NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ancaman Pengusiran

Vira memasukkan mobil pick up miliknya ke dalam garasi. Setelah memastikan pintu garasi terkunci, ia melangkah masuk ke rumah.

Yanti yang melihatnya langsung menghampiri. "Kamu dari mana, Ra? Pagi-pagi banget sudah pergi."

"Dari belanja stok toko," jawab Vira ringan.

"Oh..." Yanti mengangguk pelan. "Kenapa gak bilang? Kamu tetap bisa buka tokonya, biar aku yang jagain. Kasihan, lho, beberapa pelanggan tadi datang, tapi akhirnya pulang lagi."

Vira tersenyum tipis. "Makasih. Tapi kamu gak usah repot-repot jagain toko. Fokus aja sama pekerjaan rumah."

Dalam hati, Vira mendengus. "Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuh tokoku... lalu mengutil uangku? Jangan harap."

Yanti masih belum menyerah. "Melayani pembeli, 'kan, bisa sambil beres-beres rumah, Ra. Gak repot, kok. Kasihan juga pembeli jadi kecewa."

Vira menggeleng pelan. "Kamu belum tahu harga barang-barang di tokoku. Gimana mau melayani pembeli?"

Yanti terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kamu tinggal kasih label harga di semua barang."

"Aku gak punya banyak waktu buat nempelin label satu per satu."

Yanti kembali mencari alasan. "Kalau begitu, kasih aja nota belanjanya. Di situ, 'kan, ada harga dari toko grosir."

Vira tersenyum kecil. "Memang ada. Tapi harga di nota itu belum tentu sama dengan harga jual di toko."

Yanti mengernyit. "Gimana maksudnya?"

"Gak semua barang dijual per bungkus. Ada yang aku jual dengan untung lima ratus, tiga ratus, bahkan seratus rupiah per sachet. Soalnya isi setiap pak beda-beda. Ada yang sepuluh, dua belas, dua puluh, bahkan tiga puluh sachet."

Vira melanjutkan, "Kalau kamu asal hitung dari harga grosir, nanti bisa salah. Ujung-ujungnya pelanggan yang komplain."

Yanti akhirnya kehabisan alasan. "Oh... gitu, ya."

"Iya."

Tak ada lagi yang bisa Yanti katakan. Dalam hati, ia mengumpat. "Sial. Ternyata gak semudah yang kupikir. Perempuan ini benar-benar gak kasih aku celah sedikit pun."

Tatapannya diam-diam beralih ke arah toko. "Tapi gak mungkin selamanya dia menjaga toko itu sendirian. Pasti suatu saat aku bakal menemukan kesempatan."

Vira yang melihat sorot mata Yanti hanya tersenyum tipis. "Teruslah mencoba. Aku sudah pernah mati karena terlalu mudah percaya pada orang. Kali ini, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

"Kamu masak apa?" tanya Vira.

"Sup ayam," jawab Yanti santai. "Kamu makan aja. Aku sudah makan."

Vira mengangguk. Ia mencuci tangan di wastafel, lalu berjalan menuju meja makan.

Sementara itu, Yanti diam-diam tersenyum licik. "Setelah hari ini, kamu gak bakal nyuruh aku masak lagi."

Vira mengambil semangkuk kecil sup, meniupnya pelan, lalu menyuapkan sesendok ke mulut.

"Puh!"

Seketika ia memuntahkan kembali kuah yang baru saja dicicipinya.

"Yanti!"

Yanti buru-buru menghampiri ruang makan.

"Iya? Kenapa, Ra?" tanyanya pura-pura bingung.

"Memangnya bumbu di dapur habis?" Vira mengernyit. "Kenapa sup ini rasanya cuma asin doang? Kamu masak pakai garam sekilo, ya?"

Yanti menggeleng cepat. "Gak, kok. Bumbunya masih banyak."

Meski wajahnya tampak polos, di dalam hati ia sedang tertawa puas. "Memang sengaja kubikin asin. Biar kmau kapok nyuruh aku masak terus."

Vira menatapnya lekat. "Kalau masak yang benar. Kalau begini, makanannya jadi mubazir. Dimakan gak enak, dibuang sayang."

Yanti mengangkat bahu. "Kamu juga tahu sendiri aku memang gak terlalu bisa masak. Kalau gak suka sama masakanku, ya suruh orang lain aja."

Vira menarik napas panjang, berusaha meredam kesal.

Sejak Yanti mulai memasak, hasilnya hampir tidak pernah memuaskan. Kadang terlalu asin, kadang hambar, kadang malah gosong.

Yang membuat Vira semakin curiga, Yanti tidak pernah ikut makan masakan yang dibuatnya. Ia selalu beralasan sudah makan lebih dulu.

Kini Vira mulai sadar, Yanti sengaja tidak menyentuh masakannya sendiri karena tahu rasanya memang tidak layak dimakan.

"Kalau begitu..." ujar Vira tenang. "Aku potong gajimu."

Mata Yanti langsung membelalak. "Hah?! Mana boleh begitu!"

"Tentu boleh." Nada suara Vira tetap datar. "Aku yang menggajimu."

"Tapi—"

"Kalau hasil kerjamu gak sesuai, ya ada konsekuensinya," tegas Vira.

Yanti langsung mengerucutkan bibir.

Vira melanjutkan, "Mulai besok, masak yang benar. Atau kalau memang merasa gak sanggup..."

Ia berhenti sejenak. "...berhenti kerja sama aku."

Yanti mendengus kesal. "Ya sudah! Kalau begitu aku gak kerja lagi!"

"Baik." Jawaban Vira begitu cepat hingga membuat Yanti terdiam. "Kalau begitu, bereskan semua barangmu."

Yanti membelalak. "Apa maksudmu? Kamu ngusir aku?"

Vira menatapnya tanpa berkedip. "Aku gak pernah bilang kamu harus tinggal di sini tanpa bekerja."

"Tapi aku sepupumu!"

"Justru karena kamu sepupuku, aku sudah memberimu tempat tinggal dan pekerjaan." Suara Vira tetap tenang. "Jangan salah paham. Itu bukan berarti kamu boleh hidup gratis di rumahku."

Yanti mulai kehilangan kata-kata.

"Kalau mau tetap tinggal di sini," lanjut Vira, "kerjakan tugasmu dengan baik. Bersihkan rumah sesuai yang aku minta dan masak makanan yang layak dimakan."

Vira menunjuk mangkuk sup di atas meja. "Bukan seperti ini. Kalau gak sanggup..." Ia menatap Yanti lurus. "...silakan pergi. Masih banyak orang yang mau bekerja denganku."

Ucapan itu membuat wajah Yanti berubah pucat. Ia tadi hanya menggertak, yakin Vira akan menahannya karena hubungan keluarga mereka. Namun ternyata dugaannya salah.

"Kalau aku benar-benar diusir..." pikirnya panik. "Aku mau tinggal di mana?"

Kepercayaan dirinya perlahan runtuh. Dengan suara yang mulai melemah, ia berkata, "Ra... aku tadi cuma keceplosan."

Vira tetap diam.

"Aku... aku bakal belajar masak yang benar."

Tatapan Vira belum juga melunak.

Yanti menelan ludah. "Gimana caranya membujuk dia? Aku gak boleh keluar dari rumah ini. Aku gak mau pulang kampung."

Yanti mendekat, lalu menarik ujung lengan baju Vira. "Ra, kasih aku kesempatan ya?"

 

...✨"Keluarga bukan alasan untuk memanfaatkan kebaikan. Kepercayaan harus dijaga, bukan disalahgunakan."...

..."Kesabaran ada batasnya. Saat batas itu terlewati, penyesalan tak lagi bisa mengubah keputusan."...

..."Bukan keras hati yang membuat seseorang tegas, melainkan pengalaman yang mengajarinya untuk tidak mengulang kesalahan."✨...

.

To be continued

1
Wardi's
waduh pd gk kapok ya.. gk ckp sidang desa.. kyk nya pengen sidang d kantor polisi..
Anitha
Ga kapok rupanya kalian masih ingin menghancurkan Vira...

silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
Uthie
Emang dasar manusia yg culas, jahat!! susah di ubahnya dan di sadarkan!! walau kesalahannya telah ditelanjangi publik begitu!!😡😡
Uthie
Pak Kades nya Bijaksana 👍👍👍
Uthie
cecar terus pak Kades 😡👍
Uthie
makin tegang dehh tuhh kalian 😏
abimasta
daril Mirna Yanti sudah salah tidak mau mengakui,bahkan masih punya rencana jahat
Wirad Nyani
Vira hati² ya, soalnya ketiga orang itu akan beraksi
Ari Peny
setan aja gk saling menyakiti tp manusia bisa🤣🤣🤣🤣
kymlove...
gak tau mau komen aja..... sebelum 3 manusia dajjal ini binasa, konflik bakalan terus berkembang, tinggal lihat aja gimana vira menyingkapi dan melawan ke gilaan mereka.
^ã^😉
jauhilahhh orang² yang tak pernah menghargai kebaikan Kita ,
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..

keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka

keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
^ã^😉
bukan ya kapok malah membuat rencana yang lain lagi huhh Sadar iblis kalian itu
asih
kalian ber 3 the real setan wujud manusia ..minta maaf di mulut saja ..berharap rencana mereka berbalik menyerang mereka sendiri ..

ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
LibraGirls
Si vira masih mau nampung di yanti???? usir lah ngapain lagi di tampung 😡😡😡😡😡
Dew666
Kalo Yanti gak diusir betapa bodohnya vira
LibraGirls
Kira² di terima gk ya lamaran hartot sama vira 😂😂😂
LibraGirls
weeehhhhh pak kades dah kayak hakim lebih keren pak kades dr hakim yg lagi viral 😂😂😂😂😂
LibraGirls
Laaahh dia ada duit buat bayar pereman dari pada buat ngisi perutnya sama ibu ny BEGPOOOOOO emosi jiwa baca si benalu gk tau diri 😡😡😡😡😡 pengen tak jambak² rasanya 😂
Anitha
Vira diam bukan berarti kalah,Arvin mau megang tangannya Vira ga jadi,karena ia sadar diri tapi Arvin tetap berada di sisi Vira tidak akan meninggalkan Vira sendirian,semoga Arvin adalah jodohnya Vira yang sudah di takdirkan.

Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
Wardi's
usir aja si yanti.. benalu.
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!