elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Yi Ming Lahir
Ucapan Ibu Kho ternyata bukan sekadar kalimat yang terlontar di depan dua kardus perlengkapan bayi.
Selama empat bulan berikutnya, kalimat itu berubah menjadi daftar keputusan.
Siapa yang boleh menjenguk setelah persalinan. Makanan apa yang harus dimasak. Berapa lama Nan Shin harus beristirahat. Kain bedong mana yang dipakai. Bahkan jam tidur bayi sudah dibicarakan sebelum anak itu lahir.
Nan Shin selalu berkata mereka masih punya waktu.
Ibu Kho selalu menjawab, “Lebih baik disiapkan daripada nanti repot.”
Saat kontraksi pertama datang menjelang subuh, justru Nan Shin yang paling tenang.
Ia menghitung jarak kontraksi dengan timer di ponsel, memeriksa tas persalinan, lalu membangunkan Cheng An. Namun sebelum mereka berangkat, telepon rumah sakit masuk ke ponsel suaminya.
Cheng An mendengarkan selama beberapa detik. Wajahnya langsung berubah serius.
“Ada operasi darurat,” katanya.
Nan Shin berdiri dekat meja dengan satu tangan menahan perut. Kontraksi berikutnya mulai menekan punggung bawah.
“Sekarang?”
“Aku harus masuk. Pasiennya perdarahan.” Cheng An mengambil kunci, lalu berhenti ketika melihat wajah istrinya. “Aku antar kamu dulu.”
“Kalau kondisinya darurat, pergi.”
“Kamu sendiri?”
“Mama ada.”
Kalimat itu membuat keduanya menoleh ke arah kamar Ibu Kho.
Kurang dari lima menit kemudian, Ibu Kho sudah keluar dengan pakaian rapi dan tas persalinan di tangan. Ia memanggil mobil, memeriksa ulang dokumen, lalu menyuruh Cheng An berangkat.
“Kamu urus pasienmu,” katanya. “Nan Shin sama Mama.”
Cheng An mencium dahi istrinya singkat. “Aku menyusul begitu selesai.”
Nan Shin mengangguk. Ia ingin mempercayainya.
Di ruang bersalin, waktu bergerak dengan cara yang aneh. Kadang sangat cepat, kadang berhenti di antara dua kontraksi. Nan Shin mencengkeram sisi tempat tidur saat nyeri datang, lalu mengatur napas seperti yang sudah dipelajari.
Ibu Kho berdiri di dekat kepala ranjang dan terus memberi instruksi.
“Jangan teriak. Simpan tenaga.”
“Tarik napas lebih panjang.”
“Nan Shin, dengar Mama.”
Nan Shin mendengar bidan. Ia mengikuti arahan tenaga medis, bukan karena ingin membantah Mama, tetapi karena tubuhnya membutuhkan satu suara yang jelas.
Setiap kali kontraksi mereda, ia melihat pintu.
Cheng An belum datang.
Ponselnya tetap berada di tangan Ibu Kho. Dua pesan terkirim, tidak ada balasan. Operasi masih berlangsung.
“Ada kabar dari Cheng An, Ma?” tanya Nan Shin saat nyeri mereda.
Ibu Kho melihat layar. “Belum. Jangan pikirkan dia dulu.”
“Kalau dia menelepon, bilang aku masih menunggu.”
“Mama bilang. Sekarang simpan tenagamu.”
Ketika nyeri mencapai puncak, Nan Shin tidak lagi sempat memikirkan siapa yang ada atau tidak ada di ruangan. Dunia menyempit menjadi napas, instruksi, dan tekanan kuat yang seolah membelah tubuhnya.
Lalu tangisan bayi terdengar.
Nyaring. Pendek. Hidup.
Mata Nan Shin langsung terbuka lebar. Air mata mengalir ke pelipis tanpa bisa ditahan.
“Bayi laki-laki,” kata bidan.
“Napasnya baik?” tanya Nan Shin di antara tarikan napas yang belum teratur.
“Baik. Kami keringkan sambil kontak kulit, ya.”
“Gelang identitasnya dipasang di sini?”
“Iya, setelah nama dan waktu lahir dicocokkan dengan Ibu.”
Ibu Kho mendekat. “Bayinya perlu langsung dibedong?”
Bidan menggeleng lembut. “Kami hangatkan di dada ibunya dulu. Selimutnya menutup dari atas.”
“Kalau dia menangis lagi?”
“Menangis sebentar normal. Kami tetap memantau napas, warna kulit, dan suhu.”
Nan Shin menatap wajah kecil itu. “Biarkan dia di sini selama kondisinya aman.”
“Tentu, Bu.”
Tubuh kecil itu diletakkan di dada Nan Shin. Kulitnya hangat dan sedikit licin, kepalanya tertutup rambut hitam halus. Tangisnya mereda ketika pipinya menyentuh kulit ibunya.
“Hai,” bisik Nan Shin. Suaranya pecah. “Mama di sini.”
Jari bayi itu membuka dan menutup, lalu menyentuh ujung jarinya.
Untuk pertama kalinya sepanjang kehamilan, Nan Shin tidak merasa sedang membagi anaknya dengan jadwal, pekerjaan, atau rencana orang lain. Di atas dadanya, bayi itu hanya mengenal detak jantungnya.
Perawat memasang gelang identitas kecil pada pergelangan kaki bayi. Nama ibu dan waktu lahir tercetak jelas.
Bayi Ny. Nan Shin Sim.
Nan Shin membacanya berulang kali sampai huruf-huruf itu kabur oleh air mata.
“Yi Ming,” katanya pelan. “Namamu Yi Ming.”
Ibu Kho mendekat dari sisi lain. Wajahnya penuh haru. Ia menyentuh kaki cucunya dengan ujung jari, lalu segera bertanya kapan bayi boleh dibedong.
“Jangan terlalu lama dibuka. Nanti kedinginan.”
Perawat menjelaskan bahwa kontak kulit dengan ibu sedang dilakukan dan suhu bayi dipantau. Ibu Kho mengangguk, tetapi matanya tidak lepas dari selimut yang sudah ia bawa sendiri.
“Nanti bayinya masuk ruang bayi saja, ya,” kata Ibu Kho. “Ibunya perlu tidur.”
Perawat tidak langsung mencatat. Ia menoleh kepada Nan Shin. “Kalau kondisi bayi stabil, boleh bersama Ibu. Ibu Nan Shin maunya bagaimana?”
Nan Shin memandang Yi Ming yang tertidur di dadanya. “Bersama saya.”
“Baik. Kami bantu kalau Ibu perlu istirahat.”
Itulah satu-satunya kali hari itu seseorang bertanya apa yang diinginkan Nan Shin sebelum membuat keputusan tentang anaknya.
Begitu perawat pergi, Ibu Kho merapikan selimut bayi sambil berkata, “Nanti kalau kamu kewalahan, jangan keras kepala.”
Setelah pemeriksaan selesai, Nan Shin dipindahkan ke ruang perawatan. Tubuhnya lemas. Namun setiap mendengar napas kecil Yi Ming, ia memaksa matanya terbuka.
Cheng An baru muncul hampir tiga jam kemudian.
Ia masih mengenakan baju operasi di balik jaket. Rambutnya basah oleh keringat, dan masker menggantung di leher. Begitu melihat bayi di sisi Nan Shin, langkahnya berhenti.
“Sudah lahir,” katanya, seperti orang yang baru percaya setelah melihat sendiri.
Nan Shin tersenyum lelah. “Kamu terlambat.”
Cheng An mendekat dan menatap gelang identitas bayi. Tangannya ragu sebelum menyentuh pipi Yi Ming.
“Maaf.”
“Operasinya selesai?”
“Sudah. Aku langsung ke sini.”
Nan Shin menahan tatapannya. “Aku melihat pintu terus.”
Wajah Cheng An menegang. “Aku tahu aku terlambat. Maafkan aku.”
Ia menunduk dan mencium dahi Nan Shin. Untuk sesaat, mereka bertiga berada dalam satu bingkai yang utuh.
Ibu Kho masuk membawa termos dan beberapa wadah makanan. Momen itu langsung berubah menjadi daftar baru.
“Nan Shin harus makan sup ini. Jangan makanan rumah sakit.”
“Besok Mama pulang dulu ambil bantal tambahan.”
“Kalau sudah boleh keluar, langsung pulang ke kontrakan. Mama sudah atur kamar.”
Nan Shin melirik Cheng An. Ia ingin mendiskusikan apakah mereka perlu tinggal beberapa hari lebih lama, bagaimana jadwal kontrol bayi, dan kapan keluarga boleh datang. Namun Cheng An hanya mengangguk pada setiap ucapan ibunya.
“Ma sudah siapkan semuanya?” tanyanya.
“Sudah. Kamu nggak perlu pikir.”
Ibu Kho membuka ponsel dan menunjukkan pesan yang sudah dikirim ke keluarga. Foto Yi Ming tersebar bersama waktu lahir, berat badan, dan nama lengkapnya.
Nan Shin belum sempat memilih foto mana yang ingin dibagikan.
“Ma, foto itu sudah dikirim ke siapa saja?”
“Grup keluarga. Semua menunggu kabar.”
“Saya ingin memilih fotonya dulu.”
“Cuma keluarga sendiri.”
“Tetap foto anak saya.”
Cheng An menatap layar ponsel ibunya. “Ma, lain kali tanya Nan dulu.”
Ibu Kho mengerutkan kening. “Mama cuma berbagi kabar bahagia.”
“Saya tidak melarang memberi kabar,” kata Nan Shin. “Saya minta ditanya sebelum foto bayi dikirim.”
“Kalau begitu foto berikutnya kamu pilih sendiri.”
“Bukan berikutnya saja. Tolong jangan teruskan foto baru tanpa izin kami.”
“Ma, tadi perawat bilang bayi perlu banyak dekat denganku dulu,” katanya.
“Tentu. Tapi kamu juga harus istirahat. Kalau semua kamu pegang sendiri, nanti ASI malah nggak lancar.”
“Aku mau belajar dari sekarang.”
“Belajar pelan-pelan. Mama sudah pernah urus Cheng An.”
Kalimat itu terdengar masuk akal. Nan Shin terlalu lelah untuk mencari bagian yang membuat dadanya tidak nyaman.
Malam pertama, Ibu Kho mencatat jam menyusui. Pagi berikutnya, ia menentukan siapa yang boleh masuk. Sebelum dokter mengizinkan pulang, daftar makanan dan jadwal tidur sudah ditempel di dinding kontrakan melalui foto yang ditunjukkan di ponsel.
Semua dilakukan atas nama bantuan.
Tidak ada yang bertanya apakah Nan Shin menginginkannya.
Cheng An duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangannya. “Kamu hebat,” katanya pelan.
Nan Shin baru hendak menjawab ketika ponsel suaminya berdering.
Cheng An membaca layar, berdiri, lalu melepaskan tangannya.
“Aku dipanggil lagi.”
Ia pergi sebelum kehangatan telapak tangannya hilang dari jari Nan Shin.