Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Melihat Arka yang sedikit tersenyum, Alesha langsung menunjuknya.
"Eh, lo bisa senyum juga ternyata."
Arka langsung kembali memasang wajah datarnya.
"Nggak."
Alesha menyipitkan mata.
"Barusan gue lihat."
"Itu perasaan lo."
Reza langsung tertawa mendengar percakapan mereka.
"Wah, baru kali ini ada orang yang berani debat sama Arka."
Alvian mengangguk.
"Biasanya orang langsung diam kalau dia sudah ngomong."
Alesha menoleh bingung.
"Segitunya?"
"Iya," jawab mereka hampir bersamaan.
Alesha melihat Arka sebentar, lalu mengangkat bahu.
"Padahal menurut gue biasa aja."
Arka hanya menatapnya datar.
Kevin yang mendengar hanya menggeleng kecil.
"Lo memang nggak takut sama siapa pun, ya."
Alesha tersenyum santai.
"Kenapa harus takut? Kan dia juga manusia."
Kalimat sederhana itu membuat Arka terdiam sesaat.
Biasanya orang-orang melihatnya sebagai ketua OSIS yang tegas dan sulit didekati. Namun, Alesha justru memperlakukannya seperti orang biasa.
Tanpa sadar, Arka mulai penasaran dengan gadis yang satu ini.
Sementara itu, Kevin sudah mengambil helm dan menyerahkannya kepada Alesha.
"Ayo pulang."
Alesha mengangguk.
Sebelum naik motor, ia melambaikan tangan kecil kepada mereka.
"Bye."
Reza membalas lambaian tangannya.
"Hati-hati, anak taman."
Alesha langsung menoleh kesal.
"Jangan panggil gue begitu!"
Tawa kecil pun terdengar dari mereka, kecuali Arka yang hanya diam memperhatikan kepergian Alesha dan Kevin.
Perjalanan pulang terasa lebih ramai dari biasanya. Alesha yang duduk di belakang motor Kevin tidak berhenti bercerita tentang kejadian di sekolah hari itu.
"Kak."
"Hm?"
"Ternyata ketua OSIS di sekolah baru gue lumayan unik."
Kevin tetap fokus mengendarai motor.
"Arka?"
"Iya."
"Unik dari mana?"
Alesha berpikir sebentar.
"Dia dingin banget, tapi sebenarnya nggak seburuk yang kelihatan."
Kevin sedikit terdiam.
"Lo baru kenal dia beberapa hari."
"Iya, tapi gue bisa lihat."
Kevin hanya menggeleng kecil.
"Jangan terlalu mudah percaya sama orang."
Alesha tersenyum dari belakang.
"Gue tahu."
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah.
Begitu masuk, Oma yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menyambut mereka.
"Kalian sudah pulang?"
"Iya, Ma," jawab Kevin.
Alesha langsung meletakkan tasnya di sofa.
"Oma, hari ini aku punya cerita."
Kevin langsung menatapnya.
"Jangan mulai."
Alesha mengabaikan peringatan kakaknya.
"Oma tahu nggak? Aku tadi dihukum."
Oma langsung menoleh.
"Dihukum?"
Kevin menutup wajahnya sebentar.
"Dia ketahuan tidur di taman saat jam pelajaran."
Oma terdiam beberapa detik.
Lalu...
"Alesha."
"Iya, Oma?"
"Kamu memang tidak pernah berubah."
Alesha hanya tersenyum kecil.
"Hehe."
Kevin dan Oma hanya bisa menghela napas melihat tingkah gadis itu.
Namun, bagi mereka, melihat Alesha tetap menjadi dirinya sendiri jauh lebih baik daripada melihatnya merasa tertekan di tempat baru.
Malam pun tiba.
Setelah makan malam bersama, Alesha kembali ke kamarnya. Ia duduk di meja belajar sambil melihat beberapa catatan pelajaran hari itu.
"Capek juga ternyata sekolah baru," gumamnya.
Meski begitu, ia tersenyum kecil. Banyak hal baru yang ia temukan, mulai dari teman-teman baru, lingkungan baru, hingga orang-orang yang tidak pernah ia sangka akan ia kenal.
Tiba-tiba terdengar suara dari sudut kamar.
"Kwek..."
Alesha langsung menoleh.
"Pingky, kamu belum tidur?"
Bebek putih itu hanya bergerak kecil.
Alesha menghampiri keranjangnya lalu tersenyum.
"Hari ini seru, ya? Aku sudah punya teman baru."
Pingky kembali bersuara.
"Kwek."
Alesha tertawa kecil.
"Iya, aku tahu. Kamu juga teman aku."
Sementara itu, di kamar lain, Kevin sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Sebuah pesan dari Reza masuk.
Reza: Adik lo benar-benar beda.
Kevin membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.
Kevin: Gue tahu.
Tak lama kemudian, pesan lain masuk dari Alvian.
Alvian: Tapi kayaknya dia bakal bikin sekolah makin rame.
Kevin melihat pesan itu beberapa detik.
Ia tidak bisa membantahnya.
Sejak Alesha datang, suasana yang biasanya tenang memang perlahan berubah.
Dan tanpa mereka sadari, gadis dengan tingkah absurd itu mulai membawa warna baru dalam kehidupan mereka.
Keesokan paginya, Alesha kembali bangun dengan semangat baru.
Setelah bersiap, ia turun ke ruang makan dan melihat Kevin sudah duduk seperti biasa.
"Pagi, Kak."
Kevin mengangguk.
"Pagi."
Alesha langsung duduk sambil mengambil sarapan.
"Hari ini gue nggak bakal telat."
Kevin menatapnya sekilas.
"Bagus."
"Dan gue juga nggak bakal tidur di taman."
"Lebih bagus."
Alesha tersenyum bangga.
"Berarti gue sudah berubah."
Kevin hanya diam sebentar.
"Baru satu hari."
Alesha langsung memasang wajah tidak puas.
"Kak, dukung gue sedikit dong."
Oma yang mendengar percakapan mereka hanya tertawa kecil.
"Kalian berdua memang selalu seperti itu."
Setelah selesai sarapan, Kevin dan Alesha kembali berangkat bersama menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, suasana sudah mulai ramai seperti biasa. Kali ini Alesha tidak lagi merasa asing. Beberapa teman bahkan langsung menyapanya.
"Les, pagi!"
"Pagi!"
Alesha membalas dengan senyum lebar.
Melihat itu, Kevin hanya tersenyum kecil.
Ternyata adiknya benar-benar cepat menemukan tempatnya.
Namun, saat mereka berjalan melewati koridor, tiba-tiba suara seseorang terdengar.
"Alesha."
Alesha menoleh.
Arka berdiri tidak jauh dari sana dengan ekspresi datarnya.
"Lo."
Alesha menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
Arka mengangguk.
"Iya."
Alesha langsung penasaran.
"Ada apa?"
Arka berjalan mendekat dengan membawa sebuah buku catatan di tangannya.
Alesha langsung melihat benda itu dan wajahnya berubah sedikit.
"Jangan bilang..."
Arka berhenti di depannya.
"Tenang. Bukan untuk hukuman."
Alesha menghela napas lega.
"Syukurlah."
Arka menatapnya datar.
"Gue cuma mau memastikan."
"Memastikan apa?"
"Kamu nggak tidur lagi di tempat yang bukan seharusnya."
Alesha terdiam beberapa detik.
"Loh, kok jadi perhatian?"
Arka langsung mengerutkan kening.
"Bukan perhatian."
"Lalu?"
"Sebagai ketua OSIS, itu tugas gue."
Alesha mengangguk-angguk sok paham.
"Oh... tugas."
"Iya."
"Kirain khawatir."
Arka langsung diam.
Alvian dan Reza yang kebetulan baru datang dari arah parkiran langsung mendengar percakapan mereka.
Reza menahan tawa.
"Arka, lo kalah cepat."
Arka menoleh datar.
"Maksud lo?"
"Dia berhasil bikin lo bingung."
Alvian ikut tersenyum kecil.
Sementara Kevin yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya menggeleng.
"Alesha."
"Hm?"
"Jangan ganggu Arka."
Alesha langsung membela diri.
"Gue cuma ngobrol."
Arka memasukkan tangannya ke saku.
"Dia memang begitu."
Alesha langsung menunjuk Arka.
"Nah, lihat. Dia bilang gue begitu."
Untuk pertama kalinya, beberapa orang di sekitar Arka melihat sisi lain dari ketua OSIS yang biasanya sulit diajak bercanda.
Dan semua itu terjadi hanya karena satu orang.
Alesha Wijaya.
Bel masuk akhirnya berbunyi. Para siswa yang masih berada di koridor mulai bergegas kembali ke kelas masing-masing.
Alesha melirik ke arah Arka, Alvian, dan Reza.
"Gue masuk kelas dulu."
Reza mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan tidur di taman lagi."
Alesha langsung menatapnya kesal.
"Itu kejadian sekali."
"Yang penting sudah jadi sejarah."
Alesha mendengus kecil lalu berjalan pergi.
Kevin memperhatikan adiknya sampai masuk ke dalam kelas, sebelum akhirnya berbalik menuju kelasnya sendiri.
Sementara itu, Arka masih berdiri di tempatnya.
Alvian meliriknya.
"Lo sadar nggak?"
"Apa?"
"Sejak Alesha masuk sekolah, lo jadi lebih sering ngomong."
Arka menatapnya datar.
"Nggak."
Reza langsung tertawa kecil.
"Iya, iya. Kalau lo bilang nggak berarti iya."
Arka tidak menanggapi dan memilih berjalan menuju kelas.
Namun, tanpa ia sadari, pikirannya masih mengingat kejadian kemarin.
Gadis yang bisa tidur santai di taman saat jam pelajaran, lalu dengan polos mengakui kesalahannya tanpa mencari alasan.
Berbeda.
Itulah kata yang paling tepat untuk Alesha.
Di kelas, Alesha sudah duduk di tempatnya sambil membuka buku pelajaran.
Dinda yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengannya.
"Les."
"Hm?"
"Tadi lo ngobrol sama Arka?"
Alesha mengangguk.
"Iya."
Dinda langsung mendekat dengan wajah penasaran.
"Berani juga lo."
Alesha mengerutkan kening.
"Kenapa semua orang ngomong gitu?"
Dinda tertawa kecil.
"Karena Arka itu terkenal susah didekati."
Alesha hanya mengangkat bahu.
"Padahal biasa aja."
Dinda menatapnya tidak percaya.
"Lo memang beda, Les."