NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tarikan Pedang Pertama

Matahari musim dingin di dataran utara bersinar pucat, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang tak pernah benar-benar pergi. Di bawah lereng gunung yang menjadi wilayah terluar Perguruan Pedang Langit, sebuah jalur perdagangan batu kuno membentang membelah hutan pinus yang meranggas. Lapisan salju hitam yang tebal menutupi permukaan jalan, menyembunyikan retakan-retakan batu di bawahnya.

Dari arah kejauhan, suara gemerincing loncet kereta kuda memecah kesunyian. Sebuah konvoi megah yang terdiri dari tiga kereta kayu berlapis besi sedang berjalan santai. Kereta-kereta itu membawa lambang awan bersayap—simbol kemegahan Perguruan Pedang Langit. Mereka adalah rombongan murid luar dan beberapa murid inti yang baru saja kembali dari kota kecamatan untuk mengumpulkan upeti bulanan dari para manusia fana.

Di dalam kereta terdepan, duduk seorang pemuda dengan jubah sutra biru muda yang sangat familiar. Tuan Muda Liu.

Dua tahun telah berlalu sejak malam pembantaian di barak budak, dan Liu kini telah berhasil menembus ke Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Awal. Wajahnya tampak semakin angkuh, tangannya sibuk memainkan sebilah belati perak kecil sambil mendengarkan laporan dari murid luar di sampingnya—murid yang sama yang dahulu mencambuk Kala.

"Tuan Muda, upeti bulan ini meningkat dua puluh persen. Orang-orang fana di bawah sana tahu diri setelah kita mengeksekusi beberapa kepala desa yang membangkang," ucap murid luar itu sambil tersenyum menjilat.

Liu mendengus remeh. "Manusia fana tak lebih dari sekadar ternak. Jika tidak dicambuk sesekali, mereka akan lupa siapa pemilik tanah ini."

Namun, kalimat Liu terhenti ketika kereta kuda yang mereka tumpangi mendadak berhenti secara kasar. Kuda-kuda di depan meringkik panik, menghentakkan kaki mereka di atas salju hitam.

"Ada apa di depan?!" bentak murid luar itu, melongokkan kepalanya keluar jendela kereta.

Di tengah jalan setapak yang sempit, berjarak sekitar tiga puluh langkah dari konvoi, berdiri sesosok pemuda. Dia mengenakan jubah hitam legam yang tampak kontras dengan putih-hitunya salju di sekitarnya. Rambut hitamnya yang panjang melambai ditiup angin dingin. Di pinggang kirinya, terikat sebilah pedang ramping dengan sarung kayu berwarna putih perak berukir rasi bintang yang bersinar redup.

Pemuda itu perlahan mendongakkan kepalanya. Sebuah kain kasa hitam yang menutupi matanya terlepas, ditiup angin malam yang dingin.

Ketika wajah itu terekspos, murid luar yang melihatnya langsung membelalakkan mata. Jantungnya berdegup kencang karena rasa tidak percaya. Wajah itu... meskipun kini tampak lebih dewasa dan memiliki garis rahang yang tegas akibat efek evolusi fisik di dasar jurang, selaput matanya yang hitam pekat tanpa dasar dengan jutaan bintang yang berputar di dalamnya tidak bisa salah lagi.

"Ka... Kau?! Bocah buta dua tahun lalu?!" teriak murid luar itu dengan suara yang bergetar. "Tuan Muda Liu! Itu adalah bocah cacat yang Anda lempar ke Jurang Kematian!"

Liu mengernyit, melangkah keluar dari kereta kuda dengan ekspresi tidak percaya. Dia menatap Kala dari atas ke bawah, mencoba merasakan fluktuasi energi di tubuh pemuda itu. Namun, tubuh Kala terasa seperti sebuah hampa udara yang kosong, tidak memancarkan aura Qi sama sekali. Di mata Liu, Kala tampak seperti manusia biasa tanpa kultivasi.

"Bagaimana mungkin semut sepertimu bisa selamat dari gas racun jurang?" Liu tertawa dingin, rasa terkejutnya berganti dengan keangkuhan yang mutlak. "Dan melihat matamu yang berubah... rupanya kau mendapatkan berkah di dalam jurang maut itu. Baguslah. Serahkan pedang di pinggangmu dan matamu yang aneh itu, maka aku akan memberimu kematian yang cepat!"

Kala tidak membalas provokasi tersebut. Wajahnya sedingin es abadi di puncak gunung. Tatapan mata Black Hole-nya mengunci Liu dan seluruh rombongan perguruan. Melalui persepsi waktunya, Kala bisa menghitung jumlah musuh: dua belas murid luar di Ranah Nadi Fana, dan satu orang di Ranah Pengendali Jiwa.

Semua level mereka... berada di bawah Ranah Penempa Jiwa milik Kala yang sekarang. Hukum Waktu miliknya valid secara mutlak di tempat ini.

“Kala, bersiaplah,” suara wanita yang anggun dan misterius bergema dari dalam sarung pedang kayu Yggdrasil di kepalanya. “Jantung mereka berdetak terlalu cepat karena keserakan. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengunci detik hidup mereka.”

Kala menggeser kaki kirinya ke belakang, merendahkan kuda-kudanya dengan anggun. Tangan kirinya menggenggam erat sarung pedang putih perak, sementara telapak tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang hitam yang tipis.

"Dua tahun lalu, ibuku dan Ayla mati karena kelemahanku," bisik Kala, suaranya pelan namun terdengar jelas menembus lolongan angin musim dingin. "Hari ini, aku akan menunjukkan kepada kalian... bagaimana rasanya terperangkap di dalam keabadian yang menyiksa."

Melihat Kala bersiap bertarung, Liu melambaikan tangannya dengan kesal. "Bunuh dia! Potong kedua kakinya terlebih dahulu!"

Sepuluh murid luar langsung mencabut pedang mereka, melompat menerjang Kala dengan kecepatan penuh, melepaskan bilah-bilah energi angin tingkat rendah yang merobek udara.

Kala menarik napas dalam-dalam. Fokusnya memuncak pada satu titik. Ibu jari tangan kanannya mendorong pelindung gagang pedang.

CHIIING!

Sebuah dentingan logam yang sangat tipis dan jernih memotong atmosfer. Kala menarik bilah pedang Jian hitamnya keluar dari sarung kayu Yggdrasil sepanjang tepat sepuluh sentimeter. Tidak kurang, tidak lebih.

Pada detik ketika tanda 10 senti itu terlewati, benturan antara energi destruktif naga purba di bilah pedang dan energi penahan kehidupan di dalam sarung kayu menciptakan sebuah gelombang distorsi kosmik tak kasat mata berbentuk lingkaran yang meledak dari pusat tubuh Kala.

DENG!

Seketika, seluruh semesta kehilangan warnanya, berubah menjadi abu-abu monokrom.

Lolongan angin badai yang tadinya menderu kencang mendadak senyap total. Sepuluh murid luar yang sedang melompat di udara dengan pedang terangkat membeku kaku di atmosfer, terjebak seperti lalat di dalam getah pohon. Serpihan salju hitam yang berhamburan akibat lompatan mereka berhenti bergerak, melayang diam membentuk pola-pola kristal di udara.

Bahkan kereta kuda di belakang, ringkikan kuda yang panik, dan Tuan Muda Liu yang sedang tersenyum sinis... semuanya membatu. Jiwa dan kesadaran mereka terkunci di dalam satu detik yang dipaksa berhenti oleh Kala.

Hukum Sepuluh Senti telah aktif. Di dalam radius lima puluh meter ini, Kala adalah satu-satunya entitas yang diizinkan untuk bergerak, bernapas, dan berpikir.

Kala melepaskan tangan kanannya dari gagang pedang, membiarkan bilahnya tetap terbuka 10 senti dari sarungnya, tertahan oleh gaya gravitasi Black Hole miliknya sendiri. Dia melangkah maju dengan santai, berjalan melewati sepuluh murid luar yang membeku di udara. Langkah kakinya di atas salju hitam tidak meninggalkan suara sama sekali.

Dia berhenti di depan murid luar yang dahulu mencambuknya. Pemuda itu membatu dengan mata melotot dan mulut yang terbuka setengah, memancarkan ekspresi ketakutan yang abadi.

Kala mengulurkan dua jarinya, menyentuh kening murid luar tersebut. Energi dari mata Black Hole-nya mengalir, menyedot seluruh esensi waktu hidup (usia) dari tubuh fana sang murid dalam sekejap. Di dalam dunia yang membeku, kulit murid itu mulai berkerut, rambutnya memutih, dan dagingnya menyusut drastis hingga menyisakan seonggok tengkorak kering yang dibalut jubah perguruan dalam waktu kurang dari satu detik.

Kala kemudian berjalan menuju dua belas murid lainnya, melakukan hal yang sama dengan gerakan yang anggun namun mematikan bagai dewa kematian yang sedang memanen jiwa.

Terakhir, Kala melangkah berdiri tepat di depan Tuan Muda Liu yang masih membeku di dalam keretanya. Kala menatap wajah pembunuh ibunya itu dengan tatapan kosong. Dia tidak merasakan kepuasan yang meledak-ledak, hanya ada kekosongan sedingin es di hatinya.

Kala kembali menggenggam gagang pedangnya, lalu mendorong bilah hitam tipis itu kembali masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil hingga tertutup rapat.

KLIK.

Suara ketukan kayu dan besi itu menandakan waktu semesta kembali diputar.

Warna dunia kembali normal dalam sekejap. Angin menderu kembali, dan salju berjatuhan. Namun, apa yang terjadi berikutnya adalah pemandangan dari neraka bagi Tuan Muda Liu.

BRUUUK! BRUUUK! BRUUUK!

Sepuluh murid luar yang tadi melompat di udara tiba-tiba jatuh berhamburan ke atas salju hitam bukan sebagai manusia, melainkan sebagai tumpukan tulang belulang kering yang rapuh. Jubah biru mereka robek, hancur menjadi abu bersama dengan sisa-sisa usia mereka yang telah habis dihisap oleh rentang waktu ratusan tahun dalam satu detik keheningan.

"A... Apa yang terjadi?!" Liu melompat mundur dari keretanya dengan wajah pucat pasi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat melihat sepuluh anak buahnya mati menjadi tengkorak dalam sekejap mata tanpa ada suara pertarungan sedikit pun.

Dia menatap Kala yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya, memegang sarung pedang putih peraknya dengan santai.

"Kau... monster jenis apa kau ini?!" teriak Liu hysteris, seluruh keberanian dan ranah Pengendali Jiwanya runtuh seketika di hadapan teror yang tidak masuk akal ini.

Kala menatap Liu, rasi bintang di mata Black Hole-nya berputar pelan. "Aku bukan monster, Liu. Aku hanya orang yang mengambil kembali waktu yang telah kau sia-siakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!