"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Azel yang masih memejamkan mata perlahan membuka matanya.
Deg!
Ia langsung membeku. "Pak..."
Ibrahim Rabbani Mahendra berdiri tepat di belakangnya. Tatapannya dingin. Rahangnya mengeras.
Ia membantu Azel berdiri tegak, lalu memastikan mahasiswinya itu sudah benar-benar seimbang sebelum melepaskan pegangannya.
"Sudah bisa berdiri?"
Azel mengangguk pelan. "I-iya, Pak."
Barulah Ibra melepaskan tangannya. Azel segera merapikan kerudungnya yang sedikit bergeser.
"Maaf..." gumamnya pelan, entah kepada siapa.
Fariz yang sejak tadi berdiri terpaku langsung menghampiri. "Zel, lo nggak apa-apa?"
"Aku nggak apa-apa, Kak."
Fariz mengembuskan napas lega. Sementara Sarah mulai mundur selangkah. Wajahnya tampak pucat. Ia sama sekali tidak menyangka dosen yang dikenal paling disiplin itu melihat semua kejadian tersebut.
Ibra menatap Sarah dengan wajah datar. "Saudari."
Sarah menelan ludah. "I-iya, Pak."
"Saya ingin bertanya. Kenapa Anda mendorong teman sendiri di lingkungan kampus?"
Koridor mendadak hening. Mahasiswa yang tadi hanya lalu-lalang kini mulai berhenti. Beberapa orang memperhatikan dari kejauhan.
Sarah mencoba membela diri. "Saya... saya cuma emosi, Pak."
"Emosi bukan alasan untuk menyakiti orang lain." Nada suara Ibra tetap tenang. Namun justru ketenangan itu membuat suasana semakin menegangkan.
"Saya lihat dengan jelas apa yang terjadi."
Sarah menggigit bibirnya. "Maaf, Pak."
Ibrahim mengalihkan pandangannya kepada Azel. "Kamu terluka?"
Azel spontan menggeleng. "Nggak, Pak."
"Lain kali kalau ada masalah seperti ini, laporkan kepada pengurus BEM atau dosen. Jangan diselesaikan sendiri."
"Iya, Pak."
Kemudian Ibrahim kembali memandang Sarah. "Saya berharap ini tidak terulang. Kalau sampai terjadi lagi, saya sendiri yang akan melaporkannya kepada pihak fakultas."
Sarah langsung menundukkan kepala. "Baik, Pak."
Tanpa menunggu jawaban lain, Ibrahim melangkah pergi menuju ruang dosen. Suasana koridor perlahan kembali normal.
Fariz memijat tengkuknya pelan. "Aku minta maaf, Zel. Kamu jadi ikut kena gara-gara urusan aku."
Azel tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Kak. Yang penting semuanya selesai."
Namun belum sempat mereka berbicara lagi, Sekar datang tergopoh-gopoh dari arah toilet.
"Hah? Gue tinggal lima menit kok udah kayak sinetron?"
Azel langsung menghela napas panjang. "Ceritanya panjang."
Fariz mengusap wajahnya. "Kayaknya gue juga harus ngobrol baik-baik sama Sarah."
Sekar mengangguk. "Iya, Kak. Jangan digantung terus."
Fariz hanya mengangguk pelan.
Setelah berpamitan, ia berjalan meninggalkan mereka.
Sementara itu...
Di dalam ruang dosen. Ibra meletakkan map di atas meja. Namun pikirannya masih teringat pada kejadian beberapa menit lalu.
"Mahasiswa itu..." gumamnya pelan.
"Kalau bukan karena refleks mungkin kepalanya sudah membentur lantai."
Ia mengembuskan napas pelan. Entah sejak kapan setiap kali berhubungan dengan Azel, selalu ada saja kejadian di luar dugaannya.
***
"Udah, Zel. Jangan dipikirin lagi," ucap Sekar sambil membantu Azel memundurkan motornya dari parkiran.
Azel langsung mendengus. "Dih, siapa juga yang mikirin."
Sekar terkekeh. "Hehe... ya kali aja."
"Ya gue cuma heran aja, Sek."
"Kenapa, tuh?"
"Kak Sarah demen banget cari gara-gara sama gue. Padahal gue ngerasa nggak pernah punya masalah sama dia."
Sekar menghela napas kecil. "Namanya juga lagi cemburu."
Azel langsung memutar bola matanya. "Cemburu apaan, sih. Gue sama Kak Fariz cuma ngobrol soal BEM."
"Iya, tapi namanya orang yang lagi cemburu mah susah dikasih pengertian."
Azel terdiam sejenak sebelum akhirnya bergumam pelan, "Kalau begini terus... mending gue keluar aja deh dari BEM."
Seketika Sekar menoleh cepat. "Eh, jangan dong."
"Kenapa?"
"Lo tau kan kita masih banyak program kerja yang harus diselesaikan. Kalau lo keluar sekarang, itu namanya nggak profesional."
Azel mengembuskan napas panjang. "Iya juga sih."
"Lagian, lo masuk BEM kan bukan karena Kak Fariz atau Kak Sarah. Lo masuk karena memang mau belajar organisasi."
Azel mengangguk pelan. "Bener juga."
"Nah, gitu." Sekar tersenyum puas, lalu mengenakan helmnya. "Daripada kesel terus mending kita ngebakso."
Mata Azel langsung berbinar. "Setuju! Gue juga lagi laper banget."
Sekar tertawa. "Yaudah, berangkat!"
"Siap, Bos!"
Keduanya pun tertawa bersama sebelum melajukan motor mereka meninggalkan area kampus menuju warung bakso langganan mereka.
Sementara di tempat lain, Ibra baru saja tiba di daycare untuk menjemput Arjun. Seperti biasanya, ia hanya masuk sebentar untuk memberi tau salah satu pengasuh bahwa dirinya sudah datang.
"Bu, saya tunggu di parkiran saja."
"Baik, Pak Ibra. Nanti Arjun kami panggil."
Ibra mengangguk singkat, lalu kembali keluar. Ia berdiri di samping mobil BMW miliknya sambil sesekali melihat jam tangan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.
Seorang laki-laki paruh baya turun dari mobil tersebut. Beliau mengenakan koko putih dengan peci hitam. Wajahnya teduh, sorot matanya penuh wibawa.
Pria itu memperhatikan Ibra beberapa saat.
"Kamu... Ibra, kan?"
Deg!
Jantung Ibra seakan berhenti berdetak sesaat. Ia sangat mengenali sosok di hadapannya. Sosok yang dulu membimbingnya mengaji di pesantren. Sosok yang begitu ia hormati.
"K-Kiai Abidzar?"
Wajah pria itu langsung dipenuhi senyum haru. "Masya Allah. Jadi benar kamu, Ibra."
Tanpa berpikir panjang, Ibra segera meraih tangan gurunya dan menciumnya dengan takzim.
"Assalamu'alaikum, Kiai."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
"Masya Allah. Akhirnya kita ketemu."
Ibra tersenyum tipis. "Iya, Kiai."
"Kamu ke mana saja selama ini? Tidak pernah ada kabar sama sekali."
Pertanyaan itu membuat senyum Ibra memudar. Ia membuka mulut, hendak menjelaskan.
Namun... "Ayaaahhh!" Suara riang Arjun terdengar dari arah pintu daycare.
Bocah itu berlari kecil menghampiri ayahnya sambil membawa tas kecil di punggungnya.
Ibra langsung menoleh. "Nah, anak hebat Ayah sudah pulang."
Arjun memeluk pinggang ayahnya. Barulah Kiai Abidzar memperhatikan bocah itu. Beliau tersenyum hangat.
"Ini anak kamu?"
"Iya, Kiai."
Ibra mengusap kepala Arjun. "Arjun."
"Iya, Ayah?"
"Ayo salim."
Arjun langsung mencium tangan Kiai Abidzar. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Masya Allah..."
Kiai Abidzar mengusap kepala Arjun penuh kasih. "Anak yang sopan. Siapa namanya?"
"Arjuna Mahendra."
"Semoga jadi anak saleh, ya."
"Aamiin," jawab Arjun polos.
Kiai Abidzar kembali menoleh kepada Ibra. "Jadi... Anakmu dititipkan di sini?"
"Iya, Kiai."
Beliau tersenyum. "Ini daycare milik istri saya."
Ibra sedikit terkejut. "Istri Kiai? Nyai Azzura?"
"Ya iya toh. Siapa lagi istri saya?"
Mata Ibra membulat. "Jadi selama dua bulan ini aku menitipkan Arjun di daycare milik keluarga guruku sendiri?" batinnya.
Ia baru menyadari mengapa suasana daycare itu terasa begitu hangat dan penuh nilai-nilai agama.
"Maaf, saya baru tau, Kiai."
Kiai Abidzar tersenyum kecil. "Kamu belum pernah bertemu istri saya, ya?"
Ibra menggeleng. "Belum pernah. Saya juga jarang masuk ke dalam. Biasanya kalau menjemput, Arjun langsung keluar sendiri."
"Iya. Istri saya memang jarang berada di sini. Beliau harus bolak-balik Bandung dan Jakarta. Kalau sedang sibuk, biasanya anak saya yang mengawasi."
"Pantas saja." Ibra mengangguk pelan.
"Sudah berapa lama Arjun di sini?"
"Baru sekitar dua bulan, Kiai."
"Oooh... Pantas. Istri saya juga baru beberapa kali datang ke daycare akhir-akhir ini."
Beliau kembali menepuk pelan bahu Ibra. "Nak, datanglah ke rumah."
Ibra menatap gurunya.
"Pintu ndalem selalu terbuka untukmu. Kami semua pasti senang kalau kamu datang."
Hati Ibra bergetar mendengarnya. Ia sudah berkali-kali berniat datang. Namun rasa malu selalu menghalanginya.
Kiai Abidzar seolah memahami isi hatinya. "Jangan takut. Guru tidak pernah menghitung seberapa lama muridnya menghilang. Tapi guru akan selalu bersyukur ketika muridnya mau kembali."
"Bagaimana kabar Arshaf dan Aryan, Kiai?"
"Alhamdulillah baik."
"Aryan sekarang tinggal di Jakarta. Sudah menikah dan memiliki anak."
Ibra tersenyum kecil. "Masya Allah. Saya benar-benar baru tau. Kalau Arshaf?"
Kiai Abidzar terkekeh pelan. "Dia masih belum menikah. Masih sibuk mengurus pesantren."
Ibra mengangguk pelan. Dalam benaknya, wajah kedua sahabat masa kecilnya mulai kembali teringat.
Anak-anak yang dulu hampir setiap hari belajar dan bermain bersamanya di halaman pesantren.
Kini... Mereka semua telah tumbuh dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing.
Kiai Abidzar kembali menepuk bahunya. "Saya tunggu kamu datang, ya."
Ibra menatap gurunya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mantap. "Insya Allah, Kiai. Kali ini saya yang akan datang."
Senyum Kiai Abidzar semakin mengembang. "Alhamdulillah. Itu kabar yang sudah lama ingin saya dengar."
***
Tak sampai sepuluh menit berkendara, Azel dan Sekar tiba di sebuah warung bakso yang sudah menjadi langganan mereka sejak masih duduk di bangku SMA.
Warung sederhana itu berada tak jauh dari sekolah lama mereka.
Begitu turun dari motor, Azel langsung menghirup aroma kuah bakso yang mengepul.
"Ya Allah... Surga dunia."
Sekar tertawa. "Dasar."
Mereka memilih duduk di meja dekat jendela.
"Bu, dua bakso urat, ya."
"Pakai es teh?"
"Iya, Bu. Dua."
Tak lama setelah pesanan dicatat, Sekar menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Payah ah si Bela nggak ikut."
Azel tersenyum kecil "Dia kan strict parent banget."
"Iya. Kupu-kupu. Kuliah, pulang. Kuliah, pulang. Apa nggak stres tuh anak?"
Azel mengangkat bahu. "Ya mungkin orang tuanya masih khawatir. Tapi untungnya sekarang udah mulai ngasih izin dia ikut organisasi."
Sekar mengangguk. "Iya sih. Lumayan. Daripada cuma di rumah terus."
Beberapa detik kemudian, Sekar tersenyum jahil.
"Tapi..."
"Apa?"
"Demenannya malah Pak Ibra."
Azel langsung tertawa. "Hahaha iya juga, ya."
Sekar ikut tertawa.
"Padahal udah punya anak."
"Ya namanya juga Bela. Dia kan suka nonton oppa-oppa Korea. Mungkin menurut dia Pak Ibra mirip."
Azel menggeleng geli. "Oppa dari mana? Itu mah lebih cocok dibilang Kutub Utara."
"Hahaha!" Sekar sampai menepuk meja. "Kalau dia dengar, selesai hidup lo."
"Iya juga."
Mereka kembali tertawa.
Namun tiba-tiba, Sekar menatap Azel dengan senyum penuh arti.
"Eh tadi pas lo hampir jatuh."
"Kenapa?"
"Pak Ibra langsung nangkep lo."
Azel yang sedang menuang sambal ke mangkuk baksonya langsung berhenti. "Terus kenapa?"
"Ih... So sweet banget kayak di drama-drama."
Azel langsung mendelik. "Hm... Mulai."
"Lah emang begitu. Coba bayangin lo didorong. Terus sebelum jatuh langsung ditangkep."
Sekar meletakkan kedua tangannya di dada sambil memasang wajah berbunga-bunga. "Uh... Romantis banget."
Azel spontan menyenggol lengan sahabatnya. "Ngawur itu refleks. Namanya juga dosen. Masa beliau nontonin mahasiswanya jatuh."
Sekar masih belum menyerah. "Tapi pas beliau pegang bahu lo, gue lihat lo bengong."
Azel salah tingkah. "Gue kaget."
"Yakin cuma kaget?"
"Iya."
"Jantung lo nggak deg-degan?"
Pertanyaan itu membuat Azel terdiam sepersekian detik. Entah kenapa bayangan saat tubuhnya hampir jatuh kembali terlintas di kepalanya.
Tangan Ibra yang sigap menahan bahunya. Tatapan dingin laki-laki itu yang justru terlihat penuh fokus sesaat sebelum memastikan dirinya benar-benar berdiri tegak.
"Sudah bisa berdiri?" Suara itu kembali terngiang.
Tanpa sadar, ujung telinga Azel mulai memerah.
Sekar yang sedari tadi memperhatikannya langsung menyeringai lebar. "Nah, kan."
Azel buru-buru menggeleng. "Apaan sih. Gue cuma keinget aja."
"Keinget apa?"
"Ya... kejadiannya."
Sekar menyipitkan mata. "Hmm... Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?"
"Lo deg-degan."
Azel langsung mengambil sebutir bakso dengan garpunya lalu mengarahkannya ke mulut Sekar. "Nih makan biar mulut lo sibuk."
Sekar tertawa sambil menerima suapan itu. "Hahaha... ketahuan!"
"Ketahuan apaan."
"Belum apa-apa udah salting."
"Ck. Salting kaki lo."
Azel segera menunduk menyantap baksonya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia mengakui satu hal. Saat tubuhnya hampir terjatuh dan Ibra menangkapnya. Jantungnya memang sempat berdetak lebih cepat.
Meski ia sendiri tak taum Apakah itu karena terkejut. Atau karena alasan lain yang belum ingin ia akui.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah