Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorie Kelam
Ia pun naik keatas menuju kamarnya untuk beristirahat lalu ia teringat ucapan Tantenya barusan
*"Fisya, kamu harus menyelidiki kejadian malam itu, cari tahu siapa yang memasukkan obat ke dalam minumanmu hingga kamu pingsan dan terbangun di kamar hotel bersama Jason."*
*"Tante yakin... itu bukan suatu kebetulan."*
Fisya mengingat semuanya kejadian malam itu dipesta perayaan ulang tahun Kasandra
"Apakah itu semua ulah Kasandra yang menjebakku" Fisya menutup mulutnya
"Kalau itu benar, tidak akan aku maafkan" ucap Fisya sambil mengepalkan kedua tangannya
Fisya terdiam. Ingatannya perlahan kembali pada malam yang telah mengubah seluruh hidupnya.
**Flashback On**
Malam itu, Kasandra mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah hotel mewah di pusat kota.
Ia mengundang seluruh teman-teman yang ia kenal, musik mengalun meriah, gelas-gelas berisi minuman berkilauan memenuhi setiap meja.
Sebagai sahabat terbaik Kasandra, Fisya datang lebih awal.
"Fis, kamu harus coba minuman spesial ini. Aku sendiri yang memesannya," kata Kasandra sambil menyerahkan segelas minuman berwarna merah muda.
Fisya tersenyum tanpa curiga.
"Selamat ulang tahun, Kas."
Ia pun meminum minuman itu hingga habis.
Tak lama kemudian, Kasandra tersenyum.
"Aku izin sebentar ya, ada tamu penting yang baru datang."
"Oke." Jawab Fisya singkat
Setelah Kasandra pergi, beberapa teman mulai berdatangan.
"Eh, Fis. Kasandra di mana?"
"Gak tahu. Katanya keluar sebentar." Ucap Fisya
Karena tak kunjung kembali, Fisya memutuskan mencari sahabatnya itu.
Namun baru saja menutup pintu ruangan tersebut, kepalanya mendadak terasa sangat berat dan pandangannya mulai kabur.
Suara musik perlahan menghilang dari pendengarannya, ia berusaha berjalan
"Kenapa... kepalaku..."
Tubuhnya limbung dan seketika semuanya mulai tampak samar.
Ia merasa ada seseorang yang memegang lengannya.
Namun wajah orang itu sama sekali tidak bisa ia lihat.
Semuanya berubah menjadi gelap.
...
Saat Fisya membuka mata keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai kamar hotel.
Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya terasa sangat lemas.
Perlahan ia membuka selimut, seketika matanya membelalak.
Ia sama sekali tidak mengenakan pakaian.
"Nggak... ini nggak mungkin..."
Dengan tangan gemetar, ia menoleh ke samping ada seorang pria asing sedang tertidur pulas di sampingnya dan pria itu pun tidak mengenakan pakaian.
Wajah Fisya langsung memucat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Air matanya mulai mengalir.
Ketika ia mengambil selimut ia melihat bercak darah pada seprei nya
"Tidaakkk" ucapnya tersekat di tenggorokan
Lalu ia segera menyelimuti tubuhnya dengan selimut tersebut
Saat itu juga pria tersebut mulai membuka matanya.
"Kamu... sudah bangun?" ucap pria itu dengan suara serak.
Fisya langsung menatapnya tajam.
"Siapa kamu? Apa yang sudah kamu lakukan padaku?"
Pria itu tampak sama terkejutnya.
"Aku..."
"Aku juga tidak tahu kenapa kita bisa seperti ini."
"Jangan bohong!" bentak Fisya.
"Kamu sudah menghancurkan hidupku!" Isak Fisya
Pria itu mengusap wajahnya dengan panik.
"Dengar dulu semalam aku juga minum cukup banyak, yang kuingat hanya seseorang mengantarku ke kamar ini"
"Setelah itu... Aku tidak ingat apa-apa lagi
Fisya menggeleng.
"Aku tidak percaya."
Pria itu menghela napas.
"Kalau kamu tidak percaya ku, itu urusan mu akan tetapi kalau memang sesuatu benar-benar terjadi... Aku akan bertanggung jawab."
Fisya hanya terdiam, ia tidak mengenal pria itu sama sekali.
Namun keadaan di hadapannya membuatnya tidak mampu berpikir jernih.
Satu-satunya yang ia inginkan saat itu hanyalah segera pulang.
***
Sejak hari itu, Fisya mengurung diri di dalam kamar selama hampir satu bulan lebih
Ia menolak menemui siapa pun, tidak mau makan bersama keluarga bahkan ponselnya pun dimatikan.
Papanya mulai khawatir melihat perubahan putrinya.
"Fisya... buka pintunya. Papa hanya ingin bicara."
Namun tak pernah ada jawaban, hingga suatu hari, Kasandra datang berkunjung.
Begitu melihat sahabatnya, Fisya langsung menangis dan menceritakan semua kejadian malam itu.
Kasandra memasang wajah terkejut.
"Astaga... kenapa kamu nggak telepon aku waktu itu?"
"Kalau kamu telepon, pasti aku panggil satpam buat menghajar cowok itu!"
Fisya menggeleng pelan.
"Aku benar-benar panik waktu itu."
Kemudian ia mengambil sebuah kotak kecil dari laci.
"Kas... Ini nomor telepon pria itu dan aku minta tolong hubungi dia."
Kasandra mengernyit.
"Buat apa?"
Fisya menarik napas panjang sebelum menyerahkan sebuah alat tes kehamilan.
"Aku sudah telat datang bulan, tadi pagi aku tes... Dan hasilnya positif."
Kasandra membelalak.
"What? Kamu hamil? Dengan pria asing itu?"
"Ssst..." Fisya buru-buru menutup mulut Kasandra.
"Pelan-pelan, kalau Papa sampai dengar, aku nggak tahu harus bagaimana dan aku juga nggak mau menghancurkan nama baik keluarga Alexander." Ucapnya lirih
Kasandra memeluk sahabatnya.
"Aku ngerti, tenang saja, aku akan bantu kamu melewati semuanya."
Kemudian Kasandra menghubungi nomor yang diberikan Fisya.
Panggilan itu tersambung.
Mereka pun sepakat bertemu sore ini juga di sebuah kafe.
"Maaf Fis, aku tidak bisa ikut kamu karena aku ada urusan pekerjaan tapi aku bisa kok mengantar mu ke kafe tersebut" ucap Kasandra dengan wajah sedih
Fisya menarik napas panjang
"Ok gak apa-apa Kas! Aku berterima kasih padamu karena sudah membantu ku untuk menghubungi pria itu"
Mereka pun berangkat menuju kafe yang sudah di janjikan
Pria itu datang tepat waktu.
"Perkenalkan, namaku Jason."
Tanpa basa basi dan dengan tangan gemetar, Fisya menyerahkan hasil tes kehamilan.
"Aku... hamil."
Jason terdiam cukup lama dan wajahnya tampak terkejut.
Akhirnya ia mengangkat kepalanya.
"Kalau memang bayi itu anakku... Aku akan bertanggung jawab."
"Aku memang hanya karyawan biasa tapi aku tidak akan lari dari tanggung jawab."
Fisya memejamkan mata status sosial Jason bukanlah hal yang ia pikirkan.
Baginya, yang terpenting adalah anak yang dikandungnya memiliki seorang ayah.
"Kalau kita menikah... Aku akan meminta Papa memberimu pekerjaan yang lebih baik di perusahaan keluarga ku" ucap Fisya
Jason mengangguk pelan.
"Ok kalau begitu, kalau keluarga mu juga tidak mempermasalahkan latar belakang ku"
Beberapa hari kemudian, Jason diajak bertemu dengan Papa Fisya.
Awalnya sang papa menolak mentah-mentah hubungan mereka.
Namun setelah mengetahui bahwa Fisya sedang mengandung, wajahnya langsung berubah pucat.
"Kamu... hamil?"
Fisya hanya mampu mengangguk sambil menangis.
Demi menjaga kehormatan putrinya dan nama baik keluarga Alexander, akhirnya sang papa menyetujui pernikahan itu.
Sementara itu, kabar tersebut juga disampaikan kepada Isabel yang saat itu berada di Swiss.
Begitu menerima telepon, Isabel langsung menentangnya.
"Jangan terburu-buru! Kalian bahkan belum benar-benar mengenal pria itu!"
Tanpa menunggu lebih lama, hari itu juga Isabel langsung terbang dari Swiss menuju Indonesia.
Sesampainya di rumah keluarga Alexander, Isabel akhirnya bertemu dengan Jason.
Tatapan tajamnya langsung mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki.
Entah mengapa, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Setelah Jason pergi, Isabel langsung menarik Fisya ke dalam kamar.
"Fisya."
"Tante tidak menyukai pria itu."
"Tatapannya penuh ambisi."
"Tante tidak melihat ketulusan di matanya."
Fisya menundukkan kepala.
"Aku tidak punya pilihan, Tante. Aku sedang hamil."
Isabel menggenggam tangan keponakannya.
"Fisya, Tante mohon jangan terburu-buru mengambil keputusan, percayalah Fisya, Tante akan buktikan kalau Pria itu bukan Pria baik-baik"
"Dan kamu juga harus menyelidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
"Menurut firasat Tante..."
"Kejadian itu bukan kecelakaan."
"Melainkan sebuah jebakan yang sudah direncanakan sejak awal."
Namun saat itu, Fisya dan papanya menganggap semua itu hanyalah kekhawatiran seorang tante yang terlalu mencintai keponakannya.
Fisya tetap melangsungkan pernikahan walaupun tanpa restu dari Isabel
**Flasback Off**