, melilit dada dan lengannya, lalu mengangkat tubuh kekar itu hingga menggantung tak berdaya di udara.

Dua rekannya yang tersisa jatuh terduduk. Jubah mereka basah oleh keringat. Rasa ngeri yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup merayap di tulang belakang mereka.

"Kita... kita tidak bisa memanipulasi mana di sini... Tempat ini dikutuk! Dia iblis!" ratap salah satu dari mereka dengan suara bergetar hebat.

"Tempat ini tidak dikutuk," Arlen mengoreksi dengan nada sedingin es, melangkah perlahan mendekati pria yang tergantung di dahan pohon. Cahaya emas di tubuhnya perlahan meredup, kembali masuk ke dalam pori-porinya, namun sisa intimidasinya masih membuat udara terasa mencekik. "Tempat ini hanya kembali ke tatanan yang seharusnya. Dan kalianlah polusi yang salah memasuki ruangan."

Arlen berhenti tepat di hadapan wajah sang pemimpin yang kini terengah-engah kehabisan napas.

"Siapa yang mengutus kalian? Dan apa yang dicari oleh Lingkaran Kelam di tanah ini?"

Pria itu menggeram, meludah darah tepat ke arah kaki Arlen. Matanya menyala penuh kebencian. "Aku tidak akan bicara... dan kau... kau bocah ingusan tidak akan berani membunuh kami! Jika kami tidak kembali, faksi atas akan mengirim kekuatan yang sanggup meratakan bukit sialan ini dengan tanah!"

Arlen mengangguk perlahan. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya ada ketenangan seorang penguasa kuno yang telah melihat ribuan kekaisaran runtuh dan bangkit.

"Aku tahu mereka akan datang," sahut Arlen. "Aku justru berharap mereka tidak membuang-buang waktuku lagi dengan mengirim bidak-bidak tidak berguna seperti kalian."

Arlen membalikkan tubuhnya sedikit, melirik Kai yang masih membatu di tempatnya. "Kai, di organisasi lamamu, apakah ada aturan yang melarang kita membiarkan anjing pemburu pergi membawa pesan?"

Kai tersentak, namun otaknya yang cerdas segera menangkap maksud tersembunyi sang tuan. Ia melangkah maju dengan tatapan yang kini sepenuhnya dingin. "Mereka menganggap membiarkan musuh hidup adalah kelemahan. Tapi... jika kita memberi mereka jenis teror yang tepat, mereka akan berpikir seribu kali sebelum mengirim pasukan baru. Itu akan memberi kita ruang."

Arlen tersenyum tipis, puas dengan jawaban itu. Ia kembali menatap ketiga buruannya.

"Aku akan membiarkan kalian bernapas hari ini. Pulanglah pada tuan kalian yang bersembunyi di balik kegelapan. Sampaikan pesanku secara utuh: Bukit ini memiliki penjaga. Dan penjaga itu tidak akan lagi membiarkan perang kotor kalian menodai bumi. Jika tuanmu menginginkan sesuatu dari tempat ini... katakan padanya untuk menyeret tubuhnya sendiri ke sini, bukan mengirim serangga untuk mati."

Arlen mengibaskan tangan kanannya pelan.

Seketika itu juga, cengkeraman akar purba dan jepitan tanah melonggar. Tubuh kekar sang pemimpin jatuh dengan kasar ke atas rumput. Ketiganya gemetar, saling pandang dengan sisa-sisa kewarasan yang hampir habis. Mereka tahu, secara logika, mereka harusnya sudah menjadi pupuk di bukit ini. Namun anak ini melepaskan mereka begitu saja.

"Pergi. Sebelum aku berubah pikiran," perintah Arlen singkat.

Tanpa perlu peringatan kedua, ketiga pemburu bayangan itu merangkak bangun dengan sisa tenaga yang ada. Mereka berlari tunggang-langgang, menembus kegelapan malam hutan, mengabaikan luka-luka di tubuh mereka demi menjauh dari monster berwujud anak kecil itu.

Keheningan malam kembali turun. Angin kembali berembus normal, menyapu sisa-sisa bau mana busuk yang tertinggal. Kai menghela napas panjang, melangkah mendekati Arlen dengan lutut yang nyaris lemas akibat rasa hormat yang teramat besar.

"Anda membiarkan mereka hidup, Tuan Arlen. Apakah itu tidak terlalu berisiko? Mereka pasti akan membawa pasukan Mage yang lebih kuat setelah ini."

Arlen menggeleng pelan, pandangannya lurus menatap batas hutan. "Membunuh mereka hanya akan membuat organisasi mereka mengirim gelombang baru tanpa henti. Tapi menanamkan rasa takut dan ketidakpastian... itu akan mengacaukan kalkulasi mereka. Dan yang paling kita butuhkan saat ini adalah waktu. Waktu untuk mematangkan Auramu, dan waktu untuk memulihkan kekuatanku sepenuhnya."

Arlen berjalan ke tepi tebing bukit. Dari kejauhan, matanya yang tajam menangkap kilatan cahaya samar dari balik jendela sebuah penginapan di kaki desa. Tempat di mana Seraphina berada.

"Pertunjukan kecil kita malam ini pasti sudah mengusik indra mereka yang mengawasi. Mereka sekarang tahu tebakan mereka benar—bahwa ada kekuatan besar di bukit ini. Tapi mereka tidak akan pernah tahu... seberapa dalam jurang yang sedang mereka gali."

Sementara itu, di dalam kamar penginapan yang remang, Seraphina berdiri kaku di balik tirai jendela. Kedua tangannya yang memegang kristal pengamatan bergetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.

Sebagai seorang Mage tingkat 5 dari Kerajaan, indra mananya sangat sensitif. Dan beberapa menit yang lalu, ia merasakan sesuatu yang mustahil. Tidak ada fluktuasi mana, tidak ada distorsi elemen sihir. Namun, sebuah gelombang energi kehidupan yang begitu pekat, begitu murni, dan berwarna keemasan baru saja meledak di atas bukit. Energi itu dengan mudah menghancurkan sihir kutukan Lingkaran Kelam layaknya membalikkan telapak tangan.

Ia berbalik, menatap meja kerjanya di mana sebuah gulungan dokumen kerajaan dengan segel lilin merah tergeletak.

"Kekuatan itu... itu bukan sihir," gumam Seraphina dengan suara tercekat, napasnya memburu akibat rasa ngeri yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Itu adalah energi yang menyatu dengan tatanan dunia ini sendiri... Sesuatu yang seharusnya sudah musnah ribuan tahun lalu."

Wajahnya memucat di bawah temaram lampu minyak. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: misi ini bukan lagi sekadar mengawasi anak terlantar atau mengamankan wilayah baru. Jika energi keemasan itu adalah apa yang tertulis dalam teks-teks terlarang kerajaan kuno... maka tatanan dunia para Mage saat ini sedang berada di ambang kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!