NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Di Bawah Lampu Neon Arkade

“Mau kemana lagi sih, emang? Kenapa nggak langsung pulang?”

“Udah, ikutin aja! Let’s go~” seru Olivia sambil mengepalkan tangannya ke depan.

Doni terpaksa mengalah pada ancaman halus itu. Dengan perasaan dongkol dan jantung yang berdegup cemas, dia mengendarai motornya membelah jalanan sore menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota, menuruti arahan jari Olivia yang menunjuk jalan dari belakang.

Begitu tiba di parkiran, siksaan Doni resmi dimulai.

“Bawain, Kak. Berat”, ucap Olivia tanpa dosa, langsung menyerahkan tas olahraga besarnya yang berbahan parasut ke pelukan Doni.

Doni menggeram rendah, namun terpaksa mendekap tas yang beraroma samar keringat khas habis olahraga itu. Dia mengekor di belakang Olivia yang melangkah santai memasuki mall dengan jersey basketnya yang mencolok, memancing pandangan beberapa pengunjung.

Tujuan Olivia ternyata adalah lantai teratas, tepat di area pusat permainan arkade yang luas. Ini sebenarnya sudah menjadi rutinitas Olivia saat sedang merasa penat sepulang sekolah atau setelah latihan basket. Terhitung sudah hampir ratusan kali dia menginjakkan kaki di tempat ini sejak pertama kali dia diajak oleh Papanya yang waktu itu juga mengajak Marcella.

Atmosfer di tempat itu seketika menyerang indra pendengaran Doni. Suara khas mesin permainan, alunan musik K-Pop dari mesin dance, suara tawa anak-anak, dan kilatan lampu neon warna-warni terasa sangat bising. Tempat ini memancarkan keceriaan yang berbeda jauh dengan isi pikiran Doni.

Bagi Doni, tempat ini bagaikan neraka buatan. Pikirannya masih tertinggal di kosan Adit, membayangkan baris-baris kode pemrograman yang terbengkalai dan tatapan curiga dari teman-temannya.

“Kak Doni, tunggu di sini ya. Pegangin tas aku, jangan sampai hilang!” perintah Olivia sebelum melesat membelah kerumunan pengunjung untuk mengisi saldo kartu bermainnya di kasir.

Doni hanya bisa berdiri kaku di dekat pilar besar, mendekap tas olahraga Olivia seperti seorang asisten pribadi yang malang. Dia mencoba mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dan akhirnya dia menemukan bangku panjang tepat di depan mesin permainan basket.

Tak berapa lama, gadis SMA berkuncir kuda itu pun datang dan langsung berlari setengah melompat menuju mesin permainan favorit-nya

“Kak Doni, lihat deh”, teriakan Olivia membuyarkan lamunan Doni. Dia menunjuk papan skor digital di bagian atas mesin tengah yang sedang menyala terang. Di baris teratas High Score, tertera angka fantastis yang seolah mustahil dicapai, lengkap dengan inisial tiga huruf di sampingnya: OLV.

“Tahu, nggak? Itu skor aku loh! Belum ada yang bisa ngalahin sampai sekarang. Udah dari… berapa lama, ya? Kayaknya udah dari… habis lebaran kemarin”, ucap Olivia dengan nada menyombongkan diri, menoleh ke arah Doni dengan senyum bangga.

Wajar saja kalau skor tertinggi itu adalah milik Olivia. Dia selalu melarikan diri kesini disaat dia merasa tidak cukup dengan latihannya. Mesin permainan basket itu menjadi saksi bisu bagaimana skill Olivia berkembang hingga menjadi andalan timnya meraih berbagai prestasi seperti sekarang.

Namun, skor yang luar biasa tinggi itu tidak menarik perhatian Doni. Dia hanya melirik sekilas papan skor itu, lalu kembali menatap ponselnya dengan cemas. “Oh. Iya. Keren”, sahut Doni seadanya, sama sekali tidak terkesan.

Melihat reaksi Doni yang super datar, Olivia sedikit mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit jengkel karena kehebatannya diabaikan. Namun, hal itu justru memicu jiwa kompetitifnya. Setelah menggesek kartu bermainnya, Olivia langsung mengambil bola pertama.

Di sanalah Doni melihat sisi lain dari adik pacarnya itu. Olivia melempar bola dengan ritme yang konstan, cepat, dan sangat akurat. Dengan lancar, bola-bola itu meluncur mulus ke dalam ring tanpa meleset sedikit pun. Di bawah guyuran lampu neon merah dari mesin game, wajah Olivia tampak fokus, dipenuhi senyum kepuasan yang lepas setiap kali skornya melesat naik menyentuh angka ratusan. Dia tampak seperti remaja biasa yang sedang menikmati hari Minggu sorenya dengan bahagia.

“Anak ini... sebenarnya psikopat atau cuma anak labil yang kurang hiburan sih?” batin Doni frustrasi, meremas tali tas di pelukannya.

Setelah mencetak skor tertinggi hari itu, Olivia berbalik, menghampiri Doni dengan napas sedikit memburu dan senyum kemenangan yang belum pudar.

“Gimana? Hebat kan, Kak?” Olivia menopang dagu, mendekat menatap Doni yang wajahnya sudah sekaku papan penggilasan. “Makanya, Kak Doni jangan coba-coba bohong atau lari dari aku. Lemparanku... jarang banget loh, meleset dari sasaran. Sama kayak tebakanku.”

Doni menelan ludah dengan susah payah. Ancaman terselubung itu disampaikan dengan nada seceria anak kecil yang habis menang lomba.

“Ya udah. Yuk, pulang. Udah selesai kan mainnya?” desak Doni kaku, melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu lima belas menit sebelum jam enam sore.

“Kak Doni…” Olivia mendekatkan wajahnya lagi membuat Doni kembali gugup dan bertanya-tanya ada apa lagi dengan anak ini. “…belum pernah kesini, ya? Mana ada orang main disini setengah jam doang! Nggak ada rasanya kali”, ejek Olivia sebelum melangkah mantap menuju sudut lain dari arena ini, tempat deretan mesin permainan berjejer. “Yuk, Kak! Hmm… main apa lagi, ya?”

Doni hanya bisa menghela napas panjang. Ternyata, mesin basket itu hanyalah permulaan. Siksaan Doni tidak berakhir dalam waktu singkat. Stamina siswi andalan tim basket itu ternyata tidak main-main. Latihan basket di sekolah sore tadi belum cukup untuk membuatnya lelah, malah menjadi semakin bersemangat.

Olivia benar-benar menyeret Doni untuk mengekorinya ke berbagai sudut area permainan. Dari game balap mobil, game pukul monster yang menguras tenaga, hingga mesin capit yang membuat Olivia terus-menerus mengomel karena tidak pernah berhasil mendapatkan satu boneka pun.

Sementara Olivia sibuk mengomel karena boneka Pikachu incarannya selalu lepas dari cengkeraman besi mesin capit, otak Doni sang mahasiswa IT otomatis bekerja. Hal yang sebenarnya sengaja dia lakukan untuk mengalihkan rasa stresnya.

“Bocah ini nggak tahu aja kalau dia lagi ditipu sama algoritma”, batin Doni sambil menatap sinis ke arah tiga cakar besi yang mendadak melonggar saat mengangkat boneka.

Sebagai anak Informatika, Doni tahu betul kalau mesin seperti ini tidak murni mengandalkan keberuntungan atau skill fisik. Di dalam komponen dasarnya, ada program yang mengatur persentase kekuatan cengkeraman cakar. Pemilik mesin bisa saja sudah menyetel probability atau peluang kemenangan di angka 1 banding 20. Artinya, mesin hanya akan memberikan kekuatan cengkeraman penuh pada percobaan ke-20 setelah menelan koin dalam jumlah tertentu untuk memastikan keuntungan pemiliknya.

“Ah, sial! Kok lepas lagi sih? Padahal tadi kayaknya udah pas banget!” gerutu Olivia kesal sambil menendang pelan bagian bawah mesin.

“Udah, nggak usah dilanjutin”, sahut Doni dingin. “Itu hardware-nya sengaja dibikin kendor sama sistem. Probability kamu tipis buat menang. Mending nggak usah dilanjutin, kecuali koin kamu banyak”, sambung Doni sambil terkekeh lalu memalingkan wajahnya.

Olivia menoleh, menatap Doni dengan sebelah alis terangkat. “Halah… bilang aja Kak Doni pelit nggak mau beliin koin lagi, pake bawa-bawa istilah komputer segala”, sahut Olivia ketus karena dipaksa untuk mendengar kata-kata yang tidak dimengerti oleh otak kecilnya itu.

Doni tidak menghiraukan. Dia terus melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka jam tujuh malam. Sudah dua jam penuh Doni menjadi asisten pembawa tas yang malang. Pikirannya terbagi antara tugas kelompoknya yang terbengkalai di kosan Adit dan kecemasan kalau rahasianya akan dibongkar malam ini juga.

“Udah kan mainnya? Ini udah jam tujuh lewat, Liv. Aku harus balik”, desak Doni akhirnya dengan suara parau karena lelah menahan stres.

Olivia mengusap sedikit sisa keringat di dahinya, lalu merebut tas olahraganya dari pelukan Doni. “Oke, oke, ayo pulang. Aku juga udah capek”, sahutnya dengan nada renyah, kembali menjadi Olivia yang santai. Akhirnya tenaga gadis SMA itu terkuras juga.

Doni menarik napas lega yang luar biasa panjang. Akhirnya neraka ini selesai. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan meninggalkan arena permainan itu menuju eskalator turun, ponsel di tas olahraga Olivia bergetar pendek.

Setelah mengambil dan melihat layar ponselnya sekilas, langkah kaki Olivia mendadak terhenti. Dia membaca pesan itu sekali lagi, lalu perlahan menoleh ke arah Doni dengan binar mata misterius yang langsung membuat darah Doni berdesir dingin.

“Kenapa lagi?” tanya Doni waswas, firasat buruknya mendadak aktif ke level maksimal.

“Kak... kayaknya kita nggak bisa lewat eskalator ini”, bisik Olivia pelan, membalikkan layar ponselnya ke hadapan Doni, memperlihatkan sebuah pesan WhatsApp yang baru saja masuk dari Marcella.

Liv, habis latihan kamu mampir ke Anggrek Plaza lagi kayak biasa nggak? Ini aku lagi di Anggrek juga sama temen-temen kampus, baru selesai makan dan mau naik ke lantai atas, pada mau karaokean katanya. Kalau kamu lagi di sini juga, kabarin ya, ntar pulangnya kita bareng aja.

Jantung Doni rasanya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Marcella tidak bilang lantai berapa, hanya lantai atas. Doni memindai sekeliling tempatnya berdiri, dan dia menemukan tempat yang membuat jantungnya hampir keluar dari tubuhnya. Happy Karaoke. Lokasinya di seberang eskalator. Itu artinya Marcella saat ini sedang berjalan menuju lantai yang sama dengan tempat mereka berdiri sekarang, hanya berjarak puluhan meter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!