Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Matahari siang menyinari halaman rumput luas di belakang mansion Sterling, tempat Percy duduk bersantai di atas kursi gantung berbalut bantal putih empuk. Di tangannya, sebuah mangkuk berisi stroberi segar menemani waktu santainya, sementara Tyche Vance yang baru saja diizinkan datang berkunjung setelah dijemput khusus oleh pengawal pribadi duduk di kursi seberang sambil memainkan ponselnya dengan wajah berkerut serius.
"Percy, kau harus melihat ini," ucap Tyche tiba-tiba, memecah keheningan sore yang tenang. Ia membalikkan layar ponselnya ke hadapan sahabatnya. "Aktris sialan itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."
Percy menghentikan gerakannya. Matanya yang amber menatap layar ponsel Tyche. Sebuah akun gosip anonim bercentang biru baru saja mengunggah sebuah artikel eksklusif dengan judul yang cukup memancing kehebohan.
“Skandal Tersembunyi Konglomerat Sterling Istri Rahasia atau Simpanan Gelap? Bukti Eksklusif Hubungan Ganda Sang Miliarder!”
Di dalam artikel tersebut, terpampang beberapa foto lama Percy saat turun dari jet pribadi di Swiss, disandingkan dengan foto-foto lama Hades di lobi perkantoran. Meskipun wajah Percy diburamkan di beberapa sudut, kalangan elit yang mengenal dekat keluarga Sinclair atau lingkaran atas New York tentu bisa menebak siapa wanita di balik foto tersebut. Artikel itu menggiring opini publik bahwa sang miliarder sedang menyembunyikan seseorang secara ilegal, memicu gelombang tanya dan spekulasi liar di media sosial.
Alih-alih merasa takut atau panik, sudut bibir Percy justru tertarik ke atas membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya. Lesung pipinya tercetak dalam, sementara matanya berbinar tajam.
"Dia benar-benar mencari perhatian sang singa dengan cara yang paling bodoh," gumam Percy tenang, melempar satu buah stroberi ke dalam mulutnya. "Iris berpikir dengan membuka identitas rahasia ini ke publik, Hades akan melindunginya atau justru membuangku. Padahal, ia tidak tahu bahwa ia sedang menggali kuburannya sendiri."
Tyche menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan takjub sekaligus ngeri. "Lalu, apa rencana gilamu kali ini, darling? Hades pasti sudah menerima laporan tentang artikel ini di kantor pusat."
Tepat saat Tyche menyelesaikan kalimatnya, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki halaman utama mansion. Sebuah mobil sedan hitam berlogo khusus terparkir sempurna di depan lobi utama. Pria berpostur tinggi tegap dengan setelan jas rapi melangkah keluar dari dalam mobil Hades Sterling kembali jauh lebih cepat dari jadwal biasanya.
Langkah kaki Hades terdengar berat menaiki teras belakang mansion. Wajah tampannya tanpa cela, namun rahangnya mengeras dan sepasang mata kelabunya memancarkan amarah dingin yang jauh lebih berbahaya daripada badai salju di Pegunungan Alpen. Di belakangnya, Dionisos Volkov berjalan cepat sambil membawa sebuah tablet.
"Tuan," lapor Dionisos dengan suara tegas. "Artikel itu telah menyebar ke seluruh portal berita utama dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Tim siber kami sudah melacak sumber utamanya, dan itu mengarah langsung pada perantara yang dibayar oleh Iris Montgomery."
Hades tidak menjawab. Langkah kakinya membawanya langsung ke arah taman belakang, di mana Percy dan Tyche sedang duduk. Begitu melihat sosok istrinya yang tampak santai menikmati stroberi di tengah kekacauan dunia maya, Hades menghentikan langkahnya tepat di hadapan kursi gantung tersebut.
Percy mendongak. Ia mendapati suaminya menatapnya dengan tatapan tajam menusuk, namun di balik kemarahan itu, tersirat kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan sang istri.
"Ma chérie," suara bariton Hades terdengar rendah, berat, dan amat berbahaya. "Sepertinya ada seekor tikus got yang bosan hidup dan ingin mencoba menghancurkan sangkar kita."
Percy berdiri perlahan dari kursi gantungnya. Ia melangkah mendekati Hades, merapikan kerah kemeja suaminya dengan lembut, lalu mendongak untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu pria itu. Senyuman manis terukir di bibir kecil ranumnya.
"Jangan kotori tanganmu untuk mengurus sampah seperti dia, Hades," bisik Percy penuh percaya diri, lesung pipinya tenggelam dalam. "Biar aku yang menyelesaikan permainan ini dengan caraku sendiri. Cukup berikan aku izin untuk meruntuhkan kariernya secara permanen malam ini juga."
Hades terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata amber istrinya yang menyala penuh ambisi. Alih-alih melarang, sudut bibir sang penguasa Sterling perlahan terangkat membentuk senyuman miring yang mematikan. Singa itu tahu betul, ratunya tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Malam kembali merayap turun, menyelimuti kota Manhattan dengan kelambu gelap yang dipenuhi kerlip lampu kota. Di dalam sebuah studio televisi swasta terkemuka di pusat kota, Iris Montgomery duduk di ruang rias eksklusifnya dengan senyuman penuh kemenangan terukir di bibirnya. Telepon genggamnya tidak berhenti bergetar notifikasi berita, pesan singkat dari para produser, hingga komentar netizen membanjiri layarnya. Artikel yang ia bayar untuk disebar siang tadi sukses menjadi trending topic nomor satu di seluruh penjuru Amerika.
Bagi Iris, ini adalah momen penentu. Ia percaya bahwa dengan memaksa identitas Persephone Sinclair terekspos ke publik, Hades Sterling tidak akan punya pilihan selain turun tangan, mengeluarkan pernyataan resmi, dan mau tidak mau harus menghadapi tekanan media yang pada akhirnya akan meretakkan hubungan pernikahan rahasia mereka.
"Nikmati detik-detik terakhir kemewahanmu, Nona Sinclair," bisik Iris pada pantulan dirinya di cermin, merapikan gaun malam mewahnya seraya bersiap untuk melakukan wawancara eksklusif langsung dengan salah satu stasiun berita terbesar malam ini demi memperkeruh suasana.
Namun, di dalam ruang kerja pribadi Hades Sterling di Manhattan, permainan catur yang sebenarnya telah mencapai langkah terakhirnya.
Hades duduk di balik meja kerja mahoni berukuran besar, sementara layar monitor utama di dinding menampilkan siaran langsung dari studio tempat Iris bersiap untuk tampil. Di sampingnya, Dionisos Volkov berdiri tegak dengan tablet di tangan, menunggu instruksi mutlak dari sang bos.
"Tuan, semua stasiun televisi dan portal media utama baru saja menerima perintah langsung dari divisi hukum Sterling Global," lapor Dionisos dengan nada datar tanpa ekspresi. "Hak siar wawancara Nona Montgomery dibatalkan secara sepihak. Dan seluruh saham mayoritas dari jaringan media yang memuat artikel tersebut telah kita ambil alih dalam waktu kurang dari sepuluh menit."
Hades tidak bersuara. Ia hanya menyesap bourbon miliknya perlahan, sepasang mata kelabunya menatap tajam ke arah layar monitor yang menampilkan wajah panik sang aktris di balik layar studio.
Bukan hanya itu. Di lantai atas mansion, Percy duduk di atas sofa beludru sambil menikmati secangkir teh hangat. Mengenakan gaun rumah berpotongan sutra elegan, wanita mungil itu menatap layar tabletnya dengan seringai tipis yang menghiasi bibir kecil ranumnya.
Jemarinya menekan satu tombol terakhir sebuah rilis pers resmi dari pihak keluarga besar Sinclair di Milan yang langsung diterbitkan secara serentak ke seluruh jaringan media internasional. Rilis tersebut menyatakan dengan tegas kedudukan sah Persephone Sinclair sebagai pewaris tunggal dinasti bisnis Eropa sekaligus istri sah dari Hades Sterling, disertai dengan dokumen legalitas pernikahan yang tidak terbantahkan, serta tuntutan hukum senilai ratusan juta dolar atas pencemaran nama baik dan penyebaran privasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
Di studio televisi, beberapa detik sebelum siaran langsung dimulai, pintu ruang rias Iris Montgomery terbuka dengan kasar tanpa ketukan.
Sejumlah petugas keamanan stasiun bersama beberapa pria berjas hitam suruhan Sterling Global melangkah masuk tanpa basa-basi. Produser acara berlari tergesa-gesa dengan wajah pucat pasi, melemparkan tablet ke meja rias Iris.
"Nona Montgomery! Anda gila?!" teriak sang produser dengan napas memburu. "Seluruh kontrak kerja sama kita diputus detik ini juga! Stasiun ini dibeli alih oleh Sterling Global, dan departemen hukum mereka baru saja melayangkan gugatan pailit dan pencemaran nama baik atas nama Anda!"
Iris membelalakkan matanya, berdiri dari kursi rias dengan tubuh gemetar hebat. "Apa maksudmu?! Aku harus tampil! Hubungi direktur stasiun! Hubungi Hades...!"
"Hades Sterling tidak mengenal sampah sepertimu," suara dingin bernada bariton tiba-tiba bergema dari ambang pintu.
Dionisos Volkov melangkah masuk dengan tatapan tajam menusuk, diikuti oleh dua pengawal berbadan tegap. "Dan Nyonya besar kami menyampaikan pesan terakhir untuk Anda permainan kecil Anda sudah resmi berakhir."
Dalam hitungan menit, tanpa sempat membela diri atau mengeluarkan satu patah kata pun di depan kamera, Iris Montgomery digelandang keluar dari studio melalui pintu belakang bukan sebagai bintang papan atas yang diagungkan, melainkan sebagai pesakitan yang karier, nama baik, dan masa depannya dihancurkan berkeping-keping tanpa ampun oleh kekuatan mutlak keluarga Sterling.
Kembali di mansion megah Manhattan, layar tablet di tangan Percy menampilkan berita kilat mengenai kejatuhan total sang aktris dan rilis resmi keluarga Sinclair yang telah menyebar luas ke seluruh dunia.
Percy meletakkan tabletnya di atas meja, lalu meregangkan tubuh mungilnya perlahan dengan senyuman paling cerah yang pernah ada. Kedua lesung pipinya tenggelam dalam, membuat wajahnya tampak begitu memukau di bawah cahaya lampu ruangan.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan sosok Hades melangkah masuk dengan mantel hitam panjangnya yang sedikit tersibak angin malam. Pria itu melepas sarung tangannya, lalu berjalan menghampiri sang istri.
Percy langsung berdiri, menyambut kedatangan suaminya dengan melingkarkan kedua lengannya erat-erat di leher Hades. Ia mendongak, mengecup rahang tegas sang suami dengan penuh rasa kemenangan.
"Bagaimana pertunjukannya, Pangeran Dingin?" bisik Percy manja, matanya yang amber berbinar jenaka. "Apakah aktris kecil itu sudah lenyap dari peta?"
Hades melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping Percy, menarik tubuh mungil itu melekat tanpa celah ke tubuhnya. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyuman tulus yang hanya milik sang istri seorang.
"Ia bukan lagi masalah, Ma chérie," bisik Hades parau, mengecup bibir kecil ranum istrinya dengan penuh kelembutan. "Dunia luar kini tahu persis siapa pemilik mutlak dari singgasana ini. Dan sekarang... giliran ratu kecilku untuk menerima hukumannya karena membuat kekacauan sebesar ini."
Percy terkesiap kecil, lesung pipinya semakin dalam saat ia tertawa renyah, menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam dekapan sang penguasa yang mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.